Pages

Selasa, 27 Agustus 2013

Ponsel

#CeritaDariKamar Hari Keduapuluhtujuh

Sudah kelima kalinya saya berganti ponsel. Dua bukan milik saya sendiri, satu hilang, dua rusak tapi tetap disimpan.
Pertama kali saya memiliki Ponsel adalah saat kelas 5/6 SD, Ponsel berwarna Pink dengan model Flip yang dulunya adalah kepunyaan Kakak Perempuan Saya. Saat itu saya hanya menyimpan nomor telepon keluarga dan beberapa nomor teman.
Saat SMP, saya mulai menggunakan Ponsel untuk bermacam-macam hal. Saya mulai sering foto bergaya selfie, keranjingan social media, dan tidak lupa untuk menggunakan fungsi komunikasinya.

Dibandingkan dengan teleponan, saya lebih suka bercakap-cakap lewat pesan singkat di SMS, atau aplikasi Chatting yang sudah mewabah sekarang ini. Rasanya kalau tidak ada sesuatu yang penting, saya kurang suka menghubungi atau dihubungi melalui fitur telepon.
Tapi malam itu adalah pengecualian.

Kurang lebih 30 menit bercakap lewat sambungan Telepon seluler, membicarakan hal-hal yang sebenarnya tidak penting.. Tapi menjadi pembicaraan di telepon yang paling hangat dalam ingatan.
Entah berapa kali saya senyum-senyum sendirian malam itu, mungkin hanya sekali. Karena setelah memutus pembicaraan di telepon tersebut, saya tidak bisa berhenti tersenyum hingga akhirnya tertidur.

Salah satu Ponsel saya yang rusak, sempat memuat kumpulan percakapan pendek kami dan beberapa notes yang saya tulis tentangnya. Saya dulu sempat enggan menjualnya karena meski harga jualnya tidak seberapa tapi nilai kenangannya terasa tinggi untuk saya.
Ibu saya pun menggunakannya, karenanya dengan ragu saya menghapus semua pesannya- tidak semua sebenarnya. Ada sebuah percakapan di malam berakhirnya "kita" yang saya simpan di tempat lain. Tapi notes-notes tersebut masih saya simpan.
Ketika Ponsel Abang saya hilang (entah, untuk keberapa kalinya). Dia menggunakan ponsel saya, dia menghapus semua hal di ponsel saya tersebut- hingga ke notes-notesnya. Rasanya seperti kenangan yang terkandung di sana dicabut secara paksa.
Tapi saya tidak protes, meski kenangannya tidak tapi pesan&notes itu memang sudah lewat masa berlakunya.

...

Ponsel yang saya gunakan hingga saat ini, tidak terhitung sudah terjatuh berapa kali.
Tanpa sengaja saya menjatuhkannya di mana saja, di rumah, di angkot, di sekolah, di kelas, di mall.
Hingga baterainya keluar dari tempatnya.
Layarnya sudah tidak sebening dahulu, saya terlalu malas untuk menggantinya.
Badannya pun sudah tidak semulus dahulu karena terlalu sering terjatuh secara tidak sengaja.

Untungnya, ponsel tersebut masih berfungsi dengan baik. Dan saya belum tertarik untuk menggantikan posisinya dengan yang lain.
Meski kadang saya akui saya kurang hati-hati menjaganya, tapi saya menghargainya.
Seperti Hati. Toh, kalau masih berfungsi dengan baik untuk apa saya cari penggantinya?


Tyas Hanina

Senin, 26 Agustus 2013

Wall Sticker Pohon

#CeritaDariKamar Hari Keduapuluhenam




Di atas tempat tidur saya terdapat sebuah Wall Sticker berbentuk pohon dengan ukuran yang lumayan besar. Tujuan utamanya, saya menggunakan wall sticker adalah agar dinding saya tidak tampak begitu sepi. Setidaknya ada Gambar Pohon mengisi.

Selain pantai dan surat. Saya juga menyukai Pohon, alasan lainnya saya memasang wall sticker tersebut.
Pohon dengan batang yang kokoh, dan bercabang banyak yang bisa saya panjat dengan nyaman dan aman. Meski saya lumayan takut dengan ketinggian, tapi memanjat pohon tetap terlihat menyenangkan.

Dari kecil, saya selalu mendambakan Rumah Pohon, ini bukanlah pengaruh film atau apa. Saya mendambakannya secara tiba-tiba, saat SD dulu masih sering sekali memanjat pohon untuk sekedar mengambil buah seri- atau untuk duduk-duduk saja di dahannya.
Rasanya menyenangkan sekali berada di atas pohon, di bawah daun-daunnya yang lebat, bersender di batangnya yang kokoh, merasakan tekstur kulit pohonnya di jemari saya, memandangi warna hijau daun yang membuat tenang dan warna cokelat dari batang yang terasa nyaman.

Mempunyai sebuah rumah sederhana dengan halaman yang luas beserta taman bunga matahari. Pohon besar dengan Rumah Pohon di atasnya, ada tangga gantung untuk naik ke atasnya, sebuah ayunan yang diikat di dahan.
Di dalam rumah pohon terdapat sofa-sofa kecil dan rak berisi buku kesukaan, karpet bulu yang lembut, sebuah radio kecil yang setia memutarkan stasiun radio kesukaan, penerangan yang cukup,  juga ada sebuah meja kecil khusus ruang saya menulis....
Rasanya semakin lama saya membayangkannya, semakin detail rumah pohon tersebut tergambar di imajinasi saya.

...

Seperti Pohon, cinta tumbuh dan berkembang dengan baik karena dirawat pemiliknya. Meskipun tak ada manusia yang memiliki pun, alam tetap menghidupinya. Air dari Hujan, Pupuk dari Dedaunan yang jatuh ke tanah, Sinar Matahari, dan lain-lainnya.

Dan Pohon bisa ditebang karena keinginan ataupun keegoisan pemiliknya, cinta pun begitu.

Pohon. Kita nikmati kelezatan buahnya, ambil daunnya, tebang batangnya, nikmati keindahan bunganya. Tapi, kita seringkali lupa untuk merawatnya dan menanam penggantinya kembali.
Seringkali, cinta pun seperti itu. Kita manfaatkan kehadirannya, tapi justru lupa untuk menghargainya kembali.


"tidak ada selamat tinggal. daun yang lepas dari dahan akan jadi hara untuk kembali ke pohon."


Tyas Hanina

Minggu, 25 Agustus 2013

Buku Tahunan Sekolah

#CeritaDariKamar Hari Keduapuluhlima


"Dalam kenangan cemara cinta..."

Buku Tahunan Sekolah, salah satu benda yang menyimpan kenangan saya di masa SMP.
Masa-masa masih mengenakan seragam putih biru dan bersekolah di Jalan Cemara Raya.
3 tahun belajar di gedung sekolah yang sama, bertemu teman-teman yang sama, masuk ke dalam organisasi yang sama. Tapi tidak pernah merasa bosan, dan sekarang menjadi rutinitas yang saya rindukan.

Isi BTS tersebut didominasi oleh wajah teman-teman seangkatan dan pesan-kesan yang mereka tuliskan. Mulai dari kelas A-J, dan kelas saya di tengah-tengahnya.
Bermacam-macam jenis pesan-kesan yang mereka tuliskan, ada yang panjang sekali seperti artikel koran.. ada yang konyol kaya ager, ada yang nyantumin nama orang yang dia taksir.
Dan ada juga yang singkat dan minyi seperti yang menulisnya, pesan dan kesan milik Tyas Hanina.

Dan bermacam-macam pula pose serta ekspresi masing-masing teman seangkatan. Ada yang memasang wajah eksotis, datar, senyum malu-malu, hingga tersenyum lebar.
Oiya, katanya murid dgn tersenyum lebar saat di foto buku tahunan sekolah, cenderung lebih sukses dalam karir dan pernikahan di masa depannya..

Saya tersenyum cukup lebar di Buku Tahunan Sekolah, memamerkan gigi tak berpagar.

Waktu itu saya bergumam dalam hati, Akhirnya nulis kesan/pesan buat BTS juga. Sebentar lagi juga dimulai pemotretannya. Dulu pas awal masuk sempel, kita nulisnya daftar barang-barang gila apa yg harus dibawa buat masa orientasi. Dan pemotretannya pun untuk foto raport pertama kali.

...

Lembaran-lembaran Buku Tahunan Sekolah.. setiap kali membalik-balik isi bukunya rasanya seperti masuk kembali ke dalam lembaran-lembaran kenangan selama bersekolah disana.
Melihat kembali wajah-wajah mereka, rasanya seperti melihat lengkungan senyum dan setiap ekspresi pemilik wajah itu kembali.
Dan membaca pesan dan kesan mereka pun, rasanya seperti mendengar kembali obrolan hangat dan tawa ramah mereka.

Woah, I miss them so much.

...

Sebuah hadiah terbaik bukanlah benda, tapi kenangan. Benda bisa rusak ataupun hilang tapi tidak dengan kenangan di dalamnya.
Begitu pula dengan seseorang, meski kabarnya sudah lama hilang ataupun rusak hubungan dengannya.
Tapi tidak dengan kenangan yang pernah diciptakan bersama. Akan tetap ada disana.

Tyas Hanina

Sabtu, 24 Agustus 2013

Sepasang Gantungan Kunci

#CeritaDariKamar Hari Keduapuluhempat




Sepasang gantungan kunci, berbentuk hati jika disatukan. Tak pernah keluar dari bungkusan.
Saya masih ingat bagaimana tepatnya, dan kapan waktunya benda itu resmi menjadi milik saya.
Dan sangat jelas tampaknya, bagaimana sulitnya dan bagaimana melankolisnya menulis tentang "pasangan" ini.

Masih terasa hangat dalam ingatan, bagaimana teduhnya hujan di hari itu.
Bagaimana kamu rela membiarkan hujan menggigilkan tubuhmu, tapi kamu tetap dapat tersenyum hangat menyapaku. Memperlihatkan deretan gigi tanpa pagarmu itu.

Bagaimana di akhir hari, kamu lagi-lagi mengagetkanku.
Memberikan sepasang gantungan kunci itu dari tanganmu ke tanganku, dengan bungkusan plastik yang tak pernah kubuka hingga sekarang. Menjelaskan asal mula gantungan itu, dengan cengiran khas yang tak pernah lepas dari wajahmu. Dan saya hanya bisa diam, sembari melengkungkan senyum yang memperlihatkan lesung pipit di pipi kananku.

Ah ya, Terimakasih untuk itu. Untuk semua itu.
Rasanya saya belum pernah mengucapkannya secara bersungguh-sungguh. Waktu itu saya mengucapkan terimakasih atas hari itu padamu- tetapi tidak menjabarkan apa yang membuat saya harus berterimakasih sekaligus bersyukur di hari itu.
Tapi tak apa, kalimat "Terimakasih untuk hari ini" pun mungkin cukup mewakili.

...

Di kertas di balik gantungan kunci itu terlihat gambar Pasangan yang sedang berpelukan, sama halnya seperti Sepasang gantungan kunci itu tetap berpelukan membentuk segambar Hati. Sejak awal kamu memberikannya padaku hingga saat ini, aku menulis cerita tentangnya sembari mengingat kamu (lagi).

Kita mungkin tidak pernah terlihat sebahagia pasangan di kertas itu, tidak juga selalu berdampingan layaknya gantungan kunci itu. Tidak hari ini, tidak juga masa lalu. Dan mungkin, tidak juga nanti.

Tak apa Kamu. Kita sama-sama tau, meski sekarang tak lagi sama, tapi setidaknya kita pernah sama-sama bahagia dulu. Dan itu sudah cukup.

...

Dari banyaknya benda di kamar saya, dari 30 hari #CeritaDariKamar. Saya memilih bercerita tentang benda ini, hari ini.
Di hari ke 24, cerita tentang benda ini mendapat tempat.

Selalu ada sebuah benda, sebaris kalimat, sebait lagu, sederet kenangan, dan seseorang di masa lalu. Yang mendapat tempat entah di hatimu atau di fikiranmu, selalu.



Tyas Hanina

Jumat, 23 Agustus 2013

Meja Belajar

#CeritaDariKamar Hari Keduapuluhtiga




Meja belajar tersebut lumayan besar ukurannya untuk saya. Umurnya sudah cukup tua, dulunya meja belajar ini adalah kepunyaan Aa' saya. Salah satu lacinya sudah rusak, dan bisa dilihat keadaannya begitu berantakan dan penuh oleh banyak barang.
Mulai dari kumpulan notes tak terpakai, krayon warna ukuran besar, buku pelajaran untuk semester sekarang, radio kesayangan, kotak berisi CD musik, album foto besar, topi dan dasi sekolah, lemari kecil penyimpan alat tulis, piala, sebundel kertas ulangan, dan lain-lain.
Kata Ibu, saya ini penimbun barang. Barang mulai dari yang paling penting hingga tidak pun saya simpan, bagi saya kenangan yang terkandung di dalamnya membuatnya penting. Dan kebanyakan barang tersebut saya simpan disana, Meja Belajar.

Meja belajar ini justru jarang menjadi tempat saya belajar. Saya belajar di mana saja, sambil nonton TV atau DVD pun tidak masalah. Dan biasanya saya sering pindah-pindah tempat ketika belajar, sampai menemukan tempat dengan suasana yang paling nyaman.

Gaya belajar saya adalah kinestetik, saya pun baru mengetahuinya saat kelas 10 semester 2 lalu.
Dan belajar dengan cara duduk manis di depan meja belajar membuat saya bosan.

Beberapa waktu lalu, saya baru menyadari meja belajar ini begitu memakan tempat di kamar, saya butuh rak buku baru dan sebuah lemari baju. Saya bilang pada Ibu, bahwa saya ingin meja belajar ini pindah ke tempat lain- entah disumbangkan atau dipindahkan. Saya juga menjelaskan, bahwa saya bisa belajar dimana saja dan justru jarang mempergunakannya untuk tempat belajar.
Tapi Ibu menolaknya, karena katanya barang-barang di dalam meja belajar itu butuh tempat lain untuk diungsikan. Saya tidak bisa menggusur tempat tinggal mereka sembarangan, saya harus menyediakan tempat baru yang nyaman untuk mereka.
Sekarang pun keadaan meja belajar tersebut begitu berantakan, jika nanti ada tempat lain pun dan saya tetap tidak bisa mengatur barang-barang yang ada disana. Keadaan tetap akan sama, berantakan.

Gak meja belajar gak hati sama aja berantakannya.


Tyas Hanina

Kamis, 22 Agustus 2013

DVD

#CeritaDariKamar Hari Keduapuluhdua


Kalau dilihat perbandingan antara jumlah buku dan DVD film yang saya punya, DVD film masih menjadi kaum minoritas di kamar saya.
Saya suka menonton film , tapi saya cinta membaca.

Movies are a complicated collision of literature, theatre, music and all the visual arts.
-Yahoo Serious-

Penggabungan antara Sastra, Teater, Musik dan Visual bisa kita dapatkan di Film. Tapi dengan membaca, semua hal itu dapat kita temukan di dunia imajinasi kita.
Bagi saya begitu, tapi mungkin tidak bagi orang lain.

Salah satu teman saya pernah mengatakan bahwa saya terlihat sangat serius ketika menonton film di Bioskop. Mungkin memang benar, saya cenderung tidak ingin diganggu dengan pertanyaan-pertanyaan seputar film- diam dan menonton apa yang tampil di layar dan mendengar suara-suara yang keluar. Saya tidak seperti  beberapa orang yang bermain handphone atau mengobrol dengan temannya ketika menonton film.
Karena bagi saya, jika saya melakukan itu sama saja dengan membuang uang dan waktu.

Tapi, lain halnya ketika saya menonton DVD di kamar sendiri. Saya cenderung kurang serius menonton, mempause beberapa adegan ketika hal lain mengganggu perhatian saya, mengomentari film sana sini, saya pun sering bengong ketika pembicaraan panjang di film dimulai- dan kaget ketika melihat suatu adegan yang saya tidak mengerti dan mengulang lagi.

Lain lagi, ketika saya menonton Reality Show atau Drama Korea di Internet. Karena harus menunggu dahulu selama beberapa saat, saya pun mengklik tab dan bermain-bermain di tempat lain di internet. Twitteran, Chatting, Blogging, Blogwalking, baca-baca Thread Kaskus, dan lain-lain.
Ketika akhirnya perut saya keroncongan atau ingin mengunyah cemilan, atau mata saya mulai lelah. Saya akan menghentikan kegiatan itu.
Saya akan mengclose tab satu-satu. Dan kaget, ketika menyadari bahwa niat saya dari awal untuk menyalakan internet adalah menonton film tersebut.

Bagaimana kalau di TV? Saya bermain-bermain dengan channel TV. Mengklik sana sini, mencari yang menarik hati. Saya lumayan jarang menonton Televisi, biasanya hanya ketika penayangan kartun Spongebob atau Stand Up Comedy. Atau sekedar menemani Bapak menonton Discovery Channel atau  Animal Planet, dan menemani Ibu menonton Sepak Bola dan Sinetron Tukang Bubur Naik Haji.

Tapi, jika disuruh memilih antara menonton film di Bioskop, DVD, Internet, atau TV.
Saya dengan pasti akan memilih DVD.
Bioskop, harga tiketnya terlebih saat hari libur bagi saya lumayan. Internet, saya sering bosan karena harus menunggu sampai waktunya siap ditayangkan. TV, terlalu banyak iklan.
Keuntungannya dengan menonton di DVD, saya bisa mempause-mengulang-mempercepat suatu adegan. Heboh mengomentari sana sini, yang akan sangat menggangu jika dilakukan di Bioskop. Dan dalam satu hari saya bisa menonton banyak film langsung, tanpa keluar biaya mahal seperti di Bioskop- menunggu iklan di TV juga menunggu siap ditayangkan di Internet.

...

DVD film yang ada di kamar saya, sedikit yang saya beli sendiri. Kebanyakan punya Kakak dan Abang saya, film-film yang sudah mereka nonton tapi saya belum. Atau film-film yang sudah kami tonton, tapi saya sukai.

Saya menonton beberapa genre film, Petualangan- Komedi - Drama - Action - Horror- Thriller - Fiksi - dan lain-lain.
Dan saya menikmatinya saja selama ini.
Meskipun penakut saya tetap suka film Horror, terutama Horror yang berisi terror. Drama yang menguras air mata tapi tidak berlebihan, saya pun suka. Action yang penuh adegan penyerangan, saya suka.
Dan film-film penuh darah berceceran dan korban bergelimpangan. Meski ngeri, tapi saya tetap menikmati.

...

Dan jika muncul pertanyaan, apakah ada Film-film yang memunculkan kenangan-kenangan tertentu. Tentu ada.
Seperti film pertama yang saya tonton di Bioskop bersama Kakak, Anak-Anak Borobudur. Pengalaman pertama menonton bersama teman, berduaan dan sendirian. Film Horror murahan yang iseng saya tonton bersama teman-teman, dan lain-lainnya.

Sama halnya seperti buku, selalu ada sebuah film- entah itu adegannya, dialognya, lagunya atau pemerannya.. Yang mengingatkan kita pada suatu kenangan-pada seseorang.

:)



Tyas Hanina

Rabu, 21 Agustus 2013

Kotak Surat

#CeritaDariKamar Hari Keduapuluhsatu





Jika di postingan #CeritaDariKamar yang sebelumnya saya  menulis bahwa saya suka pantai. Di postingan ini, saya akan membahas bagaimana saya begitu menyukai surat.

...

Saya sudah mendapatkan materi tentang Surat sejak SD, saya tidak ingat jelasnya saat kelas berapa. Dan, saat saya SMP hingga SMA.. Materi tentang surat ini tetap ada.

Surat itu beragam, entah yang bersifat pribadi ataupun resmi. Bermacam-macam jenisnya, dari mulai Surat Cinta penuh kata-kata romansa, Surat Kaleng tanpa nama, Surat Pengunduran Diri, Surat Berantai, Surat Ucapan dan lain-lain.

Saat saya SD, Bapak rutin membelikan Majalah Bobo yang terbit setiap hari Kamis. Semua bagian yang ada dalam majalah saya baca, termasuk sebuah Rubrik bernama "Apa Kabar Bo?"
Di rubrik itu, para pembaca mengirim saran, kritik dan lain-lain. Dan beberapa di antara mereka, mencari Sahabat Pena.
Sudah lama sebenarnya saya penasaran sekali tentang Sahabat Pena, bagaimana rasanya berkirim surat dengan seseorang yang tidak kita kenal sebelumnya bermodalkan Nama Panjang dan Alamat Rumahnya?
Tibalah hari dimana saya memutuskan untuk menantang diri saya sendiri yang saat itu kelas 6 SD untuk menuliskan 1 Surat untuk salah satu nama disana. Saya lupa waktu itu saya memilihnya berdasarkan apa, entah karena namanya yang unik atau karena kata-katanya di Rubrik tersebut.
Meski bingung harus bagaimana memulainya, dan harus berbasa-basi seperti apa. Akhirnya saya pun menuliskannya dan mengirimkannya setelah mengecek beberapa kali susunan kata dan alamat rumahnya. Saya pun mengayuh sepeda ke Kantor Pos Terdekat, menempelkan Perangko disana, deg-degan karena saya tidak tau rupa orang tersebut seperti apa.
Rasa yang baru pertama kali rasakan, benar-benar mendebarkan. Berawal dari tantangan untuk diri sendiri, akhirnya surat balasan pun datang setelah beberapa hari.

Meski hanya berdasarkan kalimat yang dia tuliskan di Surat Balasan, kesan ramah tetap bisa saya dapatkan. Kami pun saling berkirim surat, bertukar kabar, berbagi cerita, dan lain-lainnya. Bahkan di salah satu suratnya, Kakaknya ikut menuliskan sebaris kalimat perkenalan diri untuk saya.

Suatu waktu saya iseng mengetikkan namanya di Google. Dan saya menemukan blognya! Saya akhirnya dapat melihat wajahnya tanpa perlu menerka, saya dapat membaca cerita-cerita yang tidak dia kirimkan kepada saya. Waktu itu saya masih kelas 7 SMP, dan dia satu tahun di bawah usia saya. Saat itu saya kagum dengan dirinya, karena saya ketika SD belum mengenal tentang dunia blog.
Saya pun mengirim surat yang berisikan tentang kunjungan tidak sengaja saya ke Blognya. Lalu dia pun bercerita bahwa itu semua diajari ayahnya, dan dia pun gaptek untuk urusan blog.. (Saya masih menyimpan suratnya tentang ini di dalam Kotak Surat saya. Yang lainnya sepertinya tercecer kemana-mana.)
Dan saat kelas 7 itu pun saya akhirnya membuat halaman blog ini, bermula dengan kebingungan sendiri karena teman-teman sekeliling saya tidak ada yang mempunyai blog. Mengotak-ngatik sendiri, mengetikkan cerita pendek tentang hidup dan mimpi saya yang sebelumnya saya simpan sendiri. Dan tidak pernah memberi tau linknya kepada orang lain, karena saya malu seseorang akan membaca dan menilai tulisan saya. Dan akhirnya, segala sesuatunya berubah.
Sekarang, saya mengshare beberapa tulisan saya di sini bahkan mencantumkan linknya di bio Twitter.
Dan Sahabat Pena saya pun berubah, kini kabarnya hilang beserta surat-surat yang sempat saya terima darinya.

Oke. Salahkan sifat Moody saya.
Saat itu, saya merasa bosan dan malas untuk pergi seminggu sekali ke kantor Pos, membeli perangko dan amplop dengan uang sendiri.. Dan akhirnya dia pun hilang begitu saja, saya hanya bisa melihat kabarnya dari Halaman FBnya. Dan mungkin saya pun juga begitu, hilang dari kehidupannya beserta surat balasan yang tidak saya kirimkan.
(Surat balasan beserta Amplopnya masih saya simpan di Kotak Surat!)

Ah iya, saya belum mengucapkan terima kasih kepadanya. Tanpanya mungkin saya tidak akan tergerak untuk membuat halaman blog dan mempublikasikan cerita saya juga.
Terimakasih Allya Inaz Mahardika! 

...

Selain Surat kepada Sahabat Pena, saya pun menyimpan Selembar Surat Ucapan ulang tahun dari teman-teman saya!

Surat ucapan tersebut saya dapatkan bersama Boneka Giting ketika saya ulang tahun ke14. Surat ucapan yang pendek dan aneh yang mungkin menggambarkan bagaimana diri saya di pandangan mereka :|. Tapi alasan saya begitu menyukai surat aneh ini adalah karena mereka menuliskan nama semua orang yang berpartisipasi dalam Kejutan Ulang Tahun saya. Dan bagaimana kejujuran dan keluguan permintaan maaf mereka di halaman setelahnya.


*geleng-geleng kepala*

Selain surat ucapan rombongan itu, saya juga menyimpan surat ucapan dari Dea & Rifdah si dua sejoli, Sabrina si Laura Basuki KW, Savira si Sapi.
Saya senang diberi kejutan dan hadiah ulang tahun, tapi saya bahagia jika diberi Surat Ucapan dengan tulisan tangan. (#hashtag #kode)

Di dalam Kotak Surat tersebut.
Ada juga surat ucapan ulang tahun yang ingin saya berikan kepada seseorang tetapi tidak jadi karena rasanya kepanjangan. Saya selalu merasa bahagia ketika menuliskan surat ucapan ulang tahun kepada orang-orang tersayang, senyum akan melengkung di wajah saya ketika saya menuliskan surat itu.
(Di tahun ini saya menuliskan 2 surat panjang dengan tulisan tangan saya yang berantakan untuk Rani dan Echa. Untuk Echa saya bentuk suratnya menjadi Perahu Kertas, dan untuk Rani saya bubuhkan stempel zakat maal punya Bapak saya..).

Rifdah menuliskan beberapa surat, ketika saya sekelas dengannya.
Ada sebuah surat yang dia tulis di buku catatan saya, menuliskan segala macam hal.
"Aduh Badmood!", "Don't miss me!", "Where there is a will, there is a way :)", "Yah miring." "NABOK! TAPI BOONG WAHAHAHA" "Tapi gapapa deng harus kangen."
Di lembaran surat itu dia juga menuliskan nomor telepon anggota keluarganya katanya sih buat kenang-kenangan.
Ada juga surat balasan ditulis di atas kertas oranye beserta kecupan bibirnya, untuk membalas surat yang saya tuliskan diam-diam di halaman terakhir buku tulis Bahasa Inggrisnya.
Dan lain-lainnya.

Kenan menuliskan opini tentang saya di buku saku saya. Dia menulis bahwa saya terlihat jutek awalnya, dan dengan ngototnya bilang saya terlihat seperti orang cina.

Ada juga surat balasan dari Sahabat Pena saya yang lainnya, dia bernama Tyas juga.

Dan selain surat-surat, saya juga memasukkan beberapa barang-barang kenangan.
Seperti sticker yang saya dapatkan di Majalah Bobo, ID card OSIS dengan foto kosong, bungkus Pocky Strawberry dari Rani, CD yang saya dapatkan ketika perpisahan SMP, dan surat cinta yang saya dapatkan dari adik kelas ketika MBS.

...

Proses menulis kata perkata, menerka bagaimana ekspresi si penerima, menunggu surat balasan diterima. Menulis surat rasanya sama seperti Jatuh Cinta.


Letters are among the most significant memorial a person can leave behind them.
-Johann Wolfgang von Goethe-



Tyas  Hanina

Selasa, 20 Agustus 2013

Cangkang Kerang

#CeritaDariKamar Hari Keduapuluh

Di kamar saya terdapat 3 pajangan cangkang kerang, ketiganya memiliki bentuk yang berbeda dan warna yang serta corak yang berbeda pula.
Saya tidak ingat, bagaimana mulanya ketiga cangkang kerang itu bisa menjadi pajangan di kamar saya. Mereka tetap setia terpajang di atas rak buku, tak keberatan meski pun kadang terpaksa berselimutkan debu.

Setiap kali menengok ke mereka, seringkali memunculkan selintas kenangan ataupun sebersit ingatan. Bahkan sederet keinginan.

Waktu kecil saya senang mengumpulkan cangkang kerang.. Cangkang kerang yang saya dapatkan tak pernah ada yang sebesar si Trio Pajangan. Dulu, saya ingat sekali membawa mereka semua pulang dan memberikan mereka tempat tinggal baru di dalam meja ruang tamu saya.
Meja ruang tamu saya memiliki laci, yang berisi pasir dan beberapa cangkang kerang hiasan.
(Apa itu kampung halaman si Trio ya? Saya lupa.)

Selain itu, saya pun suka memainkan pasir di dalam meja tersebut. Dulu saya iseng, mengubah sebagian pasir di sana menjadi berwarna merah jambu, saya campurkan dengan Kapur Berwarna yang dihaluskan lalu saya siram dengan air dan dikeringkan.
(Sebenarnya, saya tidak mengingat jelas bagaimana cara saya mewarnai pasir-pasir itu.)

Saat saya kecil rasanya sulit untuk membuat tangan dan kaki saya bisa diam, kecuali ketika Episode Kartun Spongebob ditayangkan atau Majalah Bobo edisi terbaru sudah Bapak berikan.
Tapi yang tidak berubah dari saya yang dulu dan sekarang adalah.. Saya suka pantai.

Pantai dengan butiran pasir yang halus, air laut yang tenang dengan deburan merdu ombak, juga  kedatangan senja si Telur Ceplok nan Elok.
Berenang, bermain dengan air laut- sesekali tanpa sengaja mencecap rasa asinnya di lidah.
Berbaring di atas pasir, mendengar gemerisik angin menyapa pohon kelapa sesekali berlomba suara dengan debur ombak- membiarkan matahari dengan teriknya bersentuhan dengan kulit.
Berjalan santai di sepanjang garis pantai, mencari cangkang-cangkang kerang- menanti senja datang.

Dengan membayangkannya pun saya merasa nyaman.

...

Hari keduapuluh. Saya menyelesaikan sebuah karangan tentang Trio cangkang kerang.

Earth and sky, woods and fields, lakes and rivers, the mountain and the sea, are excellent schoolmasters, and teach some of us more than we can ever learn from books.
-John Lubbock-



Tyas Hanina

Senin, 19 Agustus 2013

Potret Persahabatan

#CeritaDariKamar Hari Kesembilanbelas



"Friends can help each other. A true friend is someone who lets you have total freedom to be yourself - and especially to feel. Or, not feel. Whatever you happen to be feeling at the moment is fine with them. That's what real love amounts to - letting a person be what he really is."
-Jim Morrison-

Saya tidak percaya bahwa ini sebuah kebetulan. Yang saya yakini adalah semesta ikut berkonspirasi mempertemukan kita pada orang-orang tertentu.
Orang-orang yang akan meninggalkan jejak di hidup kita, walaupun dia sudah atau akan pergi.
Jejak yang tak akan hilang, meskipun tersapu arus jaman.

Dua orang yang bersama saya pada foto diatas termasuk orang-orang yang meninggalkan jejak di hati saya.. Yang tinggi dan berdagu panjang, penuh keramahan hati dan bertalenta bernyanyi namanya Echa- Ezra Tarida. Sedangkan, yang memakai seragam sekolah SMA dengan pipi gembul dan bertubuh tinggi, si Ratu Kreatif adalah Rani- Syahrani Maulida Lubis.
Sudah jelas kan saya yang mana? Seorang remaja bertubuh kecil, berponi pagar, memakai kaos Pink bergambar wajah Patrick Star.
Selain memiliki postur tubuh paling kecil, rasanya saya pun hanya anak kecil dibandingkan mereka yang mempunyai pemikiran begitu dewasa.

Rasanya bisa dihitung dengan jari, potret diri kami bersama, bertiga sekaligus. Seringkali ketika kami bertemu dan bermain, waktu kami habis untuk bercerita dan bercanda- hampir tidak ada yang mengingat fungsi kamera untuk mengabadikan moment tersebut. Berbeda sekali kan, dengan remaja kebanyakan?
Tapi hari itu, kami memiliki janji untuk menonton sebuah film di Bioskop. Sebuah film bergenre Horror dan Misteri, film penuh darah berceceran dan efek suara yang mengagetkan. Selesai film tersebut ditonton, dengan raut muka tegang kami melangkah bersama ke Photobooth terdekat.
Masing-masing dari kami pun menyimpan beberapa fotonya. Echa memilih untuk ditempelkan di dinding kamarnya, Rani menyelipkan di dompetnya, dan Saya menyelipkan di dompet dan ada juga yang dipajang di atas Rak Buku tercinta.

Saya selipkan di dompet, supaya ketika dompet saya kurus tanpa asupan uang yang bergizi. Saya bisa menengok foto mereka, dan menyadarkan saya bahwa tanpa kantong tebal persahabatan kami tetap kental.
Dan alasan saya memajangnya di atas Rak Buku adalah karena tempat itu adalah yang paling sering saya tengok. Dan buku, merupakan menu favorit kami bertiga.

Masing-masing dari mereka pernah bercerita tentang saya di blog mereka. Rani menyamakan saya dengan Underwear karena katanya "penuh kehangatan, setia, dan lucu kalau dipandang".
Dan Echa menyebut saya dengan "anak kecil itu kalo ngomong berat banget. Tapi emang bener banget."
Sedangkan saya sendiri belum menuliskan apa-apa tentang mereka di halaman blog saya.

Jadi, di Hari Ke19 ini saya dedikasikan postingan ini untuk mereka. Karena jika setiap benda memiliki cerita, bagaimana dengan persahabatan kita?


Tyas Hanina

Minggu, 18 Agustus 2013

Tas Sekolah

#CeritaDariKamar Hari Kedelapanbelas


Besok, saya dan kebanyakan murid sekolah lainnya kembali kepada rutinitas pelajar.
Masuk pagi, pulang sore. Mengikuti KBM, bertemu teman-teman, melewati rute perjalanan dari rumah ke sekolah dengan tas sekolah yang digendong di pundak.

Tas gendong berwarna biru tua dengan coreng ungu dan hitam tersebut dibelikan oleh orang tua saya berbarengan dengan perlengkapan sekolah lainnya ketika saya baru menjadi murid SMA. Bentuknya sederhana dan muatannya cukup banyak beserta kantong di depannya. Sayangnya tidak ada tempat khusus untuk menaruh botol minum.

Bagi saya, tas gendong atau ransel paling nyaman digunakan. Saya kurang suka menggunakan tas selempang atau tas jinjing.
Dan kalau barang bawaan sekolah yang harus dibawa lebih berat dan banyak- saya biasanya membawa 1 buah tas jinjing lagi.

Meski sebenarnya malas dan ingat punya pengalaman buruk membawa 2 tas, tapi hal itu tetap saya lakukan. Karena rasanya tak baik juga memaksakan menggendong tas dengan bawaan yang terlalu berat. Selain bisa menyebabkan bahu dan punggung sakit, juga bisa mengakibatkan kecenderungan membongkok.

...

Sudah lewat adzan Isya.
Dan saya belum memasukkan buku,alat tulis dan juga baju olahraga kedalam tas sekolah. Saya juga belum menyiapkan seragam beserta atributnya untuk saya kenakan besok.
Untungnya tidak ada tugas yang harus dikumpulkan pada besok hari.
Dan untuk malam ini, saya akan tidur lebih cepat- untuk mengurangi resiko bangun terlambat.

Hehe. Selamat bersekolah kembali.


-Tyas Hanina-