Pages

Minggu, 20 April 2014

Dear, Bulan.

Dear, Bulan.

How’s your nights?
Malam ini kau hanya menampakkan separuh dari tubuhmu.
Awan hitam menyembunyikan separuh bagian atasmu.
Tapi tak mengapa indahmu tetap terasa.
Sesuatu yang indah, meskipun ditutupi baik secara sengaja atau tidak sengaja tetap saja indah kan?

Ah, sungguh aku tidak bercanda. Sungguh aku bersungguh.

Sudah cukup lama aku tidak memandangimu dari balik jendela ruang kerjaku.
Akhir-akhir ini aku lebih sering mengurung diri di kamar.
Sinarmu terhalang oleh tembok kamarku.
Tapi, aku tau kau ada di sana.
Dan selalu  ada di sana.

Ada seseorang yang mengatakan (aku lupa siapa tepatnya),
“Matahari menyaksikan tubuhmu. Tapi rembulan mengerti jiwamu.”
Aku tau bahwa itu benar. Setidaknya jiwaku merasakan begitu.

Ada sesuatu di dalam gelap malam. Dan kesunyiannya.
Yang mampu menenangkan gaduhnya pikiranku.
Yang mampu melepaskannya secara perlahan.
Entah lewat tulisan. Ataupun perbincangan kepada diri sendiri.
Sehingga tak seorangpun mendengar.

Kecuali dirimu,
Kau tak hanya mendengarkan. Kau juga paham.

Ah, terimakasih untuk itu. Untuk kehadiranmu.
Maaf aku belum pernah berterimakasih akan hal itu.

...

Bulan, kau tau kan? Kau menyaksikannya secara langsung kan?
Sesuatu yang tak dapat kupublikasikan ataupun bicarakan kepada orang lain, yang terjadi malam ini.
Kejadian yang mungkin biasa saja bagi orang lain.
Tapi memberikan efek yang tidak biasa pada diriku. Kau mengerti kan?

Entahlah. Aku bingung akan hal itu.
Aku merasa senang, tapi aku pun gusar.
Aku mencoba bersikap biasa saja, tapi senyumku justru melebar.

Memang bahagia tidak bisa ditutupi. Karena itu aku mencoba mengendalikannya.
Memang rasa sakit tidak bisa dihindari. Karena itu aku mencoba mengontrolnya.
Sehingga aku terlihat wajar, setidaknya di depannya. Penyebabnya

...

Di dunia khayalku. Batas semu antara fantasi dan realita.
Aku pernah membayangkan kejadian ini.
Kejadian yang sederhana, namun luar biasa menyenangkan dan menyakitkan.

Tapi sungguh, khayalanku yang dibilang orang terlalu tinggi pun rasanya bukan apa-apa.
Ketika aku harus menghadapi sesuatu yang bernama realita.
Lidahku terasa diikat. Mati rasa. Terbungkam.
Sungguh, aku bersungguh.
Tidak ada yang lebih menyenangkan sekaligus semenyakitkan ini.
Ketika aku harus menghadapinya di dunia nyata.

...

Bulan,
Malam ini ia menutupnya dengan suatu ucapan yang sangat sederhana.
Namun lagi-lagi memberikan efek yang tidak biasa.
Selamat malam, katanya.
Dan dia menyuruhku tidur secepatnya.

Dan, Bulan.
Kau mengerti kan?
Seperti apa tepatnya yang aku rasakan?
Karena aku tidak benar-benar mengerti kali ini. Bahkan perasaanku sendiri.


Sincerely,
Tyas Hanina

P.S
Why is it everytime we say goodnight, it feels like goodbye?
But I crumble completely when you cry,
It seems like once again you've had to greet me with goodbye,
I'm always just about to go and spoil a surprise,
Take my hands off of your eyes too soon,

...and a smile

(Arctic Monkeys – 505)