Pages

Senin, 15 Januari 2018

banyak suara lalu lalang tentang larangan untuk menjadi egois. menempatkan diri dalam urutan prioritas tertinggi.

laksana bumi yang katanya sibuk berotasi, mengelilingi matahari. aku, hanya satu dari sekian planet yang bertahan hidup dengan berserah diri pada pusat semesta. kalau suatu waktu aku nekat berhenti, bahkan untuk sementara saja melirik galaksi tetangga atau menarik napas setelah lelah berevolusi, orang-orang mungkin akan kesulitan dan perlahan membenciku.

tapi, kalau benar aku ini bumi. lantas siapa yang berperan menjadi matahari? mengapa aku harus menyusuri jalur rotasi tanpa henti sedangkan ia bisa anteng saja tapi tetap bersinar? dengan cemerlang pula?

tulisan ini barangkali hanyalah bukti bahwa aku juga bisa memenangkan egoku sendiri. merasa memegang peranan penting, merasa orang lain akan kesulitan kalau aku berhenti jadi bumi.

padahal, mungkin saja aku ini matahari. yang diam-diam iri pada planet-planet yang sibuk melalang lintang memutariku. sedangkan aku cuma bisa berserah pada tangan nasib, seraya tetap bercahaya, karena kalau sinarku redup lagi-lagi aku bisa jadi pihak yang dibenci. aku tidak ingin jadi antagonis.

barangkali peran bumi dan matahari itu tidak ada. hanya mitos yang berkelindan dalam akalku yang sepi.
mungkin aku terlalu sibuk menghitung waktu rotasi. saat ini pukul 11 pagi, atau siang. masih ada 13 jam lagi sebelum aku kembali ke titik awal rotasiku.
air mata sudah kering di pipi, mataku panas oleh sebab yang entah apa, mungkin karena aku kurang kenyang menelan tidur semalam.

aku mau tidur. tuk sejenak beristirahat dari revolusi. tuk sementara meredupkan sinarku yang tak seberapa.
lagipula aku tidak benar-benar berhenti; sinarku juga tak mungkin mati.

aku butuh pelukan. demi tuhan.