Pages

Jumat, 21 September 2018

Setelah iseng buka profil facebook teman-teman lama, aku baru menyadari bahwa ada fragmen dalam hidupku juga hidup mereka yang berbenturan, dan melekat di ingatan.

-

Aku masih ingat si Z, seorang teman SD yang pernah membocorkan rahasiaku pada Ibuku. Tepat pada hari ulang tahunku yang ke-10, Ibuku datang berkunjung ke sekolah untuk mentraktir teman sekelasku makan bakso. Aku masih ingat rasa bakso hari itu, malu dan pedas, agak asin dan kesal.

R, berbeda dengan Z, tidak pernah ada alasan khusus mengapa aku pernah menyimpan kesal dan tetap berhubungan dengannya usai kami terpisah setelah lulus sekolah. (Karena saking menyebalkannya orang ini, dan saking payahnya aku menjaga komunikasi). Rumah kami berdekatan, otomatis kami sering bertemu di perjalanan. Alih-alih, bercakap-cakap tentang pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, satupun salam ku tak pernah digubris olehnya. Tapi, itu tak apa-apa. Tidak pernah ada bentrok fisik yang terjadi antara kami berdua, kecuali pada satu momen ketika kami berdebat entah tentang apa dan saling memegang sapu untuk memukul satu sama lain, tapi tidak jadi. Tawa kami pecah berhamburan detik itu, mungkin untuk pertama kali.

Ada pepatah yang bilang, bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Entah kenapa aku urung setuju akan hal itu, ketika aku mengenal E. Jasanya mungkin tidak terlihat oleh mata, tapi ada satu jendela di kepalaku yang terbuka usai bercakap dengannya sore itu. Katanya, “ada sesuatu di mata kamu yang berbeda dibanding murid lainnya, kamu berbeda saat belajar, berbeda saat berpendapat, berbeda saat mendengarkan”.  Aku tidak pernah tahu, sejujurnya, apakah perbedaan melulu dapat diartikan sebagai hal yang menawan. Namun, yang jelas, kemudian aku sadar bahwa aku gondok setengah mati karena dia tidak bisa mengajari aku ekonomi lagi.

 -

Baik Z, R, maupun E, juga jutaan inisial yang tidak sempat aku ceritakan di sini;
Cerita tentang mereka membeku dalam pusaran waktu. Sesekali aku tidak keberatan untuk menengok kembali, seperti saat ini. Walaupun ada beberapa hal yang menjadi kabur, karena terlalu lama tidak ku tanya kabar. Namun, orang bisa lupa tentang apa yang diucapkan, orang bisa lupa tanggal dan waktu kejadian, tapi tidak dengan gumpalan perasaan.

Aku kemudian jadi sibuk mengira-ngira sendiri, bagaimana fragmen tentangku di pusaran waktu mereka? Bagaimanakah aku akan diingat? Dan, pantaskah aku tetap melekat?

-

Karena sudah terlanjur, jadi sekalian saja, aku ingin bertukar kabar dengan orang-orang yang masih menyediakan tempat untukku di pusaran waktunya;
Aku baik-baik saja, terima kasih sudah mengingatku. Bagaimana denganmu?


Jatinangor,


TH