Pages

Kamis, 28 Desember 2017

I always have the urge to write when i’m reading, and the urge to read when i’m writing.
It's the same feelings i got when i’m in front of the sea. The sunbeam reminds me of people. Yet, i always found myself longing for the waves when i’m being surrounded by them.

We tend to appreciate something when we were no longer with them.

When our time comes to an end.


-

But, i don’t think i will ever feel the same way about you.




(Cipatujah,
pada penghujung tahun 2017)

Sabtu, 25 November 2017

ini mungkin kedengeran gila, tapi aku kangen ngerjain PR matematika

-

dari mulai tambah, kurang, bagi hingga kali
segelimpangan angka selalu kuanggap misteri yang harus dipecahkan setiap hari

pernah aku sampai menangis tersedu-sedu, lalu ditertawai ayahku
pernah juga wajahku merah padam, karena guruku tidak percaya aku mengerjakannya hampir sempurna. hih liat saja nanti hasil ujianku, ujarku pongah, dalam hati tentunya

-

aduuuuuh, buyung
aku rindu ngerjain tugas matematika
lukis puisi dari angka
nulis gambar tentang rumus
sampai gila, sampai mampus

seakan-akan yang paling merana, sekonyong-konyong merasa nestapa

-

aku rindu masa ketika masalah hidupku hanya PR matematika saja

kalau kesulitan aku tinggal mengaduh sampai gaduh. ditertawai bapak. dibeliin cokelat sama aa. berebut tempat sama dinginnya ubin rumah karena ngerjainnya sambil telungkup di depan TV yang lagi nayangin dangdut academy.

astaga, kenapa aku terlalu cepat tumbuh dewasa?

Minggu, 19 November 2017

Resensi Buku "Pagi yang Miring Ke Kanan"



Antalogi Cerpen Tentang Kebebasan

Sumber gambar: bukalapak

Judul: Pagi yang Miring Ke Kanan
Penulis: Afrizal Malna
Cetakan: Cetakan Pertama, Mei 2017
Penerbit: NYALA
Halaman: 267 halaman
Harga: 75.000




Sabtu, 18 November 2017

tentang lima tangkai mawar biru tak bertuan

Sudah layu.
Sedikit kecewa meski tahu benar usianya tidak akan panjang.
Padahal dia datang bersama selipan doa untuk usiaku yang sudah satu dasawarsa.

...

Aku heran sekali waktu ada yang datang, mengetuk pintu lewat sebaris obrolan singkat di LINE, tau-tau membawa kabar bahwa ada yang memberiku bunga.

Kok bisa-bisanya ada yang iseng mengirimiku bunga? Sebagai hadiah ulang tahun pula?
Begitu sampai kamar, aku langsung meletakannya di atas meja dekat jendela yang hampir tidak pernah kubuka. Secarik kertas berisi 3 potong kalimat pendek aku ambil dari dalam plastiknya, aku letakkan di kotak surat sebagai pengingat.

Lucu, ternyata ada orang yang mengingatku waktu lihat mawar biru.

...

"Kalo ampe ada yang ngasih lu bunga, gue ketawa banget sih yas."
"Gue aja gak suka bunga."
"Iya, makanya! Kasihan yang ngasih."
Percakapan singkat itu masih terekam di ingatanku, kala itu aku masih pake rok abu-abu.

Aku selalu merasa orang-orang terlalu meromantisasi bunga. Apalagi mawar.
Kalau-kalau aku punya kuasa untuk memilih hadiahku sendiri. Aku akan memboikot bunga mawar dari daftar pilihannya.

Aku sampai sekarang masih gak tahu bunganya harus ku apakan. Disimpan terus sampai kelopaknya gugur satu-satu kah? Diawetkan pakai formalin kah? Dilaminating tiap kelopaknya kah? Atau dengan penuh kesia-siaan dan harapan dia akan tumbuh lagi, aku kasih minum air dingin setiap hari kah?

Tapi, dia toh udah mati kan, kala pertama orang ini memutuskan bahwa mawar ini menjadi hadiah ulang tahunku. Sudah mati, diwarnai pula mayatnya, aduh! Aku merasa bersalah.
Karena itu, aku ingin mengabadikannya lewat tulisan.

...

Dasar, gak tahu terimakasih!

Tunggu dulu, jangan ajak aku berdebat. Logikaku sedang kepayahan untuk mengeluarkan argumen dengan runut. Aku lagi-lagi hanya bisa memborbadir kamu (yang mungkin pengirim iseng ini) dengan perasaanku yang coba kususun rapi lewat paragraf.
Sulit menulis sesuatu ketika senang. Karena itu, aku tidak menuliskan surat balasan ini pada hari itu.
Teman-temanku sibuk membuat kuis tebakan siapa pengirimnya. Mungkin si anu Yas yang suka dengerin siaran radiomu, mungkin si ono Yas yang bikin kamu kehujanan di hari ulang tahunmu.

Huh, sok tahu! Aku saja gak mau cari tahu.
Orang dia udah susah-susah kok menyembunyikan identitasnya makanya gak nyantumin nama, mbok ya, usahlah diikut campuri rahasianya ini.
 ...

Suratmu masih suka kubaca berkali-kali.
Hangat sekali ucapan selamat ulang tahun yang terkesan terburu-buru dan dibubuhi tanda seru itu.
Aku masih kesulitan untuk merawat bungamu yang kian layu, maafkan aku.

Guru IPAku waktu SD pasti kecewa melihatku yang tak mampu menjaga kelestarian lingkungan.
Habis ini, aku pasti dikasih pekerjaan rumah, disuruh nanem tauge di dalam kapas.
Sedikit lega, karena aku sudah jadi anak kuliahan.

Maaf ya, aku suka ngobrol ngalor ngidul lewat tulisan. Aku tadinya hanya ingin mengucapkan sepaket terima kasih agar pemberianmu bisa abadi.

Ngomong-ngomong, aku ingin titip pesan.
Lain kali, jangan kasih aku bunga mawar, aku sebenarnya lebih suka bunga matahari. Dulu biru memang warna favoritku, tapi kini aku lebih sayang warna kuning.

Haha. Ngelunjak ya. Makin nyesel gak udah buang-buang uang jajanmu demi aku dan bukannya buat beli siomay?





Tyas Hanina

Kamis, 26 Oktober 2017

Sudahlah



Akhirnya hari ini datang juga.

Mampus aku.
Pagi-pagi, bangun dari tidurku yang kurang panjang, aku sudah misuh-misuh.

Rasanya ada yang mengganjal.
Aku merasa kakiku gak melangkah sebagaimana mestinya, telapaknya gak napak, tanah cuma jadi ilusi. Seharian ini aku melayang.
Pertemuan-pertemuan organisasi tak satu pun ku hadiri. Dicap pembohong dan gak profesional, tak apa. Memang salahku, salahku yang tak bisa mengarahkan hatiku untuk berangkat ke mana. Akhirnya malah beli mangga di pasar raya.

Hujan datang tanpa bercanda. Tanpa tegur sapa.
Aku gak suka. Sepatuku jadi basah. Semprotan antiseptic buat pembersih tangan jadi sering habis karena kupakai di kaki. Telapak kakiku jadi berkerut dan bau jeruk nipis.
Untungnya, aku selalu ingat untuk bawa payung lipat dari ayahku. Jadi, jarum air itu sekiranya gak bakal menyakiti kepalaku secara langsung.

-

Rupa-rupa rasa, ragam-ragam warna.
Aku marah, senang, takut, bahagia, capek, dan girang sekaligus.
Aku menunggu-menunggu chat yang kosong pada hari ini. Kecuali, dari akun-akun resmi di LINE.
Namun, ekspektasiku salah. LINE malah dengan lancangnya ngasih tau ke teman-temanku ketakutan terbesarku. Emang kurang ajar ya teknologi itu.

Untungnya, tiada pesta pora.
Senang, hari ini aku bisa menyelamatkan lingkungan. Tidak ada balon gas yang diterbangkan, juga tidak ada bunga mawar yang dipetik untukku hari ini.
Meski nyatanya wajahku mencemari lini masa teman-temanku. Maafkan untuk itu, aku kehilangan kuasa di sana.

-

Salah seorang teman memberikan bingkisan.
Sebuah gincu berwarna merah jambu juga dua halaman surat tentang pencapaian di setiap usiaku.
Aku sama aja kok kaya orang kebanyakan. Girang kalo dapet bingkisan. Dikasih es krim seharga biaya parkir di fakultasku saja sudah cengengesan.
Lebih-lebih dikasih doa dan ucapan, “Jangan takut bertambah tua.”

Sialan, maskaraku masuk ke mata. Air mata juga sisa-sisa air hujan berebut tempat.
Jangan takut, katanya.

Rekanku yang lain protes.
Makanya, usahlah kamu heboh melentikkan bulu matamu, heboh merah-merahin pipimu.
Ora pantes. Berhentilah mencoba jadi semakin perempuan.
Aku protes, “Lah, memangnya kamu pikir selama ini aku dandan buat nyenengin matamu?”

Dia tidak tahu, hari ini aku bisa saja menerbangkan gunung kalau aku mau.
Rasa takutku terlalu besar. Ditambah mendengar ucapannya yang ngasal.
Lihat saja, besok pagi aku akan kuliah dengan gincu merah jambu super tebal! Bulu mataku akan melengkung sampai menyentuh ubun-ubunku kalau perlu! Wekkkk.



Jatinangor,


Tyas Hanina

Senin, 02 Oktober 2017

Setelah ini, aku ingin titip pesan
Sedikit saja, untukmu

Tolong, jangan ingat hari ulang tahunku.

Jumat, 22 September 2017

untuk seorang teman yang sudah pulang

sebab, kehilangan tak pernah mengenal kata permisi
juga gemar bersembunyi di balik kelopak matamu

sebab, langit kadang tak bisa diprediksi
juga gemar mengejek rencana dan ekspektasimu

hari ini biru. besok kelabu. lusa ragu-ragu

aspal jalanan masih tetap keras, truk-truk pasir masih suka melintas
debu-debu tronton memenuhi ruang udara
menempel pada sisa-sisa bedakku yang sudah luntur
juga di helm mahalmu yang kau bawa ke mana-mana

-

malam itu, aku makan di restoran yang penuh asap
di simpang ruang kecamatan yang pengap

membicarakan kamu, tak lupa mendoakan keselamatanmu

satu-dua-sepuluh tusuk sate diletakkan di meja
tersisa sambal yang hampir tak ku sentuh
lalu, aku keluar restoran sembari mengelus perut

jarum air mulai turun dari langit yang miskin bintang
tanganku terbentang
berteriak memanggil kawan yang sedang berbincang dengan petugas kasir

"gerimis!"

aku tak tahu saat itu kamu sedang berjuang

-

Kamis, 22 September 2017


kamu lelap tertidur
tak lupa menyimpan senyum di wajahmu yang kian pucat
debu-debu jalanan sudah dibersihkan
istirahatlah yang tenang

jangan lagi khawatir tentang tugas abang
juga rencana Makar di pantai

di perjalanan pulang, ambillah doa kami sebagai bekalmu

satu-dua-sepuluh kenangan bersama
potret-potret yang kau ambil saat orientasi semester empat
pura-pura jadi penculik saat semester tiga
berbaris bersama di belakang gedung lima saat semester dua
rambut dipangkas habis saat semester satu

juga sisa-sisa tugas kelompok yang terpaksa kami selesaikan bersama, tak apa.



hati-hati di jalan, kentung!



(Tulisan ini dibuat untuk mengenang keluarga kami, M. Restu Fauzi - K1A15)

Kamis, 07 September 2017

Selamat malam! (Eh, atau selamat pagi?)

Maaf akhir-akhir ini aku asik sendiri dengan hidupku, sampai jadi tidak sempat untuk sekedar mengabarkan momen yang terjadi dalam semestaku.
Hm apa ya, yang segera harus kulaporkan?

Ah ya, baru kemarin aku menyelesaikan bukunya Putu Wijaya. Judulnya "Nora". Nora yang tidak pakai k, bukan norak. Tapi, memang tokoh utama wanitanya si Nora-Nora itu agak Norak sih digambarkannya. Ah bodo amat, tapi aku suka!
Jangan takut dulu kalau kamu baca tulisan "bacaan khusus dewasa" di sampulnya.  Ini bukan kisah stensilan kok. Percayalah padaku.

(Oh ya, kalau kamu mau menengok daftar bacaanku bisa di sini ya)

-

Terus, yang tidak kalah penting.
Aku baru saja selesai menulis, tapi tidak ku posting di sini.

Yah kenapa? Kecewa yah?

Maaf-maaf. Bukan maksud hati mendua, hanya saja ternyata asik karena medium berceritaku semakin luas! Hehe.

Aku dapat banyak kenalan yang tidak kenal-kenal amat di sana. Tulisannya bagus-bagus. Diksiku jadi makin kaya!
Aku senang baca-baca tulisan mereka ketika aku lagi bengong-bengong di kereta. Kamu harus coba.

Oh iya, nama medianya itu medium.


-

Aku masih gini-gini aja kok,
mata dua hidung satu. Gak ada bagian dari tubuhku yang bertambah jumlahnya.

Eh gatau sih bagaimana kabar kerutan di jidat dan bulu-bulu halusnya.

Pokonya, aku masih aku yang sama.
Aku yang suka bercerita di blog ini, aku yang suka bercerita pada dinding kamar.
Hanya saja, setelah hampir 3 tahun kuliah, aku belajar bahwa aku tidak boleh sombong berbagi cerita.
Perluas mediummu untuk bercerita niscaya semestamu akan semakin luas pula.

Hal-hal yang kubagi di setiap media itu pun berbeda. Kalau di sini, karena aku anggap ini adalah sebuah rumah, tempatku bermula dan tempatku kembali pula.. aku hanya akan membagikan hal-hal yang kuanggap pribadi di sini saja.

Begitulah, jadi jangan takut kehilanganku.
Aku masih jadi bagian dari diriku.

Saat ini, dua tahun lalu, sepuluh tahun kemudian.

-

Sebentar, aku haus.
Kapan-kapan aku sambung lagi ya ceritanya!

Selamat ma-
eh pa-

Ah, pokonya selamat membaca! :)



Jatinangor,



Tyas Hanina

Kamis, 24 Agustus 2017

aku ingin mengabadikanmu, tapi takut orang lain tahu

aku mencoba menulismu berkali-kali, tapi
selalu tiba-tiba ingin berhenti

kumpulan frasa yang dipenggal,
berusaha keras supaya bisa dibilang puisi,
terus menerus berlatih agar bisa menginspirasi

lantas, pada suatu sore yang biasa-biasa saja,
tawamu terpingkal oleh sebab yang entah apa,
lalu tulisanku jadi mati, tambah buruk rupa, makin hilang makna

kamu lebih magis,
tulisanku tak mampu menyaingimu bahkan tidak nyaris.

-

diksiku miskin, pikiran pun tak presisi,
lancang sekali aku mengabadikanmu dalam puisi.

Selasa, 18 Juli 2017

ku biarkan kamu jadi anak kecil lagi malam ini,
dan malam nanti bila akhirnya kita bertemu di ruang sempit ukuran 3x4 itu

ku ambilkan bulan jika kau mau,
tapi aku tau kamu tidak serakah mau menyimpan sinarnya sendirian di dadamu yang sedang sering ngilu-ngilu karena batuk.

ku nyanyikan hening kesukaanmu,
namun bila kamu bosan dengan lagu sepi, tak apa, aku akan bercerita tentang nasibku kala berjumpa denganmu di hari yang biasa-biasa saja.


-

ku abaikan kau sampai kau lengah,
lalu lelah,
lalu marah.

dan bila nanti, kamu mulai memalingkan wajahmu dariku,
dan memilih beradu pandang dengan tembok kamarku,

aku ciumi pipimu,
sampai habis rona merah mudanya.
sampai sirna bedak-bedak mahalnya.

-

ku peluk kau sampai tulangku berderik,
ingin ku biarkan para cicak berdecak sirik.

Kamis, 11 Mei 2017

ketiak orang dewasa

sungguh,
rindu masa putih abu-abu.
saat problematika hidup hanya seputar ujian kelulusan saja,
dan drama penuh romansa seolah dunia hanya milik kami berdua.

"habis lulus mau ke mana?"
"habis ini harus apa?"
"sebenarnya aku ini siapa?"

masih penuh ambisi.
masih harum akan mimpi.
masih gemar patah hati.

-

padahal,
setelah lulus SMA,
pergi sebentar dari kelapa dua,
dan hampir berusia kepala dua.

jawabannya masih belum ketemu juga.
entah,
padahal konon katanya,
ia bersembunyi di balik ketiak orang dewasa.

-

setiap mandi ku cari ia di balik ketiakku,
berhati-hati ku angkat lengan tanganku,
tidak ada apa-apa.

 
kutelusuri jejaknya di deodoranku,
takut-takut ia tergilas zat kimia di sana.
tidak ada juga.

aneh,
 
mungkin aku yang kurang gigih mencari.
atau mungkin dia memang sangat cinta bersembunyi.
 
atau mungkin,
aku memang belum jadi orang dewasa. 

-

jadi sebenarnya jawabannya ada di mana?
ujung langit kah bersama seorang anak yang kita utus ke sana?
atau benar-benar ada di bawah ketiak orang dewasa?
 
omong-omong,
orang dewasa yang mana?
orang dewasa yang seperti apa? 
kok bisa orang dikategorikan sebagai dewasa?
orang dewasa yang gak pake deodoran kah?
orang dewasa yang rajin cabut bulu ketiak ya?
yang mana?
 
aku harus bagaimana?

Rabu, 03 Mei 2017

Tentang Pesan dan Makna



April had been the tough month for me.
I don’t know exactly how many times that i cried to sleep last month.

Here comes the fear.
Here goes the hope.



Sebenernya, gak ada satu hal yang signifikan banget terjadi.
Gak ada orang terdekat gue yang ‘pergi’. Bumi sejauh yang gue pijaki masih baik-baik saja.
Langit juga masih suka memolek dirinya setiap sore. Dan gue masih suka menengok ke langit setiap kali gue harus merasa bahwa gue pun baik-baik saja.

Tapi, entah kenapa gue terus merasa cemas.

Seseorang yang berharga bagi seseorang yang berharga buat gue, memutuskan untuk pergi dari semesta ini. Saat itu, gue merasa bahwa bumi jadi gak sepenuhnya baik-baik saja.
Seseorang memutuskan untuk datang. Lalu, tiba-tiba mengatakan bahwa gue cantik, gak kalah sama langit. Tapi, bukannya keinginan untuk terus memolek diri yang muncul. Gue justru jatuh dalam konklusi yang gak enak tentang itu.
Seseorang yang lain, dengan kerasnya menampar gue dengan kalimatnya. Bahwa, mungkin hidup gue gak berarti apa-apa, gak punya makna khusus. Selama yang gue lakuin cuma haredolin.

-

Pada saat-saat seperti ini.
Gue merasa gak bisa nulis yang muluk­-muluk. Dan takut untuk meminta sebuah peluk.

Gue jadi sering banget buka media sosial. Mencari-cari kabar entah dari siapa.
Gue juga jadi cukup sering mengunggah sesuatu di media sosial. Mengharapkan sesuatu yang entah apa.

Karena seringnya gue gak tau mau nulis apa dan ngomong sama siapa tentang ini.
Gue putuskan untuk lari dengan cara membaca.

Buku-buku yang secara acak gue temukan di salah satu ruang baca di Jatinangor. Artikel-artikel yang tiba-tiba muncul di linimasa.
Apa saja.
I crave words.

Kemudian, gue gak sengaja berkenalan dengan salah satu tulisan yang intinya bercerita bagaimana media sosial itu sebenarnya racun. Toxic.
Ini bukan tulisan basi tentang bagaimana medsos menjauhkan kita dari yang dekat dan mendekatkan kita dari yang jauh.
Tapi, dijelaskan dengan cara yang sangat logis. Bagaimana terlalu banyak informasi dapat membuat kita limbung. Dan justru bikin kita gak mampu berdiri dengan seimbang karena menanggung beban banyak dari informasi-informasi yang kita dapat.

(Ngomong-ngomong, gue mau minta maaf. Baru sadar kalau gue sering sekali memenggal kalimat di tengah-tengah frasa yang belum selesai. So sorry.)

Bangun tidur, langsung buka hape. Cek linimasa. Cari-cari berita.
Sebenernya, menurut gue itu bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk.
Dengan tau, kita bisa jadi lebih peduli.
Dan karena saat ini gue sedang menempuh studi di bidang Jurnalistik, which isssss kerjaannya juga nulis berita.
Gue sadar betul, penting buat masyarakat untuk melek berita. Peka dan sadar sama keadaan sosial sekitarnya.

Media sosial juga gak sepenuhnya jelek kok. Ada manfaatnya juga.
Kadang-kadang, kita terlalu males buat ngontak seseorang untuk mengetahui kabarnya kan? Itulah fungsi dari media sosial.
Mengetahui sesuatu yang ingin kita ketahui tanpa perlu bersusah payah untuk itu.
Yah, walaupun sekaligus juga mengetahui hal-hal yang gak perlu kita ketahui sih.
Hehe...

-

It’s 1:30 PM. Do you know what your best friend ate for lunch?
It’s 6 AM. Do you know what the president tweeted last night?
It’s 8 AM. Do you know what your toothpaste preference says about your love life?

Pertanyaan beserta jawabannya itulah yang akan ditawarkan oleh media sosial setiap hari.
Masih banyak lagi jumlahnya dan kegilaannya.

Kita dipaksa untuk mencari tau, untuk tau. Untuk kemudian merasa perlu untuk terus tau.
Kita punya data. Banyak sekali tersedia.

“The implied promise, or one of them, is that data gives us peace of mind. We sacrifice our privacy for it, even pay for it. We told that the more we know, the better of we wil be.

Namun, sayangnya informasi-informasi tersebut justru dapat berbalik menyerang kita. Karena rasa cemas dan gelisah yang datang bersamanya.
“Truthfully, we can’t keep up with everything, with every news happening every time around the world.”

Misal. Kita tau pacar kita di rumah. Tapi, gak pernah tau apa yang sebenarnya dia lakuin di sana.
Kita dapet informasi dari mulutnya, kalau dia mencintai kita. Tapi, gak pernah tau apa sesungguhnya makna dari cintanya itu.
Is it love or is it lust?

(Maaf ya aku merasa lama-lama tulisanku ini kok jadi bergerak ke arah yang terlalu serius, makanya ku kasih contoh yang ringan saja.)

Ya gitu dah kira-kira.

-

Sebenernya yang pengen gue bahas dan kritisi adalah penggunaan media sosial yang berlebihan aja sih.
Kaya kenapa gitu kita merelakan waktu tidur kita untuk mencari tau kabar orang lain yang sebenernya gak penting-penting banget?
Kenapa harus susah payah membagikan momen menarik di hidup kita ke orang lain yang sebenernya gak perlu-perlu banget tau tentang itu?
There will be no time to reflect. To sleep. To actually create something.

Dan sungguh, gak ada satu atau banyak pihak yang gue singgung dalam tulisan ini.
Gue cuma pengen nyentil diri gue sendiri aja sih.

Kadang, gue ngerasa jarang banget ngasih kabar ke orang rumah. But at the same time, i shared anything on my timeline. Padahal nyokap mungkin jauh lebih butuh tau keadaan di semesta gue kaya gimana daripada teman-teman gue di media sosial.

Karena itulah.
Beberapa hari ini gue menarik diri dari media sosial. Gue hapus beberapa aplikasinya di telpon genggam.
And surprisinglyyyyyy.
It helps me a lot.

Gue ngerasa lebih hidup. Masih sih megang hape, buat sekedar main game atau bales chat.
Tapi, gue lega mengetahui bahwa gue baik-baik saja ketika gue tidak mengetahui temen gue jam 2 pagi lagi galauin apa di instastory, temen gue makan-makan cantik di mana jam 3 sore lewat path (ew, i actually never using path), atau temen gue lagi gelisahin apa di twitter jam 11 malem.
Kayanya kesannya apatis banget sih. Cuma, gue ngerasa pengen ngebangun hubungan yang sehat aja sama diri sendiri. Dan orang-orang terdekat gue tentunya.
Gue pengen tau kabar mereka yang sebenarnya. Seperti apa yang mereka rasakan ketika tim bola kesayangannya kalah di turnamen yang lalu. Apa yang mereka gelisahkan ketika idolanya kena dating scandal.
Gue pengen bener-bener ngobrol. Tatap muka, liat mata.
Gue pengen jadi Tyas yang lebih peduli. Tyas yang bisa jadi pendengar yang baik.
Yang gak dengerin orang curhat tapi jarinya masih scroll-scroll telpon genggam.

Dan sebaliknya.
Gue pengen orang kenal gue secara langsung.
Cari tau. Ajak ngobrol.
Gak cuma nilai gue dari apa yang gue bagi di media sosial. Bukan dari foto yang gue unggah, bukan dari bacotan gue di twitter, bahkan bukan dari tulisan gue di blog ini.

Memang, apa yang di kepala seseorang bukanlah urusan gue.
Orang lagi-lagi, bebas mau memaknai gue seperti apa.
Dengan begitu, gue juga merasa bahwa gue punya ruang untuk membiarkan orang mau memaknai gue dengan cara seperti apa. Hehe.

-


Btw ini artikel yang sempat nyubit gue kemarin : “The Power of Not Knowing” @vanschneider



Akhir kata,
Terimakasih sudah membaca.  Terimakasih sudah memberiku makna.



Jatinangor,

Tyas Hanina


P.S
10:36 AM. Do you know what i ate for breakfast? None.
Laper.

Minggu, 16 April 2017


Malam ini aku terbangun dari tidur yang kuninabobokan sendiri.
Dahiku basah oleh keringat.
Entah karena kipas angin tuaku yang sudah payah. Atau karena ingatan di kepalaku yang makin parah.

Aku punya ingatan daratan. (Frasa ini dipinjam dari buku ‘Sastra Pranikah’nya Nyi Vinon)
Aku hanya ingat hal-hal yang ingin aku ingat saja.
Cenderung mudah melupa hal-hal yang tidak ingin kusimpan di kepala.
Tragedi memalukan apa pun yang menimpaku, atau kenyataan bahwa aku (mungkin) pernah menangis hingga dadaku ngilu-ngilu semalaman. (Kenapa ku tulis mungkin? Karena mungkin pernah terjadi, dan mungkin aku pernah melupakannya).

Ah sudahlah. Aku tidak ingin banyak basa basi. Takut tulisan ini keburu basi.
Mumpung masih hangat ruam-ruam kuku di bantalku.
Aku ingin segera menunaikan tulisan tentang mimpiku ini.

-

Jadi, tadi aku bermimpi. Seseorang mengirimkan sebuah pesan singkat untukku di majalah kampus.
Jelas di sana tertulis nama panjangku dan nomor pokok mahasiswaku.
Entah siapa. Entah bagaimana.
Kesimpulan yang dapat kuambil dari pesan itu, aku menyakiti perasaannya.

Aku tidak bisa menceritakan detail kejadiannya.
Tak seperti biasanya, aku lupa kalau aku sedang bermimpi. (Biasanya aku selalu bisa membedakan mana mimpi dan realita).
Aku (di mimpi) merasa gusar dan menebak-nebak apa yang kuperbuat.
Aku (di mimpi) merasa bersalah akan dosa yang tak ku sadari.
Selintas ingatan tayang di kepalaku. Tidak ada satu pun ingatan itu yang pernah kualami secara langsung.
Ini menyakitkan.
Aku tidak mengenali diriku di mimpi.

-

Aku bangun dengan dada yang sesak. Entah oleh apa.
Ruam-ruam di lenganku akibat alergi sudah mengering membentuk konstelasi bintang.
Aku menghapus keringat di dahiku yang basah.

Aku merasa,
bersalah.

Selama ini, barangkali aku hanya fokus terhadap patah hatiku sendiri.
Selalu berteriak-teriak akan lukaku yang basah.
Sibuk menutup diri untuk tidak terluka.

Barangkali, aku lupa. Bahwa mungkin aku juga pernah menciptakan duka di dada seseorang.
Tak sengaja menggores luka dari senyum yang kulempar.
Tak sadar menyakiti dari puisi yang kutulis.

Selama ini, terlalu sibuk menghapal sajak-sajak patah hati.
Seakan-akan yang paling merana.  Yang paling banyak dukanya.
“Selama hidup udah berapa kali matahin hati orang yas?,” pertanyaan temanku di perjalanan waktu itu kembali terngiang.

-

Seringkali, aku merasa bahwa aku adalah peran utama dalam kehidupanku.
Tapi, peran utama tidak selalu dapat dimaknai sebagai tokoh yang baik.
Aku bisa merupa menjadi apa saja. Tergantung orang memaknaiku seperti apa.
Sialnya, aku suka lupa. Kalau aku bisa saja menjadi tokoh yang jahat pula.

-

Maaf untuk kesalahan yang kuperbuat.
Maaf untuk permintaan maafku yang terlambat.

-

(Patah hati tidak selalu berkaitan dengan kisah asmara. Bisa saja hubungan pertemanan dan urusan pekerjaan. Jika aku pernah menyakiti hatimu tanpa sepengetahuanku, tolong beri tahu aku ya! Hubungi aku kapan saja. Ajak aku bicara.

Sebab hidup terlalu singkat untuk memendam luka di dada sendiri, berbagilah.)