Pages

Sabtu, 19 Juli 2014

Cikiciki Bombom

Hey, You.
How was your day?
I wish you have a good one.

Hm..
What if i give you my story?
Are you gonna listen to me?

...

Hari ke21 puasa, dan sungguh bahagia yang terasa.

Gue membuat janji pada pukul 3 sore dengan Maul. Hari ini pendaftaran Bimbingan Belajar untuk persiapan ujian mendatang.
Basi kalo gue bilang, “AH GAK KERASA YA UDAH KELAS 12 AJA.”
Karena sebenernya kerasa banget 2 tahun di SMA.
Tapi, ketika gue mengisi formulir pendaftaran dan membayarkan cicilannya sendiri. Gue mengingat omongan Bapak, beliau bilang semakin gede gue harus ngurus apa-apa sendiri.
Terus gue juga inget, 3 tahun lalu ketika gue ikut bimbingan belajar juga namun di tempat yang berbeda. Betapa gue seringkali menyia-nyiakan waktu belajar gue, dengan sering ketiduran, bolos juga terlambat. Padahal jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah.
Semoga gue tidak melakukan kesalahan yang sama.
Gue selalu merinding jika mengingat kalimat :
“We are so busy growing up, we often forget they are also growing old.”
12 tahun gue sekolah didukung sama orangtua, semua sarana prasana terpenuhi. Masa gue sia-siain gitu aja?
Semoga, di saat-saat rasa malas mulai mencoba menjajah gue. Gue mengingat wajah orang tua. Membayangkan wajah bahagia mereka kalau gue berhasil. Membayangkan wajah kecewa mereka kalau ternyata hasilnya nihil.
Ah.

Dan ternyata, hari itu untuk kedua kalinya Maul salah jadwal. Kelas dimulai pada pukul setengah 2 lalu. Kami pun ikut susulan, langsung 2 pelajaran.
Ekonomi yang membahas Manajemen, dan Geografi dengan Desa sebagai bahan pelajaran.

Gue dan Maul pun keluar dari tempat les. Dengan keadaan kepala yang dibasahi oleh gerimis, kami berburu takjil untuk berbuka puasa.
Gue berbuka puasa bersama Maul dan Sekeluarga di rumahnya. (MAKASIH OM, TANTE, ADEKNYA-MAUL-YANG-KEMAREN-MINTA-DIBUATIN-SURAT-CINTA.)
Setelah menonton kelakuan dua orang nenek kembar di sinetron Para Pencari Tuhan. Gue dan Maul pun berangkat menuju tempat tujuan, untuk menonton musisi yang kami gemari musiknya. Adhitia Sofyan.

Selama perjalanan di angkutan umum, dengan keadaan jalanan yang ramai lancar.
Gue dan Maul kembali membuka sesi obrolan malam hari, yang pernah kami lakukan ketika perjalanan menuju hotel saat Study Tour.
Kami membicarakan banyak hal, diantaranya tentang tujuan kami setelah lulus dari SMA, bagaimana sikap orang tua dalam mendukung kami, impian kami untuk dapat mengajar di kegiatan Indonesia Mengajar.
Gue selalu suka pembicaraan di malam hari, apalagi ketika menjelang pergantian hari. Gue gak bisa mendeskripsikan kenapa begitu, tapi rasanya gue bisa jauh lebih terbuka. Terlebih kalau teman bicaranya memberikan kenyamanan.
Sepertinya Maul pun begitu, dia menceritakan tentang kebiasaannya mengobrol dengan ayahnya ketika hampir tengah malam.
Ah, gue pun teringat Bapak. Dan pembicaraan-pembicaraan kami. Momen ketika kami duduk berdua di sofa, menonton Televisi (biasanya Discovery Channel, National Geographic, atau Animal Planet.) dan mengobrol ringan. Biasanya dia memberikan saran satu dua hal, kadang merekomen suatu bacaan.
Atau momen ketika kami mengobrol di pojok kafe favoritnya, selalu bangku itu yang beliau pilih ketika ke sana. Suatu hari, kami membicarakan rencana gue setelah lulus SMA. Saat itu, gue sadar kalau beliau menaruh harapan kepada gue, anak bungsunya. Beliau pun menerima keinginan gue untuk kuliah di tempat yang jauh. Meski setelahnya beliau memberikan nasihat tentang hidup jauh sendiri, dan bagaimana gue harus membiasakan diri. Untuk dapat mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk gue.

Kami pun menutup pembicaraan itu ketika sampai di tujuan, Supermal Lippo Karawaci.
Gue melirik jam di pergelangan tangan, hampir pukul delapan. Dan panggungnya masih sepi...
Gue udah panik bakal ketinggalan nonton Adhitia Sofyan, karena kata Maul emang harusnya mulai jam 7... Kami pun coba menyingkirkan pikiran buruk itu, lalu jajan Ice Cream Cone rasa cokelat di BK.
Pas balik ke panggung. Masdhit udah berdiri di panggung. Rasanya lega banget kaya tegukan pertama es teh manis ketika berbuka...
Kami pun duduk sila di depan panggung, dengan jarak sekian meter. (gue mau nekat duduk depan panggung, atau duduk di bangku sebelah masdhit nyanyi. Tapi gue masih punya rasa malu...)
Duduk bersila di karpet hijau, ngejilatin es krim, nontonin Masdhit nyanyi. Di tengah-tengah keramaian.
Yha.. Kami gak seaneh itu kok.
Bahkan ada anak kecil yang tiduran di depan panggung. TIDURAN. Sambil dengerin Adhitia Sofyan...
Mungkin dalam kepalanya, si dedek membayangkan berada di padang rumput. Menatap langit berbintang. Ditemani suara halus Masdhit...
Ya walaupun kenyataannya dia tiduran di karpet hijau. Menatap langit-langit mall. Di depan panggung. Diliatin orang sekitaran. Tapi biarkan saja, biarkan imajinasinya bermain dengan indahnya.

Semua lagu yang Masdhit nyanyikan membuat hati gue nyaman. Tapi ada beberapa lagu yang buat gue spontan meremas paha Maul yang duduk di sebelah gue. HAHAHA.

1.   “Lagu ini untuk kalian yang jomblo karena terlalu banyak memilih.”
Lalu petikan gitar, dan senandung halus dari bibir Masdhit keluar... Lagu “Memilihmu” dari album Quiet Down diputar.
Memilihku perlu persiapan yang mental~
Bagai memilih masuk ke sekolah unggulan~

2“Pernah ditinggalin seseorang?
Lagu ini untuk mereka yang pernah merasakan.”
Blue Sky Collapse pun dimainkan. Gue gak bisa menyembunyikan senyuman, mengingat kata demi kata yang gue tulis di postingan ini. Sebuah tulisan berdasarkan lirik lagu tersebut.

3.   Ketika “In To You” dimainkan di panggung. Pikiran gue pun bermain kepada kenangan-kenangan masa lalu. Tapi gue hanya mengizinkan ia bermain, tidak untuk kembali. Because... i don’t want to be a victim of a broken heart. I don’t want to put my self into another mess.

...

Selain akhirnya berkesempatan langsung menonton Masdhit nyanyi di panggung.
Gue foto 2 kali dengan Pria Berkacamata yang bikin mata gue berkaca-kaca setiap mendengarkan lagunya.
Malam itu, hal yang gue sesali adalah lupa membawa 2 album beliau untuk ditandatangani.. untungnya ada sedikit rezeki di dompet dan album terbarunya yang belum gue miliki (meski lagu-lagunya udah gue denger seluruhnya di akun soundcloudnya).
Sebagai tanda cinta, gue tetep mendukung beliau dengan membeli CD musiknya (padahal Quiet Down ama Forget Your Plans dibeliin Aa’ HAHAHAHHA). Dan beliau pun menorehkan tanda tangan di atas CD How To Stop Time.

YO DIBELI YO DIBELI


...

Masdhit tadi inget gak dua cewek, yang satu pake kudung abu2 yang satu pake baju item. Duduk sila depan panggung makan es krim cokelat yang tumpah2 di baju? HAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAHA.

...

Beberapa hari setelah tau Adhitia Sofyan bakal manggung di Lippo. Gue dan Maul dengan heboh berjanji untuk menonton, dan tak lupa membayangkan skenario yang sempurna untuk menonton Adhitia Sofyan.
Outdoor, kalo bisa rooftop. Gerimis. Kepala hanya ditutupi oleh telapak tangan. Udara dingin dibungkus oleh jaket pemberian seseorang.
Ya skenario kami ternyata gak beda jauh sama skenario FTV.

Tapi memang sehebat apapun bayangan, gak ada apa-apanya dibandingkan merasakannya secara langsung.

Terima kasih Mas Adhitia Sofyan untuk lagu-lagunya... yang sering nemenin saya nulis. Yang sering nemenin saya di perjalanan. Yang sering nemenin saya galau. Yang jadi temen ngopi ketika hujan. Yang sering Aa’ saya senandungkan di kamarnya. Yang selalu memberikan kenyamanan.
Terima kasih Masdhit (kek akrab banget gak sih daritadi manggilnya masdhit). Terus berkarya! :3

...

Sampai sini aja, udah ikut nyium aroma kebahagiaan gue malem ini kan?

Begitu sampai rumah. Duduk di sofa. Nyalain WiFi di ponsel. Ada notification dari twitter.
Begitu gue buka,
Lagi-lagi.
Gue gak bisa menyembunyikan kalau gue bahagia...



Terharu sih Onyol masih inget postingan gue tentang review buku dia (baca postingan gue yang ini terus baca bukunya ya!)
Soalnya gue fikir udah jadi butiran debu, terlupakan begitu saja.
Kisah dari buku itu benar-benar tidak bisa terlupakan begitu saja.

Lo pernah gak sih makan kue terus saking enaknya lo pengen tau siapa kokinya? Bukan untuk nanya resep rahasianya, tapi untuk bilang ke dia bahwa ini kue terenak yang pernah lo makan.
Lo pernah gak sih dengerin lagu baru saking merdunya lo pengen tau siapa penyanyinya? Bukan untuk nanya apa lirik dan chord gitarnya, tapi untuk bilang ke dia kalau lagunya membuat kita merasakan sesuatu yang gak pernah kita rasakan sebelumnya.

Nah.
Terus, lo pernah gak baca buku baru yang lo gak ada ekspektasi apa-apa awalnya cuma karena didukung rasa penasaran semata. Namun nyatanya di setiap lembar bukunya hingga paragraf terakhir pengenalan penulisnya. Lo jadi pengen tau dan kenal siapa penulisnya?
Dan akhirnya nekat ngetik email, yang panjang...
Lalu, akhirnya penulisnya bales. Dan menyarankan untuk ditulis di blog. Dan taunya, sekarang postingan itu selalu ramai pembacanya.
Gue pernah.

...

TFU.
Akan difilmkan.
Untuk info lebih lanjut cek di twitter Onyol.
Jangan males ngescroll. Oke.

Sebelum nonton.
Baca dulu postingan blog gue tentang review buku tersebut.
Dan pergi ke toko buku kesayangan lo, atau website yang jual buku.
Dan beli bukunya. The Fabulous Udin, written by The Fabulous Onyol.

Huehehe.

...

Punggung gue udah mulai pegal.
Tapi, rasa senengnya masih tertinggal.
Ah, memang bahagia itu sederhana.

Selamat malam semuanya.
Terima kasih sudah mendengarkan cerita saya.
Semoga kamu menikmatinya.
J




Tyas Hanina

0 komentar:

Posting Komentar