Pages

Minggu, 27 Juli 2014

Are you happy, My Dear?

I’ve hurt myself by hurting you.
POV : Her

“I should have loved myself with the love I gave to you.”

Dia membisikkan kalimat itu pelan di telinga, sebelum dia meninggalkan gue sendiri di kafe ini.
Dia tetep senyum mengucapkan kalimat itu, walau gue tau jauh di dalam hatinya dia sama sekali gak bisa senyum. Senyum dia itu kaya tato permanen di wajahnya. Selalu ada di sana setiap kali gue menengoknya.
Ah entahlah. Emang dasarnya gue brengsek.
Udah patahin hati dia, tapi tetep coba pertahanin dia di dalam hati.
Gue bilang di surat dia gak boleh pertahanin orang kaya gue, and that’s true.
Tapi sebenernya yang gue rasain, kebalikannya dari itu.

Setelah dia selesai membaca surat yang gue tulis untuknya. Dia tersenyum, entah untuk apa. Tapi pandangannya kosong. Kilatan yang biasa ada di matanya berbeda, sepertinya kali ini air mata yang ia tahan.
Sedangkan gue, gak bisa tahan lagi-lagi buat mengontrol diri gue.
Air mata gue turun tanpa bisa gue cegah. Gue ngerasa sangat bersalah. Gue sadar betapa hal yang gue lakuin sangatlah bodoh.
Dia duduk kaku di kursinya, masih tersenyum. Pandangannya menatap langit-langit kafe. Mulutnya terbuka, seperti hendak mengucapkan sesuatu. Tapi dia telan kembali.
Jujur, saat itu pun gak sanggup denger apapun dari bibir dia.
Gue hanya sanggup berulang kali mengucapkan kata maaf.
Itupun sangat pelan. Entahlah dia mendengarkan gue atau tidak.
Yang jelas, gue sadar pasti. Gue sangat menyakitinya.

Dan sakit rasanya, menyadari bahwa sejak itu semuanya tak lagi sama.
Dia gak berusaha untuk menghentikan tangisan gue. Dia gak berusaha menghibur gue.
Gak ada lagi jokes garing yang keluar dari mulutnya, gak ada lagi sapuan air mata dari jemarinya, gak ada lagi pelukan hangat darinya.
Gak ada.

Dan lebih sakit lagi, menyadari bahwa gue gak bisa berbuat apa-apa setelah apa yang gue lakuin ke dia.
Gue mau meluk dia. Tapi seakan gue duduk melekat di kursi gue.
Di lain sisi, gue takut sentuhan gue semakin menyakitinya.

Hingga akhirnya, ia bangkit di kursinya. Menghela nafas pelan.
Memeluk gue untuk waktu yang sangat sebentar. Seakan dia ingin segera melepaskannya. Ingin segera melepas gue.
Membisikkan kalimat itu. Kalau seharusnya dia bisa menyayangi dirinya sebagaimana dia sudah memberikan rasa sayangnya kepada gue.
Dan gue hanya bisa memegang tangannya, untuk waktu yang tidak lama. Menatap matanya yang kini tidak lagi sama kilatannya, menatap senyumnya yang berbeda. Dengan butiran air mata yang gak bisa gue hentikan, gue mengucapkan kalimat perpisahan.
“i wish you well.”

...

Irony.
POV : Him

“I wish you well.”

She said.
Gue meringis mengingat ucapannya. Ah, the irony.

You wish me well?
I wish you hell.

...

Are you happy, my dear?
POV : Her

Hari ini kami gak sengaja bertemu. Seminggu setelah kejadian itu.
Dia terlihat baik-baik saja, setidaknya di luarnya.
Gue cukup lega melihatnya. Tapi tetap saja terasa ada yang kurang.

Can’t nobody do it like you say every little thing you do.

Ngeliat dia main basket bareng temen-temennya tadi, ketawa-ketawa kaya biasa.
Gue diam-diam berharap, setelahnya dia akan kembali bercerita bagaimana ia lalui harinya.
Gue pengen denger keluhan dia tentang teriknya matahari hari ini. Gue pengen denger ledekan dia tentang gue yang gak bisa olahraga.
Gue pengen denger apapun dari bibir dia. Bahkan, kalau cacian buat gue yang dia ucapkan.
Ya, gue pantas kok mendapatkannya.

Tapi boro-boro cacian.
Bahkan pandangan mata pun dia lemparkan ketika pandangan kami gak sengaja bertemu.
Ya.. Meski menyakitkan. But i know that i deserve this.... shit.

...

Do you remember the song that was playing the night we meet?
POV : Him

Thanks to her.
Setidaknya, rasa sakit gue bisa jadi karya. Gue berhasil bikin beberapa lagu dari kejadian itu.

Waktu vokalis band gue baca liriknya. Dia langsung meluk gue.
Tentu saja gue ngelak, gila sesakit apapun hati gue... gue masih demen cewek sih.

“Gila. You deserve better man.”

Ternyata dia meluk karena simpati.
Gue ketawain aja. Abis gue gak tau mau respon apa lagi. Gue benci dikasihanin.

Dan sialnya. Tiba-tiba sepotong lirik lagu mengalir dari mulutnya.

They say love is blind. Oh baby you so blind.”
“Sialan lo.”
“Lah napa. Gua cuma nyanyi lagu GD.”
“Manggil-manggil gue baby segala.”

Dia nyengir, memamerkan gigi berpagarnya.

“Tapi serius deh gue mau nanya ama lu..”
“Apaan lagi sik.”

Dia membaca sekali lagi lirik lagu yang gue tulis. Menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Lo tuh, masa sih? Dari dulu gak sadar?”
Gue cuma membalas pertanyaannya dengan tersenyum. Meski gue gak tau senyum untuk apa.
Meski dalem hati, gue udah misuh-misuh.

Ya gue gak sebuta itu kali.
Gue sadar kok. Gimana dia sama gue.
Iya gue buta. Masih coba pertahanin hubungan itu, meski akhirnya orang yang gue pertahanin gak ngebolehin gue pertahanin dia sih.
Tapi, gue juga sadar. Dia sudah mencoba untuk membalasnya selama hubungan kami yang cukup lama.
Gue juga sadar, bukan hanya gue yang sakit. Dia juga.
Harus boong sama perasaannya sendiri, selama ini.

Haha.
Apa kabar ya dia?

She's a silver lining, lone ranger riding
Through an open space
In my mind when she's not right there beside me
I go crazy 'cause here isn't where I want to be
And satisfaction feels like a distant memory
And I can't help myself
All I want to hear her say is
"Are you mine?"
...

We were wrong to stay this long.
POV : Her

Gue membuka pintu kamar gue. Melihat kasur di ujung ruangan, membuat gue merasa sangat lega.
HHHH gila gak tau berapa kali hari ini gue misuh-misuh dalam hati.
Capek banget, ngadepin pengunjung di  Kafe tadi. Emang cuma 1, tapi cukup untuk ngebunuh mood gue seharian.
Gue gak yakin apakah semua orang ngerti apa yang gue rasain.
Awalnya gue biasa aja, gue emang menyadari kehadirannya setiap hari. Duduk di bangku yang sama. Selalu memesan menu yang sama. Memberikan tip dengan jumlah yang sama. Dan pandangan tajam yang sama, ke arah gue.
Lalu semakin lama dia semakin berani. Atau yang gue sebut kurang ajar.
Menunggu shift kerja gue selesai, membuntuti gue pulang ke rumah.
Memberikan tip lebih ke pelayan untuk memberikan nomor telepon gue.
Dan tadi. Apaan coba maksudnya pake acara nyatain perasaannya ke gue?? Diliput kamera segala??
Dari awal gue gak pernah ngerespon. Gak ada lampu merah untuk dia stop, lampu kuning untuk hati-hati, apalagi lampu hijau untuk terus jalan. Dari awal, gue udah ngasih tembok.

Tapi, untungnya emang ekspresi gue selalu datar.jpeg, jadi orang gak bisa baca emosi gue. Atau justru malah keliatan banget ya?
Gue gak memberi respon apa-apa selama kejadian itu. Tetap meracik kopi, menghidangkannya di cangkir. Seakan tuli dan buta akan kejadian sekitar. Gue hanya gak peduli.
Begitu orang-orang selesai tepuk tangan dan riuh rendah suasana kafe menjadi hening karena gue gak ngerespon sama sekali.
Gue mengahampiri Bos gue, meminta izin pulang. Dan melengos keluar begitu saja.
Gue tidak memberi respon sebagai respon gue.

RRRR.
Ponsel gue bergetar di saku celana. Dengan malas gue mengangkat telepon, dari Bos gue. Gila gak abis-abis ya urusan kerjaan?

“Halo?”
“Ya.”
“Udah nyampe lo?”
“Yaaa.”
Ada suara tawa di seberang telepon
“Masih emosi gara-gara tadi?”
Gue mengangkat bahu, lalu sadar bahwa dia gak bisa liat gue saat ini.
“Hmm. Ya gitu deh.”
“Sorry ya gue gak nyegah kejadian tadi.”
“It’s okay.”
“I know you're not.”
“...”

Dari mana dia tau. Atau mungkin dia hanya sok tau.
“Sorry gue gak nganterin lo pulang. Malah ngebiarin lo pergi gitu aja.”
“It’s okaaay.”
“Sorry yaaaaa.”
“Ngomong sorry sekali lagi gue matiin ya teleponnya.”
“....”
“Makasih tadi udah ngebiarin gue pulang duluan sebelum shift gue selesai.”
“Ya kayanya cuma itu yang bisa gue lakuin buat lo tadi?”

Gue tertawa mengiyakan. Berterima kasih lagi di dalam hati.
Gue menaruh ponsel di samping bantal gue, menyetel mode speaker.
“Eh, gue mau minta tolong deh?”
“Apa?”
“Besok bawa CD Adhitia Sofyan ya, keknya asik buat disetel di Kafe.”
“Ya okedeh.”
“Cek dulu ada gak CDnya.”
“Ya nanti ya.”
“Sekarang. Atau gaji kamu saya potong.”

Gue cukup kaget mendengar ucapannya. Tumben si Bos berlagak kayak Bos beneran.
Mana ancemannya gitu lagi.

“HAHAHAHAHAHHAHA. BERCANDA.”

Gak lucu. Kenapa juga ketawanya sepanjang gitu? Gue heran banget sama orang ini.
Gue bangkit dari ranjang gue, berjalan dengan langkah lunglai ke meja belajar. Ke tempat rak CD berada.

“HOOOY MARAH YA?”

Gue membalas teriakannya di telepon dengan teriakan juga.

“Saya lagi nyari CDnya BOS!”

Lalu, terdengar suara tawa berderai di telepon. Dia mengucapkan suatu kalimat, tapi gue abaikan.
Gue fokus dengan rak CD gue yang acak-acakan, gak berurutan isinya. Sejak 3 tahun lalu, gue membiarkannya begini.
Dulu sangat lain keadaannya, tiap bulan gue mengaturnya sesuai urutan. Kadang sesuai nama, kadang sesuai genre.
Tapi entahlah, rasanya sejak 3 tahun lalu gue jadi terbiasa untuk asal mengambil CD dan mengshuffle lagunya. Gue gak pengen tau lagu apa yang gue dengerin, gue ingin kejutan darinya.
Selalu ada satu kenangan di setiap lagu. Menantang rasanya, teringat suatu kejadian tertentu secara acak.

Ah.
Lagi-lagi, gue dikejutkan oleh kenangan.
Yang kali ini gue temukan di selipan rak CD.

Sial.
Udah berapa lama, gue gak muter CD ini. Bahkan hampir lupa keberadaannya.
Gimana bisa gue tetep inget urutan lagunya, tetep inget siapa aja penyanyinya. Tetep inget siapa yang memberikan CD tersebut dan apa tujuannya.



Dan, justru sedih yang gue rasakan ketika melihatnnya.
Apa gue harus memainkan CD itu lagi?

“OOOY OOOY UDAH KETEMU BELOM CDNYA?”
Teriakan dari si Bos di telepon menyadarkan gue.

“Ketemu. Tapi ada yang ilang nih rasanya bos.”

...

Forever? It just over.
POV : Him
26 October 2014

I guess what I'm trying to say is
I need the deep end,
I keep imagining meeting
Wished away entire lifetimes
Unfair we're not somewhere
misbehaving for days
Great escape
Lost track of time and space
She's a silver lining
climbing on my desire

Lo tau perasaan ketika lo harus meninggalkan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari hidup lo?

Buat gue itu berat. Seakan kaki gue sudah mengakar di bawah tanah kota ini.
Akar-akar di bawah kaki gue itu sudah gue pangkas habis tiga tahun lalu. Pertama kali, gue berangkat ke Vienna, dengan modal tabungan gue selama ini dan modal nekat juga sih. Tapi rasanya worth it, karena ini sudah lama menjadi bagian dalam bucket list gue. Dan dia.
Semenjak itu gue jadi terbiasa pergi sendirian. Kadang, gue “pulang” ke kota ini untuk beberapa lama. Mengunjungi keluarga dan beberapa orang teman. Tapi gue gak pernah ketemu dia, dan emang itu yang gue mau.
Lama kelamaan. Kata “pulang” berganti, menjadi “mampir”. Kaki gue udah gak gak berakar, dan kini bebas untuk menancapkannya di mana-mana. Langkah gue jadi ringan rasanya.

...

Gue mampir lagi di kota ini. Sepertinya, dalam waktu yang cukup lama. Ada acara keluarga, dan gue gak mungkin menolaknya.
Gue ketemu banyak temen lama. Wajah-wajah lama yang memiliki kenangan yang berbeda.
Hari ini, mantan vokalis band gue dulu. Yang selalu nemenin gue di masa-masa gue patah hati sebelum gue berangkat ke Vienna, minta ditemenin ngopi.
Sederhana sih permintaannya. Tapi entah kenapa, ada perasaan bahwa hari ini bakal ada sesuatu yang istimewa.

“Jadi minggu depan, Yo?”
“Yoi. Lo harus dateng.”
“Kenapa harus?”

Gue memasang wajah serius, menggodanya dalam hati. Dia menggelengkan kepalanya, mematikan rokok di tangannya, membuangnya ke asbak.
“Gue telepon juga ye nyokap lo biar baju-baju sama paspor lu dibuang.”
Gue tertawa mendengar responnya.
“Ya gapapa tanpa baju gue juga bisa pergi. Kan tinggal bawa diri sendiri.”
“Tanpa paspor?”
“Paspor gue selalu gue bawa ke manapun kali Yo.”
Dia mencondongkan tubuhnya ke arah gue, tiba-tiba dengan cepat mengambil tas gue.
“Weh bro udah gak ketemu berapa taun kita, lu jadi maling gini?”
“Maling waktu temen gue bentar.”
“Gak perlu maling, pasti gue kasih kok buat lo mah.”
Dia memberikan cengirannya. Menepuk pundak gue beberapa kali.
“Gue mau dateng dengan syarat lo ceritain kenapa lo bisa yakin untuk ngadain pernikahan ini. Dengan perempuan ini.”
Gue memberikan syaratnya secara tiba-tiba. Dia mengiyakannya begitu saja.
Keluarlah dari mulutnya dan hatinya, cerita mulai dari pertemuannya pertama kali dengan kekasihnya dan hingga hari di mana cincin itu dia kenakan di jari manis kekasihnya.

“Lo masih belum menjawab pertanyaan gue.”
“Lo gak ngedengerin gue ya daritadi?”
“Dengerin. Gue hanya ingin tau, kenapa lo yakin kalo dia orangnya? Kalo lo bisa tahan sama orang ini setiap hari. Sampai selamanya.”
“Selamanya? Hahahaha kita masih terlalu muda buat kenal kata selamanya.”
“Terus kenapa?”
“Gue juga gatau kenapa. Dalam hal-hal menyangkut perasaan, lo gak bisa cuma dengerin teorinya. Lo harus terjun langsung ngerasain.”
“... good luck deh.”
“Lo juga good luck lah.”

Kami pun tertawa entah untuk apa. Gue meneguk pelan kopi hitam dari meja, sedangkan Dyo mulai menyalakan rokok baru lagi.
Ada perasaan pahit yang tertinggal dari percakapan kami barusan. Lebih pahit dari kopi yang gue minum, lebih menyesakkan dari asap rokok yang Dyo hembuskan.

...

The bitter the better.
POV : Her
26 October 2014

Gue membuka pintu kafe. Aroma kopi langsung menyambut indra penciuman gue.
Tap tap tap.
Gue melangkah dengan mantap. Beberapa teman sesama pegawai menatap gue dan memberikan cengirannya, pasti soal kejadian kemarin.

“Kemaren kenapa pulang duluan?”
Temen gue, yang bertugas menjaga kasir menyambut kedatangan gue dengan pertanyaan menyebalkan.
Gue hanya mengangkat bahu. Karena gue yakin orang ini sebenarnya tahu hanya pura-pura tidak tahu.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundak gue.

“Yas? Tolong anterin ini ke meja di ujung sana dong? Gue mau ngangkat telepon bentar.”
“Oh okay.”

...

Black coffee. And a cheesecake.

Persis seperti menu favorit seseorang.
Gue berjalan menuju pengunjung kafe yang duduk di ujung ruangan, dekat dengan jendela. Dari jauh, terlihat jelas 2 orang laki-laki paruh baya. Yang satu mengisap rokok di bibirnya, yang satu mengaduk-ngaduk cangkir di meja.

Gue menyapa pelanggan dengan tagline kafe kami. Menaruh pesanan di meja. Setengah membungkuk mengucapkan terima kasih dan selamat menikmati.
Begitu gue berdiri tegak kembali, gue tidak sengaja bertatapan dengan mata pelanggan.
Tidak sengaja.

Pelanggan itu memberikan senyumannya yang manis, lalu mengambil secangkir kopi hitam yang tadi gue bawakan.
Ia membuang pandangannya ke jendela, dan mengobrol kembali dengan temannya seperti sebelum gue datang ke meja ini mengantarkan pesanannya. Seakan tidak ada apa-apa.

Ah. Ya.
Itu tidak apa-apa.

Gue melangkah menjauh dari meja itu. Memeluk baki di dada.
Ada suara gemuruh di sana. Ada gerimis yang siap tumpah dari mata.
Setelah menyaksikan senyumannya yang cerah, persis seperti ramalan cuaca hari ini.

Ah. I’m glad that he’s happy.

...

If you like your coffee hot
Let me be your coffee pot
You call the shots babe
I just wanna be yours


 


(Kisah lanjutan dari kisah sebelumnya : “Is This Love?”)



Tyas Hanina

0 komentar:

Posting Komentar