Pages

Selasa, 17 September 2013

Perempuan Usia Senja



Pukul 1 siang, adalah waktu istirahatku.
Selepas menunaikan ibadah shalat dzuhur, dan berdoa meminta kesehatan dan keberkahan untuk aku dan keluargaku.  Saat dimana aku berbaring di tempat tidurku, memejamkan mata, dan menonton tayangan ulang masa mudaku- yang bagaikan gulungan kaset film lama yang kutonton berulang-ulang.

“Kakak, mau foto pake toganya dong.”
Suara cempreng Cucu Bungsuku, menarikku kembali ke dunia nyata.
Aku pun duduk di tempat tidurku- mengambil kacamataku, menyingkirkan beberapa uban yang menempel di bantal. Lalu memperhatikan cucu-cucuku yang sibuk dengan ponselnya masing-masing.
Si Bungsu, sibuk mengambil potret wajahnya sendiri mengenakan toga milik kakaknya- yang besok akan dikenakan untuk wisuda.
Si Sulung pun tak kalah sibuknya, jarinya dengan cepat memencet-mencet ponselnya- sesekali dia mengambil jeda sebentar, setelah ada bunyi di ponselnya dia melanjutkan kegiatan itu kembali.

Hal yang tidak aku mengerti dari mereka yang usianya masih terbilang belia. Aku sering sekali memperhatikan mereka ketika sibuk dengan sesuatu di ponselnya, terkadang mereka tertawa sendiri atau berkomentar tentang hal yang tidak aku mengerti.
Ah, sewaktu aku remaja dahulu- aku sibuk bermain dengan teman-temanku-  juga sibuk menghindari para lelaki yang sering menggodaiku di mana pun.

Sekali waktu, saat aku menemani Ibuku berbelanja di Pasar- aku diperebutkan oleh tukang daging dan tukang kelapa. Mengerikan sekali membayangkannya kembali, mereka gontok-gontokkan sembari memamerkan Pisau besar milik mereka yang sering diasah.

Dan sekarang, kecantikanku pun turun ke anak perempuanku satu-satunya- Ibu mereka berdua. Cucuku, Si Sulung dan Si Bungsu pun juga begitu, meskipun keduanya tidak memiliki hidung semancung aku, dan kulit selicin kulitku.
Namun, keduanya memiliki kecantikan yang alami, tidak perlu susuk ataupun operasi. Si Sulung dengan senyum mautnya, dan Si Bungsu dengan tawa pemikatnya.
Aku yakin, pasti banyak lelaki yang mengejar perhatian mereka berdua. Meskipun, si Sulung sering gonta-ganti pasangan (yang selalu dikenalkan kepadaku- psst aku suka dengan pacar pertamanya!). Dan si Bungsu yang seringkali terlihat tidak acuh ( dia belum pernah membawa lelaki untuk dikenalkan kepadaku.)
...

Aku mulai jemu, memperhatikan mereka berdua yang perhatiannya penuh ke ponselnya masing-masing. Aku berjalan ke arah jendela besar di kamar, menyibak gorden abu-abunya.
Kulihat di luar sana banyak orang asing berlalu lalang, aku sudah bertemu banyak orang asing di hidupku. Dan jarang sekali dari mereka ada yang benar-benar kuperhatikan.
Lewat kacamataku, aku memperhatikan mereka satu persatu meski tidak secara detail.
Ada Penjual Balon yang sedang melepaskan salah satu balonnya yang berwarna biru kepada seorang anak kecil.
Rombongan pelajar SMA, dengan rok pendek abu-abu dan seragam ketat menempel di badan. (Untungnya, cucu-cucuku tidak berpakaian seperti itu).
Gerobak Es Krim, Vermak Levis, Gerobak Bakso, Gerobak Sampah, dan lain-lain.
Jalanan begitu ramai siang ini, lalu hujan turun deras dan membubarkan mereka semua.
Genangan air kecokelatan mulai muncul di jalanan. (Hal yang sering membuat si Sulung memasang raut wajah kusut karena sepatu sekolahnya basah dan kotor).
Rombongan anak kecil yang berlarian- mandi hujan. Melompati genangan air dan meninggalkan noda di baju dan celana mereka. (Ah, kegiatan favorit si Bungsu sewaktu kecil. Dan malam harinya dia akan tidur di kamarku dengan kompres di keningnya).

Petir menggelenggar, dan kilatnya menyambar.
Aku refleks mundur ke belakang, memegang dadaku yang kini berdentum tak karuan.

...

Cucu Bungsuku lantas memopohku ke tempat tidurku. Sementara si Sulung, menutup jendela dan pergi ke dapur.
“Mamah, ngapain dari tadi bengong ngeliatin jendela?”
Ya, cucu-cucuku memanggilku dengan sebutan Mamah. Bukan Nenek, bukan Oma, bukan Nini, bukan Granny.
Mamah. Karena Ibu mereka, membiasakan mereka untuk memanggilku dengan sebutan itu sejak mereka masih kecil. Ah, aku tak keberatan dipanggil begitu.
Si Sulung datang, membawakan segelas teh manis hangat di nampan dan lengkungan senyum yang tak kalah manis di wajahnya.
“Tadi sih gak kamu ajak ngobrol dek.”
Si Bungsu memajukan bibirnya, seperti kebiasannya ketika ngambul. Dan aku tau, sedetik lagi dia akan..
“Kakak juga! Bukan aku doang!”
…. Protes.
Ya, dia memiliki watak paling keras kepala dibandingkan cucuku yang lainnya.


Si Sulung hanya mengulum senyum, dan membahas topik lainnya untuk mengembalikan mood adiknya.

“Gimana, blog kamu?”

Si Bungsu diam ditanya tiba-tiba begitu, dia mengumpulkan & menyusun kata untuk diceritakan. Aku pun ikut diam dan memperhatikan binar matanya yang kini lebih bersinar.
Aku tidak tau apa itu Blog sebelumnya, mereka yang menjelaskannya kepadaku. Sampai sekarang sebenarnya aku tidak terlalu mengerti, apa itu Blog- apa itu Internet. Kenapa Cucu Bungsuku menulis dan membagikannya di Blognya. Bahkan aku sebenarnya tidak tau, kenapa si Bungsu suka sekali menulis.
Meski yang kulihat dia bukan mencoret-coret buku tetapi memencet tombol-tombol di laptopnya.

“Ah. Itu….”
Ceritanya pun mengalir, lancar sekali tanpa hambatan yang berarti. Sesekali dia mengambil jeda, dan membelalakan matanya yang sipit ketika Kakaknya akan memotong ceritanya.
“Diem dulu.”
Kakaknya pun patuh kepadanya. Kadang aku fikir, Si Bungsu lebih tegas dan bisa mengatur suasana dibanding Kakak-Kakaknya.
Setelah selesai bercerita, si Sulung pun akhirnya bertanya.
“Kamu.. Kenapa sih pengen jadi penulis dek?”

Si Bungsu pun memasang cengiran khasnya, memamerkan dua gigi kelincinya. Dan, menjawab pertanyaan Kakaknya dengan satu tarikan nafas.
“Aku pernah tulis tentang itu di Blogku, kamu baca aja sendiri dan simpulkan.”
“Kamu, mau modus buat naikin traffic blog ya.”

Keduanya tertawa. Meski aku tidak mengerti sepenuhnya, aku ikut tertawa memamerkan barisan gigi palsuku.
... 
“Mamah, dulu waktu muda mau jadi apa?”
Tiba-tiba si Bungsu melemparkan pertanyaan itu. Keduanya kini, memperhatikanku.
Aku agak gelagapan menjawabnya. Aku mengingat-ngingat pekerjaan apa yang kuinginkan, apa tujuan yang dulu ingin aku capai.

Lalu, aku sadar.
Aku sudah lama melupakan pertanyaan itu.
Aku sudah lama, bahkan mungkin tidak tau jawabannya- sebenarnya aku ingin jadi apa.
Saat belia dulu, hingga sekarang memiliki cucu.
...

Beberapa menit berlalu, mereka masih menunggu.
Si Bungsu menatap lekat kedua bola mataku, kebiasaannya ketika mendengarkan cerita siapapun.
Si Sulung mengulum senyum sembari memperhatikan sekeliling ruangan.
Aku, ikut-ikutan melirik ke pojok ruangan. Berharap ada jawabannya di sana.

“Jadi..”
Meski tidak benar-benar tertuliskan di pojok ruangan- mulutku tiba-tiba mengeluarkan jawaban yang entah aku dapat dari mana.

“Ibu Rumah Tangga.”

Keduanya terdiam seperti memikirkan ucapanku, jawabanku akan cita-citaku. Aku ikut terdiam, dan memasang selengkung senyum.

“Kenapa?”

Lagi, Si Bungsu bertanya.
Kali ini, aku tidak melirik pojok ruangan untuk mencari jawaban.
Aku memperhatikan wajah mereka bergantian. Mengingat ketika usiaku sama dengan mereka.

Aku menikah di usia muda. Dengan seorang laki-laki yang berhasil merebut perhatianku- dan orang tuaku.
Dia tidak menggodaiku seperti laki-laki lainnya, dia mendekatiku dengan caranya. Begitu pelan namun mengesankan, membuatku tiba-tiba sudah jatuh- kepadanya.
Tibalah hari di mana, dia  melamarku. Orang tuanya datang ke rumah, membawakan roti buaya, lempar-lemparan pantun, petasan yang dibunyikan meriah di depan rumah.
Janji suci pernikahan, mentandatangani surat nikah dan jadilah kami Halal untuk satu sama lain.
Hari di mana aku merasa sebagai perempuan paling beruntung di dunia.

Setelah itu, aku memiliki keinginan seperti layaknya wanita pada umumnya. Berumah tangga dan berkeluarga dengan bahagia dengannya, menjadi seorang Istri dan seorang Ibu yang terbaik untuk mereka.
Itulah, mungkin cita-citaku. Cita-cita yang kuminta dan kuamini setiap harinya.

... 

“Menjadi seorang Ibu Rumah Tangga, mengurus suami dan anak-anak. Menghabiskan jatah usia hidup berbahagia dengan mereka. Memasak setiap hari untuk mereka, membereskan rumah yang ditempati mereka, beribadah dan berdoa bersama. Memperhatikan perubahan-perubahan yang terjadi di diri mereka setiap harinya. Menyadari bahwa anak-anak bertambah dewasa, dan berdua bersama Ayah hidup bersama hingga renta- meskipun kini kami berbeda dunia….”

Aku mengambil nafas, tidak menyangka akan mengeluarkan sebanyak itu rentetan kata.

“Mamah tetap cinta Ayah. Itulah cita-cita Mamah.”

Keduanya diam dan tersenyum, si Sulung menghapus air di sudut matanya- bibirnya bergetar.
Sedangkan si Bungsu tersenyum lebar, dan berkata..

“Aku juga ingin jadi seperti Mamah.”

Aku mengusap pelan rambut si Bungsu. Tidak, dia tidak boleh sepertiku. Aku malu, mereka memiliki cita-cita yang jelas meski usianya masih terbilang muda, sedangkan aku di usia mereka- harus mengikuti kemauan orang tua untuk menikah dan setelah itu menjadi Ibu Rumah Tangga.
Aku bahkan, tidak pernah duduk di bangku sekolah- seperti mereka.
“Kalian.. Sekolah yang bener. Adek jangan lupa bagi waktu antara belajar sama main laptop, Kakak juga setelah wisuda besok harus tetep belajar…”
“Kalian bagus punya cita-cita, tapi jangan lupa do’anya dibarengin sama langkah. Yakin kalian bisa.. Kalau udah sukses, udah jadi orang gede nanti. Jangan pernah lupa sama orangtua, jangan lupa kodrat kalian sebagai wanita… Punya tanggung jawab sebagai Istri, sebagai seorang Ibu.
Pekerjaan paling mulia di dunia.”

Tubuhku pun lalu dipeluk mereka berdua, cucu-cucuku tercinta.
Air mataku pun jatuh layaknya hujan di luar jendela.


Tyas Hanina

1 komentar:

Fani mengatakan...

Very creative dek! Congratz! Lo berhasil menulis tulisan fiksi yg bahkan gue sendiri ga pernah terpikir untuk membuat tulisan model begini. Bercerita dengan modal sebuah foto! Dari sudut pandang org ke3 lg.Dan sempurna bgt sm nilai moral yg terkandung didalamnya. Meski gue gasuka jg sm kesan klo gue nya jd patuh sm lo?Huh!(Kafani cantik)

Ka fani cantik-

Posting Komentar