Pages

Kamis, 02 Januari 2014

Undefined


Hari kedua #WritingChallenge
Tema :  Abu-Abu
(Tema ini direkomendasikan oleh Yuniar Dwi Putri)


Undefined


“Nanti jendelanya nervous lho kamu liatin mulu.”

Hmm..”

Aku hanya tertawa mendengar gurauannya.

“Ada apa sih di luar?”

Dia berdiri dari kursinya, dengan telapak tangan bertumpu pada meja. Dia ikut melihat-lihat ke luar jendela. Tidak ada siapapun atau apapun yang istimewa di luar sana, setidaknya untuknya.

“Ah. Aku tau kamu mandangin apa dari tadi.”

Aku mengangkat alisku satu, bertanya-tanya apakah dia benar-benar mengetahuinya dalam hati.

“Langit.”

...

Pria yang kini duduk di depanku ini.
Memang selalu seperti ini, sejak pertama kali kami saling memperkenalkan diri.
Mulutnya seperti tidak pernah kehabisan kata untuk mengajakku ngobrol, dan tertawa.
Dan dia senang menggulirkan pertanyaan, karena dia hampir selalu penasaran.
Meskipun kadang aku hanya meresponnya dengan diamku. Walau diam-diam aku menyukai usahanya itu.
Pria yang saat ini memakai Sweater abu-abu polos ini- memiliki keistimewaan.
Salah satunya adalah,
Dia mengingat detail-detail hal yang pernah kuucapkan- dan kulakukan.
Tanpa pernah kusadari bahwa dia memberikan perhatian pada hal-hal itu.

Aku menjawab pernyataannya dengan anggukan.

“Langitnya kelabu.”

Selepas aku mengucapkan dua kata itu, pintu masuk Kafe berdecit. Pertanda datangnya pelanggan baru.
Aku melirik pelanggan baru itu dari ujung mataku, seorang pasangan muda.

“Seperti hatimu?”

Dia menyeruput Kopinya cepat setelah bertanya padaku- tanpa pernah memperdulikan panasnya. Uap panas dari kopi itu, membentuk embun di kacamatanya.

Aku mengangkat bahu.

I'm in love-hate relationship with grey colours.”

“Oh . Aku fikir kamu sedang tidak berikatan hubungan dengan apapun saat ini.”

Kami sama-sama tersenyum, karena hal itu hampir benar adanya.
Hampir tidak ada hal apapun yang mengikatku saat ini.
Kecuali, dia- pria ini mengikatku.
Tanpa pernah dia sadari- bahwa dia sudah menyentuh tali itu. Dan memperumit ikatan itu setiap pertemuan demi pertemuan kami.
Namun, dia tidak pernah tau.

Kini, dia duduk diam di kursinya. Dengan kilatan mata yang tidak pernah diam memandangiku.
Ikatan itu semakin rumit dibuatnya.
Aku bisa membaca dari pandangannya, bahwa dia memintaku bercerita.

Kulemparkan pandanganku ke arah jendela, ke arah langit kelabu.

“Aku menyukai warna abu-abu...” Kataku sambil melirik sweaternya.

Abu-abu itu melambangkan sesuatu yang tidak terdefinisi.”

“Warnanya netral, dan cenderung permanen.”

“Begitulah keindahan yang terkandung di dalamnya.”

Belum selesai aku menceritakannya. Dia memotong ucapanku.

“Sepertimu.”

Ucapnya sangat pelan, tapi aku mendengarnya dengan jelas seakan hal itu diteriakkan di depan telingaku.
Aku tidak tau apakah dia sedang bergumam untuk dirinya sendiri, atau berniat memujiku.
Aku tidak tertawa. Tapi, aku pun tidak kuasa mengontrol bibirku untuk tidak tersenyum.
Aku menekan perutku, kupu-kupu di dalamnya bertambah liar menari.
Semakin rumit.

“Lanjutkanlah.” Katanya, seperti tidak sadar bahwa dia yang sudah memotongnya tadi.

“Tapi, ketika abu-abu melukiskan warnanya di langit. Seperti sore ini.”

“Aku tidak menyukai kehadirannya.”

Lalu aku kembali dalam diamku, untuk sementara.
Menciumi harum kopiku, dan meninumnya secara perlahan.

“Masih panas kopinya? Sejak lama kamu diamkan tadi.”

Aku memang tidak terlalu suka minuman panas. Tapi aku tergila pada kopi, terlebih kopi buatan kafe ini.

“Ya.”

Dia selalu ingat.

...

“Jadi.. Kenapa? Bukankah langit dan warna kelabu itu sendiri adalah kesukaanmu, mengapa justru ketika mereka digabungkan kau tidak menyukainya?”

Dia menanyakan pertanyaan panjangnya dengan lancar. Tidak sepertiku yang sepotong-potong ketika menceritakan sesuatu.

“Karena.. ketika langit kelabu. Kita tidak mendapat kepastian. Kapan hujan akan turun. Apakah hanya gerimis yang dibawanya atau badai besar? Apakah justru kelabu itu hanya sementara, sedangkan matahari tengah bersembunyi di baliknya?”

“Lalu apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus berhenti lalu meneduh walau hujan belum turun, atau kita harus melanjutkan perjalanan dengan ada resiko kehujanan?”

“Dia menimbulkan terlalu banyak pertanyaan. Aku suka pertanyaan. Tapi aku benci tiadanya kepastian.”

...

“Bukankah, seperti itu kita sekarang?”

Aku tidak tau apakah itu sebuah pertanyaan atau justru pernyataan.
Aku kembali dalam diamku. Begitupun juga dengan dia.
Apa yang kami pikirkan mungkin tidaklah sama, tapi aku sadar.. sebaris kalimat yang aku ucap barusan menimbulkan pertanyaan yang hampir sama di benak kami.

“Bukankah saat ini hubungan kita terjebak dalam zona abu-abu?”

Salah satu dari kami akhirnya mengeluarkan pertanyaan itu. Aku tidak tau siapa yang bertanya, apakah aku ataukah dia? Karena kalimat pertanyaan itu persis dengan apa yang tengah kupikirkan.
Apakah aku lepas kendali... atau...

“Maaf.”

Tiba-tiba bibirnya mengeluarkan kata itu. Entah untuk alasan apa.
Dan entah kenapa, kata maaf itu justru terdengar menyakitkan.

...

Hujan pun tumpah ke jalanan.
Jendela berembun dibuatnya.
Saat ini begitu banyak pertanyaan.
Namun, dia hanya menjawab dalam diamnya.
Maaf yang baru saja dia ucapakan.
Terasa seakan pukulan telak di kepala.
Menyakitkan.



Tyas Hanina

0 komentar:

Posting Komentar