Pages

Rabu, 01 Januari 2014

Ledakan


Hari pertama #WritingChallenge

Tema : Diam


Ledakan

Diamnya seorang perempuan bisa berarti banyak hal.
Bisa karena emosi yang menumpuk di dalamnya, dan bersiap untuk meledak kapan saja.

Namun,
Ledakan itu belum pernah terjadi. Sejak kali pertama kami saling memperkenalkan diri.
Sejak awal, dia memang pendiam sekali. Dia hanya sesekali menjawab ucapanku.
Dan aku berkali-kali mencoba untuk membuatnya tertawa, karena aku ingin membuatnya suka (setidaknya tertarik) padaku seperti saran orang-orang di luar sana.

Dia tertawa, dan setelahnya dia kembali dalam diamnya.
Dia tidak tertawa dengan terbahak-bahak sehingga semua orang menoleh ke arahnya. Tawanya tidak memekik seperti suara tercekik. Tapi, tawanya juga bukan jenis tawa malu-malu.

Dia hanya tersenyum- lebih lebar dari sebelumnya. Hingga lesung di pipi kanannya terlihat lebih dalam.
Dan pelan sekali aku mendengar dia mengatakan “hmm”.
Aku tau dia tertawa saat itu. Karena matanya mengatakan begitu, pandangannya dalam dan ada kilatan di sana ketika dia ‘tertawa’.

Dan itu sempat membuatku diam. Menghentikan segala kata yang mengantri di ujung lidahku.

...

Aku pernah mendengar, seseorang meledeknya. Mengatakan bahwa seorang Tuna Wicara dapat lebih banyak berbicara dibanding dirinya.
Dan aku tau orang itu menyesali perkataannya.
Karena ketika ia mengenal perempuan itu, dia tau bahwa diamnya adalah keistimewaannya.
Dan menyadari bahwa ada 2 tipe orang istimewa di dunia ini.
Orang yang pintar dalam berbicara, dan orang yang hebat dalam mendengarkan.

Dia-perempuan itu adalah tipe yang kedua.
Ketika dia benar-benar ‘payah’ dalam yang pertama, Penciptanya memberikan keistimewaan yang kedua.

Aku mencintai sang Pencipta. Aku mencintai idenya untuk menciptakan perempuan sepertinya- dengan keistimewaan dalam diamnya.

Dan kau tau, aku sangat menyesali ucapanku itu.

...

“Jika, diamnya seorang perempuan bisa berarti banyak hal. Aku tidak kuasa menerka, seberapa banyak hal yang kau simpan di dalam dirimu...”

Petang menuju malam di Rooftop itu, Kalimat itu keluar begitu saja dari bibirku- ah lagi-lagi aku sulit mengontrol ucapanku. Belum sempat aku mencecap kalimat itu di lidahku, untuk menerka apakah itu akan menyakiti hatinya jika ia mendengarnya..
Namun, dia tertawa. Dengan suara “hmm” di bibirnya.

“Katakanlah, 1 atau beberapa hal di antaranya. Mengapa lebih sering ku temukan atau kau tunjukkan diammu daripada perkataanmu kepadaku?”

Aku melihat ia mengubah posisi duduknya menjadi berbaring di kursi malas itu. Dan aku memandanginya terus memandangi langit, hingga akhirnya dia menjawab pertanyaanku.

“Sebab, aku ingin- aku butuh lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.”
Setelah kalimat itu keluar dari bibir mungilnya. Kami bertukar “posisi”.

“Sebab mendengarkanmu berbicara- terasa sangat menenangkan lebih dari sekedar menyenangkan. Sebab dengan begitu- rasanya aku tak perlu lagi mencari-cara bahan obrolan karena kamu selalu menemukannya dan kamu tidak pernah keberatan meski hanya diamku yang membalas segala perkataanmu.”

“Sebab, aku lebih memilih untuk mendengarkan pikiranku berteriak dengan lantang daripada membiarkan orang-orang harus menyiapkan telinganya dan menjaga diri mereka agar tidak bosan mendengarkan ceritaku.”

“Sebab seorang Pria yang pernah mengatakan bahwa seorang Tuna Wicara bisa lebih banyak berbicara dibandingku, kini ada di sebelahku memberikanku kesempatan untuk mendengarkan ceritanya dan memberiku kesempatan untuk diam. Dia memang sering tidak menjaga omongannya, tapi dia bukan seorang pemaksa.”

“Dan ada sebab-sebab yang lainnya. Aku khawatir kini kau sudah bosan mendengarkannya.”

Aku hanya menjawab kekhawatirannya itu dengan menggelengkan kepalaku, lidahku seakan terkunci  ketika dia membuka dirinya.
Dia memilih untuk tidak meneruskan menceritakan sebab-sebab yang lainnya, dan kembali menyimpan untuk dirinya sendiri.
Dia kembali tertawa menyaksikan aku diam- setelah menyaksikan “ledakannya”.

“Sungguh itu “ledakan” yang indah.” Pujiku tulus untuknya.

“Hmm.” Dia hanya tertawa.

...

Gelap pun jatuh di atas atap gedung-gedung tinggi itu.
Aku memandanginya yang sedang memandangi langit-
yang selalu memandangi kami berdua.
Aku memeluknya erat dalam tatapanku.
Menjaganya bersama keistimewaannya,
mengagumi kekurangannya.
Diamnya.



Tyas Hanina

3 komentar:

Barakallah... mengatakan...

bagus. salam kenal ya :)

haNINA BOBO ! mengatakan...

Maryeni Anatesia : terimakasih. salam kenal juga ya :)

Fani mengatakan...

Bagus! Semangat dek

Posting Komentar