Pages

Jumat, 06 Januari 2017

I'm Dating

Pernah gak sih mikir, bagaimana manusia begitu terobsesi untuk tidak hidup sendirian?
Ah, koreksi, untuk tidak kesepian.

Karena, kadang makna "sendirian" itu sendiri terlalu rancu untuk dijelaskan.
Sendiri bukan berarti keadaan di mana kamu tidak bersama orang lain. Menurutku, makna sendiri lebih dalam dari itu.

Mengutip sepenggal kalimat yang Murakami tulis di bukunya "Sputnik Sweetheart" :
"Why do people have to be this lonely? What's the point of it all?
Millions of people in this world, all of them yearning, looking to others to satisfy them, yet isolating themselves.
Why? Was the earth put here just to nourish human loneliness?"




*

Sekali lagi, pertanyaan yang kuajukan entah pada siapa ini tidak menemukan jawabannya.
Dan, aku tidak keberatan dengan keadaan ini.
Kadang, aku menulis bukan untuk mencari jawaban atau jalan keluar dari sebuah permasalahan.
Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya aku pertanyakan. Apa yang sebenarnya selama ini rusuh di pikiranku. Keresahan macam apa.

*

Aku pernah menulis keuntungan yang bisa didapatkan saat tidak menjalin hubungan khusus dengan seseorang, poinnya adalah kebebasan.
Namun, apakah benar kita pernah bebas?

Bagaimana kalau ternyata orang-orang yang single terbelenggu oleh kesendiriannya itu? Menjalin komitmen dengan sepi yang selama ini menjadi kawan akrabnya?
Bagaimana kalau ternyata orang-orang yang memiliki pasangan itu justru mencicipi kebebasan? Terangsang untuk menjelajahi dunia atau dirinya sendiri bersama orang lain.
(Wow, terangsang bukan kata yang baik untuk kupakai ya sepertinya.)

*

Aku tahu, menulis hal-hal yang menyangkut perasaan adalah hal yang bisa menjadi bumerang untukku.
Bisa jadi, besok saat aku bangun di siang hari.
Aku sudah tidak merasakan hal yang sama lagi. Aku justru menentang apapun yang kutulis saat ini, apa yang saat ini kupercayai.

Namun, begini. Ada orang yang pernah bilang padaku. Tulislah sesuatu yang paling kuat kamu rasakan.

Dan aku bingung. Aku merasa bingung apa yang sesungguhnya aku bingungkan. Aku tidak tahu harus menulis apa tapi aku punya dorongan kuat untuk menulis.
Makanya, sekarang kamu pasti sedang keliyengan membaca rentetan huruf yang tanpa makna ini.

*

Ah, kebanyakan basa-basi aku takut tulisanku ini jadi basi.

Sebenarnya daritadi aku hanya ingin bercerita tentang kencanku hari ini.

Menenangkan, lebih dari sekedar menyenangkan.
Kencan favoritku adalah duduk berhadapan di kedai kopi, sambil sesekali mengobrol hal-hal tidak penting. Ngata-ngatain pilihan lagu yang norak di kedai kopi ini atau mengeluhkan koneksi internet yang tidak pernah stabil. Namun, pada akhirnya selalu kembali ke sini untuk agenda kencan selanjutnya.

Sorry to say, hari ini pilihan lagunya jelek banget, menurutku.
Bukan karena ku merasa playlist yang kubuat di Spotify atau 8tracks paling keren. Aku juga benci sekali mendebatkan selera musik.

Aku tidak mengerti kenapa dari sekian banyak lagu Indonesia, "Bad" menjadi pilihannya.
"Bad" adalah sebuah lagu (yang katanya) rap dari dua orang yang saat ini fenomenal di Indonesia, figur bad boy dan bad girl, lah.
Aku tidak mempunyai sentimen tertentu untuk mereka berdua. Hanya saja, lagu seperti ini sangat tidak cocok untuk suasana kedai kopi kesukaanku ini.
Biasanya mereka menyetel lagu-lagu akustik yang itu-itu saja sampai aku ingin menjabak rambut penyanyinya. (Beneran diulang-ulang terus)

Yaudahlah, aku sedang kencan.
Aku tidak mau atmosfir kencan ini jadi buruk karena pilihan lagunya yang buruk.

*

Hari ini dia banyak diam tapi aku tahu pikirannya berisik sekali.
Aku curi dengar, sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu. Tapi, seperti yang sudah-sudah.
Dia, lagi-lagi ragu dengan pilihan yang tersedia untuknya.

Indecisive.
Tidak bisa memilih.
Selalu lewat jalan tengah.
Kalau tidak ada jalan tengah, ya diterobos aja.
Yang penting dirinya tidak berat sebelah.

Aku kesal dengan sifatnya itu.
Menurutku, kita tidak bisa selalu berada di tengah-tengah. Pahitnya, adalah kita tidak punya tempat yang pasti.

*

Hari ini, baju abu-abu yang dia kenakan terlihat sangat hangat di tubuhnya.
Ada sedikit dorongan dalam diriku untuk memeluk badannya yang mengurus.
Namun, aku menarik keinginanku itu. Karena sadar betul, dia tidak suka disentuh secara tiba-tiba.
Memeluknya tiba-tiba terasa seperti menyetrum. Ada sengatan di sana.

Tiba-tiba, dia membuka percakapan. Setelah sedari tadi sibuk bercakap-cakap sendiri.

"Would you mind if Iask you something personal?"

Jika dia benci dipeluk tiba-tiba, aku lebih benci ditanya tiba-tiba. Namun, aku tetap menyanggupinya.

"Ask away."

Dia meminum sisa kopinya yang dingin karena digigilkan waktu. Siapa suruh, bukan diminum daritadi.

"If people aren't equal, where would you fit in?"

Aku hanya menggelengkan kepalaku. Karena aku tidak tahu jawabannya, dan tidak paham betul maksud pertanyaannya.
Samar-samar, dia tersenyum tipis. Menepuk kepalaku pelan.

"Don't you worry, though. The two of us won't be sharing the same level."

*

Hubunganku dengannya tidak selalu baik-baik saja.


Aku masih kesulitan untuk bisa menerima semua kejelekan dalam kebaikannya. Begitupula, tidak mudah baginya untuk mencintai segala hal baik dalam kekuranganku.
Kami masih berusaha saling mencintai, hingga saat ini.

Kami merayakan hari jadi hubungan kami, sesekali.
Yang terakhir, tidak terlalu terasa menyenangkan, karena aku merasa begitu resah saat itu.
Sulit untuk kujelaskan, bahkan kepada diriku sendiri.

Ah, aku lupa ya menyebutkan namanya daritadi?

*

Aku sedang kencan dan menjalin hubungan yang rumit dengan diriku sendiri.
Saat ini baik-baik saja meski tidak selalu baik-baik saja.
Doakan ya, agar aku bisa selalu mencintainya bahkan saat aku membencinya.

:)




Tyas Hanina


1 komentar:

Unknown mengatakan...

Yah kirain sama siapa

Tulisannya gitu sih, alurnya gak ketebak, kompor gas

Posting Komentar