Pages

Senin, 27 Juni 2016

Harumnya Nostalgia dan Perbedaan



Malamku tersusun oleh seracik percakapan dengan bumbu-bumbu kerinduan dengan beberapa orang teman di masa sekolahku yang kutinggalkan dua tahun silam.
Tidak banyak yang berubah dari mereka. Bahkan rasanya sama saja. Jika kita membicarakan perihal fisikal.
Namun, aku yakin. Benturan-benturan yang terjadi di hidup mereka (sepengetahuan atau tanpa sepengetahuanku) membentuk mereka. Menjadi sesuatu yang berbeda.
Mungkin, aku juga seperti itu.

Beberapa dari mereka masih ku curi dengar perihal semestanya, lewat percakapan-percakapan di aplikasi chat. Beberapa hanya ku cari tahu dari hal-hal yang mereka bagikan di media sosialnya. Beberapa menghilang begitu saja, menguap bersama kesibukan di semestanya (dan muncul kembali malam ini!).


Senin, 23 Mei 2016

TITIK BALIK

“Apa sih yas menurut lu yang jadi titik balik dalam hidup lu?”

Pertanyaan yang orang ini lontarkan cukup menyebalkan. Pertanyaan ini menggantung di langit-langit kala suara sang pembawa acara memenuhi ruangan.
Kami sedang mengikuti rangkaian acara Festival Indonesia Menggugat yang diadakan di GIM (Gedung Indonesia Menggugat) Bandung pada tanggal 21 Mei yang lalu.
Gedung ini punya sejarah yang menarik, di sini Soekarno diadili. Ada banyak sekali hiasan dalam gedung yang bercerita tentang kisah hidup Soekarno. Festival Indonesia Menggugat yang dimulai sejak 19 Mei yang lalu pun menurut saya pribadi sangat menarik dan penting untuk diikuti.
Awalnya saya ke sini karena ajakan orang ini. Itung-itung liputan. Yah, sekalian kasih santapan bergizi buat pikiran.
Sesi diskusi pertama yang kami ikuti adalah tentang musik sebagai bentuk perlawanan. Setelah itu, diskusi tentang Soekarno dan Perlawanan Kelas dilakukan, jeda yang tercipta cukup lama dan membuat kami sempat mengobrol tentang beberapa hal.
Pertanyaan itu adalah salah satu bagian dari percakapan kami.
Ah, ya. Dan pertanyaan darinya itu belum terjawab hingga saat ini saya mengetik ini.

Pertanyaan itu membuka pertanyaan-pertanyaan yang lain.
Rasanya pertanyaan-pertanyaan itu  saling berbenturan di dalam kepala saya.
Kenapa dia tiba-tiba bertanya seperti itu?
Ada apa dengan titik balik?
Memang apa sebenarnya makna titik balik itu sendiri?
Katanya, titik balik adalah titik di mana ada suatu peristiwa atau kejadian yang mengubah hidup saya. Or particularly, changing me into who i am right now.
Dan, duh. Saya gak bisa jawab.
Emang saya yang sekarang ini siapa? Emang saya yang dulu seperti apa?


Minggu, 22 Mei 2016

Could you stay away but come closer?

Mohon jangan ada sekat.
Jarak sudah cukup lega.
Kenapa kamu harus menjauh dengan tega?

Mohon jangan terlalu dekat.
Aku butuh ruang di antara kita.
Kenapa kamu terus menekanku tanpa peka?

...

Cukup. Cukup berada di sana.
Jangan ke mana-mana.

Cukup main-main di dalam diriku saja.
Jadikan itu semestamu semata.

Berkomunikasi Lewat Puisi

Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Sekelompok orang pecinta sastra berkumpul. Tirai merah dibuka. Lantunan musik dan musikalisasi puisi memenuhi gendang telinga. Di luar hujan turun dengan derasnya, di luar para polisi yang berjaga berteduh untuk sementara.

Kamis, 03 Maret 2016

Tentang Blog Ini

Saya baru saja membuka halaman statistik blog ini.
Dan, saya cukup terkejut menyadari fakta bahwa umur blog ini sudah hampir 6 tahun.
Blog ini sekarang sudah seusia anak kecil yang akan berseragam putih merah.
Ada 187 tulisan yang dipublikasikan di halaman blog ini. Faktanya, ada beberapa tulisan yang saya pilih untuk kemudian disimpan di draft karena satu atau dua alasan (terlalu pribadi, tidak jelas tujuannya, dan sebagainya..)
Hanya ada 23 komentar.
Jumlah pengunjungnya hampir 30.000. Apakah itu jumlah yang besar atau kecil, saya tidak tahu.



Maaf, sedari awal sudah menyuguhkan kamu dengan segerombolan angka.
Saya juga tidak terlalu suka angka, saya sukanya kata.
Namun, angka-angka yang bergelimpangan di statistik blog saya ini membuat saya intropeksi diri.

Usia blog ini, jika dibandingkan dengan usia manusia memang masih sangat muda.
Namun, untuk usia sebuah halaman blog. Ini cukup tua.
Sayangnya, hanya sedikit jumlah tulisan yang saya publikasikan di sini. Membuat saya merasa betapa pemalasnya diri ini.
Dan.... ternyata saya cukup setia. Sebab beberapa kawan saya, berkali-kali mengganti blognya. Namun,blog ini tetap jadi satu-satunya tempat saya berbagi cerita.
Bukti lain saya adalah sosok yang setia (iya agak jijik ya bacanya) adalah..
Sejak awal saya menulis di halaman blog ini hingga sekarang saya menulis ini.. Saya tetap menulis surat tanpa penerima untuk orang yang sama. Siapa orangnya?! Itu rahasia saya dan semesta. Jadi mohon berhenti bertanya akan hal ini, sebab saya tidak akan menjawabnya.
Tapi, saya mau membocorkan satu hal. Dia baca tulisan saya. Dan, ya. Dia tahu itu tentangnya. Malahan, dia nagih buat saya kembali menulis tentangnya (emang banyak maunya).



...

Awal saya menulis di halaman blog ini, saya mencoba untuk bersembunyi.
Kemudian, suatu hari. Saya memberanikan diri, untuk membagikan linknya di halaman facebook saya.
Saya ingat, sepertinya saat itu, teman-teman saya jadi buat blog juga.
Dan, salah satu wali kelas saya, sampai membacanya dan menanyakan kabarnya :’)
Malu pisan waktu tahu beliau baca, tapi girang juga sih haha. Tulisan gue mah apa, tapi diapresiasi :’)

Saya juga sempat malu, waktu diledeki sebagai penulis.
Mungkin sampai sekarang masih.

Blog ini sepertinya memang sudah melekat dengan diri saya.
Setiap ada perlombaan menulis atau blog, pasti teman-teman saya mengabari saya.
Tapi, tidak pernah saya ikuti, karena saya tidak cukup berani.

Beberapa teman, bahkan menyarankan untuk menulis buku.
Ah, tapi kemampuan saya masih jauh dari itu.
Saya masih cukup puas menulis di sini. Saya masih cukup bahagia ada yang membaca tulisan saya di sini.

Tapi, pasti, nanti.
Saya berani.


...

Beberapa fakta tentang saya dan blog saya :

 ·         Saya sempat bergabung di sebuah grup blogger. Tapi saya sangat pasif. Saya jarang terlibat di dalam obrolan grup, dan tidak pernah ikut kopi darat. (because, one of my biggest fear, is stranger).
·         Awal-awal ngeblog, viewers per postingan sangat sedikit. Sekarang, kalau saya posting sesuatu, yang lihat lumayan. Paling sedikit belasan hingga puluhan. Eh masih sedikit ya?
·         Saya ikut beberapa writing challenge. Bahkan pernah buat writing challenge sendiri. Tapi, ya gitu, ehehe.. saya gak konsisten. Tapi, tulisan-tulisan saya yang masuk ke tantangan menulis itu punya banyak sekali pembaca. Alhamdulillah.
·         Saya gak pernah ikut lomba blog. Pengen ikut. Pengen banget. Tapi, atut.
·         Saya pernah dengan cerobohnya, menulis tentang kisah asmara saya, dan saya menyesalinya.
·         Saya dulu pernah dengan gak pentingnya buat laman yang isinya foto-foto saya. Dan, parahnya, foto saya di laman itu gak ada yang cakep. Foto aib semua.  Terus dulu sempet diledekin, dan kayanya disimpan oleh beberapa teman saya. YA SAYA SANGAT MENYESAL. (Sama aja sih kaya story snapchat saya, sumpah jangan diadd ya, idnya tyashanina).
·         Iya, id semua socmed saya tyashanina. Dan, iya, percuma kamu ngeadd kalo kamu gak kenal saya. Saya gak pernah accept kalo gak kenal.
·         Saya gak punya path, soalnya path tempat orang pamer. WKWKWK. Eh gak deng. Pokonya saya gak suka aja. Gak penting juga lah orang tau saya di mana, sama siapa, ngapain, dengerin lagu apa, nonton film apa hehehe. Kalo mau tau saya gimana, semesta saya seperti apa.. rajin baca blog ini aja ya.
·         Saya paling bahagia kalo ada yang komentar di postingan blog saya. Soalnya pada silent reader euyyy. (kode biar dikomen)
·         Saya emang suka nulis, tapi jangan suka ngeledek saya penulis :( aq jadi malu.
·         Saya laper abis ngetik tulisan ini. Sekian.



...

Ohya, kalau kamu cukup teliti.
Sebenarnya ada laman yang bercerita tentang diri saya di halaman blog ini. Tapi halaman tersebut tidak pernah saya update sejak SMA.

http://haninabobo.blogspot.co.id/p/mau-tau-gue-siapa.html#

...

Sebenarnya, saya ingin membahas mengenai hal ini sejak beberapa hari yang lalu.
Jujur, hal ini cukup menganggu.

Jadi, beberapa hari yang lalu..
Saya berkunjung ke salah satu halaman blog seseorang yang tidak saya kenal di dunia nyata- tapi orang ini mencoba menghubungi saya beberapa kali melalui dunia maya (Tapi selalu saya abaikan, karena saya tidak mengenalnya. Dan aturan utama saya jika berteman dengan seseorang di dunia maya adalah saya mengenalnya di dunia nyata).

Saya membaca tulisan-tulisannya, dan saya pun membuka laman mengenai dirinya.
Dan saya terkejut, juga jengkel.
Menyadari bahwa gaya menulisnya sama persis dengan saya.
Dari awal kata, hingga cara dia menutup perkenalan dirinya.
Dari kalimat “siapa sih aku” hingga tanda tangan di akhirnya.

Saya tidak akan memberikan link blognya, atau memberi tahu siapa dia di tulisan ini.
Tapi, saya tahu, bahwa kemungkinan besar kamu (yang saya maksud) membaca ini..
Saya cuma pengen bilang.. kamu melewati batas.
Masa sih, sampe perkenalan diri, kamu menyalinnya? Hehe.

Saya pernah mengalami tulisan saya disalin, dan dibagikan tanpa seizin saya sebelumnya.
Di blog orang lain, di twitter.. Tapi, entah kenapa, tidak merasa sejengkel ini.
Mungkin karena bagi saya, blog ini sangat pribadi. Dan terutama laman tentang diri saya, merupakan bagian saya bercerita tentang siapa saya. Blog ini sudah bagian dari saya. Dan cerita tentang saya, adalah milik saya.

Memang, saya tahu. Apapun yang dibagi di dunia maya, sudah tidak bisa dibilang sepenuhnya milik saya.
Karena itu, semua akun saya di social media saya kunci.
Satu-satunya pintu untuk mengenal semesta saya lewat dunia maya hanya lewat tulisan-tulisan saya di halaman blog ini.

Maaf jika saya menutup diri, maaf jika saya tinggi hati.

...

Hmm. Udah ah kzl kzlannya. Hehe.

Oh ya,
Beberapa waktu yang lalu, saya menjanjikan sesuatu. Bahwa saya akan menuliskan beberapa fiksi yang temanya diberikan oleh teman-teman saya.
Tapi, baru satu kisah fiksi yang saya tulis dan publikasikan di blog ini.
Tema yang diberikan untuk tulisan itu adalah “Janji” oleh Kak Rani. Makanya saya pake nama Rani, untuk tokoh utamannya.

Saya rasanya kapok untuk berjanji lagi. Dan saya tahu menunggu itu melelahkan.
Jadi, saya gak akan membuat kamu, pembacaku, untuk menunggu..
Tulisan baru di blog ini. Entah itu kisah fiksi, cerita tentang semesta saya, atau surat tanpa penerima.

Tapi rencananya ,saya akan memperbarui laman tentang diri saya, nanti.
Soalnya, meski tetap orang yang sama. Tapi, kini, saya berbeda.
Entah kapan.
Pokonya nanti.
Hehe.

...

Untuk menutup tulisan ini.
Saya ingin berterimakasih untuk kamu, pembacaku (entah siapa, entah ada atau gak)..
Terimakasih sudah merelakan waktumu untuk membaca barisan huruf yang saya tuliskan di halaman blog ini.
uUWuwuw i love u.

Dan,
Saya ingin bertanya kepada kamu, pembacaku (entah siapa, entah ada atau gak)..
Tulisan apa yang paling kamu sukai dari halaman blog ini, kenapa?
Tulisan apa yang paling ingin kamu baca dan paling ingin saya tulis, kenapa?

Jawab di kolom komentarnya, ya! ;)


Tyas Hanina
Jatinangor

P.S
Maaf jika saya terkesan sombong. Sungguh, saya bersungguh.
Tidak ada yang dapat saya sombongkan.
Saya hanya mencoba berbagi kisah, seperti biasa.
Dan kali ini saya bercerita tentang ini, tempat saya bercerita.

Untuk kamu, yang sempat saya singgung di sini.

Tidak apa, kamu. Tetap menulis ya. Saya tidak pernah mencoba memadamkan api kamu :)

Rabu, 17 Februari 2016

Longing


Hai Tuan,

Sudah cukup lama, aku tidak menghidupkanmu lewat tulisan.
Namun, bukan berarti kau sudah mati- meskipun kau hidup bersama rintihan kata yang menunggu ku bangkitkan.

Di dunia nyata,
Aku hidup dalam kehidupanku, begitu pula kamu yang hidup dalam kehidupanmu.
Tidak ada lagi kita di dunia nyata, begitu pula kehidupan tentang kita.

Kita.
Adalah bagian dari masa lalu.
Yang indah namun membuat lelah.
Yang manis namun membawa tangis.
Baik dulu, maupun jika aku membangkitkannya dalam ingatan.
Seperti sekarang ini.

Sungguh aku sama sekali tidak merasa sendu, maafkan jika tulisanku bernada begitu.
Aku hanya, sedang rindu.

Pada pemilik tawa terindah yang pernah kusaksikan.
Pada pemilik mata terteduh yang pernah kupandangi.
Pada pemilik hati, yang pernah membuatku utuh.
Padamu, Tuan.

...

Mengapa kau masih menulis tentangku, jika melepasku pergi adalah pilihanmu Nona?

Sebab,
Dengan menulis aku bisa menghidupkanmu.
Dalam penghidupanmu lewat barisan huruf yang kutuliskan.
Aku bisa hidup bersamamu.
Aku bisa menghabiskan waktu untuk mengingatmu tanpa sia-sia.

Aku menghasilkan karya.
Dengan menghidupkanmu, beserta membangitkan kita yang membawa luka.

Sebab kata-kata abadi,
Dan aku belum binasa.

Sebab kamu pernah sangat berarti.
Dan aku kini mencoba menjadikanmu biasa saja.

...

Sebab,
Aku tidak bisa mengobati rindu dengan pertemuan kita.
Terlalu mahal harga yang harus “kubayar”.
Akan semakin banyak luka yang menguar.

Maka dari itu,
Aku memilih pengobatan alternatif dengan cara menulis.
Ini gratis.
Dan aku dapat menyembunyikan ekspresi asliku.

Ah percayalah.
Aku tidak sesedih yang ditampakkan tulisanku.
Namun juga tidak seberani yang ditunjukkan kata-kataku.

Dan percayalah.
Aku memang merindukanmu.
Tanpa perlu kamu tau.

...




Tyas Hanina

(25/1/2014)

Minggu, 31 Januari 2016

Perihal Janji



“Mungkin hanya ini yang bisa kuberi.”

Katamu.
Aku tersentak dan juga bingung. Apa yang ingin kau berikan padaku?
Kulihat kau tidak membawa apapun bersamamu, selain senyum malu-malu itu.
Apa mungkin kau menyembunyikannya di saku celanamu?
Aku terus bertanya kepadamu di dalam kepalaku.

“Semoga hal ini, dapat membuatmu terus mengingatku sebagai perihal yang baik.”
“Dan suatu saat kamu kesal padaku. Ada hal ini yang dapat membuatmu memaafkanku hehehe.”

Kau terus berbicara. Tanpa menunjukkan apa-apa.

“Katakanlah apa hal itu.”

Senyummu melebar ketika mendengarku bersuara.

“Apakah kau merasa penasaran akan hal ini?”
“Tentu saja.”

Kau tidak merogoh saku celanamu untuk mengambil hal itu.

Justru, kau memegang tanganku dan menggenggamnya erat.

“Ran.”

Aku yakin sekali, dress merah yang kukenakan ini masih kalah jauh merahnya oleh rona pipiku.

“Aku cuma bisa ngasih ini ke kamu.”

Suaramu dalam dan halus.
Dan aku yakin sekali. Suara hingar bingar live music di restoran ini tidak seberapa berisiknya dari degup jantungku.

“Janji.”

...

Bulan menyembunyikan separuh tubuhnya dari langit malam ini.
Katanya, dia sedang merasa tidak utuh.

Barangkali kamu ingin tahu, begitu pula aku.

Aku bersembunyi dari siapapun yang kukenal malam ini.
Ku matikan telpon genggamku. Tidak ingin berhubungan dengan siapapun.
Kecuali, kamu.

Aku merutuki diriku sendiri ketika mengingat kamu.
Aku tidak bisa menyalahkanmu, lagi-lagi.

Sudah lama kita tidak terhubung.
Tali yang menghubungkan kita berdua sepertinya sudah putus.
Kapan itu terjadi, aku tak tahu. Bagaimana itu terjadi, aku tak mau tahu.

Walau begitu, aku masih sering mengingatmu.
Senyum malu-malu itu. Kemeja yang digulung hingga siku. Hembusan asap rokokmu.
Percakapan kita malam itu.
Janjimu.

...

“Janji..?”
“Ran..”

Lagi, kau panggil namaku.

“Aku tahu, aku cuma bisa janji saat ini.”
“...Tapi kita tidak tahu bagaimana nanti.”

Perlahan, tanganmu bergerak menyentuh pipiku. Mengusapnya secara halus.

“Aku tahu dan aku mau. Kamu bakal ngerti. Dan, kamu pasti ngerti.”
“Ran.. Aku janji kita akan bahagia. Aku janji kita akan baik-baik saja.”

Kau sibuk berbicara. Aku sibuk menahan ledakan di dadaku.

...

Ya, kita tidak tahu bagaimana dan apa yang akan terjadi nanti.
Benar katamu. Aku setuju.

Karena saat ini,
Adalah masa depan dari masa lalu kita itu.

Dan aku pun akhirnya tahu bagaimana dahsyatnya pemberianmu itu.

Ya, janjimu.

...

“Apa maksudmu?”

Aku melepas tanganmu. Sedikit memberikan jarak kepadamu.

“Aku janji Ran. Bahwa pada akhirnya, hanya akan ada kita berdua.”
“Tanpa ada orang lain, untuk menjadi tiga.”

Pada akhirnya, aku tidak kuasa menahan ledakan itu.

“Kenapa kau harus berjanji? Kenpa tidak memberiku bukti?”

Kau menarik nafasmu perlahan, lalu menatapku lebih dalam.

“Gak bisa, untuk saat ini saja.”
“Kita harus menunggu waktu yang tepat Ran.”

Aku menggelengkan kepalaku.

“Apakah pernah ada waktu yang tepat untuk kita?”
“Apakah pernah hatimu tetap untukku saja?”

Kau menggengam kembali tanganku.

“Pasti. Pasti ada.”
“Hatiku hanya untukmu Ran.”
“Tapi semesta belum mengizinkan kita untuk berdua.”
“Karena aku masih terikat oleh orang lain.

“Saat ini, adalah saat yang buruk untuk melepaskan ikatan itu.”

...

Aku mencegah air mataku untuk tumpah lagi malam ini.
Aku tidak ingin benci kamu, tidak ingin sama sekali.
Aku ingin terus mengingatmu sebagai perihal yang baik untukku.
Aku ingin terus memegang janjimu itu.

...

“Dia sedang berbadan dua.”

Air mataku tumpah tanpa sempat aku cegah.

“Jadi, aku mohon Ran. Mohon sekali.”
“Aku janji sama kamu Ran kita akan bahagia, nanti.”
“Tapi aku mohon kamu juga bisa janji kepadaku.”
“Bahwa kamu bersedia untuk menunggu.”

Terus terang, aku tidak tahu ingin menamparmu atau memelukmu saat ini.
Aku merasa marah sebagai seorang perempuan.
Namun, juga merasa cemburu sebagai seorang kekasih.

...

Siapapun yang mendengar kisah kita pasti akan timbul rasa benci di dadanya.
Aku tahu pasti.
Perlahan, bukan hanya orang-orang lain saja.
Aku mulai membenci diriku sendiri.
Ketika aku mulai jengah dan sadar bahwa janjimu palsu.

Tapi, aku tidak pernah bisa membenci kamu.

...

“Lalu, apa rencanamu untuk kita?”

Bergetar, akhirnya keluar kalimat tanya itu dari bibirku.

“Aku akan meminangmu Ran..”
“Setelah aku memutus tali pernikahanku dengannya..”
“Setelah anakku sudah lahir dari perutnya..”

...
  
Masih terasa hangat di ingatanku.
Semua detail kejadian malam itu.

Aku ingat dengan jelas, bagaimana semua pasang mata melihat ke arah meja kita.
Aku ingat, aku menatap kamu dengan amarah.
Aku ingat, kamu memegangi pipimu yang merah.
Setelah ada tamparan yang keras dariku di sana.

...

“Aku gak pernah nyangka bahwa kamu sejahat ini.”
“...Aku juga jahat karena egois menahanmu selama ini. Mengabaikan tali ikatan itu.”

Aku menatap nanar cincin di jemarimu.

“Jika kamu ingin aku terus mengingatmu sebagai perihal yang baik.”
“Lupakan rencana itu.”
“Aku akan tetap memegang janjimu. Bahwa kita akan bahagia dan baik-baik saja.”

Kini, aku menggengam erat tanganmu.

“...tapi aku tahu bahwa kamu juga tahu.”
“Bahwa kita tidak akan bisa berdua.”
“Aku tidak dapat menggenapimu, sebaliknya juga kamu.”
“Dari awal hubungan kita sudah ganjil.”
“Jadi, biarlah seperti ini.”
“Kalau memang hatimu untukku, aku tidak keberatan kamu terikat oleh hati yang lain.”
“Biarkan perihal hati kita menjadi rahasia.”
“Dan perihal janjimu, menjadi hadiah terindah untukku. Walau mustahil untuk menepatinya.”

...

Di bilangan yang tak terbilang.
Aku mengingatmu.

Hatiku lebam. Rindu itu kejam.
Aku meringis, mengingat janjimu yang manis.
Aku menangis, mengingat pelukmu yang magis.

Aku ingat dipeluk kamu setelah aku menamparmu dan mengucapkan kata-kata itu.
Ledakan itu meredam dengan sendirinya karena pelukan itu.
Setelah itu kamu mengantarku pulang ke rumah.
Memberikan kecupan ringan pada bibirku.
Mengucapkan selamat tinggal, dan berjanji akan tetap menghubungiku.
Dan berjanji akan melupakan rencanamu.
Aku ingat memeluk kamu sebelum kamu pergi.
Dan meminta kamu untuk bahagia.
Dan meminta bahwa kejahatan kita cukup sampai sini saja.
Aku ingat kita sama-sama menangis.

...

Hai, kamu?
Apa kabarmu?
Bagaimana kabar jagoan kecilmu?
Aku rasa aku tahu alasan mengapa tali kita terputus tiba-tiba.
Itu karena kamu sudah merasa genap.
Atau kamu sudah tahu.
Bahwa untuk merasa genap, kamu harus menghilangkan satu bilangan yang membuatmu selama ini ganjil.
Yaitu, aku.

Aku adalah bilangan yang kau pilih untuk dihapus dalam hidupmu.

Tak apa.
Aku tidak akan membencimu walau itu berarti..
Janji itu hanya untuk buatmu saja.
Bahwa yang bahagia dan baik-baik saja, itu kamu.
Aku tidak perlu.

Tidak apa, kamu.
Aku tetap mencintaimu.

Aku tidak peduli seluruh dunia membenciku.
Selama ada kamu, yang pernah mencintaiku.


Tng, 31 jan 2015.
Rani.

Kekasih gelapmu /Bilangan ganjilmu

Rabu, 13 Januari 2016

m e n u l i s

Rasanya kepala ini penuh dengan kata-kata.
Dan dadaku sesak oleh perasaan yang entah apa.

Kebanyakan kawanku mengatakan bahwa aku sangat sulit untuk terbuka.
Dan beberapa dari mereka menyatakan bahwa mungkin sebaiknya aku menulis sebagai wadahku untuk didengarkan.
Sayangnya, mereka tidak sepenuhnya benar. Mereka hanya sedikit keliru.
Bahwasanya aku, bukanlah sulit untuk terbuka. Hanya saja aku bingung harus memulai ceritaku dari mana. Dan mengapa aku harus bercerita? Kadang aku bertanya-tanya.
Aku menulis bukan untuk didengarkan orang lain. Tapi untuk mendengarkan diriku sendiri.
Apa yang sesungguhnya kurasakan. Apa yang sesungguhnya kuresahkan.

(Dan kehebatan menulis adalah ketika tujuanku hanyalah untuk mendengarkan diriku sendiri, terkadang orang lain juga tergerak untuk mendengarkan diri mereka sendiri.)

Terkadang, ketika kita mendapatkan masalah dan menceritakannya dengan orang lain.
Yang kita butuhkan hanyalah sebuah pembenaran.
Justifikasi.

Kita mengenal diri kita lebih baik dari siapapun.
Kita adalah teka teki yang teterka oleh siapapun.

Dengan menulis, menyusun rangkaian huruf demi huruf, menari di atas tuts komputer, berdansa di atas selembar kertas.
Setidaknya aku mampu mengingat apa-apa yang hendak terlupa.
Aku menulis untuk mengenang. Aku menulis untuk tergenang.
Bahwasanya, banyak sekali momen dalam hidupku yang rasanya tidak kuasa kulupakan tapi bisa kapan saja terhapus dari ingatan.
Karenanya, aku menulis untuknya. Untuk mengingatnya.

Menulis membuatku mampu menciptakan mesin waktuku sendiri.
Aku dapat kembali ke masa lalu, dengan membaca tulisan-tulisan lamaku.
Aku bisa melongok ke masa depan, dengan menuliskan khayalan-khayalanku.
Dan aku bisa membuat perbandingan, dan menghayati segala perbedaan.

Ah, ada terlalu banyak hal yang ingin kutuliskan.
Tapi aku bingung harus mulai dari mana.
Jariku terasa kaku sekali kala menuliskan ini semua.
Aku harus kembali berlatih, untuk melemaskan jari-jemariku.
Untuk mempersiapkan ingatanku, dan apa-apa yang kurasakan mengenai ceritaku.

Tegur aku jika aku kembali kalah oleh rasa malasku ya?
 Mari menulis,
Catat hari ini.
Untuk kita kenang nanti.
Hal-hal yang ingin ku tulis, dan semoga  jadi ku tulis :
1.       Trip To Pahawang
2.       Nostalgia Putih Merah
3.       Anggota Keluarga Baru




Tyas Hanina

P.S
Mohon sabar menunggu , siapapun kamu itu.
Aku juga sudah sangat rindu menulis untukmu.
Pembacaku.

Jumat, 11 Desember 2015

Sibuk

Maaf,
Kesibukan tengah merengkuhku erat.
Hingga untuk sekedar menyapamu pun tak sempat.

Semestaku penuh tenggat waktu.
Bagaimana dengan semestamu?

Ah, jangan berbesar hati dahulu.
Aku tidak sedang merindukanmu.
Hingga aku menulis tentangmu lagi di halaman blogku.
Kebetulan, tugasku mengharuskanku menulis sesuatu.
Jadi, sekalian saja kusapa kamu.

Ya, kuakui.
Aku merindukanmu, sesekali.
Tidak hanya pada pukul 2 pagi.
Ketika semestaku bising oleh sunyi.
Namun, juga pada pukul 2 siang.
Ketika semestaku tengah sibuk-sibuknya.

Kamu muncul melulu,
Dan itu menganggu.
Karena itu aku ingin mengenyahkanmu.
Karena tugasku menunggu.

Maaf. Aku terlalu sibuk untuk sempat merindukanmu.



P.S
(Nanti setelah semestaku lebih lapang tanpa tugas, datang lagi ya?)

Senin, 23 November 2015

ur bad habit

Salah satu dari sekian banyak hal yang membuatku jengkel padamu.
Adalah kebiasanmu untuk menggantungkan cerita.
Seakan, kau selalu mengakhiri kalimatmu dengan tanda koma, bukan dengan titik seperti seharusnya.
Hal itu mengganggu, dan membuatku terus menunggu.
Lalu apa? Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Namun, kau hanya membisu. Entah apa yang membuatmu begitu.

Apa aku terkesan tidak memperdulikanmu? Apa aku terlihat tidak mendengarkanmu?
Sungguh, aku bersungguh. Aku sangat ingin tahu, perihal apapun yang menimpa semestamu.
Terlebih, ketika kutangkap getar ragu dalam kalimatmu. Atau nada muram dalam celotehmu.

Mungkin kau tengah disibukkan oleh apapun kegiatanmu.
Atau mungkin kau lupa membalas pesanku.
Atau mungkin kau hanya ingin mengerjaiku.
Membiarku menunggu, membiarkanku khawatir akan kondisimu.

Ingin kukutuk jarak di antara kita.
Karena ada saat di mana aku ingin bersandar di bahumu,
Tapi kamu jauh.
Karenanya, tiap-tiap kali kudengar getir rindu dalam kalimatmu.
Aku berusaha mendekatimu. Entah dengan cara apapun itu.

“Ah, lagipula, apa benar kau pernah merindukanku?” Katamu.

Tak usahlah kau bertanya padaku. Aku tidak akan menjawabnya.
Kata orang, perempuan tidak suka ditanya.
Dia lebih suka bertanya.

Hai, kamu. Bagaimana kesibukan semestamu? Jangan lupa untuk berhenti sejenak dari kesibukanmu, lalu merindukanku.



Tyas Hanina

Vengeance

Kamu fikir aku bisa membiarkanmu begitu saja.
Setelah semua hal yang datang setelah kamu melakukannya.
Meskipun tanpa sengaja.

Kamu fikir ini akan mudah jika hanya aku yang merasa?
Itu sulit untuk ku terima,
Semua rasa hanya akan menjelma luka.

Karenanya aku akan melakukan pembalasan,
Tunggu saja.
Aku akan membuat kesamaan perasaan di antara kita.

Aku sengaja.
Aku tidak ingin terluka.


Aku akan buat kau jatuh cinta.


Tyas Hanina
18 Desember 2013

Tari

Namaku Tari.
Bagian tubuh yang kusuka adalah jari.
Yang setiap hari berada diatas keyboard komputer, menari. Menekan tuts demi tuts, menyusun rangkaian huruf menjadi puisi.
Yang setiap hari memeluk pena, berdansa di atas selembar kertas sebagai lantainya. Merangkai kata menjadi sebuah cerita.


Aku cinta berdansa, aku gila menari.



Tyas Hanina
16 Desember 2013

Kamis, 19 November 2015

Barangkali

Barangkali,
Kamu ingin mengetahui sebaris kalimat kabar dariku.
Aku akan memberimu separagraf penuh (atau mungkin lebih) tentang semestaku.

Barangkali,
Kamu tidak ingin tahu.
Aku akan tetap menuliskannya.
Tanpa mencoba mengirimkannya padamu.

Ah,
Apa yang lebih gagu dari rindu?
Apa yang lebih rusuh dari resah?
Apa yang lebih candu dari kamu?
Apa yang lebih ragu dari aku?

Barangkali,
Kamu mengetahui jawabnya.
Tolong beri tahu aku.

Barangkali,
Kamu tidak mau beri tahu.
Tak mengapa.
Aku akan terus mencari tahu.


19 Nov 2015, Jatinangor.

Tyas Hanina

Kamis, 08 Oktober 2015

satu pagi

Aku terbangun oleh mimpi buruk yang kuninabobokan sendiri.
Tidak ada suara berisik di sekitarku. Justru sunyi begitu bising di sini.
Satu-satunya yang gaduh di sini adalah pikiran di kepalaku sendiri.
Kegaduhan itulah yang membuatku terjaga malam ini.

Aku tidak sedang merindukan siapa pun. Kamu jangan dulu berbesar hati.
Memang rasanya ada yang hilang, entah apa itu. Aku malas untuk mencari.
Kubiarkan saja ada yang kosong di sana, entah di mana. Entah apa yang mampu mengisi.

Ah ya, aku ingin mengabari.
Kemarin hujan turun deras sekali.
Hujan pertama di bulan ini, di bulan kelahiranku ini.
Ada banyak yang terjebak di dalam kampus, aku justru menjebakkan diri.

Hujan itu istimewa bagiku. Mungkin kamu tidak akan mengerti.
Ada kehangatan yang dibagi, ada kenyamanan yang tak perlu lagi dicari.
Aku selalu berpikir daripada mengeluh karena terjebak olehnya, mengapa tidak dinikmati?

"Kamu naif sekali."
Mungkin kamu akan berkata begitu, aku tahu sekali.
Aku memang terlalu naif, sehingga pernah percaya padamu sekali.

Ah sudahlah, aku tidak ingin membahasmu dalam tulisanku kali ini.
Atau pun dalam tulisan-tulisanku nanti.

Kamu, dalam tulisanku hanyalah karakter mati.
Yang sesekali bangkit dari kuburannya sendiri.
Seperti mayat hidup atau zombie.

Yang harus kubasmi tiap-tiap kali muncul, seperti saat ini.
Kalau sudah mati, mati sajalah. Terima saja ajalmu itu, wahai zombie.

...

Aku tidak lagi tertarik untuk membahas masa laluku sendiri.
Hal yang ingin kutulis hanyalah saat ini, atau pun nanti.
Masa lalu sudah lama lewat, dan aku tidak ingin mengejarnya lagi.
Karena kusadari bahwa itu sia-sia sekali.
Bahkan untuk menuliskannya, karena itu terasa bahwa aku menghidupkannya lagi.

Punggungku pegal sekali. Hari ini aku kuliah pagi.
Mungkin lebih baik ku jemput dia, mimpi buruk itu lagi.

(Ah, mimpi buruk sekalipun masih lebih baik daripada harus membangkitkanmu dalam tulisanku kembali.)


Tyas Hanina

Kamis, 01 Oktober 2015

Bagaimana semestamu?


Ah, halo, selamat malam.
Lama tidak bersua, sekedar melempar salam serta sapa.
“Apa kabar?”  mungkin bukan lagi pertanyaan yang pantas ku lemparkan untuk kau tangkap.
Karena aku ingin tahu lebih dari itu. Lebih dari sekedar kabarmu.

Aku ingin tahu bagaimana semestamu berputar selama tidak ada aku di sana.

Apakah tetap sama?

Tiba-tiba aku teringat kutipan seorang filsuf terkenal.
“Yang hadir itu ada. Yang tidak hadir itu tidak ada. Yang ada tetap selamanya ada.”
Apa kau mengerti maksudnya? Ah itu bukanlah perihal yang krusial pada saat ini. Aku tidak akan memintamu untuk menguraikan penjelasannya, aku tidak butuh bantuanmu untuk pekerjaan rumahku.
Yang terpenting, adalah.. bagaimana kehadiranku berpengaruh pada semestamu?
Aku sangat ingin tahu tentang itu. Aku butuh tahu.

Dengan penuh kesadaran, aku tahu bahwa aku pernah hadir di dalam semestamu.
Pernah ada jejakku di sana, pernah ada sentuhku di sana.
Pernah ada gema suaraku di sana, pernah ada percikan air mataku di sana.
Dan apakah itu kekal? Akankah itu kekal?
Meski kini aku sudah tidak hadir di semestamu.
Tapi, aku pernah ada bukan?

Apakah justru sangat berbeda?

Sehingga ketika senja datang di hari itu.
Kau pun menyadari bahwa semua tak lagi sama.

Dan, aku yakin kau merasa lega.
Karena kini semestamu terasa lebih luas tanpa adaku.
Tentu, aku tahu.
Tak apa, jika kau ingin mengisi semestamu dengan yang lainnya.
Dengan selainku.
Aku rela. Sungguh berlapang dada tentang itu.

Aku angkat kaki. Dan aku tahu, kau hanya mampu memandangi punggungku pergi.
Dan aku tahu bahwa kau tahu, tidak ada yang bisa menahan langkahku menjauh dari semestamu kali ini.

...

Bagaimana semestamu?
Bisakah kau beradaptasi mengikuti putarannya?
Apakah kau menikmatinya, tanpa hadirku di sana?


Tyas Hanina


P.S
Kabar baik untukmu, dan untukku. (Aku tidak akan lagi menyebut kita)
Semestaku berputar dengan lancar, tanpa hambatan.
Malah terasa lebih baik putarannya tanpa hadirmu di sini.
Aku merasa lebih leluasa, bukan sekedar lega.

Dan aku bahagia dengan semestaku yang apa adanya.

Senin, 17 Agustus 2015

Putih Abu-Abu

Halo semuanya!

Sudah lama sekali tidak memberikan kabar apapun di blog ini.

Ada banyak sekali kejadian. Yang rasanya ingin gue abadikan.
Salah satunya, adalah bagaimana berlalunya 3 tahun masa SMA gue.
Selama ini, cuma jadi rencana untuk menuliskannya. Kenangan-kenangan tentangnya hanya hidup di kepala gue dan mungkin orang-orang yang melewatinya bersama gue.
Dan malam ini, gue akan coba mengabadikannya melalui tulisan.

Senin, 22 Juni 2015

yellow

Imagine this.

Terbangun dari tidurmu, dan hal yang pertama kali kamu lihat adalah, Langit malam.
Dan, hal yang kau jadikan sandaran untuk tidur bukanlah tempat tidur di kamarmu. Tapi sekumpulan bantal dan selimut tebal.
Kamu terjaga dari mimpi indahmu. Namun kamu tidak menyesalinya.
Karena pemandangan yang kamu lihat di sekelilingmu terasa jauh lebih indah untuk sebuah realita.
Bukan tembok kamarmu yang kau lihat. Tapi, suatu padang rumput yang membentang luas seakan tanpa batas, disertai pohon-pohon yang kokoh.
Dan ketika kau mendongakkan kepalamu ke atas. Yang terlihat adalah sekumpulan rasi bintang.
Dan meskipun kamu tidak tau apa-apa tentangnya, kau dapat merasakan keindahannya.
Ya, memang terkadang keindahan ada bukan untuk dimengerti. Tapi dirasakan.


Senin, 04 Mei 2015

The Unplanned Ones


“You don’t always need a plan. Sometimes you just need to breathe, trust, let go. And see, what happens.”


Sabtu, 14 Februari 2015

Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan


Dear, 
Aku menulis surat ini sembari memelukmu erat.
Memang hal itu membuatku sulit untuk menuliskannya, tapi itu tidak sesulit saat dirimu jauh dariku.

Tidak, aku tidak sedang merayumu. Sungguh.

Merindukanmu,
Terasa bagai dininabobokan oleh angin laut.
Didekap erat oleh pasir pantai.
Diombang-ombing oleh ombak lelautan.
Dilelapkan ke dasar laut terdalam.

Indah, namun menyesakkan.
Meskipun, aku tidak begitu mengerti letak keindahannya.
Tapi, keindahan tidak harus selalu dimengerti kan? Dia ada untuk dirasakan.
Sama seperti dirimu, perempuanku.

Aku dapat menulis banyak sajak untukmu saat itu.
Lalu kupasung di dalam botol kaca.
Kulepaskan ia di lautan. Membiarkannya menari bersama ombak.
Biar, laut yang membacanya.
Tidak perlu kamu- orang yang selalu kurindu, untuk tau akan hal itu.
(Tapi, aku memberitahukanmu juga pada surat ini.)

...

Perempuanku,

Masih terasa hangat di dalam ingatanku, bagaimana kita digigilkan hujan hari itu.
Tidak ada payung yang melindungi kita dari hujan. Tidak ada jas hujan yang melindungi tubuh kita.
Kita terjebak dalam hujan, dan menemukan kenyamanan di dalamnya.

Kamu merapatkan tubuhmu padaku, memegang ujung rokmu yang basah.
Tidak ada jaket yang bisa kupasangkan di tubuhmu, tidak ada selain lenganku yang merangkul bahumu.
Kulihat kamu mengulum senyum, bergumam entah untuk kudengar atau hanya untuk dirimu sendiri.

Rainy rainy day.

Ingin kucubit pipimu yang merah bersemu. Namun, aku hanya berkata.

I like the way you smile when it’s rainy.”

 Teduh matamu memandangku. Seakan mengucapkan terima kasih.

“Ke laut yuk.”

Tiba-tiba saja kalimat ajakan itu keluar dari mulutmu. Aku tidak mengerti, dan hanya dapat memberimu pandangan bingung.

“Aku mau liat hujan di lautan.”
“Pertemuan antara hujan dan lautan. Awan hujan yang berasal dari laut, kembali padanya dengan cara menjatuhkan dirinya secara perlahan.”
“Dan, hujan akan menyambutnya. Dengan ombak yang mencoba memeluk rintik hujan.”
“Aku ingin menyaksikan pertemuan mereka, dengan kekasihku.”

How I love your sweet mind.

Lalu kau berhenti menarik ujung rokmu, dan berganti menarik tanganku.
Ke dalam rintik hujan.

“Meskipun hujan itu membawa nyaman.
Namun, kita bisa dijebakkan olehnya. Kita harus membebaskan diri.”

Lalu kamu mengajakku berlari, tapi aku menolaknya.
Dan kamu menawarkanku menari, tapi aku tidak bisa menyanggupinya.

Lalu, kamu tertawa. Seakan hujan membisikkanmu sebuah lelucon.
Lalu aku tidak bisa menahannya, selain membiarkan diriku terjebak oleh seorang dirimu, dirimu seorang- dan kenyamanan yang senantiasa membuatku utuh.

Sejak itu,
Aku tidak ingin, membebaskan diri dari jebakan indah ini.

...

Namun ada kalanya.
Dua kutub di dalam masing-masing diri kita menjadi sama.
Dan membuat jarak dan waktu seakan menolak pertemuan kita.

Seperti saat itu.

Saat pekerjaanku mengharuskanku untuk jauh darimu. Jauh dari ragamu.
Meskipun saat itu kamu mendukungku, tapi tetap saja rasanya beda dengan kamu yang di sisiku.

Pembicaraan kita lewat perantara telepon. Sinyal yang terkadang begitu buruk, sehingga sering kali aku hanya bisa mendengar gemerisik tawamu atau kata-katamu yang patah.
Diskusi kita lewat chat messenger. WiFi yang tiba-tiba tidak bersahabat, membuat percakapan kita terhambat.
Surat beserta paket buku yang kukirimkan padamu. Dan surat beserta CD musik favoritku yang dikirimkan olehmu untukku. Membutuhkan waktu berhari-hari untuk sampai.

Komunikasi itu tetap terjaga, tapi rasanya berbeda.
Tidak bisa kudengar tarikan nafasmu, tidak bisa kuhirup harum tubuhmu yang masih menempel pada jaketku, tidak bisa kurekam gelak tawamu.
Tidak bisa kupeluk ragamu.

...

Hampir setengah tahun kita menjalani hari-hari kita seperti itu.
Hingga akhirnya, sifat nekatmu itu membuatmu berani memutuskan untuk datang ke tempatku.
Selama 1 minggu. Yang cukup untuk membayar rinduku selama kita jauh.

Kau menolak untuk kubayari tiket pesawat terbang, karena alasan kau benci ketinggian.
Kau pun mengelak saat kutawari tiket kereta api, padahal pemandangan ketika perjalanannya begitu indah.
Kau menolak telak saat aku ingin menjemputmu dari sana.

Dan, kau memilih untuk naik Kapal Laut.
Dengan alasan, kau tidak harus membayangkan dirimu jatuh dari awan. Dan kau akan sangat dekat dengan lautan.
Pemandangannya pun tak akan kalah dari yang akan kau liat jika kau berangkat naik kereta api.
Meski hanya biru laut, dan biru langit yang tercampur dengan batasnya yang akan hadir di depan matamu.
Tapi, kau menginginkannya.

Aku masih ingat sekali, chat terakhir kita hari itu- sebelum perjalananmu naik Kapal Laut ke tempatku.

“Semoga nanti hujan.”
“Kenapa? bukankah lebih baik perjalanannya cerah.”
“Aku ingin melihat hujan di lautan.”
“Tapi, kau kan sedang tidak bersama kekasihmu.”
“Tapi, aku kan akan menemui kekasihku.”

Dan perjalanan itu pun Tuhan kabulkan.

...

Hujan, tidak menjatuhkan dirinya dengan perlahan hari itu. Di hari perjalananmu.
Hujan yang membuat orang-orang bertahan di ruangan, memilih untuk menghangatkan dirinya. Hujan yang sangat deras.
Lebih deras dari hujan hari itu.
Namun, saat itu kau tidak dalam ruangan. Yang aman dari terpaan hujan.
Kau juga tidak sedang bersamaku, sehingga aku tidak bisa mencegah perjalananmu.

Kapal Laut. Dengan terpaan hujan lebat.
Aku rasa itu bukan ide yang hebat.

Air laut akan berubah dari tenang menjadi galak. Ombaknya akan tinggi dan bergejolak.
Dan aku khawatir, akan terjadi badai.

Tak henti-hentinya aku memandangi jendela kantorku. Menatap tetesan hujan yang menempel di kacanya. Melirik jam dinding, memencet-mencet ponselku.
Tak ada kabar darimu.

Aku tidak ingat, pernah lebih gelisah dari hari itu.

Dan gelisahku itu membawaku pada kabar selanjutnya.

...

Malam hari.
Aku yang masih menunggu kedatanganmu. Duduk diam di sofaku, tidak bisa dan tidak ingin mencoba untuk pergi tidur.
Aku menyalakan Televisi, hanya agar suara bisingnya memenuhi ruanganku.
Namamu beserta kabarmu, tidak kunjung muncul di ponselku.

Namun, justru di Televisiku. Di sebuah acara berita.
Berita tentang Kapalmu, Kapal yang mengangkutmu. Kapal yang membawa separuh jiwaku.

Tenggelam. Terbawa arus ombak yang semakin liar menari, ketika hujan datang beserta badai.

Apa ada hal yang lebih menyakitkan dari kabar itu?
Ya.

Kabarnya, kapal itu tenggelam ke laut dalam.
Beserta para raga yang diangkutnya.
Karam.

...

Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan.

Selepas kabar itu.
Ragaku terus menerus mencarimu.
Meski berita Televisi mengabarkan begitu.

Tapi, ragamu tidak kunjung ditemukan.
Menyatu bersama lautan.
Dan air hujan hari itu.

Dan aku hanya bisa memberimu pelukan.
Mendoakan jiwamu yang ada dalam diriku.
Memelukmu erat di dalam pikiranku.
Tanpa ragamu yang utuh.

Utuh?
Kata apa itu.
Tak lagi utuh aku tanpamu.

Tanpamu, perempuanku.

Surat yang kutulis dengan pena biru ini.
Akan kupasung dalam botol kaca.
Dan akan kubiarkan dia menyatu dengan biru air laut.
Biarkan kata-katanya menguap membentuk awan hujan.
Dan, semoga bisa sampai ke tempatmu di khayangan.

Dan, kelak.
Hujan yang akan turun dari awan itu.
Kuanggap sebagai pertanda- balasan suratmu.

Meski hujan.
Tidak kunjung hadir.
Semenjak kamu berhenti hadir di hidupku.

(Hi perempuanku yang sedang bertugas menjadi bidadari surga.
Permintaanmu sudah dikabulkanTuhan. Kau kini tidak lagi takut ketinggian, bukan?)


Tyas Hanina
(8 Januari 2014)

...


(Judul postingan ini sama dengan salah satu judul lagu Payung Teduh.)