Pages

Tampilkan postingan dengan label lagiserius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lagiserius. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 November 2018

jangan mau jadi tua di Jakarta

Prakata:
Wow. Baru kata kelima aku sudah gemetaran. Rasanya seperti dikepung oleh sekelompok orang tidak dikenal dalam satu ruangan. Overwhelming.
Tadinya aku kira aku udah sembuh dari sindrom Peterpan sialan itu. Sampai setahun lalu, aku masih takut bertambah tua. Aku takut ketika aku bangun tidur di kemudian hari ternyata hitam rambutku sudah memutih.
Ini sebenarnya rahasiaku: aku selalu takut kehilangan waktu.
Itulah kenapa, jika kamu sejenak memerhatikan aku, kamu akan sadar bahwa aku adalah pribadi yang sangat terburu-buru. Tapi anehnya, di sela-sela gegap gempita akhir perkuliahan, aku justru menemukan diriku jadi jauh lebih santai. Aku masih bisa menarik nafas, juga tersenyum dan membiarkan diriku melakukan kesalahan. Yang utama, berhenti membandingkan diriku dengan siapa saja, bahkan diriku sendiri.
Kedengarannya seperti sebuah pencapaian yang hebat, padahal tidak sama sekali. Seharusnya, dari dulu memang seperti ini.

Isi:
Jakarta.
Aku masih merasa asing tiap kali mendengar namanya. Kota padat yang rawan macet ini tidak pernah kusukai dari dulu. Belagu banget gak sih? Haha padahal jarak kediamanku hanya 45 menit dari arah barat kota.
Aku ingat betul, saat sudah hopeless memilih perguruan tinggi, aku pernah berdoa begini:
Tuhan, tolong, jangan Jakarta.
Aku segitu ogahnya menempuh jarak pulang-pergi ke ibukota. Rumahku yang berada di tengah-tengah, membuatku merasa jauh dari mana-mana.
Ke stasiun, terminal, bandara, pelabuhan. Semuanya tekor.
Seharusnya aku menulis prosa romantis tentang Jakarta nanti saja di akhir tahun. Ketika urusanku dengannya sudah tamat, sudah tutup buku.
Tapi, ya sudahlah. Jakarta tidak akan pernah habis juga untuk diceritakan.
Sumpah serapah yang datang untuknya, selalu dilawan habis-habisan oleh rangkaian asa dan harapan orang-orang yang setiap hari menggantungkan hidup di bawah ketiaknya.

Jum’at lalu, aku datang ke gedung merah di samping pom bensin di pinggir jalan raya; kantorku untuk sementara. (Bagian Jakarta yang ini akan aku ceritakan nanti saja ya?)
Aku duduk di kursi yang menghadap jendela yang membelakangi meja telepon.
Kring-Kring.
Maaf, aku tidak mau mengangkat. Aku sedang pake earphone dan tidak mendengarkan apa-apa.
Happy birthday to you, happy birthday to you.
Kukecilkan suara komputerku, lupa kalau suaranya emang kumatikan.
Suara tawa berderai datang dari meja sebelah. Aku kenal dia, pada hari kedua aku pernah disuruh angkat telepon olehnya. Usut punya usut, nyanyian itu untuknya.
Aku ikut tertawa saja dalam hati. Kulanjutkan mengetik kata kunci di mesin pencari.
Siang datang. Sore menyusul.
Lagu itu diputar lagi. Kali ini lebih besar volumenya. Pantesan, orang pake speaker.
Kulihat di sudut ruangan ada banner laki-laki yang selfie dengan kambing atau dinasaurus gitu. Tapi, lho? Kok laki-laki, mana foto Mbaknya?
Hari itu, aku kenyang makan nasi kotak dan kue ulang tahun. Senang juga denger nyanyian sepanjang hari. Meski, semua doa dan ucapan bukan dikirimkan buatku. Aku yang kesenggol pesannya ikutan riang hatinya.
Yaudah deh. Gitu aja. Pulang dari sana, hariku sisa 7 jam. Pembagiannya begini: 5 jam kuhabiskan di perjalanan, 1 jam kuhabiskan untuk makan malam dengan pacar, sisanya buat balas pesan-pesan yang datang di media sosial.
Tidak ada yang menarik yah dari cerita ulang tahunku?

Penutup :
Sampai di ujung paragraf ini aku ingin mengucapkan terima kasih untuk semua orang di hari itu. Untuk abang gorengan dekat pom bensin, satpam bank genit sebelah kantor, ibu-ibu cerewet yang mengkuliahiku tentang jalanan Jakarta (bu, sumpah saya gak mau denger), kenek Transjakarta yang pasti bosan melihatku berdiri di tempat yang sama setiap harinya, mas pacar yang menemaniku makan indomie hampir tengah malam, dan sebagainya.
Selamat ulang tahun buat Mbak Aya dan Mas Siapa Ya Namanya.
Ah, juga untuk Paw, Vincent, dan Alvin yang menyanyikanku lagu Jamrud (kali ini lagunya memang benar untukku) besok malamnya. Meski ulang tahunku sudah kadaluwarsa, tapi aku suka!
Tulisan ini kayanya juga ikut kadaluwarsa pesannya, tapi gapapa ya, semoga kalian suka?

Minggu, 01 Juli 2018


Aku sudah sampai di perjalanan yang mengharuskanku memesan tiket berupa serangkaian pengalaman yang dimiliki.

“Kamu mau pergi kesini? Harga tiketnya 3 pengalaman organisasi.”
“Maaf, kumpulan prestasi yang Anda miliki tidak cukup untuk membayar perjalanan ini.”

Tidak apa-apa, tabungan pengalamanku mungkin akan cukup lain hari.
Atau, sebenarnya aku salah destinasi? Selama ini terlalu terburu-buru memilih tujuan yang semua orang pingini?

-

Sampai sekarang aku masih kesulitan menuliskan deskripsi singkat tentang diri sendiri di CV.
Informasi apa yang perlu kutulis di sana?
Warna bola mataku kah? Kebiasaanku saat tidur kah? Karakter Sailormoon kesukaanku kah?
Sulit menceritakan diriku dalam paragraf singkat. Malah, menurut kabar burung, saat sesi wawancara aku akan ditanya 5 kata yang paling menceritakan diriku. Hanya 5 kata.
Mampus aku. Kemelut aku memikirkan jawabannya.

-

Selama ini, aku sudah berusaha setengah mati, menjaga ritmeku sendiri.
Menyamakan langkah kaki:
Kanan kiri kanan kiri kanan kiri kanan kiri

Namun, belakangan ini aku kelimpungan melihat seberapa cepat orang-orang lain berlari.

-

Aku belingsatan luar biasa sampai kuhancurkan semua jembatan yang menopang dengan ragu-ragu.
Yang kayunya sudah berwarna abu-abu.
Yang tali pegangannya kurang satu.
 
Aku tidak suka diriku yang penggerutu. Aku kurang akur dengan aku yang terburu-buru.

Selasa, 13 Februari 2018

Setiap kali dapet kesempatan buat nulis di blog ini, rasanya kaya ketemu sama temen lama.
Ada rasa canggung yang terselip, kadang-kadang.
Bahasan masa lalu emang selalu kedengaran seksi di telinga, tapi ya hanya sebatas itu, gak pernah semenggairahkan dulu.

Ketemu sama temen lama, selalu terasa mendebarkan. Setiap kali pulang ke rumah masing-masing, rasanya ada sebagian dari diri gue yang tertinggal di pusaran waktu.

-

Udah berapa tahun ya gue nulis di sini? Rasanya udah lama banget.
Dari sekian banyak hal yang gue bayangkan tentang masa depan, rasanya cuma ini yang bener-bener gue betah kerjain. Walau gak seharian juga. Nulis.

Dari dulu gue selalu mencoba cari aman dalam bermimpi. Sampai di tahap gue gak pernah bener-bener ngomongin apa yang mau gue lakukan di masa depan sama orang lain.
Gue punya krisis kepercayaan diri, sebuah pujian bisa jadi malah menjatuhkan prasangka gue kepada diri gue sendiri.
Gue setengah mati benci dibilang penulis waktu SMA, tapi nyatanya gue gak bisa berhenti menulis hingga saat ini.

Dulu gue pengen banget jadi komikus. Pernah marah sama seorang teman karena menganggap remeh komik. Namun, entah pada titik yang mana gue menyerah. Jemari gue rasanya gak diciptakan buat menggambar outline dan mewarnai. Gue gak pernah lagi menyentuh buku gambar kecuali untuk keperluan tugas sekolah ketika SMA.
Penghujung tahun yang lalu, seperti biasa gue melewatkan waktu luang untuk duduk sendirian di kedai kopi langganan Bokap. Gue menggambar pizza karena saking kepinginnya tapi gak punya uang lebih buat makan. Setelah posting di media sosial, tiba-tiba gue kepikiran. Lah, udah lama juga gak gambar, dan rupanya gak seburuk itu? Gambar pizza gue terlihat menggoda, sampai gue bisa membayangkan lelehan keju mozarella di atasnya. Dari titik itu, gue melanjutkan perjalanan untuk kembali menggambar.

Gue inget Kakak sampe mengirim pesan, "gue baru tau lo bisa gambar."
Sebenernya, gue juga baru tau. Dari situ gue hampir setiap hari menggambar, nyontek-nyontek dari Pinterest, atau google, atau apapun yang menarik perhatian gue. Dan, astaga, rasanya menyenangkan.
Gue gak tau kenapa gue bisa melewatkan kesenangan ini selama bertahun-tahun.

 -

Gue udah capek buat nulis tentang Peterpan Syndrome yang gue alami. Gue ngerasa alih-alih jadi seorang realis karena sadar diri sudah menua, gue justru jadi pesimis karena menganggap kesempatan gue mengecil seiring berkurangnya usia gue.
Padahal, nyet, baru 20 tahun hidup, masih banyak pintu yang rasanya belum gue buka. Bahkan belum diketuk. Gue udah keburu menciut, serasa gak sengaja ngikutin kelinci berkacamata dalam Wonderland.

Belakangan ini, lagi rame banget komik lokal di instagram yang ngangkat tema ketemu sama diri sendiri pada 10 tahun yang lalu. Gue udah pernah nulis hal yang serupa, tapi isinya cuma nostalgia. Kalo saat ini gue bisa nulis surat buat diri gue 10 tahun yang lalu, gue malah ngerasa bangga. Dan, yah, diam-diam menyimpan iri dalam dada.
Gue iri sama Tyas yang gak takut ngelakuin apa-apa. Dalam artian, bebas ngelakuin apa aja.

Sulit merasa bangga ketika jadi orang dewasa. Akan selalu ada orang yang terlihat terbang lebih tinggi daripada kita. Setiap kali bercermin, mbok ya, rasanya hidup gini-gini aja? Seringkali lupa, bahwa setiap orang menyimpan ritmenya masing-masing.

Dan, persetan dengan kata motivasi kalo kamu spesial. Siapapun spesial. Dan, tidak ada yang spesial tentang itu.
Gue berhenti menganggap diri gue spesial entah dari berapa waktu yang lalu. Tapi, gue merasa gue baik-baik saja tentang itu.

-

Kalo dikasih kesempatan buat membawa senjata sebelum jadi orang dewasa. Gue pengen bawa rasa percaya diri gue waktu kecil.
Kalo suka gambar, ya gambar aja, gak usah peduli garisnya gak rapi atau arsiran warnanya gak sepadan. Kalo suka nulis, ya nulis aja, gak usah takut tulisan tanganmu acak-acakan atau puisimu gak masuk majalah langganan. Kalo suka baca, ya baca aja, gak usah pusing bacaanmu beda dari orang lain, toh setiap orang punya minatnya masing-masing.

Gue pengen bebasssss ngelakuin apa aja tanpa ada beban harus jadi yang nomor satu, setidaknya buat diri gue sendiri. Kalo suka ya suka aja, emangnya perlu jadian? Lho lho lho gak gitu ya.

-

Tulisan ini berantakan banget. Plotnya kelempar sana sini. Sama seperti cerita-cerita yang biasanya gue bagikan ke temen lama. Tapi, gak masalah, gue gak pernah butuh konklusi dalam cerita gue, dan gue yakin temen lama gue juga begitu.

Sebelum bangkit dari kursi dan kembali berpisah di persimpangan jalan bersama temen lama ini, gue pengen menutup perbincangan kita dengan sebuah harapan.
Bukan lagi sebuah angan untuk memberhentikan waktu atau kembali ke masa lalu. Harapan ini masih mungkin terjadi tanpa perlu mesin waktu.
Semoga. Anak kecil di dalam diri kita tidak pernah menghilang.


Jatinangor,


Tyas Hanina 

Rabu, 03 Mei 2017

Tentang Pesan dan Makna



April had been the tough month for me.
I don’t know exactly how many times that i cried to sleep last month.

Here comes the fear.
Here goes the hope.



Sebenernya, gak ada satu hal yang signifikan banget terjadi.
Gak ada orang terdekat gue yang ‘pergi’. Bumi sejauh yang gue pijaki masih baik-baik saja.
Langit juga masih suka memolek dirinya setiap sore. Dan gue masih suka menengok ke langit setiap kali gue harus merasa bahwa gue pun baik-baik saja.

Tapi, entah kenapa gue terus merasa cemas.

Seseorang yang berharga bagi seseorang yang berharga buat gue, memutuskan untuk pergi dari semesta ini. Saat itu, gue merasa bahwa bumi jadi gak sepenuhnya baik-baik saja.
Seseorang memutuskan untuk datang. Lalu, tiba-tiba mengatakan bahwa gue cantik, gak kalah sama langit. Tapi, bukannya keinginan untuk terus memolek diri yang muncul. Gue justru jatuh dalam konklusi yang gak enak tentang itu.
Seseorang yang lain, dengan kerasnya menampar gue dengan kalimatnya. Bahwa, mungkin hidup gue gak berarti apa-apa, gak punya makna khusus. Selama yang gue lakuin cuma haredolin.

-

Pada saat-saat seperti ini.
Gue merasa gak bisa nulis yang muluk­-muluk. Dan takut untuk meminta sebuah peluk.

Gue jadi sering banget buka media sosial. Mencari-cari kabar entah dari siapa.
Gue juga jadi cukup sering mengunggah sesuatu di media sosial. Mengharapkan sesuatu yang entah apa.

Karena seringnya gue gak tau mau nulis apa dan ngomong sama siapa tentang ini.
Gue putuskan untuk lari dengan cara membaca.

Buku-buku yang secara acak gue temukan di salah satu ruang baca di Jatinangor. Artikel-artikel yang tiba-tiba muncul di linimasa.
Apa saja.
I crave words.

Kemudian, gue gak sengaja berkenalan dengan salah satu tulisan yang intinya bercerita bagaimana media sosial itu sebenarnya racun. Toxic.
Ini bukan tulisan basi tentang bagaimana medsos menjauhkan kita dari yang dekat dan mendekatkan kita dari yang jauh.
Tapi, dijelaskan dengan cara yang sangat logis. Bagaimana terlalu banyak informasi dapat membuat kita limbung. Dan justru bikin kita gak mampu berdiri dengan seimbang karena menanggung beban banyak dari informasi-informasi yang kita dapat.

(Ngomong-ngomong, gue mau minta maaf. Baru sadar kalau gue sering sekali memenggal kalimat di tengah-tengah frasa yang belum selesai. So sorry.)

Bangun tidur, langsung buka hape. Cek linimasa. Cari-cari berita.
Sebenernya, menurut gue itu bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk.
Dengan tau, kita bisa jadi lebih peduli.
Dan karena saat ini gue sedang menempuh studi di bidang Jurnalistik, which isssss kerjaannya juga nulis berita.
Gue sadar betul, penting buat masyarakat untuk melek berita. Peka dan sadar sama keadaan sosial sekitarnya.

Media sosial juga gak sepenuhnya jelek kok. Ada manfaatnya juga.
Kadang-kadang, kita terlalu males buat ngontak seseorang untuk mengetahui kabarnya kan? Itulah fungsi dari media sosial.
Mengetahui sesuatu yang ingin kita ketahui tanpa perlu bersusah payah untuk itu.
Yah, walaupun sekaligus juga mengetahui hal-hal yang gak perlu kita ketahui sih.
Hehe...

-

It’s 1:30 PM. Do you know what your best friend ate for lunch?
It’s 6 AM. Do you know what the president tweeted last night?
It’s 8 AM. Do you know what your toothpaste preference says about your love life?

Pertanyaan beserta jawabannya itulah yang akan ditawarkan oleh media sosial setiap hari.
Masih banyak lagi jumlahnya dan kegilaannya.

Kita dipaksa untuk mencari tau, untuk tau. Untuk kemudian merasa perlu untuk terus tau.
Kita punya data. Banyak sekali tersedia.

“The implied promise, or one of them, is that data gives us peace of mind. We sacrifice our privacy for it, even pay for it. We told that the more we know, the better of we wil be.”

Namun, sayangnya informasi-informasi tersebut justru dapat berbalik menyerang kita. Karena rasa cemas dan gelisah yang datang bersamanya.
“Truthfully, we can’t keep up with everything, with every news happening every time around the world.”

Misal. Kita tau pacar kita di rumah. Tapi, gak pernah tau apa yang sebenarnya dia lakuin di sana.
Kita dapet informasi dari mulutnya, kalau dia mencintai kita. Tapi, gak pernah tau apa sesungguhnya makna dari cintanya itu.
Is it love or is it lust?

(Maaf ya aku merasa lama-lama tulisanku ini kok jadi bergerak ke arah yang terlalu serius, makanya ku kasih contoh yang ringan saja.)

Ya gitu dah kira-kira.

-

Sebenernya yang pengen gue bahas dan kritisi adalah penggunaan media sosial yang berlebihan aja sih.
Kaya kenapa gitu kita merelakan waktu tidur kita untuk mencari tau kabar orang lain yang sebenernya gak penting-penting banget?
Kenapa harus susah payah membagikan momen menarik di hidup kita ke orang lain yang sebenernya gak perlu-perlu banget tau tentang itu?
There will be no time to reflect. To sleep. To actually create something.

Dan sungguh, gak ada satu atau banyak pihak yang gue singgung dalam tulisan ini.
Gue cuma pengen nyentil diri gue sendiri aja sih.

Kadang, gue ngerasa jarang banget ngasih kabar ke orang rumah. But at the same time, i shared anything on my timeline. Padahal nyokap mungkin jauh lebih butuh tau keadaan di semesta gue kaya gimana daripada teman-teman gue di media sosial.

Karena itulah.
Beberapa hari ini gue menarik diri dari media sosial. Gue hapus beberapa aplikasinya di telpon genggam.
And surprisinglyyyyyy.
It helps me a lot.

Gue ngerasa lebih hidup. Masih sih megang hape, buat sekedar main game atau bales chat.
Tapi, gue lega mengetahui bahwa gue baik-baik saja ketika gue tidak mengetahui temen gue jam 2 pagi lagi galauin apa di instastory, temen gue makan-makan cantik di mana jam 3 sore lewat path (ew, i actually never using path), atau temen gue lagi gelisahin apa di twitter jam 11 malem.
Kayanya kesannya apatis banget sih. Cuma, gue ngerasa pengen ngebangun hubungan yang sehat aja sama diri sendiri. Dan orang-orang terdekat gue tentunya.
Gue pengen tau kabar mereka yang sebenarnya. Seperti apa yang mereka rasakan ketika tim bola kesayangannya kalah di turnamen yang lalu. Apa yang mereka gelisahkan ketika idolanya kena dating scandal.
Gue pengen bener-bener ngobrol. Tatap muka, liat mata.
Gue pengen jadi Tyas yang lebih peduli. Tyas yang bisa jadi pendengar yang baik.
Yang gak dengerin orang curhat tapi jarinya masih scroll-scroll telpon genggam.

Dan sebaliknya.
Gue pengen orang kenal gue secara langsung.
Cari tau. Ajak ngobrol.
Gak cuma nilai gue dari apa yang gue bagi di media sosial. Bukan dari foto yang gue unggah, bukan dari bacotan gue di twitter, bahkan bukan dari tulisan gue di blog ini.

Memang, apa yang di kepala seseorang bukanlah urusan gue.
Orang lagi-lagi, bebas mau memaknai gue seperti apa.
Dengan begitu, gue juga merasa bahwa gue punya ruang untuk membiarkan orang mau memaknai gue dengan cara seperti apa. Hehe.

-


Btw ini artikel yang sempat nyubit gue kemarin : “The Power of Not Knowing” @vanschneider



Akhir kata,
Terimakasih sudah membaca.  Terimakasih sudah memberiku makna.



Jatinangor,

Tyas Hanina


P.S
10:36 AM. Do you know what i ate for breakfast? None.
Laper.

Senin, 27 Februari 2017

Ritme


semua orang memiliki ritmenya tersendiri.

usahlah terburu-buru karena melihat orang lain berlalu.

lulus tepat waktu.
kerja.
ketemu teman hidup.
menikah.
punya anak.

semua orang memiliki momentumnya tersendiri.

kapan giliranmu? tidak ada yang tahu.

usahlah khawatir, ada hal-hal di dunia ini yang tidak perlu kamu tahu.

apakah kamu mau menunggu atau melakukan sesuatu.
lagi-lagi, itu pilihanmu.
 

-


barangkali, memang benar.
bahwa dalam hidup kita tidak akan pernah sampai.

titik balik hanya fase semu.

sesungguhnya, kita hanya berjalan meniti dari satu kekhawatiran ke  kekhawatiran lainnya.
berlari dari satu keikhlasan ke keikhlasan lainnya.

kita tidak akan pernah berhenti mengkhawatirkan sesuatu,
bahkan saat tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
kita tetap akan merasa khawatir karena tidak merasa khawatir.

begitu pula tentang keikhlasan.
meski hanya sisa-sisa, meski tidak sepenuhnya.
harus selalu ada ikhlas yang kita simpan dalam dada.
selalu ada yang kita lepas saat menuju pengembaraan selanjutnya.

-

saat ini aku khawatir,
saat ini aku ikhlas.
tapi aku baik-baik saja.

semoga kamu juga begitu.

aku cuma bisa berpesan padamu.
nikmati waktumu, selama masih ada aku di situ.

Minggu, 19 Februari 2017

Untuk Tyas



Teruntuk : Tyas Hanina


Hai, apa kabarmu?
Aku harap hari ini kamu tidak melewatkan kartun pagi kesukaanmu. Karena aku sadar betul,betapa ini akan mempengaruhi suasana hatimu seharian ini.

Bagaimana sekolah? Menyenangkan bukan?
Tidak perlu merasa sebegitu kesalnya karena teman laki-lakimu membuntutimu pulang.
Suatu hari mereka akan menyesal.
Aku tahu, kamu pandai menjaga dirimu sendiri. Walau diam-diam kamu ketakutan juga.
Teruslah menjadi kuat, Tyas, hingga dewasa nanti.

Hari ini ibu masak apa?
Sayur oyong dengan ayam goreng kesukaanmu, kah?
Jangan lupa sehabis makan nanti, ucapkan terima kasih pada Ibu. Bilang, “Terima kasih telah menjadi koki terbaik dalam hidupku, Bu!”
Aku tahu kamu sangat tidak terbiasa akan hal itu. Dan aku yakin ibu akan terkaget-kaget mendengarnya. Kapan lagi anak bungsunya yang pemalu ini bisa berbicara seperti itu.

Hari ini Bapak pulang bawa buku apa?
Majalah bobomu sudah habis kamu baca, ya? Ah, teruslah membaca.
Tidak usah malu, karena kamu berbeda. Aku hanya ingin mengingatkan, jaga baik-baik matamu.
Jangan lagi suka membaca di tempat gelap atau sambil tidur-tiduran. Dan, hilangin tuh kebiasaanmu suka nyeruduk-nyeruduk orang di Mall karena baca komik sambil jalan!

Hari ini sudah bertengkar dengan Aa’?
Tak apa, nikmatilah setiap rasa kesal yang tercipta karena konflik kalian berdua.
Tiban saja tubuhnya yang kurus itu ketika tidur. Siram kepalanya dengan segelas air dingin.
Tapi, jangan kabur lagi ke kamar mandi dan nangis sendiri.
Mau nakal kok, cengeng. Gak bisa bertanggung jawab akan kesalahanmu sendiri.
Kubilangin ya dari sekarang, suatu saat kamu akan kangen masa-masa perang ini.
Kamu akan rindu lari-larian keliling komplek dengan hanya mengenakan kaos kutang dan kancut doang. Tetangga-tetanggamu pun ku yakin nanti akan rindu suara teriakanmu yang nyaring itu!
Ku beri bocoran dari masa depan.
Aa’ semakin lama semakin tidak menyebalkan. Tidak lagi gemar mengganggu.
Ini kabar baik apa kabar buruk ya? Entahlah, terserah mau kamu maknai seperti apa.

Hari ini Kakak pulang dengan cerita seperti apa?
Kisah hidupnya sudah kamu hafal betul. Siapa-siapa saja yang menyukainya di sekolah, hal-hal apa saja yang mengganggunya di rumah.
Ku kasih tahu, ya. Semakin bertambah dewasa, kamu akan semakin dekat dengannya.
Memang sih, menyebalkan sekali rasanya selalu dibandingkan-bandingkan dengannya.
Tapi, tidak perlu merasa insecure sendirian. Diam-diam dia pun juga merasa begitu. (SSSST, rahasiakan ini darinya bahwa aku tahu)


…

Tyas, sewaktu aku menulis surat ini untukmu aku sedang jauh dari rumah.
Jauh dari kamu, sekaligus mencoba dekat denganmu.

Tapi, hal yang ku ingin kamu tahu.
Bahwa, pada saat ini. 10 tahun setelah kamu hidup di dunia ini.
Kamu masih hidup di dalam diriku.

Segala partikel yang hidup dalam semestamu, merupakan bagian dariku.
Yang kadang-kadang terlupa, tapi tak akan tanggal dari kepala.

Segala boneka barbie, rumah mainan dari kayu, buku komik yang menguning kertasnya, bundelan majalah Bobo, buku lirik lagu daerah, seruling dan pianika, sepeda roda tiga, buku diary yang kehilangan gemboknya, boneka beruang yang robek pitanya, gulungan kaset yang sudah putus, pita film tua. Dan sebagainya.
They’re gonna live forever in me.

…

Tyas, tahun ini aku sudah kepala dua.
Aku ingin jujur, bahwa aku takut sekali menjadi dewasa.
Aku takut kehilangan kamu di dalam diriku.
Aku gugup memikirkannya.

Entah apa yang akan dituliskan Tyas di usia 30-nya.
Entah wejangan apa yang akan diberikannya pada kita.

…

Tyas, tidak perlu ikut khawatir memikirkanku.
Jalani saja ritme hidupmu.
Skenarionya menyenangkan, kok! Kalau menyebalkan, improvisasi saja. Hehe.
Kamu akan bertemu banyak tokoh yang seru. Yang akan membawamu pada titik balik dalam hidupmu.

Siap-siap, ya.
Pegangan yang kencang.
Arus hidupmu akan terus membawamu pada tempat yang tak terduga.

Aku, selalu menikmatinya kok hingga saat ini walau kadang harus dengan air mata.


Ah, ya. Jangan takut bertambah tua. Kamu akan baik-baik saja.




Tyas Hanina


P.S

Tolong ya, Pak Pos.
Antarkan surat ini kepada diriku 10 tahun yang lalu.
Pinjam saja mesin waktu dari robot kucing itu.