Pages

Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 November 2018

Amunisi

Kalau menulis adalah senjata, Pujangga sudah kehabisan amunisi.

Minggu, 31 Januari 2016

Perihal Janji



“Mungkin hanya ini yang bisa kuberi.”

Katamu.
Aku tersentak dan juga bingung. Apa yang ingin kau berikan padaku?
Kulihat kau tidak membawa apapun bersamamu, selain senyum malu-malu itu.
Apa mungkin kau menyembunyikannya di saku celanamu?
Aku terus bertanya kepadamu di dalam kepalaku.

“Semoga hal ini, dapat membuatmu terus mengingatku sebagai perihal yang baik.”
“Dan suatu saat kamu kesal padaku. Ada hal ini yang dapat membuatmu memaafkanku hehehe.”

Kau terus berbicara. Tanpa menunjukkan apa-apa.

“Katakanlah apa hal itu.”

Senyummu melebar ketika mendengarku bersuara.

“Apakah kau merasa penasaran akan hal ini?”
“Tentu saja.”

Kau tidak merogoh saku celanamu untuk mengambil hal itu.

Justru, kau memegang tanganku dan menggenggamnya erat.

“Ran.”

Aku yakin sekali, dress merah yang kukenakan ini masih kalah jauh merahnya oleh rona pipiku.

“Aku cuma bisa ngasih ini ke kamu.”

Suaramu dalam dan halus.
Dan aku yakin sekali. Suara hingar bingar live music di restoran ini tidak seberapa berisiknya dari degup jantungku.

“Janji.”

...

Bulan menyembunyikan separuh tubuhnya dari langit malam ini.
Katanya, dia sedang merasa tidak utuh.

Barangkali kamu ingin tahu, begitu pula aku.

Aku bersembunyi dari siapapun yang kukenal malam ini.
Ku matikan telpon genggamku. Tidak ingin berhubungan dengan siapapun.
Kecuali, kamu.

Aku merutuki diriku sendiri ketika mengingat kamu.
Aku tidak bisa menyalahkanmu, lagi-lagi.

Sudah lama kita tidak terhubung.
Tali yang menghubungkan kita berdua sepertinya sudah putus.
Kapan itu terjadi, aku tak tahu. Bagaimana itu terjadi, aku tak mau tahu.

Walau begitu, aku masih sering mengingatmu.
Senyum malu-malu itu. Kemeja yang digulung hingga siku. Hembusan asap rokokmu.
Percakapan kita malam itu.
Janjimu.

...

“Janji..?”
“Ran..”

Lagi, kau panggil namaku.

“Aku tahu, aku cuma bisa janji saat ini.”
“...Tapi kita tidak tahu bagaimana nanti.”

Perlahan, tanganmu bergerak menyentuh pipiku. Mengusapnya secara halus.

“Aku tahu dan aku mau. Kamu bakal ngerti. Dan, kamu pasti ngerti.”
“Ran.. Aku janji kita akan bahagia. Aku janji kita akan baik-baik saja.”

Kau sibuk berbicara. Aku sibuk menahan ledakan di dadaku.

...

Ya, kita tidak tahu bagaimana dan apa yang akan terjadi nanti.
Benar katamu. Aku setuju.

Karena saat ini,
Adalah masa depan dari masa lalu kita itu.

Dan aku pun akhirnya tahu bagaimana dahsyatnya pemberianmu itu.

Ya, janjimu.

...

“Apa maksudmu?”

Aku melepas tanganmu. Sedikit memberikan jarak kepadamu.

“Aku janji Ran. Bahwa pada akhirnya, hanya akan ada kita berdua.”
“Tanpa ada orang lain, untuk menjadi tiga.”

Pada akhirnya, aku tidak kuasa menahan ledakan itu.

“Kenapa kau harus berjanji? Kenpa tidak memberiku bukti?”

Kau menarik nafasmu perlahan, lalu menatapku lebih dalam.

“Gak bisa, untuk saat ini saja.”
“Kita harus menunggu waktu yang tepat Ran.”

Aku menggelengkan kepalaku.

“Apakah pernah ada waktu yang tepat untuk kita?”
“Apakah pernah hatimu tetap untukku saja?”

Kau menggengam kembali tanganku.

“Pasti. Pasti ada.”
“Hatiku hanya untukmu Ran.”
“Tapi semesta belum mengizinkan kita untuk berdua.”
“Karena aku masih terikat oleh orang lain.

“Saat ini, adalah saat yang buruk untuk melepaskan ikatan itu.”

...

Aku mencegah air mataku untuk tumpah lagi malam ini.
Aku tidak ingin benci kamu, tidak ingin sama sekali.
Aku ingin terus mengingatmu sebagai perihal yang baik untukku.
Aku ingin terus memegang janjimu itu.

...

“Dia sedang berbadan dua.”

Air mataku tumpah tanpa sempat aku cegah.

“Jadi, aku mohon Ran. Mohon sekali.”
“Aku janji sama kamu Ran kita akan bahagia, nanti.”
“Tapi aku mohon kamu juga bisa janji kepadaku.”
“Bahwa kamu bersedia untuk menunggu.”

Terus terang, aku tidak tahu ingin menamparmu atau memelukmu saat ini.
Aku merasa marah sebagai seorang perempuan.
Namun, juga merasa cemburu sebagai seorang kekasih.

...

Siapapun yang mendengar kisah kita pasti akan timbul rasa benci di dadanya.
Aku tahu pasti.
Perlahan, bukan hanya orang-orang lain saja.
Aku mulai membenci diriku sendiri.
Ketika aku mulai jengah dan sadar bahwa janjimu palsu.

Tapi, aku tidak pernah bisa membenci kamu.

...

“Lalu, apa rencanamu untuk kita?”

Bergetar, akhirnya keluar kalimat tanya itu dari bibirku.

“Aku akan meminangmu Ran..”
“Setelah aku memutus tali pernikahanku dengannya..”
“Setelah anakku sudah lahir dari perutnya..”

...
  
Masih terasa hangat di ingatanku.
Semua detail kejadian malam itu.

Aku ingat dengan jelas, bagaimana semua pasang mata melihat ke arah meja kita.
Aku ingat, aku menatap kamu dengan amarah.
Aku ingat, kamu memegangi pipimu yang merah.
Setelah ada tamparan yang keras dariku di sana.

...

“Aku gak pernah nyangka bahwa kamu sejahat ini.”
“...Aku juga jahat karena egois menahanmu selama ini. Mengabaikan tali ikatan itu.”

Aku menatap nanar cincin di jemarimu.

“Jika kamu ingin aku terus mengingatmu sebagai perihal yang baik.”
“Lupakan rencana itu.”
“Aku akan tetap memegang janjimu. Bahwa kita akan bahagia dan baik-baik saja.”

Kini, aku menggengam erat tanganmu.

“...tapi aku tahu bahwa kamu juga tahu.”
“Bahwa kita tidak akan bisa berdua.”
“Aku tidak dapat menggenapimu, sebaliknya juga kamu.”
“Dari awal hubungan kita sudah ganjil.”
“Jadi, biarlah seperti ini.”
“Kalau memang hatimu untukku, aku tidak keberatan kamu terikat oleh hati yang lain.”
“Biarkan perihal hati kita menjadi rahasia.”
“Dan perihal janjimu, menjadi hadiah terindah untukku. Walau mustahil untuk menepatinya.”

...

Di bilangan yang tak terbilang.
Aku mengingatmu.

Hatiku lebam. Rindu itu kejam.
Aku meringis, mengingat janjimu yang manis.
Aku menangis, mengingat pelukmu yang magis.

Aku ingat dipeluk kamu setelah aku menamparmu dan mengucapkan kata-kata itu.
Ledakan itu meredam dengan sendirinya karena pelukan itu.
Setelah itu kamu mengantarku pulang ke rumah.
Memberikan kecupan ringan pada bibirku.
Mengucapkan selamat tinggal, dan berjanji akan tetap menghubungiku.
Dan berjanji akan melupakan rencanamu.
Aku ingat memeluk kamu sebelum kamu pergi.
Dan meminta kamu untuk bahagia.
Dan meminta bahwa kejahatan kita cukup sampai sini saja.
Aku ingat kita sama-sama menangis.

...

Hai, kamu?
Apa kabarmu?
Bagaimana kabar jagoan kecilmu?
Aku rasa aku tahu alasan mengapa tali kita terputus tiba-tiba.
Itu karena kamu sudah merasa genap.
Atau kamu sudah tahu.
Bahwa untuk merasa genap, kamu harus menghilangkan satu bilangan yang membuatmu selama ini ganjil.
Yaitu, aku.

Aku adalah bilangan yang kau pilih untuk dihapus dalam hidupmu.

Tak apa.
Aku tidak akan membencimu walau itu berarti..
Janji itu hanya untuk buatmu saja.
Bahwa yang bahagia dan baik-baik saja, itu kamu.
Aku tidak perlu.

Tidak apa, kamu.
Aku tetap mencintaimu.

Aku tidak peduli seluruh dunia membenciku.
Selama ada kamu, yang pernah mencintaiku.


Tng, 31 jan 2015.
Rani.

Kekasih gelapmu /Bilangan ganjilmu

Senin, 22 Juni 2015

yellow

Imagine this.

Terbangun dari tidurmu, dan hal yang pertama kali kamu lihat adalah, Langit malam.
Dan, hal yang kau jadikan sandaran untuk tidur bukanlah tempat tidur di kamarmu. Tapi sekumpulan bantal dan selimut tebal.
Kamu terjaga dari mimpi indahmu. Namun kamu tidak menyesalinya.
Karena pemandangan yang kamu lihat di sekelilingmu terasa jauh lebih indah untuk sebuah realita.
Bukan tembok kamarmu yang kau lihat. Tapi, suatu padang rumput yang membentang luas seakan tanpa batas, disertai pohon-pohon yang kokoh.
Dan ketika kau mendongakkan kepalamu ke atas. Yang terlihat adalah sekumpulan rasi bintang.
Dan meskipun kamu tidak tau apa-apa tentangnya, kau dapat merasakan keindahannya.
Ya, memang terkadang keindahan ada bukan untuk dimengerti. Tapi dirasakan.


Sabtu, 14 Februari 2015

Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan


Dear, 
Aku menulis surat ini sembari memelukmu erat.
Memang hal itu membuatku sulit untuk menuliskannya, tapi itu tidak sesulit saat dirimu jauh dariku.

Tidak, aku tidak sedang merayumu. Sungguh.

Merindukanmu,
Terasa bagai dininabobokan oleh angin laut.
Didekap erat oleh pasir pantai.
Diombang-ombing oleh ombak lelautan.
Dilelapkan ke dasar laut terdalam.

Indah, namun menyesakkan.
Meskipun, aku tidak begitu mengerti letak keindahannya.
Tapi, keindahan tidak harus selalu dimengerti kan? Dia ada untuk dirasakan.
Sama seperti dirimu, perempuanku.

Aku dapat menulis banyak sajak untukmu saat itu.
Lalu kupasung di dalam botol kaca.
Kulepaskan ia di lautan. Membiarkannya menari bersama ombak.
Biar, laut yang membacanya.
Tidak perlu kamu- orang yang selalu kurindu, untuk tau akan hal itu.
(Tapi, aku memberitahukanmu juga pada surat ini.)

...

Perempuanku,

Masih terasa hangat di dalam ingatanku, bagaimana kita digigilkan hujan hari itu.
Tidak ada payung yang melindungi kita dari hujan. Tidak ada jas hujan yang melindungi tubuh kita.
Kita terjebak dalam hujan, dan menemukan kenyamanan di dalamnya.

Kamu merapatkan tubuhmu padaku, memegang ujung rokmu yang basah.
Tidak ada jaket yang bisa kupasangkan di tubuhmu, tidak ada selain lenganku yang merangkul bahumu.
Kulihat kamu mengulum senyum, bergumam entah untuk kudengar atau hanya untuk dirimu sendiri.

“Rainy rainy day.”

Ingin kucubit pipimu yang merah bersemu. Namun, aku hanya berkata.

“I like the way you smile when it’s rainy.”

 Teduh matamu memandangku. Seakan mengucapkan terima kasih.

“Ke laut yuk.”

Tiba-tiba saja kalimat ajakan itu keluar dari mulutmu. Aku tidak mengerti, dan hanya dapat memberimu pandangan bingung.

“Aku mau liat hujan di lautan.”
“Pertemuan antara hujan dan lautan. Awan hujan yang berasal dari laut, kembali padanya dengan cara menjatuhkan dirinya secara perlahan.”
“Dan, hujan akan menyambutnya. Dengan ombak yang mencoba memeluk rintik hujan.”
“Aku ingin menyaksikan pertemuan mereka, dengan kekasihku.”

How I love your sweet mind.

Lalu kau berhenti menarik ujung rokmu, dan berganti menarik tanganku.
Ke dalam rintik hujan.

“Meskipun hujan itu membawa nyaman.
Namun, kita bisa dijebakkan olehnya. Kita harus membebaskan diri.”

Lalu kamu mengajakku berlari, tapi aku menolaknya.
Dan kamu menawarkanku menari, tapi aku tidak bisa menyanggupinya.

Lalu, kamu tertawa. Seakan hujan membisikkanmu sebuah lelucon.
Lalu aku tidak bisa menahannya, selain membiarkan diriku terjebak oleh seorang dirimu, dirimu seorang- dan kenyamanan yang senantiasa membuatku utuh.

Sejak itu,
Aku tidak ingin, membebaskan diri dari jebakan indah ini.

...

Namun ada kalanya.
Dua kutub di dalam masing-masing diri kita menjadi sama.
Dan membuat jarak dan waktu seakan menolak pertemuan kita.

Seperti saat itu.

Saat pekerjaanku mengharuskanku untuk jauh darimu. Jauh dari ragamu.
Meskipun saat itu kamu mendukungku, tapi tetap saja rasanya beda dengan kamu yang di sisiku.

Pembicaraan kita lewat perantara telepon. Sinyal yang terkadang begitu buruk, sehingga sering kali aku hanya bisa mendengar gemerisik tawamu atau kata-katamu yang patah.
Diskusi kita lewat chat messenger. WiFi yang tiba-tiba tidak bersahabat, membuat percakapan kita terhambat.
Surat beserta paket buku yang kukirimkan padamu. Dan surat beserta CD musik favoritku yang dikirimkan olehmu untukku. Membutuhkan waktu berhari-hari untuk sampai.

Komunikasi itu tetap terjaga, tapi rasanya berbeda.
Tidak bisa kudengar tarikan nafasmu, tidak bisa kuhirup harum tubuhmu yang masih menempel pada jaketku, tidak bisa kurekam gelak tawamu.
Tidak bisa kupeluk ragamu.

...

Hampir setengah tahun kita menjalani hari-hari kita seperti itu.
Hingga akhirnya, sifat nekatmu itu membuatmu berani memutuskan untuk datang ke tempatku.
Selama 1 minggu. Yang cukup untuk membayar rinduku selama kita jauh.

Kau menolak untuk kubayari tiket pesawat terbang, karena alasan kau benci ketinggian.
Kau pun mengelak saat kutawari tiket kereta api, padahal pemandangan ketika perjalanannya begitu indah.
Kau menolak telak saat aku ingin menjemputmu dari sana.

Dan, kau memilih untuk naik Kapal Laut.
Dengan alasan, kau tidak harus membayangkan dirimu jatuh dari awan. Dan kau akan sangat dekat dengan lautan.
Pemandangannya pun tak akan kalah dari yang akan kau liat jika kau berangkat naik kereta api.
Meski hanya biru laut, dan biru langit yang tercampur dengan batasnya yang akan hadir di depan matamu.
Tapi, kau menginginkannya.

Aku masih ingat sekali, chat terakhir kita hari itu- sebelum perjalananmu naik Kapal Laut ke tempatku.

“Semoga nanti hujan.”
“Kenapa? bukankah lebih baik perjalanannya cerah.”
“Aku ingin melihat hujan di lautan.”
“Tapi, kau kan sedang tidak bersama kekasihmu.”
“Tapi, aku kan akan menemui kekasihku.”

Dan perjalanan itu pun Tuhan kabulkan.

...

Hujan, tidak menjatuhkan dirinya dengan perlahan hari itu. Di hari perjalananmu.
Hujan yang membuat orang-orang bertahan di ruangan, memilih untuk menghangatkan dirinya. Hujan yang sangat deras.
Lebih deras dari hujan hari itu.
Namun, saat itu kau tidak dalam ruangan. Yang aman dari terpaan hujan.
Kau juga tidak sedang bersamaku, sehingga aku tidak bisa mencegah perjalananmu.

Kapal Laut. Dengan terpaan hujan lebat.
Aku rasa itu bukan ide yang hebat.

Air laut akan berubah dari tenang menjadi galak. Ombaknya akan tinggi dan bergejolak.
Dan aku khawatir, akan terjadi badai.

Tak henti-hentinya aku memandangi jendela kantorku. Menatap tetesan hujan yang menempel di kacanya. Melirik jam dinding, memencet-mencet ponselku.
Tak ada kabar darimu.

Aku tidak ingat, pernah lebih gelisah dari hari itu.

Dan gelisahku itu membawaku pada kabar selanjutnya.

...

Malam hari.
Aku yang masih menunggu kedatanganmu. Duduk diam di sofaku, tidak bisa dan tidak ingin mencoba untuk pergi tidur.
Aku menyalakan Televisi, hanya agar suara bisingnya memenuhi ruanganku.
Namamu beserta kabarmu, tidak kunjung muncul di ponselku.

Namun, justru di Televisiku. Di sebuah acara berita.
Berita tentang Kapalmu, Kapal yang mengangkutmu. Kapal yang membawa separuh jiwaku.

Tenggelam. Terbawa arus ombak yang semakin liar menari, ketika hujan datang beserta badai.

Apa ada hal yang lebih menyakitkan dari kabar itu?
Ya.

Kabarnya, kapal itu tenggelam ke laut dalam.
Beserta para raga yang diangkutnya.
Karam.

...

Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan.

Selepas kabar itu.
Ragaku terus menerus mencarimu.
Meski berita Televisi mengabarkan begitu.

Tapi, ragamu tidak kunjung ditemukan.
Menyatu bersama lautan.
Dan air hujan hari itu.

Dan aku hanya bisa memberimu pelukan.
Mendoakan jiwamu yang ada dalam diriku.
Memelukmu erat di dalam pikiranku.
Tanpa ragamu yang utuh.

Utuh?
Kata apa itu.
Tak lagi utuh aku tanpamu.

Tanpamu, perempuanku.

Surat yang kutulis dengan pena biru ini.
Akan kupasung dalam botol kaca.
Dan akan kubiarkan dia menyatu dengan biru air laut.
Biarkan kata-katanya menguap membentuk awan hujan.
Dan, semoga bisa sampai ke tempatmu di khayangan.

Dan, kelak.
Hujan yang akan turun dari awan itu.
Kuanggap sebagai pertanda- balasan suratmu.

Meski hujan.
Tidak kunjung hadir.
Semenjak kamu berhenti hadir di hidupku.

(Hi perempuanku yang sedang bertugas menjadi bidadari surga.
Permintaanmu sudah dikabulkanTuhan. Kau kini tidak lagi takut ketinggian, bukan?)


Tyas Hanina
(8 Januari 2014)

...


(Judul postingan ini sama dengan salah satu judul lagu Payung Teduh.)

Minggu, 27 Juli 2014

Are you satisfied? Are you sad inside?

One Chance
POV : Him
Dua hari setelah hari pernikahan Dyo. Gue pulang, ke tempat di mana gue seharusnya berada.
Nyokap protes dengan kepulangan gue yang katanya terlalu mendadak. Dia protes dengan penggunaan kata pulang yang gue pakai, dia bilang :
“Kamu mau pulang ke mana? Di sini rumah kamu. Ibu, rumah kamu.”
Serasa ada tamparan di pipi ketika mendengarnya. Tentu, tentu selamanya akan begitu. Sejauh mana pun gue melangkah, kepada Ibu lah gue pasti kembali.
Tapi, maksud gue mengucapkan kata pulang adalah untuk menghindari kata pergi.
Gue pulang ke sana bukan berarti gue gak bakal kembali ke sini kan?
Gue benci mendengar kata pergi, terlebih lagi menggunakannya. Terlebih lagi melakukannya.

Meski Ibu tidak mengerti sepenuhnya keputusan gue untuk “pulang”, tapi dia tetap bersedia mengantar gue ke bandar udara. Membekali gue dengan makanan, nasihat dan saran-saran.
“Kamu gak bisa terus-terusan melarikan diri. Tempat kamu di sini.”
“Melarikan diri? Aku gak kabur dari apapun Bu.”
“Pulang ke sini lagi. Jangan lupa ama Ibu.”
Katanya, ketika gue mencium telapak tangannya sebagai ucapan perpisahan.
“Pasti aku gak akan lupa sama Ibu.”
“Jangan lupa pulang ke sini.”
Ulangnya.
“Aku pasti pulang ke sini, Ibu.”

...

Gue selalu suka suasana di sini, di bandar udara. Ataupun di tempat-tempat sejenisnya, seperti stasiun kereta api, terminal bus, pelabuhan dan lain sebagainya.
Tempat di mana seseorang berangkat ke suatu tempat, atau pulang kembali.
Tempat di mana seseorang harus melepas akar-akar di kakinya yang melekat di bawah kota kelahirannya, tempat di mana seseorang yang lainnya harus melepas doa dan rasa rela melepas kesayangannya.

Gue suka mengamati orang-orang, dan di tempat seperti ini gue ketemu banyak orang yang menarik untuk gue amati.
Kadang, gue beranikan diri untuk membuka obrolan dengan mereka.
Atau kadang, gue hanya berani untuk membuat cerita tentang mereka di kepala gue.

Hari ini, di ruang tunggu bandar udara.
Gue mengamati sepasang kekasih yang duduk di depan gue. Tangan mereka saling menggandeng. Di tangan kiri sang perempuan tergenggam erat sebuah peta dunia. Di tangan kanan sang laki-laki, ada dua buah paspor negara. Di samping kaki mereka terdapat dua buah ransel besar.
Dugaan gue, pasangan ini sudah bersama dalam jangka waktu yang cukup lama. Sehingga bisa saling percaya untuk pergi berdua bersama ke suatu tempat baru. Dan sepertinya, ini trip berdua mereka yang pertama kali. Terlihat dari antusiasme di wajah mereka, dan genggaman erat tangan mereka pada peta dunia dan paspor mereka berdua.

Pengalaman gue mengajarkan, salah satu cara terbaik untuk mengetahui pribadi seseorang yang sebenarnya adalah dengan berpergian bersama dengannya.
Selama perjalanan, tidak hanya hal menyenangkan yang menunggu. Banyak tanggung jawab dan kejadian mengejutkan yang ikut menanti.
Semoga, pasangan ini sama-sama bisa menikmati perjalanan mereka berdua.

Tapi, di lain sisi. Ada rasa ngeri dengan cerita mereka yang gue buat di kepala gue sendiri.
Tentu akan banyak memori yang tercipta selama perjalanan.
Bagaimana jika suatu hari mereka berpisah?
Tentu tidak mudah melepas satu persatu kenangan yang mengikat mereka.
Di setiap tempat yang pernah mereka datangi berdua, akan ada kenangan yang menunggu di sana. Di setiap lagu yang pernah mereka senandungkan berdua, akan ada luka yang menunggu di dengarkan. Di setiap potret diri berdua, akan ada rindu yang menunggu di lihat.
Bagaimana cara mereka bisa melepas semua itu?

Selama gue sama Dia,
Tidak banyak tempat yang kami kunjungi. Dia kurang suka berpergian, tapi suka berlama-lama di suatu tempat kesukaannya.
Tidak banyak lagu yang kami senandungkan bersama. Dia sangat pemalu, dia seringkali menyembunyikan suaranya. Tapi, ada beberapa mixtape berisi kumpulan lagu yang gue buat untuknya.
Tidak banyak potret diri kami yang tercipta. Meski hubungan kami bisa  terbilang lama. Dia kurang suka difoto, gue suka mengerjai dia dengan cara memfotonya diam-diam.

Tapi, segala kenangan juga luka masih susah gue lepaskan dari diri gue. Bahkan hingga saat ini. Ah, sial gue jadi rindu.

Ketika kali terakhir kami bertemu, gue gak tau apa yang mengontrol diri gue sepenuhnya saat itu. Gue tidak bisa menahan senyuman gue, tapi ada rasa nyeri dan gengsi untuk menyapa terlebih dulu.
Gue membuang pandangan gue ke jendela, diam-diam berharap dia masih memandangi gue.
Meski begitu, gue tetap mencoba bersikap biasa saja. Meminum kopi hitam di meja, untuk menghentikan lidah gue yang ingin menyapa. Mengajak ngobrol Dyo kembali, untuk segera lupa akan segala rentetan pertanyaan yang ingin gue tanyakan ke dia.
Gue ingin biasa aja. Gue gak ingin membenci wanita yang dulu pernah buat gue bangga, gue gak bisa. Gue juga gak pengen terus menerus menyayangi wanita ini kaya dulu, dan gak pernah bisa berbalik membuat dia merasakan hal yang sama.
Selama kami bersama, gue memberi dia banyak kesempatan untuk mencoba jatuh cinta kepada gue. Gue memberi lebih banyak kesempatan lagi kepada diri sendiri, untuk mempertahankan dia- untuk mempertahankan kita.
But,
She only get one chance to break my heart.

Ah, jadi melankolis kan gue.

Suara pengumuman keberangkatan pesawat yang akan gue naiki terdengar. Gue bangkit dari kursi, memakai tas gue. Menggenggam erat paspor gue.
Memberikan senyuman gue kepada dua pasang muda mudi yang sedang saling jatuh hati di depan gue. Rasa terima kasih, karena mereka sudah mengingatkan gue akan dia, terima kasih karena setelah mengingatnya. Gue semakin yakin.

Gue melangkah pasti.
Gue gak sedang melarikan diri.
Gue sedang memulai hidup gue yang baru.
Sehingga, ketika gue pulang kembali ke kota ini. Gak akan lagi ada jejak pahit dan rasa sakit di hati.

...

Dear Him, are you sad inside?

...

Salt Water
POV : Her

They're all these and those, nothing
I don't care
It's okay
I'm used to being alone myself
I was so cold
I was so emotionless
These days I'm a bit strange
I was so greedy
I was so selfish
But I started to let myself go little by little
I get everything I've wanted
 
But I can't have what I need
(Taeyang – Let Go)
...

Gue mengusap keringat yang mengalir di kening gue dengan handuk yang diberikannya.
“Masih kuat?”
Tanya Rama, Bos Gue.
Gue mengangkat bahu, mengambil ancang-ancang untuk berlari lagi.
Tapi, untuk berdiri aja gue gak sanggup. Untungnya, ada Rama. Dia segera menjadi tumpuan buat gue.
“Udah jangan paksain diri sendiri.”
“I’m okay.”
“I know you’re not.”

Gue mengalah kepada diri gue sendiri. Baiklah istirahat untuk beberapa lama, tidak akan berarti apa-apa.
Gue duduk di kursi taman. Tiba-tiba ada sensasi dingin di pipi gue.
Rupanya, Rama menempelkan air mineral dingin.
Gue membisikkan kata terima kasih. Dia duduk di samping gue.

Selama beberapa lama kami hanya duduk diam.
“Kenapa...”
“Hah?”
Rama menarik nafas sebelum melanjutkan pertanyaannya.
“Kenapa pilih lari? Dari sekian banyak olahraga?”
“Gue payah di bidang ini Ram, gue gak suka olahraga beregu. Cuma lari yang gue bisa dari kecil.”
“biasa kabur dari nyokap ya pas kecil?”
“Hahaha kan waktu dulu mah mainnya emang lari-larian.”
Lalu kami larut dengan pembicaraan tentang permainan masa kecil. Seperti galaksin, petak umpet, tapak gunung, batu tujuh, polisi maling, dan lain-lainnya.

“Bagus sih olahraga. Tapi gak bagus jadinya kalo lo maksain diri kaya gini.”
“Gue gak maksa...”
“Kenapa harus lari coba? Mau belajar lari dari masa lalu ya? Hahahaha.”
Rama tertawa begitu puas.
Dan raut muka gue bias.

Karena gue tidak menanggapi omongannya (untuk kesekian kalinya hari itu). Dia sepertinya mulai lelah, dan memutuskan untuk menyerah.
Tiba-tiba, jidat gue basah oleh sesuatu.
Hujan gerimis turun.
Orang-orang yang berolahraga di taman dan melakukan aktivitas lainnya segera berlarian ke sana ke mari mencari tempat berteduh.
Rama menarik tangan gue, mengajak gue pergi untuk menghindari hujan.
Gue menggeleng.
“Kenapa lagi sih yas?”
Ada rasa putus asa yang terdengar dari pertanyaannya.
“Ya gapapa.”
“...”

Dia duduk kembali di samping gue. Gue memandangnya heran.
“Kalo mau sakit jangan sendirian. Gue temenin.”
Gue tertawa mendengar kalimatnya, yang maksa.
“Sana neduh.” Gue mendorong bahunya pelan.
“Sama lu tapi.”
“Dih ogah.”
“...”

“Lo suka hujan ya?”
Pertanyaannya membenturkan gue ke kenangan lama. Seseorang pernah bertanya hal yang serupa pada suatu waktu.
Gue hanya mengangguk, tidak bisa menahan senyuman.
“Kenapa?”
“...”

Hujan semakin deras. Mungkin orang-orang yang berteduh memandang kami sebagai dua orang yang tidak waras.
Gue tidak menjawab pertanyaan Rama. Dan berbalik mengajaknya pergi.
“Ram? Hujannya makin deras.. Ke laut yuk?”
“Lo sakit ya yas? Ujan gini kok ke laut.”
“Gue belom pernah liat ujan di laut.”
“Gue juga. Tapi kan....”
“Kenapa?”
“Kenapa lo mau liat hujan di lautan?”
“I want to wash away all of my pain."

...
"The cure for anything is salt water - sweat, tears, or the sea."
Isak Dinesen
...

Dear Her, Are you satisfied?

...

(Cerita ini adalah lanjutan dari "Is This Love?" dan "Are you happy, My Dear?")


Tyas Hanina

Are you happy, My Dear?

I’ve hurt myself by hurting you.
POV : Her

“I should have loved myself with the love I gave to you.”

Dia membisikkan kalimat itu pelan di telinga, sebelum dia meninggalkan gue sendiri di kafe ini.
Dia tetep senyum mengucapkan kalimat itu, walau gue tau jauh di dalam hatinya dia sama sekali gak bisa senyum. Senyum dia itu kaya tato permanen di wajahnya. Selalu ada di sana setiap kali gue menengoknya.
Ah entahlah. Emang dasarnya gue brengsek.
Udah patahin hati dia, tapi tetep coba pertahanin dia di dalam hati.
Gue bilang di surat dia gak boleh pertahanin orang kaya gue, and that’s true.
Tapi sebenernya yang gue rasain, kebalikannya dari itu.

Setelah dia selesai membaca surat yang gue tulis untuknya. Dia tersenyum, entah untuk apa. Tapi pandangannya kosong. Kilatan yang biasa ada di matanya berbeda, sepertinya kali ini air mata yang ia tahan.
Sedangkan gue, gak bisa tahan lagi-lagi buat mengontrol diri gue.
Air mata gue turun tanpa bisa gue cegah. Gue ngerasa sangat bersalah. Gue sadar betapa hal yang gue lakuin sangatlah bodoh.
Dia duduk kaku di kursinya, masih tersenyum. Pandangannya menatap langit-langit kafe. Mulutnya terbuka, seperti hendak mengucapkan sesuatu. Tapi dia telan kembali.
Jujur, saat itu pun gak sanggup denger apapun dari bibir dia.
Gue hanya sanggup berulang kali mengucapkan kata maaf.
Itupun sangat pelan. Entahlah dia mendengarkan gue atau tidak.
Yang jelas, gue sadar pasti. Gue sangat menyakitinya.

Dan sakit rasanya, menyadari bahwa sejak itu semuanya tak lagi sama.
Dia gak berusaha untuk menghentikan tangisan gue. Dia gak berusaha menghibur gue.
Gak ada lagi jokes garing yang keluar dari mulutnya, gak ada lagi sapuan air mata dari jemarinya, gak ada lagi pelukan hangat darinya.
Gak ada.

Dan lebih sakit lagi, menyadari bahwa gue gak bisa berbuat apa-apa setelah apa yang gue lakuin ke dia.
Gue mau meluk dia. Tapi seakan gue duduk melekat di kursi gue.
Di lain sisi, gue takut sentuhan gue semakin menyakitinya.

Hingga akhirnya, ia bangkit di kursinya. Menghela nafas pelan.
Memeluk gue untuk waktu yang sangat sebentar. Seakan dia ingin segera melepaskannya. Ingin segera melepas gue.
Membisikkan kalimat itu. Kalau seharusnya dia bisa menyayangi dirinya sebagaimana dia sudah memberikan rasa sayangnya kepada gue.
Dan gue hanya bisa memegang tangannya, untuk waktu yang tidak lama. Menatap matanya yang kini tidak lagi sama kilatannya, menatap senyumnya yang berbeda. Dengan butiran air mata yang gak bisa gue hentikan, gue mengucapkan kalimat perpisahan.
“i wish you well.”

...

Irony.
POV : Him

“I wish you well.”

She said.
Gue meringis mengingat ucapannya. Ah, the irony.

You wish me well?
I wish you hell.

...

Are you happy, my dear?
POV : Her

Hari ini kami gak sengaja bertemu. Seminggu setelah kejadian itu.
Dia terlihat baik-baik saja, setidaknya di luarnya.
Gue cukup lega melihatnya. Tapi tetap saja terasa ada yang kurang.

Can’t nobody do it like you say every little thing you do.

Ngeliat dia main basket bareng temen-temennya tadi, ketawa-ketawa kaya biasa.
Gue diam-diam berharap, setelahnya dia akan kembali bercerita bagaimana ia lalui harinya.
Gue pengen denger keluhan dia tentang teriknya matahari hari ini. Gue pengen denger ledekan dia tentang gue yang gak bisa olahraga.
Gue pengen denger apapun dari bibir dia. Bahkan, kalau cacian buat gue yang dia ucapkan.
Ya, gue pantas kok mendapatkannya.

Tapi boro-boro cacian.
Bahkan pandangan mata pun dia lemparkan ketika pandangan kami gak sengaja bertemu.
Ya.. Meski menyakitkan. But i know that i deserve this.... shit.

...

Do you remember the song that was playing the night we meet?
POV : Him

Thanks to her.
Setidaknya, rasa sakit gue bisa jadi karya. Gue berhasil bikin beberapa lagu dari kejadian itu.

Waktu vokalis band gue baca liriknya. Dia langsung meluk gue.
Tentu saja gue ngelak, gila sesakit apapun hati gue... gue masih demen cewek sih.

“Gila. You deserve better man.”

Ternyata dia meluk karena simpati.
Gue ketawain aja. Abis gue gak tau mau respon apa lagi. Gue benci dikasihanin.

Dan sialnya. Tiba-tiba sepotong lirik lagu mengalir dari mulutnya.

“They say love is blind. Oh baby you so blind.”
“Sialan lo.”
“Lah napa. Gua cuma nyanyi lagu GD.”
“Manggil-manggil gue baby segala.”

Dia nyengir, memamerkan gigi berpagarnya.

“Tapi serius deh gue mau nanya ama lu..”
“Apaan lagi sik.”

Dia membaca sekali lagi lirik lagu yang gue tulis. Menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Lo tuh, masa sih? Dari dulu gak sadar?”
Gue cuma membalas pertanyaannya dengan tersenyum. Meski gue gak tau senyum untuk apa.
Meski dalem hati, gue udah misuh-misuh.

Ya gue gak sebuta itu kali.
Gue sadar kok. Gimana dia sama gue.
Iya gue buta. Masih coba pertahanin hubungan itu, meski akhirnya orang yang gue pertahanin gak ngebolehin gue pertahanin dia sih.
Tapi, gue juga sadar. Dia sudah mencoba untuk membalasnya selama hubungan kami yang cukup lama.
Gue juga sadar, bukan hanya gue yang sakit. Dia juga.
Harus boong sama perasaannya sendiri, selama ini.

Haha.
Apa kabar ya dia?

She's a silver lining, lone ranger riding
Through an open space
In my mind when she's not right there beside me
I go crazy 'cause here isn't where I want to be
And satisfaction feels like a distant memory
And I can't help myself
All I want to hear her say is
"Are you mine?"
...

We were wrong to stay this long.
POV : Her

Gue membuka pintu kamar gue. Melihat kasur di ujung ruangan, membuat gue merasa sangat lega.
HHHH gila gak tau berapa kali hari ini gue misuh-misuh dalam hati.
Capek banget, ngadepin pengunjung di  Kafe tadi. Emang cuma 1, tapi cukup untuk ngebunuh mood gue seharian.
Gue gak yakin apakah semua orang ngerti apa yang gue rasain.
Awalnya gue biasa aja, gue emang menyadari kehadirannya setiap hari. Duduk di bangku yang sama. Selalu memesan menu yang sama. Memberikan tip dengan jumlah yang sama. Dan pandangan tajam yang sama, ke arah gue.
Lalu semakin lama dia semakin berani. Atau yang gue sebut kurang ajar.
Menunggu shift kerja gue selesai, membuntuti gue pulang ke rumah.
Memberikan tip lebih ke pelayan untuk memberikan nomor telepon gue.
Dan tadi. Apaan coba maksudnya pake acara nyatain perasaannya ke gue?? Diliput kamera segala??
Dari awal gue gak pernah ngerespon. Gak ada lampu merah untuk dia stop, lampu kuning untuk hati-hati, apalagi lampu hijau untuk terus jalan. Dari awal, gue udah ngasih tembok.

Tapi, untungnya emang ekspresi gue selalu datar.jpeg, jadi orang gak bisa baca emosi gue. Atau justru malah keliatan banget ya?
Gue gak memberi respon apa-apa selama kejadian itu. Tetap meracik kopi, menghidangkannya di cangkir. Seakan tuli dan buta akan kejadian sekitar. Gue hanya gak peduli.
Begitu orang-orang selesai tepuk tangan dan riuh rendah suasana kafe menjadi hening karena gue gak ngerespon sama sekali.
Gue mengahampiri Bos gue, meminta izin pulang. Dan melengos keluar begitu saja.
Gue tidak memberi respon sebagai respon gue.

RRRR.
Ponsel gue bergetar di saku celana. Dengan malas gue mengangkat telepon, dari Bos gue. Gila gak abis-abis ya urusan kerjaan?

“Halo?”
“Ya.”
“Udah nyampe lo?”
“Yaaa.”
Ada suara tawa di seberang telepon
“Masih emosi gara-gara tadi?”
Gue mengangkat bahu, lalu sadar bahwa dia gak bisa liat gue saat ini.
“Hmm. Ya gitu deh.”
“Sorry ya gue gak nyegah kejadian tadi.”
“It’s okay.”
“I know you're not.”
“...”

Dari mana dia tau. Atau mungkin dia hanya sok tau.
“Sorry gue gak nganterin lo pulang. Malah ngebiarin lo pergi gitu aja.”
“It’s okaaay.”
“Sorry yaaaaa.”
“Ngomong sorry sekali lagi gue matiin ya teleponnya.”
“....”
“Makasih tadi udah ngebiarin gue pulang duluan sebelum shift gue selesai.”
“Ya kayanya cuma itu yang bisa gue lakuin buat lo tadi?”

Gue tertawa mengiyakan. Berterima kasih lagi di dalam hati.
Gue menaruh ponsel di samping bantal gue, menyetel mode speaker.
“Eh, gue mau minta tolong deh?”
“Apa?”
“Besok bawa CD Adhitia Sofyan ya, keknya asik buat disetel di Kafe.”
“Ya okedeh.”
“Cek dulu ada gak CDnya.”
“Ya nanti ya.”
“Sekarang. Atau gaji kamu saya potong.”

Gue cukup kaget mendengar ucapannya. Tumben si Bos berlagak kayak Bos beneran.
Mana ancemannya gitu lagi.

“HAHAHAHAHAHHAHA. BERCANDA.”

Gak lucu. Kenapa juga ketawanya sepanjang gitu? Gue heran banget sama orang ini.
Gue bangkit dari ranjang gue, berjalan dengan langkah lunglai ke meja belajar. Ke tempat rak CD berada.

“HOOOY MARAH YA?”

Gue membalas teriakannya di telepon dengan teriakan juga.

“Saya lagi nyari CDnya BOS!”

Lalu, terdengar suara tawa berderai di telepon. Dia mengucapkan suatu kalimat, tapi gue abaikan.
Gue fokus dengan rak CD gue yang acak-acakan, gak berurutan isinya. Sejak 3 tahun lalu, gue membiarkannya begini.
Dulu sangat lain keadaannya, tiap bulan gue mengaturnya sesuai urutan. Kadang sesuai nama, kadang sesuai genre.
Tapi entahlah, rasanya sejak 3 tahun lalu gue jadi terbiasa untuk asal mengambil CD dan mengshuffle lagunya. Gue gak pengen tau lagu apa yang gue dengerin, gue ingin kejutan darinya.
Selalu ada satu kenangan di setiap lagu. Menantang rasanya, teringat suatu kejadian tertentu secara acak.

Ah.
Lagi-lagi, gue dikejutkan oleh kenangan.
Yang kali ini gue temukan di selipan rak CD.

Sial.
Udah berapa lama, gue gak muter CD ini. Bahkan hampir lupa keberadaannya.
Gimana bisa gue tetep inget urutan lagunya, tetep inget siapa aja penyanyinya. Tetep inget siapa yang memberikan CD tersebut dan apa tujuannya.



Dan, justru sedih yang gue rasakan ketika melihatnnya.
Apa gue harus memainkan CD itu lagi?

“OOOY OOOY UDAH KETEMU BELOM CDNYA?”
Teriakan dari si Bos di telepon menyadarkan gue.

“Ketemu. Tapi ada yang ilang nih rasanya bos.”

...

Forever? It just over.
POV : Him
26 October 2014

I guess what I'm trying to say is
I need the deep end,
I keep imagining meeting
Wished away entire lifetimes
Unfair we're not somewhere
misbehaving for days
Great escape
Lost track of time and space
She's a silver lining
climbing on my desire

Lo tau perasaan ketika lo harus meninggalkan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari hidup lo?

Buat gue itu berat. Seakan kaki gue sudah mengakar di bawah tanah kota ini.
Akar-akar di bawah kaki gue itu sudah gue pangkas habis tiga tahun lalu. Pertama kali, gue berangkat ke Vienna, dengan modal tabungan gue selama ini dan modal nekat juga sih. Tapi rasanya worth it, karena ini sudah lama menjadi bagian dalam bucket list gue. Dan dia.
Semenjak itu gue jadi terbiasa pergi sendirian. Kadang, gue “pulang” ke kota ini untuk beberapa lama. Mengunjungi keluarga dan beberapa orang teman. Tapi gue gak pernah ketemu dia, dan emang itu yang gue mau.
Lama kelamaan. Kata “pulang” berganti, menjadi “mampir”. Kaki gue udah gak gak berakar, dan kini bebas untuk menancapkannya di mana-mana. Langkah gue jadi ringan rasanya.

...

Gue mampir lagi di kota ini. Sepertinya, dalam waktu yang cukup lama. Ada acara keluarga, dan gue gak mungkin menolaknya.
Gue ketemu banyak temen lama. Wajah-wajah lama yang memiliki kenangan yang berbeda.
Hari ini, mantan vokalis band gue dulu. Yang selalu nemenin gue di masa-masa gue patah hati sebelum gue berangkat ke Vienna, minta ditemenin ngopi.
Sederhana sih permintaannya. Tapi entah kenapa, ada perasaan bahwa hari ini bakal ada sesuatu yang istimewa.

“Jadi minggu depan, Yo?”
“Yoi. Lo harus dateng.”
“Kenapa harus?”

Gue memasang wajah serius, menggodanya dalam hati. Dia menggelengkan kepalanya, mematikan rokok di tangannya, membuangnya ke asbak.
“Gue telepon juga ye nyokap lo biar baju-baju sama paspor lu dibuang.”
Gue tertawa mendengar responnya.
“Ya gapapa tanpa baju gue juga bisa pergi. Kan tinggal bawa diri sendiri.”
“Tanpa paspor?”
“Paspor gue selalu gue bawa ke manapun kali Yo.”
Dia mencondongkan tubuhnya ke arah gue, tiba-tiba dengan cepat mengambil tas gue.
“Weh bro udah gak ketemu berapa taun kita, lu jadi maling gini?”
“Maling waktu temen gue bentar.”
“Gak perlu maling, pasti gue kasih kok buat lo mah.”
Dia memberikan cengirannya. Menepuk pundak gue beberapa kali.
“Gue mau dateng dengan syarat lo ceritain kenapa lo bisa yakin untuk ngadain pernikahan ini. Dengan perempuan ini.”
Gue memberikan syaratnya secara tiba-tiba. Dia mengiyakannya begitu saja.
Keluarlah dari mulutnya dan hatinya, cerita mulai dari pertemuannya pertama kali dengan kekasihnya dan hingga hari di mana cincin itu dia kenakan di jari manis kekasihnya.

“Lo masih belum menjawab pertanyaan gue.”
“Lo gak ngedengerin gue ya daritadi?”
“Dengerin. Gue hanya ingin tau, kenapa lo yakin kalo dia orangnya? Kalo lo bisa tahan sama orang ini setiap hari. Sampai selamanya.”
“Selamanya? Hahahaha kita masih terlalu muda buat kenal kata selamanya.”
“Terus kenapa?”
“Gue juga gatau kenapa. Dalam hal-hal menyangkut perasaan, lo gak bisa cuma dengerin teorinya. Lo harus terjun langsung ngerasain.”
“... good luck deh.”
“Lo juga good luck lah.”

Kami pun tertawa entah untuk apa. Gue meneguk pelan kopi hitam dari meja, sedangkan Dyo mulai menyalakan rokok baru lagi.
Ada perasaan pahit yang tertinggal dari percakapan kami barusan. Lebih pahit dari kopi yang gue minum, lebih menyesakkan dari asap rokok yang Dyo hembuskan.

...

The bitter the better.
POV : Her
26 October 2014

Gue membuka pintu kafe. Aroma kopi langsung menyambut indra penciuman gue.
Tap tap tap.
Gue melangkah dengan mantap. Beberapa teman sesama pegawai menatap gue dan memberikan cengirannya, pasti soal kejadian kemarin.

“Kemaren kenapa pulang duluan?”
Temen gue, yang bertugas menjaga kasir menyambut kedatangan gue dengan pertanyaan menyebalkan.
Gue hanya mengangkat bahu. Karena gue yakin orang ini sebenarnya tahu hanya pura-pura tidak tahu.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundak gue.

“Yas? Tolong anterin ini ke meja di ujung sana dong? Gue mau ngangkat telepon bentar.”
“Oh okay.”

...

Black coffee. And a cheesecake.

Persis seperti menu favorit seseorang.
Gue berjalan menuju pengunjung kafe yang duduk di ujung ruangan, dekat dengan jendela. Dari jauh, terlihat jelas 2 orang laki-laki paruh baya. Yang satu mengisap rokok di bibirnya, yang satu mengaduk-ngaduk cangkir di meja.

Gue menyapa pelanggan dengan tagline kafe kami. Menaruh pesanan di meja. Setengah membungkuk mengucapkan terima kasih dan selamat menikmati.
Begitu gue berdiri tegak kembali, gue tidak sengaja bertatapan dengan mata pelanggan.
Tidak sengaja.

Pelanggan itu memberikan senyumannya yang manis, lalu mengambil secangkir kopi hitam yang tadi gue bawakan.
Ia membuang pandangannya ke jendela, dan mengobrol kembali dengan temannya seperti sebelum gue datang ke meja ini mengantarkan pesanannya. Seakan tidak ada apa-apa.

Ah. Ya.
Itu tidak apa-apa.

Gue melangkah menjauh dari meja itu. Memeluk baki di dada.
Ada suara gemuruh di sana. Ada gerimis yang siap tumpah dari mata.
Setelah menyaksikan senyumannya yang cerah, persis seperti ramalan cuaca hari ini.

Ah. I’m glad that he’s happy.

...

If you like your coffee hot
Let me be your coffee pot
You call the shots babe
I just wanna be yours


 


(Kisah lanjutan dari kisah sebelumnya : “Is This Love?”)



Tyas Hanina