Kalau menulis adalah senjata, Pujangga sudah kehabisan amunisi.
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 15 November 2018
Minggu, 31 Januari 2016
Perihal Janji
“Mungkin hanya ini yang bisa kuberi.”
Katamu.
Aku tersentak dan juga bingung. Apa yang ingin kau berikan
padaku?
Kulihat kau tidak membawa apapun bersamamu, selain senyum
malu-malu itu.
Apa mungkin kau menyembunyikannya di saku celanamu?
Aku terus bertanya kepadamu di dalam kepalaku.
“Semoga hal ini, dapat membuatmu terus mengingatku sebagai perihal yang
baik.”
“Dan suatu saat kamu kesal padaku. Ada hal ini yang dapat membuatmu memaafkanku
hehehe.”
Kau terus berbicara. Tanpa menunjukkan apa-apa.
“Katakanlah apa hal
itu.”
Senyummu melebar ketika mendengarku bersuara.
“Apakah kau merasa penasaran akan hal ini?”
“Tentu saja.”
Kau tidak merogoh saku celanamu untuk mengambil hal itu.
Justru, kau memegang tanganku dan menggenggamnya erat.
“Ran.”
Aku yakin sekali, dress merah
yang kukenakan ini masih kalah jauh merahnya oleh rona pipiku.
“Aku cuma bisa ngasih ini ke kamu.”
Suaramu dalam dan halus.
Dan aku yakin sekali. Suara hingar bingar live music di restoran
ini tidak seberapa berisiknya dari degup jantungku.
“Janji.”
...
Bulan
menyembunyikan separuh tubuhnya dari langit malam ini.
Katanya, dia
sedang merasa tidak utuh.
Barangkali kamu
ingin tahu, begitu pula aku.
Aku bersembunyi
dari siapapun yang kukenal malam ini.
Ku matikan
telpon genggamku. Tidak ingin berhubungan dengan siapapun.
Kecuali, kamu.
Aku merutuki
diriku sendiri ketika mengingat kamu.
Aku tidak bisa
menyalahkanmu, lagi-lagi.
Sudah lama kita
tidak terhubung.
Tali yang
menghubungkan kita berdua sepertinya sudah putus.
Kapan itu
terjadi, aku tak tahu. Bagaimana itu terjadi, aku tak mau tahu.
Walau begitu,
aku masih sering mengingatmu.
Senyum
malu-malu itu. Kemeja yang digulung hingga siku. Hembusan asap rokokmu.
Percakapan kita
malam itu.
Janjimu.
...
“Janji..?”
“Ran..”
Lagi, kau panggil namaku.
“Aku tahu, aku cuma bisa janji saat ini.”
“...Tapi kita tidak tahu bagaimana nanti.”
Perlahan, tanganmu bergerak menyentuh pipiku. Mengusapnya
secara halus.
“Aku tahu dan aku mau. Kamu bakal ngerti. Dan, kamu pasti ngerti.”
“Ran.. Aku janji kita akan bahagia. Aku janji kita akan baik-baik saja.”
Kau sibuk berbicara. Aku sibuk menahan ledakan di dadaku.
...
Ya, kita tidak
tahu bagaimana dan apa yang akan terjadi nanti.
Benar katamu.
Aku setuju.
Karena saat
ini,
Adalah masa
depan dari masa lalu kita itu.
Dan aku pun
akhirnya tahu bagaimana dahsyatnya pemberianmu itu.
Ya, janjimu.
...
“Apa maksudmu?”
Aku melepas tanganmu. Sedikit memberikan jarak kepadamu.
“Aku janji Ran. Bahwa pada akhirnya, hanya akan ada kita berdua.”
“Tanpa ada orang lain, untuk menjadi tiga.”
Pada akhirnya, aku tidak kuasa menahan ledakan itu.
“Kenapa kau harus
berjanji? Kenpa tidak memberiku bukti?”
Kau menarik nafasmu perlahan, lalu menatapku lebih dalam.
“Gak bisa, untuk saat ini saja.”
“Kita harus menunggu waktu yang tepat Ran.”
Aku menggelengkan kepalaku.
“Apakah pernah ada
waktu yang tepat untuk kita?”
“Apakah pernah hatimu
tetap untukku saja?”
Kau menggengam kembali tanganku.
“Pasti. Pasti ada.”
“Hatiku hanya untukmu
Ran.”
“Tapi semesta belum
mengizinkan kita untuk berdua.”
“Karena aku masih
terikat oleh orang lain.
“Saat ini, adalah saat yang buruk untuk melepaskan ikatan itu.”
“Saat ini, adalah saat yang buruk untuk melepaskan ikatan itu.”
...
Aku mencegah
air mataku untuk tumpah lagi malam ini.
Aku tidak ingin
benci kamu, tidak ingin sama sekali.
Aku ingin terus
mengingatmu sebagai perihal yang baik untukku.
Aku ingin terus
memegang janjimu itu.
...
“Dia sedang berbadan
dua.”
Air mataku tumpah tanpa sempat aku cegah.
“Jadi, aku mohon Ran.
Mohon sekali.”
“Aku janji sama kamu
Ran kita akan bahagia, nanti.”
“Tapi aku mohon kamu
juga bisa janji kepadaku.”
“Bahwa kamu bersedia
untuk menunggu.”
Terus terang, aku tidak tahu ingin menamparmu atau memelukmu
saat ini.
Aku merasa marah sebagai seorang perempuan.
Namun, juga merasa cemburu sebagai seorang kekasih.
...
Siapapun yang
mendengar kisah kita pasti akan timbul rasa benci di dadanya.
Aku tahu pasti.
Perlahan, bukan
hanya orang-orang lain saja.
Aku mulai
membenci diriku sendiri.
Ketika aku
mulai jengah dan sadar bahwa janjimu palsu.
Tapi, aku tidak
pernah bisa membenci kamu.
...
“Lalu, apa rencanamu
untuk kita?”
Bergetar, akhirnya keluar kalimat tanya itu dari bibirku.
“Aku akan meminangmu Ran..”
“Setelah aku memutus tali pernikahanku dengannya..”
“Setelah anakku sudah lahir dari perutnya..”
...
Masih terasa hangat di ingatanku.
Semua detail kejadian malam itu.
Aku ingat dengan jelas, bagaimana semua
pasang mata melihat ke arah meja kita.
Aku ingat, aku menatap kamu dengan
amarah.
Aku ingat, kamu memegangi pipimu yang
merah.
Setelah ada tamparan yang keras dariku di
sana.
...
“Aku gak pernah
nyangka bahwa kamu sejahat ini.”
“...Aku juga jahat
karena egois menahanmu selama ini. Mengabaikan tali ikatan itu.”
Aku menatap nanar cincin di jemarimu.
“Jika kamu ingin aku
terus mengingatmu sebagai perihal yang baik.”
“Lupakan rencana itu.”
“Aku akan tetap
memegang janjimu. Bahwa kita akan bahagia dan baik-baik saja.”
Kini, aku menggengam erat tanganmu.
“...tapi aku tahu bahwa
kamu juga tahu.”
“Bahwa kita tidak
akan bisa berdua.”
“Aku tidak dapat
menggenapimu, sebaliknya juga kamu.”
“Dari awal hubungan
kita sudah ganjil.”
“Jadi, biarlah
seperti ini.”
“Kalau memang hatimu
untukku, aku tidak keberatan kamu terikat oleh hati yang lain.”
“Biarkan perihal hati
kita menjadi rahasia.”
“Dan perihal janjimu,
menjadi hadiah terindah untukku. Walau mustahil untuk menepatinya.”
...
Di bilangan
yang tak terbilang.
Aku
mengingatmu.
Hatiku lebam. Rindu
itu kejam.
Aku meringis,
mengingat janjimu yang manis.
Aku menangis,
mengingat pelukmu yang magis.
Aku ingat
dipeluk kamu setelah aku menamparmu dan mengucapkan kata-kata itu.
Ledakan itu
meredam dengan sendirinya karena pelukan itu.
Setelah itu
kamu mengantarku pulang ke rumah.
Memberikan
kecupan ringan pada bibirku.
Mengucapkan
selamat tinggal, dan berjanji akan tetap menghubungiku.
Dan berjanji
akan melupakan rencanamu.
Aku ingat
memeluk kamu sebelum kamu pergi.
Dan meminta
kamu untuk bahagia.
Dan meminta
bahwa kejahatan kita cukup sampai sini saja.
Aku ingat kita
sama-sama menangis.
...
Hai, kamu?
Apa kabarmu?
Bagaimana kabar
jagoan kecilmu?
Aku rasa aku
tahu alasan mengapa tali kita terputus tiba-tiba.
Itu karena kamu
sudah merasa genap.
Atau kamu sudah
tahu.
Bahwa untuk
merasa genap, kamu harus menghilangkan satu bilangan yang membuatmu selama ini
ganjil.
Yaitu, aku.
Aku adalah
bilangan yang kau pilih untuk dihapus dalam hidupmu.
Tak apa.
Aku tidak akan
membencimu walau itu berarti..
Janji itu hanya
untuk buatmu saja.
Bahwa yang
bahagia dan baik-baik saja, itu kamu.
Aku tidak
perlu.
Tidak apa,
kamu.
Aku tetap
mencintaimu.
Aku tidak
peduli seluruh dunia membenciku.
Selama ada
kamu, yang pernah mencintaiku.
Tng, 31 jan 2015.
Rani.
Kekasih gelapmu /Bilangan
ganjilmu
Label:
Fiksi
Senin, 22 Juni 2015
yellow
Imagine this.
Terbangun
dari tidurmu, dan hal yang pertama kali kamu lihat adalah, Langit malam.
Dan, hal yang
kau jadikan sandaran untuk tidur bukanlah tempat tidur di kamarmu. Tapi
sekumpulan bantal dan selimut tebal.
Kamu terjaga
dari mimpi indahmu. Namun kamu tidak menyesalinya.
Karena
pemandangan yang kamu lihat di sekelilingmu terasa jauh lebih indah untuk sebuah
realita.
Bukan tembok
kamarmu yang kau lihat. Tapi, suatu padang rumput yang membentang luas seakan
tanpa batas, disertai pohon-pohon yang kokoh.
Dan ketika
kau mendongakkan kepalamu ke atas. Yang terlihat adalah sekumpulan rasi
bintang.
Dan meskipun
kamu tidak tau apa-apa tentangnya, kau dapat merasakan keindahannya.
Ya, memang
terkadang keindahan ada bukan untuk dimengerti. Tapi dirasakan.
Label:
Fiksi
Sabtu, 14 Februari 2015
Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan
Aku
menulis surat ini sembari memelukmu erat.
Memang hal
itu membuatku sulit untuk menuliskannya, tapi itu tidak sesulit saat dirimu
jauh dariku.
Tidak,
aku tidak sedang merayumu. Sungguh.
Merindukanmu,
Terasa
bagai dininabobokan oleh angin laut.
Didekap
erat oleh pasir pantai.
Diombang-ombing
oleh ombak lelautan.
Dilelapkan
ke dasar laut terdalam.
Indah,
namun menyesakkan.
Meskipun,
aku tidak begitu mengerti letak keindahannya.
Tapi, keindahan
tidak harus selalu dimengerti kan? Dia ada untuk dirasakan.
Sama
seperti dirimu, perempuanku.
Aku dapat
menulis banyak sajak untukmu saat itu.
Lalu
kupasung di dalam botol kaca.
Kulepaskan
ia di lautan. Membiarkannya menari bersama ombak.
Biar,
laut yang membacanya.
Tidak
perlu kamu- orang yang selalu kurindu, untuk tau akan hal itu.
(Tapi,
aku memberitahukanmu juga pada surat ini.)
...
Perempuanku,
Masih terasa
hangat di dalam ingatanku, bagaimana kita digigilkan hujan hari itu.
Tidak
ada payung yang melindungi kita dari hujan. Tidak ada jas hujan yang melindungi
tubuh kita.
Kita
terjebak dalam hujan, dan menemukan kenyamanan di dalamnya.
Kamu
merapatkan tubuhmu padaku, memegang ujung rokmu yang basah.
Tidak
ada jaket yang bisa kupasangkan di tubuhmu, tidak ada selain lenganku yang
merangkul bahumu.
Kulihat
kamu mengulum senyum, bergumam entah untuk kudengar atau hanya untuk dirimu
sendiri.
“Rainy rainy day.”
Ingin
kucubit pipimu yang merah bersemu. Namun, aku hanya berkata.
“I like the way you smile when it’s rainy.”
Teduh matamu memandangku. Seakan mengucapkan
terima kasih.
“Ke laut yuk.”
Tiba-tiba
saja kalimat ajakan itu keluar dari mulutmu. Aku tidak mengerti, dan hanya
dapat memberimu pandangan bingung.
“Aku mau liat hujan di lautan.”
“Pertemuan antara hujan dan
lautan. Awan hujan yang berasal dari laut, kembali padanya dengan cara menjatuhkan
dirinya secara perlahan.”
“Dan, hujan akan menyambutnya.
Dengan ombak yang mencoba memeluk rintik hujan.”
“Aku ingin menyaksikan pertemuan
mereka, dengan kekasihku.”
How I love your sweet mind.
Lalu kau
berhenti menarik ujung rokmu, dan berganti menarik tanganku.
Ke dalam
rintik hujan.
“Meskipun hujan itu membawa nyaman.
Namun, kita bisa dijebakkan
olehnya. Kita harus membebaskan diri.”
Lalu
kamu mengajakku berlari, tapi aku menolaknya.
Dan kamu
menawarkanku menari, tapi aku tidak bisa menyanggupinya.
Lalu,
kamu tertawa. Seakan hujan membisikkanmu sebuah lelucon.
Lalu aku
tidak bisa menahannya, selain membiarkan diriku terjebak oleh seorang dirimu,
dirimu seorang- dan kenyamanan yang senantiasa membuatku utuh.
Sejak
itu,
Aku tidak
ingin, membebaskan diri dari jebakan indah ini.
...
Namun
ada kalanya.
Dua
kutub di dalam masing-masing diri kita menjadi sama.
Dan
membuat jarak dan waktu seakan menolak pertemuan kita.
Seperti
saat itu.
Saat
pekerjaanku mengharuskanku untuk jauh darimu. Jauh dari ragamu.
Meskipun
saat itu kamu mendukungku, tapi tetap saja rasanya beda dengan kamu yang di
sisiku.
Pembicaraan
kita lewat perantara telepon. Sinyal yang terkadang begitu buruk, sehingga sering
kali aku hanya bisa mendengar gemerisik tawamu atau kata-katamu yang patah.
Diskusi
kita lewat chat messenger. WiFi yang tiba-tiba tidak bersahabat, membuat
percakapan kita terhambat.
Surat
beserta paket buku yang kukirimkan padamu. Dan surat beserta CD musik favoritku
yang dikirimkan olehmu untukku. Membutuhkan waktu berhari-hari untuk sampai.
Komunikasi
itu tetap terjaga, tapi rasanya berbeda.
Tidak
bisa kudengar tarikan nafasmu, tidak bisa kuhirup harum tubuhmu yang masih
menempel pada jaketku, tidak bisa kurekam gelak tawamu.
Tidak
bisa kupeluk ragamu.
...
Hampir
setengah tahun kita menjalani hari-hari kita seperti itu.
Hingga
akhirnya, sifat nekatmu itu membuatmu berani memutuskan untuk datang ke tempatku.
Selama 1
minggu. Yang cukup untuk membayar rinduku selama kita jauh.
Kau
menolak untuk kubayari tiket pesawat terbang, karena alasan kau benci
ketinggian.
Kau pun
mengelak saat kutawari tiket kereta api, padahal pemandangan ketika
perjalanannya begitu indah.
Kau
menolak telak saat aku ingin menjemputmu dari sana.
Dan, kau
memilih untuk naik Kapal Laut.
Dengan
alasan, kau tidak harus membayangkan dirimu jatuh dari awan. Dan kau akan
sangat dekat dengan lautan.
Pemandangannya
pun tak akan kalah dari yang akan kau liat jika kau berangkat naik kereta api.
Meski
hanya biru laut, dan biru langit yang tercampur dengan batasnya yang akan hadir
di depan matamu.
Tapi,
kau menginginkannya.
Aku
masih ingat sekali, chat terakhir kita hari itu- sebelum perjalananmu naik
Kapal Laut ke tempatku.
“Semoga nanti hujan.”
“Kenapa? bukankah lebih baik
perjalanannya cerah.”
“Aku ingin melihat hujan di
lautan.”
“Tapi, kau kan sedang tidak
bersama kekasihmu.”
“Tapi, aku kan akan menemui
kekasihku.”
Dan
perjalanan itu pun Tuhan kabulkan.
...
Hujan,
tidak menjatuhkan dirinya dengan perlahan hari itu. Di hari perjalananmu.
Hujan
yang membuat orang-orang bertahan di ruangan, memilih untuk menghangatkan
dirinya. Hujan yang sangat deras.
Lebih
deras dari hujan hari itu.
Namun,
saat itu kau tidak dalam ruangan. Yang aman dari terpaan hujan.
Kau juga
tidak sedang bersamaku, sehingga aku tidak bisa mencegah perjalananmu.
Kapal
Laut. Dengan terpaan hujan lebat.
Aku rasa
itu bukan ide yang hebat.
Air laut
akan berubah dari tenang menjadi galak. Ombaknya akan tinggi dan bergejolak.
Dan aku
khawatir, akan terjadi badai.
Tak henti-hentinya
aku memandangi jendela kantorku. Menatap tetesan hujan yang menempel di
kacanya. Melirik jam dinding, memencet-mencet ponselku.
Tak ada
kabar darimu.
Aku tidak
ingat, pernah lebih gelisah dari hari itu.
Dan
gelisahku itu membawaku pada kabar selanjutnya.
...
Malam
hari.
Aku yang
masih menunggu kedatanganmu. Duduk diam di sofaku, tidak bisa dan tidak ingin
mencoba untuk pergi tidur.
Aku
menyalakan Televisi, hanya agar suara bisingnya memenuhi ruanganku.
Namamu
beserta kabarmu, tidak kunjung muncul di ponselku.
Namun,
justru di Televisiku. Di sebuah acara berita.
Berita
tentang Kapalmu, Kapal yang mengangkutmu. Kapal yang membawa separuh jiwaku.
Tenggelam.
Terbawa arus ombak yang semakin liar menari, ketika hujan datang beserta badai.
Apa ada
hal yang lebih menyakitkan dari kabar itu?
Ya.
Kabarnya,
kapal itu tenggelam ke laut dalam.
Beserta
para raga yang diangkutnya.
Karam.
...
Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan.
Selepas kabar itu.
Ragaku terus menerus mencarimu.
Meski berita Televisi mengabarkan
begitu.
Tapi, ragamu tidak kunjung
ditemukan.
Menyatu bersama lautan.
Dan air hujan hari itu.
Dan aku hanya bisa memberimu
pelukan.
Mendoakan jiwamu yang ada dalam
diriku.
Memelukmu erat di dalam
pikiranku.
Tanpa ragamu yang utuh.
Utuh?
Kata apa itu.
Tak lagi utuh aku tanpamu.
Tanpamu, perempuanku.
Surat yang kutulis dengan pena
biru ini.
Akan kupasung dalam botol kaca.
Dan akan kubiarkan dia menyatu
dengan biru air laut.
Biarkan kata-katanya menguap
membentuk awan hujan.
Dan, semoga bisa sampai ke
tempatmu di khayangan.
Dan, kelak.
Hujan yang akan turun dari awan
itu.
Kuanggap sebagai pertanda-
balasan suratmu.
Meski hujan.
Tidak kunjung hadir.
Semenjak kamu berhenti hadir di
hidupku.
(Hi perempuanku yang sedang bertugas
menjadi bidadari surga.
Permintaanmu sudah
dikabulkanTuhan. Kau kini tidak lagi takut ketinggian, bukan?)
Tyas Hanina
(8 Januari 2014)
(8 Januari 2014)
...
(Judul postingan ini sama dengan
salah satu judul lagu Payung Teduh.)
Label:
Fiksi
Minggu, 27 Juli 2014
Are you satisfied? Are you sad inside?
One Chance
POV : Him
Dua hari setelah hari pernikahan Dyo. Gue
pulang, ke tempat di mana gue seharusnya berada.
Nyokap protes dengan kepulangan gue yang
katanya terlalu mendadak. Dia protes dengan penggunaan kata pulang yang gue
pakai, dia bilang :
“Kamu mau pulang ke
mana? Di sini rumah kamu. Ibu, rumah kamu.”
Serasa ada tamparan di pipi ketika
mendengarnya. Tentu, tentu selamanya akan begitu. Sejauh mana pun gue
melangkah, kepada Ibu lah gue pasti kembali.
Tapi, maksud gue mengucapkan kata pulang
adalah untuk menghindari kata pergi.
Gue pulang ke sana bukan berarti gue gak
bakal kembali ke sini kan?
Gue benci mendengar kata pergi, terlebih lagi
menggunakannya. Terlebih lagi melakukannya.
Meski Ibu tidak mengerti sepenuhnya keputusan
gue untuk “pulang”, tapi dia tetap bersedia mengantar gue ke bandar udara.
Membekali gue dengan makanan, nasihat dan saran-saran.
“Kamu gak bisa
terus-terusan melarikan diri. Tempat kamu di sini.”
“Melarikan diri? Aku gak
kabur dari apapun Bu.”
“Pulang ke sini lagi.
Jangan lupa ama Ibu.”
Katanya, ketika gue
mencium telapak tangannya sebagai ucapan perpisahan.
“Pasti aku gak akan
lupa sama Ibu.”
“Jangan lupa pulang
ke sini.”
Ulangnya.
“Aku pasti pulang ke
sini, Ibu.”
...
Gue selalu suka suasana di sini, di bandar
udara. Ataupun di tempat-tempat sejenisnya, seperti stasiun kereta api,
terminal bus, pelabuhan dan lain sebagainya.
Tempat di mana seseorang berangkat ke suatu
tempat, atau pulang kembali.
Tempat di mana seseorang harus melepas
akar-akar di kakinya yang melekat di bawah kota kelahirannya, tempat di mana
seseorang yang lainnya harus melepas doa dan rasa rela melepas kesayangannya.
Gue suka mengamati orang-orang, dan di tempat
seperti ini gue ketemu banyak orang yang menarik untuk gue amati.
Kadang, gue beranikan diri untuk membuka
obrolan dengan mereka.
Atau kadang, gue hanya berani untuk membuat
cerita tentang mereka di kepala gue.
Hari ini, di ruang tunggu bandar udara.
Gue mengamati sepasang kekasih yang duduk di
depan gue. Tangan mereka saling menggandeng. Di tangan kiri sang perempuan
tergenggam erat sebuah peta dunia. Di tangan kanan sang laki-laki, ada dua buah
paspor negara. Di samping kaki mereka terdapat dua buah ransel besar.
Dugaan gue, pasangan ini sudah bersama dalam
jangka waktu yang cukup lama. Sehingga bisa saling percaya untuk pergi berdua
bersama ke suatu tempat baru. Dan sepertinya, ini trip berdua mereka yang
pertama kali. Terlihat dari antusiasme di wajah mereka, dan genggaman erat
tangan mereka pada peta dunia dan paspor mereka berdua.
Pengalaman gue mengajarkan, salah satu cara
terbaik untuk mengetahui pribadi seseorang yang sebenarnya adalah dengan
berpergian bersama dengannya.
Selama perjalanan, tidak hanya hal
menyenangkan yang menunggu. Banyak tanggung jawab dan kejadian mengejutkan yang
ikut menanti.
Semoga, pasangan ini sama-sama bisa menikmati
perjalanan mereka berdua.
Tapi, di lain sisi. Ada rasa ngeri dengan
cerita mereka yang gue buat di kepala gue sendiri.
Tentu akan banyak memori yang tercipta selama
perjalanan.
Bagaimana jika suatu hari mereka berpisah?
Tentu tidak mudah melepas satu persatu
kenangan yang mengikat mereka.
Di setiap tempat yang pernah mereka datangi
berdua, akan ada kenangan yang menunggu di sana. Di setiap lagu yang pernah
mereka senandungkan berdua, akan ada luka yang menunggu di dengarkan. Di setiap
potret diri berdua, akan ada rindu yang menunggu di lihat.
Bagaimana cara mereka bisa melepas semua itu?
Selama gue sama Dia,
Tidak banyak tempat yang kami kunjungi. Dia
kurang suka berpergian, tapi suka berlama-lama di suatu tempat kesukaannya.
Tidak banyak lagu yang kami senandungkan
bersama. Dia sangat pemalu, dia seringkali menyembunyikan suaranya. Tapi, ada
beberapa mixtape berisi kumpulan lagu yang gue buat untuknya.
Tidak banyak potret diri kami yang tercipta.
Meski hubungan kami bisa terbilang lama.
Dia kurang suka difoto, gue suka mengerjai dia dengan cara memfotonya
diam-diam.
Tapi, segala kenangan juga luka masih susah
gue lepaskan dari diri gue. Bahkan hingga saat ini. Ah, sial gue jadi rindu.
Ketika kali terakhir kami bertemu, gue gak
tau apa yang mengontrol diri gue sepenuhnya saat itu. Gue tidak bisa menahan
senyuman gue, tapi ada rasa nyeri dan gengsi untuk menyapa terlebih dulu.
Gue membuang pandangan gue ke jendela,
diam-diam berharap dia masih memandangi gue.
Meski begitu, gue tetap mencoba bersikap
biasa saja. Meminum kopi hitam di meja, untuk menghentikan lidah gue yang ingin
menyapa. Mengajak ngobrol Dyo kembali, untuk segera lupa akan segala rentetan
pertanyaan yang ingin gue tanyakan ke dia.
Gue ingin biasa aja. Gue gak ingin membenci
wanita yang dulu pernah buat gue bangga, gue gak bisa. Gue juga gak pengen
terus menerus menyayangi wanita ini kaya dulu, dan gak pernah bisa berbalik
membuat dia merasakan hal yang sama.
Selama kami bersama, gue memberi dia banyak
kesempatan untuk mencoba jatuh cinta kepada gue. Gue memberi lebih banyak
kesempatan lagi kepada diri sendiri, untuk mempertahankan dia- untuk
mempertahankan kita.
But,
She
only get one chance to break my heart.
Ah, jadi melankolis kan gue.
Suara pengumuman keberangkatan pesawat yang
akan gue naiki terdengar. Gue bangkit dari kursi, memakai tas gue. Menggenggam
erat paspor gue.
Memberikan senyuman gue kepada dua pasang
muda mudi yang sedang saling jatuh hati di depan gue. Rasa terima kasih, karena
mereka sudah mengingatkan gue akan dia,
terima kasih karena setelah mengingatnya. Gue semakin yakin.
Gue melangkah pasti.
Gue gak sedang melarikan diri.
Gue sedang memulai hidup gue yang baru.
Sehingga, ketika gue pulang kembali ke kota
ini. Gak akan lagi ada jejak pahit dan rasa sakit di hati.
...
Dear Him, are you sad inside?
...
Salt Water
POV : Her
They're
all these and those, nothing
I don't care
It's okay
I'm used to being alone myself
I was so cold
I was so emotionless
These days I'm a bit strange
I was so greedy
I was so selfish
But I started to let myself go little by little
I get everything I've wanted
But I can't have what I need
I don't care
It's okay
I'm used to being alone myself
I was so cold
I was so emotionless
These days I'm a bit strange
I was so greedy
I was so selfish
But I started to let myself go little by little
I get everything I've wanted
But I can't have what I need
(Taeyang – Let Go)
...
Gue mengusap keringat yang mengalir di kening
gue dengan handuk yang diberikannya.
“Masih kuat?”
Tanya Rama, Bos Gue.
Gue mengangkat bahu, mengambil ancang-ancang
untuk berlari lagi.
Tapi, untuk berdiri aja gue gak sanggup. Untungnya,
ada Rama. Dia segera menjadi tumpuan buat gue.
“Udah jangan paksain diri sendiri.”
“I’m okay.”
“I know you’re not.”
Gue mengalah kepada diri gue sendiri. Baiklah
istirahat untuk beberapa lama, tidak akan berarti apa-apa.
Gue duduk di kursi taman. Tiba-tiba ada
sensasi dingin di pipi gue.
Rupanya, Rama menempelkan air mineral dingin.
Gue membisikkan kata terima kasih. Dia duduk
di samping gue.
Selama beberapa lama kami hanya duduk diam.
“Kenapa...”
“Hah?”
Rama menarik nafas sebelum melanjutkan
pertanyaannya.
“Kenapa pilih lari?
Dari sekian banyak olahraga?”
“Gue payah di bidang
ini Ram, gue gak suka olahraga beregu. Cuma lari yang gue bisa dari kecil.”
“biasa kabur dari
nyokap ya pas kecil?”
“Hahaha kan waktu
dulu mah mainnya emang lari-larian.”
Lalu kami larut dengan pembicaraan tentang
permainan masa kecil. Seperti galaksin, petak umpet, tapak gunung, batu tujuh,
polisi maling, dan lain-lainnya.
“Bagus sih olahraga. Tapi
gak bagus jadinya kalo lo maksain diri kaya gini.”
“Gue gak maksa...”
“Kenapa harus lari
coba? Mau belajar lari dari masa lalu ya? Hahahaha.”
Rama tertawa begitu puas.
Dan raut muka gue bias.
Karena gue tidak menanggapi omongannya (untuk
kesekian kalinya hari itu). Dia sepertinya mulai lelah, dan memutuskan untuk
menyerah.
Tiba-tiba, jidat gue basah oleh sesuatu.
Hujan gerimis turun.
Orang-orang yang berolahraga di taman dan melakukan
aktivitas lainnya segera berlarian ke sana ke mari mencari tempat berteduh.
Rama menarik tangan gue, mengajak gue pergi
untuk menghindari hujan.
Gue menggeleng.
“Kenapa lagi sih yas?”
Ada rasa putus asa
yang terdengar dari pertanyaannya.
“Ya gapapa.”
“...”
Dia duduk kembali di samping gue. Gue
memandangnya heran.
“Kalo mau sakit
jangan sendirian. Gue temenin.”
Gue tertawa mendengar kalimatnya, yang maksa.
“Sana neduh.” Gue
mendorong bahunya pelan.
“Sama lu tapi.”
“Dih ogah.”
“...”
“Lo suka hujan ya?”
Pertanyaannya membenturkan gue ke kenangan
lama. Seseorang pernah bertanya hal yang serupa pada suatu waktu.
Gue hanya mengangguk, tidak bisa menahan
senyuman.
“Kenapa?”
“...”
Hujan semakin deras. Mungkin orang-orang yang
berteduh memandang kami sebagai dua orang yang tidak waras.
Gue tidak menjawab pertanyaan Rama. Dan
berbalik mengajaknya pergi.
“Ram? Hujannya makin
deras.. Ke laut yuk?”
“Lo sakit ya yas?
Ujan gini kok ke laut.”
“Gue belom pernah
liat ujan di laut.”
“Gue juga. Tapi kan....”
“Kenapa?”
“Kenapa lo mau liat
hujan di lautan?”
“I want to wash away all of my pain."
...
"The
cure for anything is salt water - sweat, tears, or the sea."
Isak
Dinesen
...
Dear Her, Are you satisfied?
...
(Cerita ini adalah lanjutan dari "Is This Love?" dan "Are you happy, My Dear?")
Tyas Hanina
Label:
#whatiflove,
Fiksi
Are you happy, My Dear?
I’ve hurt myself by hurting you.
POV : Her
“I should have loved myself with the love I gave to you.”
Dia membisikkan kalimat itu pelan di telinga,
sebelum dia meninggalkan gue sendiri di kafe ini.
Dia tetep senyum mengucapkan kalimat itu,
walau gue tau jauh di dalam hatinya dia sama sekali gak bisa senyum. Senyum dia
itu kaya tato permanen di wajahnya. Selalu ada di sana setiap kali gue
menengoknya.
Ah entahlah. Emang dasarnya gue brengsek.
Udah patahin hati dia, tapi tetep coba
pertahanin dia di dalam hati.
Gue bilang di surat dia gak boleh pertahanin
orang kaya gue, and that’s true.
Tapi sebenernya yang gue rasain, kebalikannya
dari itu.
Setelah dia selesai membaca surat yang gue
tulis untuknya. Dia tersenyum, entah untuk apa. Tapi pandangannya kosong.
Kilatan yang biasa ada di matanya berbeda, sepertinya kali ini air mata yang ia
tahan.
Sedangkan gue, gak bisa tahan lagi-lagi buat
mengontrol diri gue.
Air mata gue turun tanpa bisa gue cegah. Gue
ngerasa sangat bersalah. Gue sadar betapa hal yang gue lakuin sangatlah bodoh.
Dia duduk kaku di kursinya, masih tersenyum.
Pandangannya menatap langit-langit kafe. Mulutnya terbuka, seperti hendak
mengucapkan sesuatu. Tapi dia telan kembali.
Jujur, saat itu pun gak sanggup denger apapun
dari bibir dia.
Gue hanya sanggup berulang kali mengucapkan
kata maaf.
Itupun sangat pelan. Entahlah dia
mendengarkan gue atau tidak.
Yang jelas, gue sadar pasti. Gue sangat
menyakitinya.
Dan sakit rasanya, menyadari bahwa sejak itu
semuanya tak lagi sama.
Dia gak berusaha untuk menghentikan tangisan
gue. Dia gak berusaha menghibur gue.
Gak ada lagi jokes garing yang keluar dari
mulutnya, gak ada lagi sapuan air mata dari jemarinya, gak ada lagi pelukan
hangat darinya.
Gak ada.
Dan lebih sakit lagi, menyadari bahwa gue gak
bisa berbuat apa-apa setelah apa yang gue lakuin ke dia.
Gue mau meluk dia. Tapi seakan gue duduk
melekat di kursi gue.
Di lain sisi, gue takut sentuhan gue semakin
menyakitinya.
Hingga akhirnya, ia bangkit di kursinya.
Menghela nafas pelan.
Memeluk gue untuk waktu yang sangat sebentar.
Seakan dia ingin segera melepaskannya. Ingin segera melepas gue.
Membisikkan kalimat itu. Kalau seharusnya dia
bisa menyayangi dirinya sebagaimana dia sudah memberikan rasa sayangnya kepada
gue.
Dan gue hanya bisa memegang tangannya, untuk
waktu yang tidak lama. Menatap matanya yang kini tidak lagi sama kilatannya,
menatap senyumnya yang berbeda. Dengan butiran air mata yang gak bisa gue
hentikan, gue mengucapkan kalimat perpisahan.
“i wish you well.”
...
Irony.
POV : Him
“I wish you well.”
She
said.
Gue meringis mengingat ucapannya. Ah, the irony.
You wish me well?
I wish you hell.
...
Are you happy, my dear?
POV : Her
Hari ini kami gak sengaja bertemu. Seminggu
setelah kejadian itu.
Dia terlihat baik-baik saja, setidaknya di
luarnya.
Gue cukup lega melihatnya. Tapi tetap saja
terasa ada yang kurang.
Can’t nobody do it like you say every little thing you
do.
Ngeliat dia main basket bareng temen-temennya
tadi, ketawa-ketawa kaya biasa.
Gue diam-diam berharap, setelahnya dia akan
kembali bercerita bagaimana ia lalui harinya.
Gue pengen denger keluhan dia tentang
teriknya matahari hari ini. Gue pengen denger ledekan dia tentang gue yang gak
bisa olahraga.
Gue pengen denger apapun dari bibir dia.
Bahkan, kalau cacian buat gue yang dia ucapkan.
Ya, gue pantas kok mendapatkannya.
Tapi boro-boro cacian.
Bahkan pandangan mata pun dia lemparkan
ketika pandangan kami gak sengaja bertemu.
Ya.. Meski menyakitkan. But i know that i deserve this.... shit.
...
Do you remember the song that was playing the
night we meet?
POV : Him
Thanks
to her.
Setidaknya, rasa sakit gue bisa jadi karya.
Gue berhasil bikin beberapa lagu dari kejadian itu.
Waktu vokalis band gue baca liriknya. Dia
langsung meluk gue.
Tentu saja gue ngelak, gila sesakit apapun
hati gue... gue masih demen cewek sih.
“Gila. You deserve better man.”
Ternyata dia meluk karena simpati.
Gue ketawain aja. Abis gue gak tau mau respon
apa lagi. Gue benci dikasihanin.
Dan sialnya. Tiba-tiba sepotong lirik lagu
mengalir dari mulutnya.
“They say love is blind. Oh baby you so blind.”
“Sialan lo.”
“Lah napa. Gua cuma
nyanyi lagu GD.”
“Manggil-manggil gue baby segala.”
Dia nyengir, memamerkan gigi berpagarnya.
“Tapi serius deh gue
mau nanya ama lu..”
“Apaan lagi sik.”
Dia membaca sekali lagi lirik lagu yang gue
tulis. Menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Lo tuh, masa sih?
Dari dulu gak sadar?”
Gue cuma membalas pertanyaannya dengan
tersenyum. Meski gue gak tau senyum untuk apa.
Meski dalem hati, gue udah misuh-misuh.
Ya gue gak sebuta itu kali.
Gue sadar kok. Gimana dia sama gue.
Iya gue buta. Masih coba pertahanin hubungan
itu, meski akhirnya orang yang gue pertahanin gak ngebolehin gue pertahanin dia
sih.
Tapi, gue juga sadar. Dia sudah mencoba untuk
membalasnya selama hubungan kami yang cukup lama.
Gue juga sadar, bukan hanya gue yang sakit.
Dia juga.
Harus boong sama perasaannya sendiri, selama
ini.
Haha.
Apa kabar ya dia?
She's
a silver lining, lone ranger riding
Through an open space
In my mind when she's not right there beside me
Through an open space
In my mind when she's not right there beside me
I
go crazy 'cause here isn't where I want to be
And satisfaction feels like a distant memory
And I can't help myself
All I want to hear her say is
"Are you mine?"
And satisfaction feels like a distant memory
And I can't help myself
All I want to hear her say is
"Are you mine?"
...
We were wrong to stay this long.
POV : Her
Gue membuka pintu kamar gue. Melihat kasur di
ujung ruangan, membuat gue merasa sangat lega.
HHHH gila gak tau berapa kali hari ini gue
misuh-misuh dalam hati.
Capek banget, ngadepin pengunjung di Kafe tadi. Emang cuma 1, tapi cukup untuk
ngebunuh mood gue seharian.
Gue gak yakin apakah semua orang ngerti apa
yang gue rasain.
Awalnya gue biasa aja, gue emang menyadari
kehadirannya setiap hari. Duduk di bangku yang sama. Selalu memesan menu yang
sama. Memberikan tip dengan jumlah yang sama. Dan pandangan tajam yang sama, ke
arah gue.
Lalu semakin lama dia semakin berani. Atau
yang gue sebut kurang ajar.
Menunggu shift kerja gue selesai, membuntuti
gue pulang ke rumah.
Memberikan tip lebih ke pelayan untuk
memberikan nomor telepon gue.
Dan tadi. Apaan coba maksudnya pake acara
nyatain perasaannya ke gue?? Diliput kamera segala??
Dari awal gue gak pernah ngerespon. Gak ada
lampu merah untuk dia stop, lampu kuning untuk hati-hati, apalagi lampu hijau
untuk terus jalan. Dari awal, gue udah ngasih tembok.
Tapi, untungnya emang ekspresi gue selalu
datar.jpeg, jadi orang gak bisa baca emosi gue. Atau justru malah keliatan
banget ya?
Gue gak memberi respon apa-apa selama
kejadian itu. Tetap meracik kopi, menghidangkannya di cangkir. Seakan tuli dan
buta akan kejadian sekitar. Gue hanya gak peduli.
Begitu orang-orang selesai tepuk tangan dan
riuh rendah suasana kafe menjadi hening karena gue gak ngerespon sama sekali.
Gue mengahampiri Bos gue, meminta izin
pulang. Dan melengos keluar begitu saja.
Gue tidak memberi respon sebagai respon gue.
RRRR.
Ponsel gue bergetar di saku celana. Dengan
malas gue mengangkat telepon, dari Bos gue. Gila gak abis-abis ya urusan
kerjaan?
“Halo?”
“Ya.”
“Udah nyampe lo?”
“Yaaa.”
Ada suara tawa di seberang telepon
“Masih emosi
gara-gara tadi?”
Gue mengangkat bahu, lalu sadar bahwa dia gak
bisa liat gue saat ini.
“Hmm. Ya gitu deh.”
“Sorry ya gue gak
nyegah kejadian tadi.”
“It’s okay.”
“I know you're not.”
“...”
Dari mana dia tau. Atau mungkin dia hanya sok
tau.
“Sorry gue gak
nganterin lo pulang. Malah ngebiarin lo pergi gitu aja.”
“It’s okaaay.”
“Sorry yaaaaa.”
“Ngomong sorry sekali
lagi gue matiin ya teleponnya.”
“....”
“Makasih tadi udah
ngebiarin gue pulang duluan sebelum shift gue selesai.”
“Ya kayanya cuma itu
yang bisa gue lakuin buat lo tadi?”
Gue tertawa mengiyakan. Berterima kasih lagi
di dalam hati.
Gue menaruh ponsel di samping bantal gue,
menyetel mode speaker.
“Eh, gue mau minta
tolong deh?”
“Apa?”
“Besok bawa CD
Adhitia Sofyan ya, keknya asik buat disetel di Kafe.”
“Ya okedeh.”
“Cek dulu ada gak
CDnya.”
“Ya nanti ya.”
“Sekarang. Atau gaji
kamu saya potong.”
Gue cukup kaget mendengar ucapannya. Tumben
si Bos berlagak kayak Bos beneran.
Mana ancemannya gitu lagi.
“HAHAHAHAHAHHAHA.
BERCANDA.”
Gak lucu. Kenapa juga
ketawanya sepanjang gitu? Gue heran banget sama orang ini.
Gue bangkit dari
ranjang gue, berjalan dengan langkah lunglai ke meja belajar. Ke tempat rak CD
berada.
“HOOOY MARAH YA?”
Gue membalas
teriakannya di telepon dengan teriakan juga.
“Saya lagi nyari
CDnya BOS!”
Lalu, terdengar suara
tawa berderai di telepon. Dia mengucapkan suatu kalimat, tapi gue abaikan.
Gue fokus dengan rak
CD gue yang acak-acakan, gak berurutan isinya. Sejak 3 tahun lalu, gue
membiarkannya begini.
Dulu sangat lain
keadaannya, tiap bulan gue mengaturnya sesuai urutan. Kadang sesuai nama,
kadang sesuai genre.
Tapi entahlah,
rasanya sejak 3 tahun lalu gue jadi terbiasa untuk asal mengambil CD dan
mengshuffle lagunya. Gue gak pengen tau lagu apa yang gue dengerin, gue ingin
kejutan darinya.
Selalu ada satu
kenangan di setiap lagu. Menantang rasanya, teringat suatu kejadian tertentu
secara acak.
Ah.
Lagi-lagi, gue
dikejutkan oleh kenangan.
Yang kali ini gue
temukan di selipan rak CD.
Sial.
Udah berapa lama, gue
gak muter CD ini. Bahkan hampir lupa keberadaannya.
Gimana bisa gue tetep
inget urutan lagunya, tetep inget siapa aja penyanyinya. Tetep inget siapa yang
memberikan CD tersebut dan apa tujuannya.
Dan, justru sedih
yang gue rasakan ketika melihatnnya.
Apa gue harus
memainkan CD itu lagi?
“OOOY OOOY UDAH
KETEMU BELOM CDNYA?”
Teriakan dari si Bos
di telepon menyadarkan gue.
“Ketemu. Tapi ada
yang ilang nih rasanya bos.”
...
Forever? It just over.
POV : Him
26 October 2014
I guess what I'm trying to say is
I need the deep end,
I keep imagining meeting
Wished away entire lifetimes
Unfair we're not somewhere
misbehaving for days
Great escape
Lost track of time and space
She's a silver lining
climbing on my desire
I need the deep end,
I keep imagining meeting
Wished away entire lifetimes
Unfair we're not somewhere
misbehaving for days
Great escape
Lost track of time and space
She's a silver lining
climbing on my desire
Lo tau perasaan
ketika lo harus meninggalkan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari hidup lo?
Buat gue itu berat. Seakan kaki gue sudah
mengakar di bawah tanah kota ini.
Akar-akar di bawah kaki gue itu sudah gue pangkas
habis tiga tahun lalu. Pertama kali, gue berangkat ke Vienna, dengan modal
tabungan gue selama ini dan modal nekat juga sih. Tapi rasanya worth it, karena ini sudah lama menjadi
bagian dalam bucket list gue. Dan dia.
Semenjak itu gue jadi terbiasa pergi
sendirian. Kadang, gue “pulang” ke kota ini untuk beberapa lama. Mengunjungi
keluarga dan beberapa orang teman. Tapi gue gak pernah ketemu dia, dan emang itu yang gue mau.
Lama kelamaan. Kata “pulang” berganti,
menjadi “mampir”. Kaki gue udah gak gak berakar, dan kini bebas untuk
menancapkannya di mana-mana. Langkah gue jadi ringan rasanya.
...
Gue mampir lagi di kota ini. Sepertinya,
dalam waktu yang cukup lama. Ada acara keluarga, dan gue gak mungkin
menolaknya.
Gue ketemu banyak temen lama. Wajah-wajah
lama yang memiliki kenangan yang berbeda.
Hari ini, mantan vokalis band gue dulu. Yang
selalu nemenin gue di masa-masa gue patah hati sebelum gue berangkat ke Vienna,
minta ditemenin ngopi.
Sederhana sih permintaannya. Tapi entah
kenapa, ada perasaan bahwa hari ini bakal ada sesuatu yang istimewa.
“Jadi minggu depan,
Yo?”
“Yoi. Lo harus
dateng.”
“Kenapa harus?”
Gue memasang wajah serius, menggodanya dalam
hati. Dia menggelengkan kepalanya, mematikan rokok di tangannya, membuangnya ke
asbak.
“Gue telepon juga ye
nyokap lo biar baju-baju sama paspor lu dibuang.”
Gue tertawa mendengar responnya.
“Ya gapapa tanpa baju
gue juga bisa pergi. Kan tinggal bawa diri sendiri.”
“Tanpa paspor?”
“Paspor gue selalu
gue bawa ke manapun kali Yo.”
Dia mencondongkan tubuhnya ke arah gue,
tiba-tiba dengan cepat mengambil tas gue.
“Weh bro udah gak
ketemu berapa taun kita, lu jadi maling gini?”
“Maling waktu temen
gue bentar.”
“Gak perlu maling,
pasti gue kasih kok buat lo mah.”
Dia memberikan cengirannya. Menepuk pundak
gue beberapa kali.
“Gue mau dateng
dengan syarat lo ceritain kenapa lo bisa yakin untuk ngadain pernikahan ini.
Dengan perempuan ini.”
Gue memberikan syaratnya secara tiba-tiba.
Dia mengiyakannya begitu saja.
Keluarlah dari mulutnya dan hatinya, cerita
mulai dari pertemuannya pertama kali dengan kekasihnya dan hingga hari di mana
cincin itu dia kenakan di jari manis kekasihnya.
“Lo masih belum
menjawab pertanyaan gue.”
“Lo gak ngedengerin
gue ya daritadi?”
“Dengerin. Gue hanya
ingin tau, kenapa lo yakin kalo dia orangnya? Kalo lo bisa tahan sama orang ini
setiap hari. Sampai selamanya.”
“Selamanya? Hahahaha
kita masih terlalu muda buat kenal kata selamanya.”
“Terus kenapa?”
“Gue juga gatau
kenapa. Dalam hal-hal menyangkut perasaan, lo gak bisa cuma dengerin teorinya.
Lo harus terjun langsung ngerasain.”
“... good luck deh.”
“Lo juga good luck lah.”
Kami pun tertawa entah untuk apa. Gue meneguk
pelan kopi hitam dari meja, sedangkan Dyo mulai menyalakan rokok baru lagi.
Ada perasaan pahit yang tertinggal dari
percakapan kami barusan. Lebih pahit dari kopi yang gue minum, lebih
menyesakkan dari asap rokok yang Dyo hembuskan.
...
The bitter the better.
POV : Her
26 October 2014
Gue membuka pintu kafe. Aroma kopi langsung
menyambut indra penciuman gue.
Tap tap tap.
Gue melangkah dengan mantap. Beberapa teman
sesama pegawai menatap gue dan memberikan cengirannya, pasti soal kejadian
kemarin.
“Kemaren kenapa
pulang duluan?”
Temen gue, yang bertugas menjaga kasir
menyambut kedatangan gue dengan pertanyaan menyebalkan.
Gue hanya mengangkat bahu. Karena gue yakin
orang ini sebenarnya tahu hanya pura-pura tidak tahu.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundak gue.
“Yas? Tolong anterin
ini ke meja di ujung sana dong? Gue mau ngangkat telepon bentar.”
“Oh okay.”
...
Black coffee. And a
cheesecake.
Persis seperti menu favorit seseorang.
Gue berjalan menuju pengunjung kafe yang
duduk di ujung ruangan, dekat dengan jendela. Dari jauh, terlihat jelas 2 orang
laki-laki paruh baya. Yang satu mengisap rokok di bibirnya, yang satu
mengaduk-ngaduk cangkir di meja.
Gue menyapa pelanggan dengan tagline kafe
kami. Menaruh pesanan di meja. Setengah membungkuk mengucapkan terima kasih dan
selamat menikmati.
Begitu gue berdiri tegak kembali, gue tidak
sengaja bertatapan dengan mata pelanggan.
Tidak sengaja.
Pelanggan itu memberikan senyumannya yang
manis, lalu mengambil secangkir kopi hitam yang tadi gue bawakan.
Ia membuang pandangannya ke jendela, dan
mengobrol kembali dengan temannya seperti sebelum gue datang ke meja ini
mengantarkan pesanannya. Seakan tidak ada apa-apa.
Ah. Ya.
Itu tidak apa-apa.
Gue melangkah menjauh dari meja itu. Memeluk
baki di dada.
Ada suara gemuruh di sana. Ada gerimis yang
siap tumpah dari mata.
Setelah menyaksikan senyumannya yang cerah,
persis seperti ramalan cuaca hari ini.
Ah. I’m
glad that he’s happy.
...
If you like your
coffee hot
Let me be your coffee pot
You call the shots babe
I just wanna be yours
Let me be your coffee pot
You call the shots babe
I just wanna be yours
(Kisah lanjutan dari kisah sebelumnya
: “Is This Love?”)
Tyas Hanina
Label:
#whatiflove,
Fiksi
Langganan:
Postingan (Atom)





