Pages

Selasa, 20 Agustus 2013

Cangkang Kerang

#CeritaDariKamar Hari Keduapuluh

Di kamar saya terdapat 3 pajangan cangkang kerang, ketiganya memiliki bentuk yang berbeda dan warna yang serta corak yang berbeda pula.
Saya tidak ingat, bagaimana mulanya ketiga cangkang kerang itu bisa menjadi pajangan di kamar saya. Mereka tetap setia terpajang di atas rak buku, tak keberatan meski pun kadang terpaksa berselimutkan debu.

Setiap kali menengok ke mereka, seringkali memunculkan selintas kenangan ataupun sebersit ingatan. Bahkan sederet keinginan.

Waktu kecil saya senang mengumpulkan cangkang kerang.. Cangkang kerang yang saya dapatkan tak pernah ada yang sebesar si Trio Pajangan. Dulu, saya ingat sekali membawa mereka semua pulang dan memberikan mereka tempat tinggal baru di dalam meja ruang tamu saya.
Meja ruang tamu saya memiliki laci, yang berisi pasir dan beberapa cangkang kerang hiasan.
(Apa itu kampung halaman si Trio ya? Saya lupa.)

Selain itu, saya pun suka memainkan pasir di dalam meja tersebut. Dulu saya iseng, mengubah sebagian pasir di sana menjadi berwarna merah jambu, saya campurkan dengan Kapur Berwarna yang dihaluskan lalu saya siram dengan air dan dikeringkan.
(Sebenarnya, saya tidak mengingat jelas bagaimana cara saya mewarnai pasir-pasir itu.)

Saat saya kecil rasanya sulit untuk membuat tangan dan kaki saya bisa diam, kecuali ketika Episode Kartun Spongebob ditayangkan atau Majalah Bobo edisi terbaru sudah Bapak berikan.
Tapi yang tidak berubah dari saya yang dulu dan sekarang adalah.. Saya suka pantai.

Pantai dengan butiran pasir yang halus, air laut yang tenang dengan deburan merdu ombak, juga  kedatangan senja si Telur Ceplok nan Elok.
Berenang, bermain dengan air laut- sesekali tanpa sengaja mencecap rasa asinnya di lidah.
Berbaring di atas pasir, mendengar gemerisik angin menyapa pohon kelapa sesekali berlomba suara dengan debur ombak- membiarkan matahari dengan teriknya bersentuhan dengan kulit.
Berjalan santai di sepanjang garis pantai, mencari cangkang-cangkang kerang- menanti senja datang.

Dengan membayangkannya pun saya merasa nyaman.

...

Hari keduapuluh. Saya menyelesaikan sebuah karangan tentang Trio cangkang kerang.

Earth and sky, woods and fields, lakes and rivers, the mountain and the sea, are excellent schoolmasters, and teach some of us more than we can ever learn from books.
-John Lubbock-



Tyas Hanina

Senin, 19 Agustus 2013

Potret Persahabatan

#CeritaDariKamar Hari Kesembilanbelas



"Friends can help each other. A true friend is someone who lets you have total freedom to be yourself - and especially to feel. Or, not feel. Whatever you happen to be feeling at the moment is fine with them. That's what real love amounts to - letting a person be what he really is."
-Jim Morrison-

Saya tidak percaya bahwa ini sebuah kebetulan. Yang saya yakini adalah semesta ikut berkonspirasi mempertemukan kita pada orang-orang tertentu.
Orang-orang yang akan meninggalkan jejak di hidup kita, walaupun dia sudah atau akan pergi.
Jejak yang tak akan hilang, meskipun tersapu arus jaman.

Dua orang yang bersama saya pada foto diatas termasuk orang-orang yang meninggalkan jejak di hati saya.. Yang tinggi dan berdagu panjang, penuh keramahan hati dan bertalenta bernyanyi namanya Echa- Ezra Tarida. Sedangkan, yang memakai seragam sekolah SMA dengan pipi gembul dan bertubuh tinggi, si Ratu Kreatif adalah Rani- Syahrani Maulida Lubis.
Sudah jelas kan saya yang mana? Seorang remaja bertubuh kecil, berponi pagar, memakai kaos Pink bergambar wajah Patrick Star.
Selain memiliki postur tubuh paling kecil, rasanya saya pun hanya anak kecil dibandingkan mereka yang mempunyai pemikiran begitu dewasa.

Rasanya bisa dihitung dengan jari, potret diri kami bersama, bertiga sekaligus. Seringkali ketika kami bertemu dan bermain, waktu kami habis untuk bercerita dan bercanda- hampir tidak ada yang mengingat fungsi kamera untuk mengabadikan moment tersebut. Berbeda sekali kan, dengan remaja kebanyakan?
Tapi hari itu, kami memiliki janji untuk menonton sebuah film di Bioskop. Sebuah film bergenre Horror dan Misteri, film penuh darah berceceran dan efek suara yang mengagetkan. Selesai film tersebut ditonton, dengan raut muka tegang kami melangkah bersama ke Photobooth terdekat.
Masing-masing dari kami pun menyimpan beberapa fotonya. Echa memilih untuk ditempelkan di dinding kamarnya, Rani menyelipkan di dompetnya, dan Saya menyelipkan di dompet dan ada juga yang dipajang di atas Rak Buku tercinta.

Saya selipkan di dompet, supaya ketika dompet saya kurus tanpa asupan uang yang bergizi. Saya bisa menengok foto mereka, dan menyadarkan saya bahwa tanpa kantong tebal persahabatan kami tetap kental.
Dan alasan saya memajangnya di atas Rak Buku adalah karena tempat itu adalah yang paling sering saya tengok. Dan buku, merupakan menu favorit kami bertiga.

Masing-masing dari mereka pernah bercerita tentang saya di blog mereka. Rani menyamakan saya dengan Underwear karena katanya "penuh kehangatan, setia, dan lucu kalau dipandang".
Dan Echa menyebut saya dengan "anak kecil itu kalo ngomong berat banget. Tapi emang bener banget."
Sedangkan saya sendiri belum menuliskan apa-apa tentang mereka di halaman blog saya.

Jadi, di Hari Ke19 ini saya dedikasikan postingan ini untuk mereka. Karena jika setiap benda memiliki cerita, bagaimana dengan persahabatan kita?


Tyas Hanina

Minggu, 18 Agustus 2013

Tas Sekolah

#CeritaDariKamar Hari Kedelapanbelas


Besok, saya dan kebanyakan murid sekolah lainnya kembali kepada rutinitas pelajar.
Masuk pagi, pulang sore. Mengikuti KBM, bertemu teman-teman, melewati rute perjalanan dari rumah ke sekolah dengan tas sekolah yang digendong di pundak.

Tas gendong berwarna biru tua dengan coreng ungu dan hitam tersebut dibelikan oleh orang tua saya berbarengan dengan perlengkapan sekolah lainnya ketika saya baru menjadi murid SMA. Bentuknya sederhana dan muatannya cukup banyak beserta kantong di depannya. Sayangnya tidak ada tempat khusus untuk menaruh botol minum.

Bagi saya, tas gendong atau ransel paling nyaman digunakan. Saya kurang suka menggunakan tas selempang atau tas jinjing.
Dan kalau barang bawaan sekolah yang harus dibawa lebih berat dan banyak- saya biasanya membawa 1 buah tas jinjing lagi.

Meski sebenarnya malas dan ingat punya pengalaman buruk membawa 2 tas, tapi hal itu tetap saya lakukan. Karena rasanya tak baik juga memaksakan menggendong tas dengan bawaan yang terlalu berat. Selain bisa menyebabkan bahu dan punggung sakit, juga bisa mengakibatkan kecenderungan membongkok.

...

Sudah lewat adzan Isya.
Dan saya belum memasukkan buku,alat tulis dan juga baju olahraga kedalam tas sekolah. Saya juga belum menyiapkan seragam beserta atributnya untuk saya kenakan besok.
Untungnya tidak ada tugas yang harus dikumpulkan pada besok hari.
Dan untuk malam ini, saya akan tidur lebih cepat- untuk mengurangi resiko bangun terlambat.

Hehe. Selamat bersekolah kembali.


-Tyas Hanina-

Sabtu, 17 Agustus 2013

Piala

#CeritaDariKamar Hari Ketujuhbelas


Satu-satunya piala yang saya miliki adalah saat saya menjadi siswa berprestasi di daerah tempat tinggal saya. Saat itu saya masih kelas 3 SD, dan meraih Peringkat 1 di kelas.
Dari kelas 1 SD saya konsisten meraih Peringkat di kelas, namun baru sekali itu saya mendapat nilai tertinggi di kelas.

Saya bukan tipe anak yang dipaksa orang tuanya untuk mengikuti les ini itu- atau terus diawasi jam belajarnya. Orang tua saya tetap memperingati saya, namun tidaklah memaksa- mereka memberi saya ruang untuk itu. Membebaskan saya mendalami hal-hal yang saya sukai, dan mendukungnya.
Saya mensyukuri hal itu.

Seperti yang Bapak lakukan, Bapak pernah memberikan 2  buku tentang kiat-kiat menulis dan memberi informasi tentang Dunia Sastra di Indonesia, membiayai saya untuk membeli buku-buku meskipun Ibu bilang saya terlalu sering membeli buku. Membelikan saya KBBI, yang jarang saya gunakan karena saya menggunakan aplikasinya di HP yang lebih praktis.
Dan bahkan, Bapak pernah meluangkan waktunya untuk membaca blog saya ini.

Tapi selain itu, Bapak tetap menjadi motivasi saya untuk tekun dan ikhlas belajar. Bapak orang yang cerdas, dia menguasai berbagai bidang Ilmu Pengetahuan- dan khususnya Matematika. Pelajaran yang seringkali membuat saya hampir tertidur di kelas dan panik ketika mendekati hari ujian.
Bapak juga yang rela meluangkan waktunya untuk mengajari saya. Untuk terus menasihati saya, untuk menyemangati saya. Untuk terus menjadi Inspirasi saya.

Dan piala itu adalah satu-satunya piala yang pernah saya hadiahkan untuknya.
Saya tidak terlalu aktif mengikuti perlombaan, dan sebenarnya saya lebih suka menjadi orang yang mengadakan Perlombaan itu.
Dan meski mungkin hanya akan ada 1 pemenang dalam suatu perlombaan, tapi semua yang mengikutinya mendapat piala yang sama- Pengalaman.

...

Hari ini, Indonesia berulang tahun yang ke68. Begitu banyak pengalaman juga kemenangan yang telah anak pertiwi berikan untuk negara ini. Begitu banyak prestasi-prestasi dari anak negeri untuk Bumi Pertiwi.
Kelak, saya dan kamu yang membaca ini.. akan ikut menghadiahkan prestasi untuk negeri ini, sebuah piala untuk bakti pada negara. Amini juga yakini hal ini.
Selamat ulang tahun Negeriku Indonesia.



Tyas Hanina

Jumat, 16 Agustus 2013

Kipas Angin

#CeritaDariKamar Hari Keenambelas




Kipas Angin.
Saya lupa sudah berapa lama tepatnya kipas angin itu berdiri di kamar saya.
Yang jelas, selama ini dia setia dan tulus memutar udara juga menyejukkan kamar saya.

Kehadirannya benar-benar saya perlukan.
Dengannya, saya bisa melepas lelah tanpa harus berperang dengan gerah setiap pulang sekolah.
Saya juga bisa tidur dengan nyaman karena menempel pada tembok yang dingin diangin-anginkan olehnya semalaman.


Tapi saya juga bukan tipe orang yang tahan dengan dingin.
Seringkali pada dini hari, terutama pada malam-malam penghujan.
Saya terpaksa bangun dan mematikan kipas angin tersebut.
Karena selimut yang berpindah posisi, dan akhirnya menyebabkan menggigil telapak kaki.

Yang paling pas itu memang seimbang. Sejuk namun tidak membuat saya menggigil dan ingin dipeluk. Hangat tapi tidak membuat kaus saya terlalu basah oleh keringat.

Seperti sikap seseorang ketika ditanyai kabarnya. Kita tidak ingin mendapat kesan yang 'dingin' atau bahkan emosi yang 'panas' kan?

...

Ohiya. Waktu kecil, saya punya kebiasaan berbicara di hadapan kipas angin.
Ibu sudah sering melarangnya, karena khawatir saya akan masuk angin.
Membuka mulut lebar lalu mengeluarkan suara dan akhirnya terdengar menjadi bebunyian aneh, seperti suara robot.
Saya rasa, saya bukan satu-satunya yang pernah melakukan itu.

:)

melancholy night

Sungguh, tak mudah.
Membahas tentangmu tanpa bernada sendu.

Kadang, aku ragu. Haruskah aku melanjutkan bahasan ini, dan membiarkan rindu menyesaki pikiranku.
Aku takut, seseorang menangkap nada getar saat aku menyebut namamu atau menyadari aku melempar pandanganku saat menemukanmu.
Salah tingkah, apalah itu.

Tapi, aku tau. Cerita tentangmu terlalu sesak untuk hanya aku simpan di otak.
Aku memilih melepaskannya pelan-pelan. Kadang lewat tulisan, jarang lewat lisan.

Rasanya lewat tulisan, emosiku bisa sedikit tersamarkan. Tidak ada nada getar atau pandangan mata yang dilempar.

Tapi kata adalah kata. Bisa lebih tajam menyakiti daripada katana.
Meskipun lewat tulisan, meskipun hanya lewat pesan singkat yang dikirimkan.

Itulah kenapa. Aku selalu menahan diri untuk tidak menghubungimu duluan.
Mengirimi pesan, menanyakan kabarmu meskipun aku benar-benar ingin tau dan mengkhawatirkanmu.

Aku memilih menunggu, entah sampai kapan itu.
Karena aku tau, kamu tidak benar-benar lupa.
Hanya saja, saat ini ada orang lain yang lebih kau prioritaskan untuk diingat di kepala.

Setidaknya namaku tersimpan di kontak ponselmu, sehingga ketika aku lancang mengirimimu sebuah pesan.
Kau tau itu dari aku.
Itu saja sudah cukup.


...


Benar kan. Menulis tentangmu selalu bernada sendu.

Kamis, 15 Agustus 2013

Jam Tangan

#CeritaDariKamar Hari Kelimabelas


Rasanya asing, ketika saya harus berpergian tanpa jam tangan yang memeluk pergelangan tangan kiri saya. Rasanya pergelangan tangan kiri saya lebih ringan, dan saya seringkali lupa bahwa tidak ada jam tangan yang memeluknya disana.

Meskipun jam tangan yang memeluk pergelangan tangan saya berganti seiring waktu karena habis dayanya, tapi mereka semua sama-sama membekas kehadirannya. Hanya penampilannya saja yang berbeda.
Favorit saya adalah jam tangan kulit pemberian Bapak, jam-jam yang diberikan olehnya pelukannya begitu pas dan nyaman.
Tidak semencolok jam tangan Ultraman saya memang, tapi justru karena itu saya tidak malu ketika mempertontonkan pelukannya ketika berpergian.

Ketika orang-orang menanyakan petunjuk waktu, saya refleks melemparkan pandangan saya ke pergelangan tangan saya- berharap sang pemberi peluk itu menampilkan penunjuk waktu yang tepat.
Bagaimanapun tugas utamanya adalah memberi penunjuk waktu.
Ketika habis daya baterainya- saya terlalu malas untuk mengganti dengan baterai baru, saya lebih memilih untuk mendapat pelukan dari jam tangan yang baru.

Tapi jam tangan yang lama tidak pernah berpindah tempatnya, tetap berada di kamar saya. Meskipun pelukannya kini tidak pernah saya rasakan, tapi saya memilih untuk menyimpan.

Menyimpan memori dari pelukan sang penunjuk waktu.

Rabu, 14 Agustus 2013

Selimut

#CeritaDariKamar Hari Keempatbelas


Selimut, sebuah benda yang menjaga agar saya tetap merasa hangat ketika tidur.
Saya paling tidak suka ketika kaki saya kedinginan, karenanya selimut begitu berjasa membungkus kaki saya setiap malam- meskipun pada pagi harinya, keadaannya tidak lagi sama.
Saya memang tidak bisa diam ketika tidur, selimut yang tadinya rapi membungkus diri ketika malam hari- pagi harinya sudah mencong sana sini.

Selimut juga saya gunakan untuk menutupi seluruh diri- ketika saya teringat cerita atau hal-hal seram yang saya baca atau tonton pada siang hari.


Meringkuk di dalam selimut, memeluk guling, membaca buku yang belum sempat dibaca, dan telinga yang mendengarkan suara hujan turun dibalik tembok kamar. Merupakan salah satu aktivitas favorit saya.
Sayangnya tidak ada jendela di kamar tidur saya, pasti kehangatan dalam selimut ini lebih terasa ketika samar mencium aroma tanah basah ataupun memerhatikan tetesan hujan pada kaca jendela.

...

Selimut begitu sering memeluk tubuh saya yang 'imut' ketika tidur. Konsisten memberikan rasa hangat yang cukup. Dan juga tulus memberikan rasa nyaman tersebut.
Sebuah pelukan dari benda mati terasa sama berharganya ketika melihat senyuman seseorang yang selalu dinanti.


Selimutyas.

Earphone

#CeritaDariKamar Hari Ketigabelas






Saya  lebih suka mendengarkan musik lewat earphone dibanding speaker.
Rasanya lebih menyenangkan dan nyaman mendengarkan musik hanya untuk 2 telinga saya, bukan dengan volume musik yang bisa membuat semua orang mendengarnya.
Rasanya juga lebih menyenangkan berbagi lagu yang didengarkan dengan satu orang saja, bersebelahan, berbagi 2 pasang earphone di telinga masing-masing..

Mungkin sama halnya ketika saya memilih seseorang untuk mendengarkan cerita saya.
Tentu lebih bisa dipercaya, orang yang ketika mendengarkan sesuatu dari kita tidak mengumbarnya hingga orang-orang lain pun mendengar cerita tersebut.

Earphone tersebut paling sering saya pakai ketika sedang dalam perjalanan atau menulis sebuah karangan. Ketika mendengarkan lagu perhatian saya bisa lebih terfokus terhadap apa yang saya kerjakan.

Lagu-lagu yang saya dengarkan cenderung sama dengan lagu-lagu yang Aa' saya sukai. Saya tidak terlalu suka dengan lagu RnB atau reggae. Dan tidak terlalu suka lagu yang berisi teriakan dan erangan tanpa lirik yang bisa saya pahami ketika didengarkan.

Earphone yang lama sudah tidak berfungsi, dan akhirnya Aa' membelikan earphone ini sebagai pengganti.
Tidak begitu nyaman digunakan awalnya, tapi karena sering dipakai lama-lama telinga saya pun akrab disumpal dengannya.

Rasa nyaman memang selalu butuh waktu untuk ditemukan.

Charger HP

#CeritaDariKamar Hari Keduabelas


Benda ini menjadi salah satu benda yang paling dibutuhkan orang-orang pada zaman sekarang.
Menjadi pengisi daya baterai handphone, saya pun salah satu orang yang membutuhkan jasanya.

Saya termasuk orang yang sembarangan dalam hal mengecas handphone.
Saya jarang tergerak untuk mengecasnya jika baterainya belum benar-benar sekarat.
Kalau mengecas pun, handphone selalu saya nyalakan- dan bahkan dimainkan.
Dan, saya seringkali mengecas hape ketika beranjak tidur. Jadi meskipun baterai handphone penuh kabel casan tetap terhubung- entah hal tersebut dapat merusak baterai atau tidak.

Mungkin hampir sama dengan cara saya memperlakukan jam tidur saya.
Seringkali, saya tidak tidur jika badan belum benar-benar lelah.
Saat sebelum tidur pun tetap ada barang-barang dengan aktivitas yang bisa menunda tidur saya, seperti buku- handphone- internet.
Dan. Seringkali ketika liburan tiba, saya tidur seperti tidak sadarkan diri. Lewat 12 jam.
Ketika bangun, terasa pusing sekali kepala- sama saja halnya ketika kurang tidur.

Tidur 2 jam. Dengan tidur 12 jam.
Efeknya sama-sama memberatkan kepala ketika bangun nantinya.
Memang tidak baik mengurangi sesuatu atau melebihkan sesuatu.

Cukup. Itu sudah lebih dari 'cukup'.

Saya memang perlu banyak belajar hal itu.
Menghemat daya baterai atau energi tubuh. Dan mengisinya dengan cara yang baik dan waktu yang cukup. Untuk kesehatan handphone dan tubuh.

._.

Cermin

#CeritaDariKamar Hari Kesebelas


Abaikan bayangan yang terpantul di cermin.
Cermin.
Salah satu benda yang lumrah berada di kamar tidur seorang wanita.
Biasa dipakai untuk mengecek penampilan seseorang.


Gue agak parno ketika melihat bayangan gue sendiri di cermin ketika lewat tengah malam.
Call me a coward. Haha.
Efek kebanyakan nonton film-film horror penuh terror, yang biasa menampilkan setan ataupun pembunuh di cermin ketika sedang mematut bayangan sendiri.

Banyak  mitos-mitos tentang cermin. Seperti mitos Bloody Mary.
"Bloody Mary adalah setan atau penyihir yang dikatakan akan muncul di kaca ketika namanya dipanggil tiga kali." (Wikipedia)
Setiap kali gue pergi ke kamar mandi malam hari, gue seringkali teringat tentang mitos itu tiba-tiba seakan-akan ada seseorang yang selalu mengingatkan gue untuk mengucap nama tersebut 3 kali meskipun dalam hati.
Sampai saat ini sih, gak pernah kejadian apa-apa- soalnya gue selalu menghindari pandangan ke kaca. Gak deng, emang gak ada apa-apa kayanya.

Waktu gue SD, ketika bermain di rumah salah seorang tetangga gue. Gue melirik ke cermin besar yang menempel di lemari pakaian di kamar tidurnya.
Tiba-tiba dia berkata setengah memperingatkan.
"AWAS, jangan ngaca lebih dari  (berapa detik gitu). Nanti keluar kuntilanak."
"Ih masa iya."
"Iya. Nanti juga keluar darah netes-netes dari kaca."
Dan karena gue lugu, gue percaya-percaya aja waktu itu. Kasian pembantu rumahnya udah pada pulang, entar siapa yang ngepel tetesan darahnya..

Akhirnya ketika gue pulang kerumah dan melihat Kakak Perempuan gue ngaca di cermin kecil, gue memperingati dia sebagai adik yang baik.
"AWAS, jangan ngaca lama-lama!"
Dan gue jelaskan mitos yang barusan gue dengar dari tetanga.
Gue diketawain. Dan singkatnya gue merasa dibodohi.

Abis baca postingan ini, beberapa dari kalian mungkin akan tau kalau gue penakut.
Yep. Seorang penakut dengan rasa penasaran yang tinggi.
Gue takut setiap kali nonton dvd horror sendirian, tapi penasaran gara-gara lagi heboh dibicarkan.
Gue gak bisa tidur semaleman gara-gara novel horror yang baru gue beli, tapi gara-gara penasaran malah diselesain dalam satu malam.
Begitulah, rasa penasaran mengalahkan ketakutan.

Gue pernah baca tweet seseorang di lini masa. Katanya, sih katanya ya.
Setan atau hantu itu seneng kalo orang-orang ketakutan, tapi males kalo kita penasaran sama dia.
Untung aja rasa penasaran gue lebih tinggi dari burj khalifa, meskipun penakut :p.
Oiya, katanya di Burj Khalifa itu punya 3 waktu berbeda untuk sahur dan berbuka puasa.

...

Bahas cermin malah jadi ke Burj Khalifa.
Tadinya pengen sekalian bahas rumus cermin cekung dan cembung, tapi gue sadar diri- nilai fisika gue pas-pasan sekali.

Udah dulu ya, awas jangan ngaca lama-lama.

Buku Seri Tokoh Dunia

#CeritaDariKamar Hari Kesepuluh



Buku Seri Tokoh Dunia tersebut semuanya dibelikan oleh Bapak sejak saya masih Sekolah Dasar.
Beberapa sudah hilang, tinggal tersisa beberapa buku seperti pada gambar diatas.
Isinya cerita bergambar berisi tentang kisah para Tokoh Dunia sejak masa kecil mereka hingga saat mereka 'tiada'.
Seperti Plato seorang Filsuf Yunani, Walt Disney yang sangat Kreatif, Leonardo da Vinci pelukis pemilik senyum misterius Monalisa, Al Khawarizmi matematikawan ulung pertama, Wolfang Amadeus Mozart Penggubah Musik, juga Albert Einstein sang Ilmuwan Ternama.
Mempelajari kisah-kisah mereka begitu menarik, meski dahulu ada beberapa poin-poin cerita yang saya tidak mengerti.

Mereka semua orang-orang hebat yang dikenal dunia, ada beberapa dari mereka yang mempunyai latar belakang keluarga yang tidak sempurna atau memiliki masalah kesehatan.
Kekurangan-kekurangan tersebut mereka semua jadikan sebagai kelebihan.

Mengenal banyak orang-orang hebat, dan tau kisah-kisah mereka sedikit banyak mempengaruhi cara berfikir seseorang. Tapi gak lantas membuat mereka menjadi seseorang yang hebat juga.
Karena yang hebat itu kalau kita bisa mempraktekkan semua teori yang kita dapatkan dari mereka, malah kalau bisa menciptakan teori baru yang dikenal dunia.

#LagiSerius

Gunting

#CeritaDariKamar Hari Kesembilan


Gunting. Salah satu benda yang sangat berguna.
Biasa dipakai untuk membuka bungkusan makanan seperti Indomie, memotong kertas menjadi beberapa bagian, atau memotong poni yang sudah kepanjangan.
Aa' beberapa kali mencukur rambutnya sendiri di kamarnya menggunakan gunting, dan saat ibu mengetahui hal tersebut beliau akan memarahinya.
Gue sendiri, gak pernah senekat itu motong rambut sendiri- paling motong poni yang udah kepanjangan dan gak enak dipandang, itu juga udahannya nyesel--'

Alhamdulillah selama ini gunting tersebut gak pernah dipergunain buat hal-hal yang membahayakan kok. Kaya motong urat nadi (Ewh. Gak akan lah ya.) Atau gunting-gunting foto mantan.

Gunting tersebut paling sering digunakan untuk memotong-motong tubuh kertas.
Memisahkannya menjadi beberapa bagian.. Korban-korbannya beragam mulai dari majalah, artikel internet atau foto.
Menggunting-gunting kertas begitu mudah dilakukan, tapi sekali dilakukan gak akan bisa kembali seperti bentuk yang semula.
Mengguting kertas tidak akan menciptakan luka atapun meninggalkan noda darah jika kita hati-hati melakukannya. Sama ketika meninggalkan kenangan masa lalu yang tajam.. UrGh.

...

Maafkan keterlambatan postingan ini, maaf buat diri saya sendiri.
Saya ikut #CeritaDariKamar supaya lebih konsisten terutama dalam menulis.
Mengecewakan ya.
Tapi saya sedang mencoba mengejar ketertinggalan saya dibanding yang lainnya. Hehe semoga bisa!

Sabtu, 10 Agustus 2013

Minyak Kayu Putih

#CeritaDariKamar Hari Kedelapan

Postingan ini seharusnya diketik dan dipublikasikan pada saat Hari Raya Lebaran kemarin.
Ada beberapa alasan, diantaranya keterbatasan waktu dan kelelahan setelah pergi seharian.

Ah iya, Mohon Maaf Lahir Batin.


Hari Lebaran selalu menjadi hari yang dinantikan. Ada banyak alasan kenapa orang-orang begitu menantikannya.

Salah satunya adalah berkumpul dengan keluarga besar, hal yang mewah bukan?
Saya bukan tipe orang yang senang berkumpul dengan banyak orang yang tidak begitu akrab dengan saya, rasanya canggung dan saya selalu merasa serba salah dengan penampilan dan kehadiran saya. Berlebihan mungkin :|.

Tapi meskipun canggung, rasanya hangat dan menyenangkan. Pertanyaan-pertanyaan singkat tentang kehidupan masing-masing, juga basa basi pasti seperti 'udah gede ya kamu sekarang, dulu masih ditimang-timang.'..
Dikelilingi orang-orang yang 1 pohon keluarga dan berhubungan darah pada tubuh kita.. Berbagi canda dan kabar lewat beberapa patah kata.

Hangat. Layaknya menggosokkan minyak kayu putih pada bagian-bagian tubuh saya.
Dan saya rasa, saya bukan satu-satunya orang yang mencintai kehangatannya.
Meskipun begitu, ada salah seorang teman kelas saya saat SMP begitu membenci dirinya, mungkin pada baunya..

Sayapun sebenernya begitu. Meskipun tidak terlalu menyukai bebauan pada dirinya, kehangatannya begitu membuat saya nyaman.
Dan rasa nyaman, membuat kita melupakan kekurangan-kekurangan pada dirinya.


Rabu, 07 Agustus 2013

Patrick Star!

#CeritaDariKamar Hari Ketujuh


Patrick Star. Salah satu tokoh dalam serial kartun SpongeBob SquarePants.
Wujudnya adalah bintang laut berwarna pink yang setiap harinya bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana hijau bermotif bunga-bunga.
Patrick tinggal di sebuah rumah batu, dan mempunyai ayah-ibu juga kakak perempuan.

I'm addicted to Patrick Star.
Setiapkali menonton serial kartun tersebut, Patrick begitu menyita perhatian gue.
Rasanya mata gue ikut berbunga-bunga layaknya langit Bikini Bottom setiap kali melihatnya.
Tingkahnya yang kadang polos-polos berbahaya. Dan perkataan yang keluar dari mulutnya begitu apa adanya dan mempesona. Dan lagi, dia begitu setia pada sahabatnya.
Gue amat suka.

Boneka Patrick tersebut gue dapatkan dari Ibu, ketika gue SD.
Dia gue tempatkan di sisi tempat tidur gue atau kadang di rak buku gue.
Gue normal aja kok memperlakukan dia, gak gue ajak ngomong atau main UNO, paling gue peluk atau gue ajak foto hehe.

Suatu waktu gue pernah kehilangan dia, rasanya gue sudah mencarinya kemana-mana, ke setiap sudut yang memungkinkan di Rumah.
Terakhir kali, Ibu menyuruh gue untuk mencucinya- tapi setelah itu entah kemana.
Gue sempat menyerah, tapi ternyata kami memang 'berjodoh'.
Boneka Patrick ini ditemukan kembali bersama boneka-boneka lama gue lainnya di dalam lemari baju nenek gue di kamarnya. Gak ngerti kenapa- jangan tanyakan gue.
Kalo gasalah nenek gue emang gak begitu suka sama boneka. Tapi boneka Patrick ini kan lain adanya..:( Jauh dari kata seram. Dan kalaupun suatu malam dia hidup seperti cerita di Toy Story, rasanya tidak apa-apa..

Oiya, Boneka Patrick ini masuk list barang-barang yang bakal gue bawa kalau gue jadi kuliah di Kota Lain! Emang sih masih 2 tahun lagi..

Umm. Patrick memang seekor bintang laut yang fiksi, tapi sosoknya begitu berarti. Dan.. Mengutip dari postingan gue pada bulan april lalu :
Dari kecil gue selalu menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan bintang. Mulai dari bintang-bintang di langit, bintang laut pink, seorang bintang film.
Dan gue selalu berharap, gue dapat menjadi seorang bintang.
Suatu hari di masa depan, seseorang menyadari keberadaan gue di masa lalu.
Mencintai dan menghargai sosok gue.
Meski sosok gue tersebut sudah lama mati.
Dan gue ingin, kehadiran gue bisa menimbulkan harapan bagi hidup seseorang.
Harapan apapun itu. Harapan yang mereka panjatkan diam-diam dalam hati, dan berusaha mereka gapai setiap hari.....


Tyas Hanina

Selasa, 06 Agustus 2013

Buku Dongeng

#CeritaDariKamar Hari Keenam
Buku-buku dongeng tersebut berukuran kecil, dan disertai ilustrasi pada beberapa halamannya.
Pemilik buku tersebut yang asli adalah Kakak perempuan saya, dia mendapat buku-buku dongeng tersebut dari Bapak. Bapak membelinya untuk menghiburnya karena ketika itu kecelakaan membuat dia harus memakai kursi roda & tongkat dalam beberapa saat.
Waktu itu dia masih menjadi murid SD dan saya masih bayi.

Sebenarnya, jumlahnya lebih dari jumlah buku yang ada dalam foto tersebut. Entah dimana keberadaan yang lainnya- mungkin tertumpuk di sudut gudang bersama buku-buku lama.
Empat buku yang kini tertumpuk di rak buku saya pun keadaannya sudah tidak lagi sempurna. Ada beberapa halaman yang terobek, ada yang tercoret pensil warna, ada juga halaman yang hilang entah kemana.
Meskipun buku tersebut sudah usang, tapi cerita-cerita tersebut tak pernah menghilang dari ingatan saya. Saya merasa senang sekali membaca cerita dongeng- memvisualisasikan gambaran cerita, membayangkan menjadi bagian dari tokoh cerita, melafalkan mantera, dan lain-lainnya. Begitu banyak hal ajaib yang saya temukan di dalam dunia dongeng.
Seperti bagaimana sebutir biji kapri bisa membuktikan kesejatian seorang Putri, kecerdikan sebuah kue jahe, persaudaraan 3 babi kecil, dan bagaimana mantra sang raksasa di kisah Jack dan Pohon Buncis.

"Bili, bili, bulu, bang, kucium darah orang! Aku suka roti, dari gilingan tulang!"

Dunia dongeng memang luar biasa, seakan apapun bisa terjadi disana.
Sayangnya, saya hanya bisa menengoknya dari cerita-cerita yang tertulis di buku atau ketika saya memejamkan mata dan membayangkan berada disana.

Jadi, jika kalian bisa pergi ke dunia dongeng- cerita mana yang akan kalian pilih untuk jalani?



Tyas Hanina