Pages

Sabtu, 10 Maret 2018

“Lu lebih percaya omongan orang yang gak pernah ngobrol sama lo lebih dari lima menit apa gue yang ngabisin waktu sama lo terus?”

(Omelan depan pagar rumah, 2015)








*P.S
Thankyou, I need that.

Kamis, 01 Maret 2018

ya juga ya


"Lu ngerasa ga sih, pas kuliah, semua orang kok rasanya pinter-pinter amat.. lebih jago ngomong, baca lebih banyak buku, dan lain-lain.."

"Engga. Pas kuliah, gue malah nyadar kalo semua orang sama, gak tau apa-apa."



(@Warung ayam pedas saus keju, 2016)
Memasuki semester tua, semakin sedikit jam kuliah di dalam kelas. Waktu perkuliahan akan habis di lapangan, untuk latihan atau berpura-pura jadi jurnalis dalam kurun waktu beberapa bulan kedepan.

(Ngomong-ngomong, aku kangen nulis di blog ini dengan format diary anak SD. Hehe.)

Dear diary, hari ini aku ada kelas Kapita Selekta Jurnalistik. Aku gak paham apa makna di tiap patah kata mata kuliah ini sebenarnya. Apa itu kapita, maksudnya selekta bagaimana, dan, bahkan pengertian Jurnalistik yang udah jadi makanan sehari-hariku selama hampir 3 tahun ini.

Aku lupa ngerjain pekerjaan rumah, dan males juga buat ngerjain di dalem kelas. Aku malah asik main ular tangga yang jumlah kotaknya ada 104 dan garisnya mengsong-mengsong bareng Dedot. Permainan ular tangga kami berhenti di menit yang entah berapa, tanpa menemukan pemenangnya.

Dosenku (yang namanya tidak bisa kusebutkan di sini agar tulisanku terkesan misterius) akhirnya mengecek pekerjaan rumah satu persatu. Tiba giliran Dedot, yang hanya menjawab dengan cengiran khasnya, tapi setelah Dosenku berpaling darinya.. Dedot sibuk scroll linimasa instagram, melihat-lihat profil jurnalis foto kesukaannya.

Aku ingat, waktu semester satu, ketika ditanya mau jadi jurnalis macam apa, Dedot bilang dia pengen jadi jurnalis perang. Terdengar naif bahkan sampai sekarang. Tapi siapa yang tau? Lagipula saat itu dan sampai saat ini kita masih pura-pura toh jadi jurnalis? Jadi, ya gak perlu lah membatasi kepura-puraan ini.

Aku kira, nasibku akan sama mujurnya seperti kelas 2 SMA dulu, ketika guru matematikaku selalu menganggapku kasat mata. Mungkin aku dianggapnya tidak tahu apa-apa, atau justru paling tahu apa-apa. Entahlah. Namun, yang jelas hari ini aku tidak semujur itu.

"Saya belum kepikiran apa-apa, Bu."
"Selama seminggu ini gak kepikiran apapun?"
"Belum, masih ngawang."

Teman-temanku tertawa, ya itung-itung meramaikan suasana. Aku gak lantas scroll portal berita atau media sosial. Aku cuma duduk diam sambil mengelap hidung. Otakku bebal tidak bekerja dan memproduksi ide, malah hidungku yang giat memproduksi ingus.
Salah seorang teman mencolek bahuku, dan menyarankan satu dua topik bahasan. Tidak ada yang benar-benar membuatku penasaran.

-

Alih-alih menulis kronologi hariku yang biasa-biasa aja, harusnya aku riset topik penelitian yang katanya bakal lanjut jadi skripsi ini. Atau, daripada membuang-buang energi, pergi tidur saja lah.
Namun, aku tidak mampu. Usahaku untuk terlelap pergi ke jalan buntu. 

Aku gak bisa mengatakan aku tergila-gila dengan kegiatan ini. Tapi, sialan, aku tidak bisa berhenti kepikiran.
Kenapa ya dulu aku memutuskan untuk latihan jadi jurnalis?

-

Aku pernah bercerita sekilas di sini. Tentang sahabat pena yang kudapat dari salah satu majalah anak dan kaitannya dengan kelahiran blog ini.

Aku pengen nulis, menyentuh kehidupan seseorang bukan lantas untuk mengubahnya (karena mungkin selamanya aku tidak akan cukup istimewa untuk melakukan itu). Tapi, aku ingin sentuhanku itu buat aku merasakan banyak hal.

Sejak kanak-kanak, aku merasa media massa bisa membuatku jalan-jalan ke mana saja. Tidak secanggih baling-baling bambunya Doraemon sih, tapi aku merasa cukup dengan sulap yang kutemukan di lembar-lembar majalah itu.

Anak-anak, perempuan, petani, laki-laki, tukang kue, guru, atau orang utan sekalipun bisa kurasakan sentuhannya dari media massa. Dan, aku ingin suatu waktu menyentuh mereka atau orang lain yang membacanya.

Mungkin jawabannya sesederhana itu.
Gatau sih.
Hehe.
-
 
Sepertinya aku harus buru-buru pergi tidur. Bukan karena ngantuk, tapi karena 6 jam dari sekarang aku harus kembali pura-pura jadi jurnalis lagi. Kepura-puraan itu menguras energi.

Tadi, di jalan buntu, waktu kuarahkan senterku. Ada beberapa petunjuk yang tertulis di temboknya. Gak bisa kutuliskan di sini. Karena kalo gitu, aku bukannya nulis catatan harian, tapi buat rancangan penelitian.


Udah ah, aku mau tidur.
Semoga aku mimpi ketemu Bona dan Rong-Rong.

Besok, atau lusa, atau minggu depan, aku akan nulis catatan harian lagi.






Jatinangor,



Tyas Hanina

Rabu, 21 Februari 2018

Nostalgia: Cita dan Cinta



"Memories Come Tumbling Down"

A twenty-seven-year-old office worker travels to the countryside while reminiscing about her childhood in Tokyo. 


“Pada suatu hari yang biasa-biasa saja, kamu dan teman-teman masa kecilmu bermain untuk terakhir kalinya. Dan tiada seorang pun dari kalian yang menyadarinya.”

Begitulah kira-kira bunyi tweet yang kubaca sore tadi. Perihnya serupa dengan luka goretan cutter yang lahir dari kecerobohanku.

Selasa, 13 Februari 2018

Tinggal Landas

Halo, Tyas.
Jangan lagi buru-buru ingin kembali ke masa lalu. Dilarang juga untuk berlambat-lambat berjalan ke masa depan.
Berdamailah pada dirimu sendiri. Sayapmu tidak akan pernah genap jumlahnya, bulumu tidak akan pernah satu warnanya. Kamu tetap tidak istimewa, tapi itu tidak apa-apa.
Terbanglah.
Ke mana pun yang kamu mau. Setinggi apapun yang kamu mampu.
Terbanglah.
Setiap kali dapet kesempatan buat nulis di blog ini, rasanya kaya ketemu sama temen lama.
Ada rasa canggung yang terselip, kadang-kadang.
Bahasan masa lalu emang selalu kedengaran seksi di telinga, tapi ya hanya sebatas itu, gak pernah semenggairahkan dulu.

Ketemu sama temen lama, selalu terasa mendebarkan. Setiap kali pulang ke rumah masing-masing, rasanya ada sebagian dari diri gue yang tertinggal di pusaran waktu.

-

Udah berapa tahun ya gue nulis di sini? Rasanya udah lama banget.
Dari sekian banyak hal yang gue bayangkan tentang masa depan, rasanya cuma ini yang bener-bener gue betah kerjain. Walau gak seharian juga. Nulis.

Dari dulu gue selalu mencoba cari aman dalam bermimpi. Sampai di tahap gue gak pernah bener-bener ngomongin apa yang mau gue lakukan di masa depan sama orang lain.
Gue punya krisis kepercayaan diri, sebuah pujian bisa jadi malah menjatuhkan prasangka gue kepada diri gue sendiri.
Gue setengah mati benci dibilang penulis waktu SMA, tapi nyatanya gue gak bisa berhenti menulis hingga saat ini.

Dulu gue pengen banget jadi komikus. Pernah marah sama seorang teman karena menganggap remeh komik. Namun, entah pada titik yang mana gue menyerah. Jemari gue rasanya gak diciptakan buat menggambar outline dan mewarnai. Gue gak pernah lagi menyentuh buku gambar kecuali untuk keperluan tugas sekolah ketika SMA.
Penghujung tahun yang lalu, seperti biasa gue melewatkan waktu luang untuk duduk sendirian di kedai kopi langganan Bokap. Gue menggambar pizza karena saking kepinginnya tapi gak punya uang lebih buat makan. Setelah posting di media sosial, tiba-tiba gue kepikiran. Lah, udah lama juga gak gambar, dan rupanya gak seburuk itu? Gambar pizza gue terlihat menggoda, sampai gue bisa membayangkan lelehan keju mozarella di atasnya. Dari titik itu, gue melanjutkan perjalanan untuk kembali menggambar.

Gue inget Kakak sampe mengirim pesan, "gue baru tau lo bisa gambar."
Sebenernya, gue juga baru tau. Dari situ gue hampir setiap hari menggambar, nyontek-nyontek dari Pinterest, atau google, atau apapun yang menarik perhatian gue. Dan, astaga, rasanya menyenangkan.
Gue gak tau kenapa gue bisa melewatkan kesenangan ini selama bertahun-tahun.

 -

Gue udah capek buat nulis tentang Peterpan Syndrome yang gue alami. Gue ngerasa alih-alih jadi seorang realis karena sadar diri sudah menua, gue justru jadi pesimis karena menganggap kesempatan gue mengecil seiring berkurangnya usia gue.
Padahal, nyet, baru 20 tahun hidup, masih banyak pintu yang rasanya belum gue buka. Bahkan belum diketuk. Gue udah keburu menciut, serasa gak sengaja ngikutin kelinci berkacamata dalam Wonderland.

Belakangan ini, lagi rame banget komik lokal di instagram yang ngangkat tema ketemu sama diri sendiri pada 10 tahun yang lalu. Gue udah pernah nulis hal yang serupa, tapi isinya cuma nostalgia. Kalo saat ini gue bisa nulis surat buat diri gue 10 tahun yang lalu, gue malah ngerasa bangga. Dan, yah, diam-diam menyimpan iri dalam dada.
Gue iri sama Tyas yang gak takut ngelakuin apa-apa. Dalam artian, bebas ngelakuin apa aja.

Sulit merasa bangga ketika jadi orang dewasa. Akan selalu ada orang yang terlihat terbang lebih tinggi daripada kita. Setiap kali bercermin, mbok ya, rasanya hidup gini-gini aja? Seringkali lupa, bahwa setiap orang menyimpan ritmenya masing-masing.

Dan, persetan dengan kata motivasi kalo kamu spesial. Siapapun spesial. Dan, tidak ada yang spesial tentang itu.
Gue berhenti menganggap diri gue spesial entah dari berapa waktu yang lalu. Tapi, gue merasa gue baik-baik saja tentang itu.

-

Kalo dikasih kesempatan buat membawa senjata sebelum jadi orang dewasa. Gue pengen bawa rasa percaya diri gue waktu kecil.
Kalo suka gambar, ya gambar aja, gak usah peduli garisnya gak rapi atau arsiran warnanya gak sepadan. Kalo suka nulis, ya nulis aja, gak usah takut tulisan tanganmu acak-acakan atau puisimu gak masuk majalah langganan. Kalo suka baca, ya baca aja, gak usah pusing bacaanmu beda dari orang lain, toh setiap orang punya minatnya masing-masing.

Gue pengen bebasssss ngelakuin apa aja tanpa ada beban harus jadi yang nomor satu, setidaknya buat diri gue sendiri. Kalo suka ya suka aja, emangnya perlu jadian? Lho lho lho gak gitu ya.

-

Tulisan ini berantakan banget. Plotnya kelempar sana sini. Sama seperti cerita-cerita yang biasanya gue bagikan ke temen lama. Tapi, gak masalah, gue gak pernah butuh konklusi dalam cerita gue, dan gue yakin temen lama gue juga begitu.

Sebelum bangkit dari kursi dan kembali berpisah di persimpangan jalan bersama temen lama ini, gue pengen menutup perbincangan kita dengan sebuah harapan.
Bukan lagi sebuah angan untuk memberhentikan waktu atau kembali ke masa lalu. Harapan ini masih mungkin terjadi tanpa perlu mesin waktu.
Semoga. Anak kecil di dalam diri kita tidak pernah menghilang.


Jatinangor,


Tyas Hanina 

Senin, 15 Januari 2018

banyak suara lalu lalang tentang larangan untuk menjadi egois. menempatkan diri dalam urutan prioritas tertinggi.

laksana bumi yang katanya sibuk berotasi, mengelilingi matahari. aku, hanya satu dari sekian planet yang bertahan hidup dengan berserah diri pada pusat semesta. kalau suatu waktu aku nekat berhenti, bahkan untuk sementara saja melirik galaksi tetangga atau menarik napas setelah lelah berevolusi, orang-orang mungkin akan kesulitan dan perlahan membenciku.

tapi, kalau benar aku ini bumi. lantas siapa yang berperan menjadi matahari? mengapa aku harus menyusuri jalur rotasi tanpa henti sedangkan ia bisa anteng saja tapi tetap bersinar? dengan cemerlang pula?

tulisan ini barangkali hanyalah bukti bahwa aku juga bisa memenangkan egoku sendiri. merasa memegang peranan penting, merasa orang lain akan kesulitan kalau aku berhenti jadi bumi.

padahal, mungkin saja aku ini matahari. yang diam-diam iri pada planet-planet yang sibuk melalang lintang memutariku. sedangkan aku cuma bisa berserah pada tangan nasib, seraya tetap bercahaya, karena kalau sinarku redup lagi-lagi aku bisa jadi pihak yang dibenci. aku tidak ingin jadi antagonis.

barangkali peran bumi dan matahari itu tidak ada. hanya mitos yang berkelindan dalam akalku yang sepi.
mungkin aku terlalu sibuk menghitung waktu rotasi. saat ini pukul 11 pagi, atau siang. masih ada 13 jam lagi sebelum aku kembali ke titik awal rotasiku.
air mata sudah kering di pipi, mataku panas oleh sebab yang entah apa, mungkin karena aku kurang kenyang menelan tidur semalam.

aku mau tidur. tuk sejenak beristirahat dari revolusi. tuk sementara meredupkan sinarku yang tak seberapa.
lagipula aku tidak benar-benar berhenti; sinarku juga tak mungkin mati.

aku butuh pelukan. demi tuhan.

Kamis, 28 Desember 2017

I always have the urge to write when i’m reading, and the urge to read when i’m writing.
It's the same feelings i got when i’m in front of the sea. The sunbeam reminds me of people. Yet, i always found myself longing for the waves when i’m being surrounded by them.

We tend to appreciate something when we were no longer with them.

When our time comes to an end.


-

But, i don’t think i will ever feel the same way about you.




(Cipatujah,
pada penghujung tahun 2017)

Sabtu, 25 November 2017

ini mungkin kedengeran gila, tapi aku kangen ngerjain PR matematika

-

dari mulai tambah, kurang, bagi hingga kali
segelimpangan angka selalu kuanggap misteri yang harus dipecahkan setiap hari

pernah aku sampai menangis tersedu-sedu, lalu ditertawai ayahku
pernah juga wajahku merah padam, karena guruku tidak percaya aku mengerjakannya hampir sempurna. hih liat saja nanti hasil ujianku, ujarku pongah, dalam hati tentunya

-

aduuuuuh, buyung
aku rindu ngerjain tugas matematika
lukis puisi dari angka
nulis gambar tentang rumus
sampai gila, sampai mampus

seakan-akan yang paling merana, sekonyong-konyong merasa nestapa

-

aku rindu masa ketika masalah hidupku hanya PR matematika saja

kalau kesulitan aku tinggal mengaduh sampai gaduh. ditertawai bapak. dibeliin cokelat sama aa. berebut tempat sama dinginnya ubin rumah karena ngerjainnya sambil telungkup di depan TV yang lagi nayangin dangdut academy.

astaga, kenapa aku terlalu cepat tumbuh dewasa?

Minggu, 19 November 2017

Resensi Buku "Pagi yang Miring Ke Kanan"



Antalogi Cerpen Tentang Kebebasan

Sumber gambar: bukalapak

Judul: Pagi yang Miring Ke Kanan
Penulis: Afrizal Malna
Cetakan: Cetakan Pertama, Mei 2017
Penerbit: NYALA
Halaman: 267 halaman
Harga: 75.000




Sabtu, 18 November 2017

tentang lima tangkai mawar biru tak bertuan

Sudah layu.
Sedikit kecewa meski tahu benar usianya tidak akan panjang.
Padahal dia datang bersama selipan doa untuk usiaku yang sudah satu dasawarsa.

...

Aku heran sekali waktu ada yang datang, mengetuk pintu lewat sebaris obrolan singkat di LINE, tau-tau membawa kabar bahwa ada yang memberiku bunga.

Kok bisa-bisanya ada yang iseng mengirimiku bunga? Sebagai hadiah ulang tahun pula?
Begitu sampai kamar, aku langsung meletakannya di atas meja dekat jendela yang hampir tidak pernah kubuka. Secarik kertas berisi 3 potong kalimat pendek aku ambil dari dalam plastiknya, aku letakkan di kotak surat sebagai pengingat.

Lucu, ternyata ada orang yang mengingatku waktu lihat mawar biru.

...

"Kalo ampe ada yang ngasih lu bunga, gue ketawa banget sih yas."
"Gue aja gak suka bunga."
"Iya, makanya! Kasihan yang ngasih."
Percakapan singkat itu masih terekam di ingatanku, kala itu aku masih pake rok abu-abu.

Aku selalu merasa orang-orang terlalu meromantisasi bunga. Apalagi mawar.
Kalau-kalau aku punya kuasa untuk memilih hadiahku sendiri. Aku akan memboikot bunga mawar dari daftar pilihannya.

Aku sampai sekarang masih gak tahu bunganya harus ku apakan. Disimpan terus sampai kelopaknya gugur satu-satu kah? Diawetkan pakai formalin kah? Dilaminating tiap kelopaknya kah? Atau dengan penuh kesia-siaan dan harapan dia akan tumbuh lagi, aku kasih minum air dingin setiap hari kah?

Tapi, dia toh udah mati kan, kala pertama orang ini memutuskan bahwa mawar ini menjadi hadiah ulang tahunku. Sudah mati, diwarnai pula mayatnya, aduh! Aku merasa bersalah.
Karena itu, aku ingin mengabadikannya lewat tulisan.

...

Dasar, gak tahu terimakasih!

Tunggu dulu, jangan ajak aku berdebat. Logikaku sedang kepayahan untuk mengeluarkan argumen dengan runut. Aku lagi-lagi hanya bisa memborbadir kamu (yang mungkin pengirim iseng ini) dengan perasaanku yang coba kususun rapi lewat paragraf.
Sulit menulis sesuatu ketika senang. Karena itu, aku tidak menuliskan surat balasan ini pada hari itu.
Teman-temanku sibuk membuat kuis tebakan siapa pengirimnya. Mungkin si anu Yas yang suka dengerin siaran radiomu, mungkin si ono Yas yang bikin kamu kehujanan di hari ulang tahunmu.

Huh, sok tahu! Aku saja gak mau cari tahu.
Orang dia udah susah-susah kok menyembunyikan identitasnya makanya gak nyantumin nama, mbok ya, usahlah diikut campuri rahasianya ini.
 ...

Suratmu masih suka kubaca berkali-kali.
Hangat sekali ucapan selamat ulang tahun yang terkesan terburu-buru dan dibubuhi tanda seru itu.
Aku masih kesulitan untuk merawat bungamu yang kian layu, maafkan aku.

Guru IPAku waktu SD pasti kecewa melihatku yang tak mampu menjaga kelestarian lingkungan.
Habis ini, aku pasti dikasih pekerjaan rumah, disuruh nanem tauge di dalam kapas.
Sedikit lega, karena aku sudah jadi anak kuliahan.

Maaf ya, aku suka ngobrol ngalor ngidul lewat tulisan. Aku tadinya hanya ingin mengucapkan sepaket terima kasih agar pemberianmu bisa abadi.

Ngomong-ngomong, aku ingin titip pesan.
Lain kali, jangan kasih aku bunga mawar, aku sebenarnya lebih suka bunga matahari. Dulu biru memang warna favoritku, tapi kini aku lebih sayang warna kuning.

Haha. Ngelunjak ya. Makin nyesel gak udah buang-buang uang jajanmu demi aku dan bukannya buat beli siomay?





Tyas Hanina

Kamis, 26 Oktober 2017

Sudahlah



Akhirnya hari ini datang juga.

Mampus aku.
Pagi-pagi, bangun dari tidurku yang kurang panjang, aku sudah misuh-misuh.

Rasanya ada yang mengganjal.
Aku merasa kakiku gak melangkah sebagaimana mestinya, telapaknya gak napak, tanah cuma jadi ilusi. Seharian ini aku melayang.
Pertemuan-pertemuan organisasi tak satu pun ku hadiri. Dicap pembohong dan gak profesional, tak apa. Memang salahku, salahku yang tak bisa mengarahkan hatiku untuk berangkat ke mana. Akhirnya malah beli mangga di pasar raya.

Hujan datang tanpa bercanda. Tanpa tegur sapa.
Aku gak suka. Sepatuku jadi basah. Semprotan antiseptic buat pembersih tangan jadi sering habis karena kupakai di kaki. Telapak kakiku jadi berkerut dan bau jeruk nipis.
Untungnya, aku selalu ingat untuk bawa payung lipat dari ayahku. Jadi, jarum air itu sekiranya gak bakal menyakiti kepalaku secara langsung.

-

Rupa-rupa rasa, ragam-ragam warna.
Aku marah, senang, takut, bahagia, capek, dan girang sekaligus.
Aku menunggu-menunggu chat yang kosong pada hari ini. Kecuali, dari akun-akun resmi di LINE.
Namun, ekspektasiku salah. LINE malah dengan lancangnya ngasih tau ke teman-temanku ketakutan terbesarku. Emang kurang ajar ya teknologi itu.

Untungnya, tiada pesta pora.
Senang, hari ini aku bisa menyelamatkan lingkungan. Tidak ada balon gas yang diterbangkan, juga tidak ada bunga mawar yang dipetik untukku hari ini.
Meski nyatanya wajahku mencemari lini masa teman-temanku. Maafkan untuk itu, aku kehilangan kuasa di sana.

-

Salah seorang teman memberikan bingkisan.
Sebuah gincu berwarna merah jambu juga dua halaman surat tentang pencapaian di setiap usiaku.
Aku sama aja kok kaya orang kebanyakan. Girang kalo dapet bingkisan. Dikasih es krim seharga biaya parkir di fakultasku saja sudah cengengesan.
Lebih-lebih dikasih doa dan ucapan, “Jangan takut bertambah tua.”

Sialan, maskaraku masuk ke mata. Air mata juga sisa-sisa air hujan berebut tempat.
Jangan takut, katanya.

Rekanku yang lain protes.
Makanya, usahlah kamu heboh melentikkan bulu matamu, heboh merah-merahin pipimu.
Ora pantes. Berhentilah mencoba jadi semakin perempuan.
Aku protes, “Lah, memangnya kamu pikir selama ini aku dandan buat nyenengin matamu?”

Dia tidak tahu, hari ini aku bisa saja menerbangkan gunung kalau aku mau.
Rasa takutku terlalu besar. Ditambah mendengar ucapannya yang ngasal.
Lihat saja, besok pagi aku akan kuliah dengan gincu merah jambu super tebal! Bulu mataku akan melengkung sampai menyentuh ubun-ubunku kalau perlu! Wekkkk.



Jatinangor,


Tyas Hanina

Senin, 02 Oktober 2017

Setelah ini, aku ingin titip pesan
Sedikit saja, untukmu

Tolong, jangan ingat hari ulang tahunku.

Jumat, 22 September 2017

untuk seorang teman yang sudah pulang

sebab, kehilangan tak pernah mengenal kata permisi
juga gemar bersembunyi di balik kelopak matamu

sebab, langit kadang tak bisa diprediksi
juga gemar mengejek rencana dan ekspektasimu

hari ini biru. besok kelabu. lusa ragu-ragu

aspal jalanan masih tetap keras, truk-truk pasir masih suka melintas
debu-debu tronton memenuhi ruang udara
menempel pada sisa-sisa bedakku yang sudah luntur
juga di helm mahalmu yang kau bawa ke mana-mana

-

malam itu, aku makan di restoran yang penuh asap
di simpang ruang kecamatan yang pengap

membicarakan kamu, tak lupa mendoakan keselamatanmu

satu-dua-sepuluh tusuk sate diletakkan di meja
tersisa sambal yang hampir tak ku sentuh
lalu, aku keluar restoran sembari mengelus perut

jarum air mulai turun dari langit yang miskin bintang
tanganku terbentang
berteriak memanggil kawan yang sedang berbincang dengan petugas kasir

"gerimis!"

aku tak tahu saat itu kamu sedang berjuang

-

Kamis, 22 September 2017


kamu lelap tertidur
tak lupa menyimpan senyum di wajahmu yang kian pucat
debu-debu jalanan sudah dibersihkan
istirahatlah yang tenang

jangan lagi khawatir tentang tugas abang
juga rencana Makar di pantai

di perjalanan pulang, ambillah doa kami sebagai bekalmu

satu-dua-sepuluh kenangan bersama
potret-potret yang kau ambil saat orientasi semester empat
pura-pura jadi penculik saat semester tiga
berbaris bersama di belakang gedung lima saat semester dua
rambut dipangkas habis saat semester satu

juga sisa-sisa tugas kelompok yang terpaksa kami selesaikan bersama, tak apa.



hati-hati di jalan, kentung!



(Tulisan ini dibuat untuk mengenang keluarga kami, M. Restu Fauzi - K1A15)

Kamis, 07 September 2017

Selamat malam! (Eh, atau selamat pagi?)

Maaf akhir-akhir ini aku asik sendiri dengan hidupku, sampai jadi tidak sempat untuk sekedar mengabarkan momen yang terjadi dalam semestaku.
Hm apa ya, yang segera harus kulaporkan?

Ah ya, baru kemarin aku menyelesaikan bukunya Putu Wijaya. Judulnya "Nora". Nora yang tidak pakai k, bukan norak. Tapi, memang tokoh utama wanitanya si Nora-Nora itu agak Norak sih digambarkannya. Ah bodo amat, tapi aku suka!
Jangan takut dulu kalau kamu baca tulisan "bacaan khusus dewasa" di sampulnya.  Ini bukan kisah stensilan kok. Percayalah padaku.

(Oh ya, kalau kamu mau menengok daftar bacaanku bisa di sini ya)

-

Terus, yang tidak kalah penting.
Aku baru saja selesai menulis, tapi tidak ku posting di sini.

Yah kenapa? Kecewa yah?

Maaf-maaf. Bukan maksud hati mendua, hanya saja ternyata asik karena medium berceritaku semakin luas! Hehe.

Aku dapat banyak kenalan yang tidak kenal-kenal amat di sana. Tulisannya bagus-bagus. Diksiku jadi makin kaya!
Aku senang baca-baca tulisan mereka ketika aku lagi bengong-bengong di kereta. Kamu harus coba.

Oh iya, nama medianya itu medium.


-

Aku masih gini-gini aja kok,
mata dua hidung satu. Gak ada bagian dari tubuhku yang bertambah jumlahnya.

Eh gatau sih bagaimana kabar kerutan di jidat dan bulu-bulu halusnya.

Pokonya, aku masih aku yang sama.
Aku yang suka bercerita di blog ini, aku yang suka bercerita pada dinding kamar.
Hanya saja, setelah hampir 3 tahun kuliah, aku belajar bahwa aku tidak boleh sombong berbagi cerita.
Perluas mediummu untuk bercerita niscaya semestamu akan semakin luas pula.

Hal-hal yang kubagi di setiap media itu pun berbeda. Kalau di sini, karena aku anggap ini adalah sebuah rumah, tempatku bermula dan tempatku kembali pula.. aku hanya akan membagikan hal-hal yang kuanggap pribadi di sini saja.

Begitulah, jadi jangan takut kehilanganku.
Aku masih jadi bagian dari diriku.

Saat ini, dua tahun lalu, sepuluh tahun kemudian.

-

Sebentar, aku haus.
Kapan-kapan aku sambung lagi ya ceritanya!

Selamat ma-
eh pa-

Ah, pokonya selamat membaca! :)



Jatinangor,



Tyas Hanina

Kamis, 24 Agustus 2017

aku ingin mengabadikanmu, tapi takut orang lain tahu

aku mencoba menulismu berkali-kali, tapi
selalu tiba-tiba ingin berhenti

kumpulan frasa yang dipenggal,
berusaha keras supaya bisa dibilang puisi,
terus menerus berlatih agar bisa menginspirasi

lantas, pada suatu sore yang biasa-biasa saja,
tawamu terpingkal oleh sebab yang entah apa,
lalu tulisanku jadi mati, tambah buruk rupa, makin hilang makna

kamu lebih magis,
tulisanku tak mampu menyaingimu bahkan tidak nyaris.

-

diksiku miskin, pikiran pun tak presisi,
lancang sekali aku mengabadikanmu dalam puisi.

Selasa, 18 Juli 2017

ku biarkan kamu jadi anak kecil lagi malam ini,
dan malam nanti bila akhirnya kita bertemu di ruang sempit ukuran 3x4 itu

ku ambilkan bulan jika kau mau,
tapi aku tau kamu tidak serakah mau menyimpan sinarnya sendirian di dadamu yang sedang sering ngilu-ngilu karena batuk.

ku nyanyikan hening kesukaanmu,
namun bila kamu bosan dengan lagu sepi, tak apa, aku akan bercerita tentang nasibku kala berjumpa denganmu di hari yang biasa-biasa saja.


-

ku abaikan kau sampai kau lengah,
lalu lelah,
lalu marah.

dan bila nanti, kamu mulai memalingkan wajahmu dariku,
dan memilih beradu pandang dengan tembok kamarku,

aku ciumi pipimu,
sampai habis rona merah mudanya.
sampai sirna bedak-bedak mahalnya.

-

ku peluk kau sampai tulangku berderik,
ingin ku biarkan para cicak berdecak sirik.