Pages

Jumat, 16 Agustus 2013

melancholy night

Sungguh, tak mudah.
Membahas tentangmu tanpa bernada sendu.

Kadang, aku ragu. Haruskah aku melanjutkan bahasan ini, dan membiarkan rindu menyesaki pikiranku.
Aku takut, seseorang menangkap nada getar saat aku menyebut namamu atau menyadari aku melempar pandanganku saat menemukanmu.
Salah tingkah, apalah itu.

Tapi, aku tau. Cerita tentangmu terlalu sesak untuk hanya aku simpan di otak.
Aku memilih melepaskannya pelan-pelan. Kadang lewat tulisan, jarang lewat lisan.

Rasanya lewat tulisan, emosiku bisa sedikit tersamarkan. Tidak ada nada getar atau pandangan mata yang dilempar.

Tapi kata adalah kata. Bisa lebih tajam menyakiti daripada katana.
Meskipun lewat tulisan, meskipun hanya lewat pesan singkat yang dikirimkan.

Itulah kenapa. Aku selalu menahan diri untuk tidak menghubungimu duluan.
Mengirimi pesan, menanyakan kabarmu meskipun aku benar-benar ingin tau dan mengkhawatirkanmu.

Aku memilih menunggu, entah sampai kapan itu.
Karena aku tau, kamu tidak benar-benar lupa.
Hanya saja, saat ini ada orang lain yang lebih kau prioritaskan untuk diingat di kepala.

Setidaknya namaku tersimpan di kontak ponselmu, sehingga ketika aku lancang mengirimimu sebuah pesan.
Kau tau itu dari aku.
Itu saja sudah cukup.


...


Benar kan. Menulis tentangmu selalu bernada sendu.

Kamis, 15 Agustus 2013

Jam Tangan

#CeritaDariKamar Hari Kelimabelas


Rasanya asing, ketika saya harus berpergian tanpa jam tangan yang memeluk pergelangan tangan kiri saya. Rasanya pergelangan tangan kiri saya lebih ringan, dan saya seringkali lupa bahwa tidak ada jam tangan yang memeluknya disana.

Meskipun jam tangan yang memeluk pergelangan tangan saya berganti seiring waktu karena habis dayanya, tapi mereka semua sama-sama membekas kehadirannya. Hanya penampilannya saja yang berbeda.
Favorit saya adalah jam tangan kulit pemberian Bapak, jam-jam yang diberikan olehnya pelukannya begitu pas dan nyaman.
Tidak semencolok jam tangan Ultraman saya memang, tapi justru karena itu saya tidak malu ketika mempertontonkan pelukannya ketika berpergian.

Ketika orang-orang menanyakan petunjuk waktu, saya refleks melemparkan pandangan saya ke pergelangan tangan saya- berharap sang pemberi peluk itu menampilkan penunjuk waktu yang tepat.
Bagaimanapun tugas utamanya adalah memberi penunjuk waktu.
Ketika habis daya baterainya- saya terlalu malas untuk mengganti dengan baterai baru, saya lebih memilih untuk mendapat pelukan dari jam tangan yang baru.

Tapi jam tangan yang lama tidak pernah berpindah tempatnya, tetap berada di kamar saya. Meskipun pelukannya kini tidak pernah saya rasakan, tapi saya memilih untuk menyimpan.

Menyimpan memori dari pelukan sang penunjuk waktu.

Rabu, 14 Agustus 2013

Selimut

#CeritaDariKamar Hari Keempatbelas


Selimut, sebuah benda yang menjaga agar saya tetap merasa hangat ketika tidur.
Saya paling tidak suka ketika kaki saya kedinginan, karenanya selimut begitu berjasa membungkus kaki saya setiap malam- meskipun pada pagi harinya, keadaannya tidak lagi sama.
Saya memang tidak bisa diam ketika tidur, selimut yang tadinya rapi membungkus diri ketika malam hari- pagi harinya sudah mencong sana sini.

Selimut juga saya gunakan untuk menutupi seluruh diri- ketika saya teringat cerita atau hal-hal seram yang saya baca atau tonton pada siang hari.


Meringkuk di dalam selimut, memeluk guling, membaca buku yang belum sempat dibaca, dan telinga yang mendengarkan suara hujan turun dibalik tembok kamar. Merupakan salah satu aktivitas favorit saya.
Sayangnya tidak ada jendela di kamar tidur saya, pasti kehangatan dalam selimut ini lebih terasa ketika samar mencium aroma tanah basah ataupun memerhatikan tetesan hujan pada kaca jendela.

...

Selimut begitu sering memeluk tubuh saya yang 'imut' ketika tidur. Konsisten memberikan rasa hangat yang cukup. Dan juga tulus memberikan rasa nyaman tersebut.
Sebuah pelukan dari benda mati terasa sama berharganya ketika melihat senyuman seseorang yang selalu dinanti.


Selimutyas.

Earphone

#CeritaDariKamar Hari Ketigabelas






Saya  lebih suka mendengarkan musik lewat earphone dibanding speaker.
Rasanya lebih menyenangkan dan nyaman mendengarkan musik hanya untuk 2 telinga saya, bukan dengan volume musik yang bisa membuat semua orang mendengarnya.
Rasanya juga lebih menyenangkan berbagi lagu yang didengarkan dengan satu orang saja, bersebelahan, berbagi 2 pasang earphone di telinga masing-masing..

Mungkin sama halnya ketika saya memilih seseorang untuk mendengarkan cerita saya.
Tentu lebih bisa dipercaya, orang yang ketika mendengarkan sesuatu dari kita tidak mengumbarnya hingga orang-orang lain pun mendengar cerita tersebut.

Earphone tersebut paling sering saya pakai ketika sedang dalam perjalanan atau menulis sebuah karangan. Ketika mendengarkan lagu perhatian saya bisa lebih terfokus terhadap apa yang saya kerjakan.

Lagu-lagu yang saya dengarkan cenderung sama dengan lagu-lagu yang Aa' saya sukai. Saya tidak terlalu suka dengan lagu RnB atau reggae. Dan tidak terlalu suka lagu yang berisi teriakan dan erangan tanpa lirik yang bisa saya pahami ketika didengarkan.

Earphone yang lama sudah tidak berfungsi, dan akhirnya Aa' membelikan earphone ini sebagai pengganti.
Tidak begitu nyaman digunakan awalnya, tapi karena sering dipakai lama-lama telinga saya pun akrab disumpal dengannya.

Rasa nyaman memang selalu butuh waktu untuk ditemukan.

Charger HP

#CeritaDariKamar Hari Keduabelas


Benda ini menjadi salah satu benda yang paling dibutuhkan orang-orang pada zaman sekarang.
Menjadi pengisi daya baterai handphone, saya pun salah satu orang yang membutuhkan jasanya.

Saya termasuk orang yang sembarangan dalam hal mengecas handphone.
Saya jarang tergerak untuk mengecasnya jika baterainya belum benar-benar sekarat.
Kalau mengecas pun, handphone selalu saya nyalakan- dan bahkan dimainkan.
Dan, saya seringkali mengecas hape ketika beranjak tidur. Jadi meskipun baterai handphone penuh kabel casan tetap terhubung- entah hal tersebut dapat merusak baterai atau tidak.

Mungkin hampir sama dengan cara saya memperlakukan jam tidur saya.
Seringkali, saya tidak tidur jika badan belum benar-benar lelah.
Saat sebelum tidur pun tetap ada barang-barang dengan aktivitas yang bisa menunda tidur saya, seperti buku- handphone- internet.
Dan. Seringkali ketika liburan tiba, saya tidur seperti tidak sadarkan diri. Lewat 12 jam.
Ketika bangun, terasa pusing sekali kepala- sama saja halnya ketika kurang tidur.

Tidur 2 jam. Dengan tidur 12 jam.
Efeknya sama-sama memberatkan kepala ketika bangun nantinya.
Memang tidak baik mengurangi sesuatu atau melebihkan sesuatu.

Cukup. Itu sudah lebih dari 'cukup'.

Saya memang perlu banyak belajar hal itu.
Menghemat daya baterai atau energi tubuh. Dan mengisinya dengan cara yang baik dan waktu yang cukup. Untuk kesehatan handphone dan tubuh.

._.

Cermin

#CeritaDariKamar Hari Kesebelas


Abaikan bayangan yang terpantul di cermin.
Cermin.
Salah satu benda yang lumrah berada di kamar tidur seorang wanita.
Biasa dipakai untuk mengecek penampilan seseorang.


Gue agak parno ketika melihat bayangan gue sendiri di cermin ketika lewat tengah malam.
Call me a coward. Haha.
Efek kebanyakan nonton film-film horror penuh terror, yang biasa menampilkan setan ataupun pembunuh di cermin ketika sedang mematut bayangan sendiri.

Banyak  mitos-mitos tentang cermin. Seperti mitos Bloody Mary.
"Bloody Mary adalah setan atau penyihir yang dikatakan akan muncul di kaca ketika namanya dipanggil tiga kali." (Wikipedia)
Setiap kali gue pergi ke kamar mandi malam hari, gue seringkali teringat tentang mitos itu tiba-tiba seakan-akan ada seseorang yang selalu mengingatkan gue untuk mengucap nama tersebut 3 kali meskipun dalam hati.
Sampai saat ini sih, gak pernah kejadian apa-apa- soalnya gue selalu menghindari pandangan ke kaca. Gak deng, emang gak ada apa-apa kayanya.

Waktu gue SD, ketika bermain di rumah salah seorang tetangga gue. Gue melirik ke cermin besar yang menempel di lemari pakaian di kamar tidurnya.
Tiba-tiba dia berkata setengah memperingatkan.
"AWAS, jangan ngaca lebih dari  (berapa detik gitu). Nanti keluar kuntilanak."
"Ih masa iya."
"Iya. Nanti juga keluar darah netes-netes dari kaca."
Dan karena gue lugu, gue percaya-percaya aja waktu itu. Kasian pembantu rumahnya udah pada pulang, entar siapa yang ngepel tetesan darahnya..

Akhirnya ketika gue pulang kerumah dan melihat Kakak Perempuan gue ngaca di cermin kecil, gue memperingati dia sebagai adik yang baik.
"AWAS, jangan ngaca lama-lama!"
Dan gue jelaskan mitos yang barusan gue dengar dari tetanga.
Gue diketawain. Dan singkatnya gue merasa dibodohi.

Abis baca postingan ini, beberapa dari kalian mungkin akan tau kalau gue penakut.
Yep. Seorang penakut dengan rasa penasaran yang tinggi.
Gue takut setiap kali nonton dvd horror sendirian, tapi penasaran gara-gara lagi heboh dibicarkan.
Gue gak bisa tidur semaleman gara-gara novel horror yang baru gue beli, tapi gara-gara penasaran malah diselesain dalam satu malam.
Begitulah, rasa penasaran mengalahkan ketakutan.

Gue pernah baca tweet seseorang di lini masa. Katanya, sih katanya ya.
Setan atau hantu itu seneng kalo orang-orang ketakutan, tapi males kalo kita penasaran sama dia.
Untung aja rasa penasaran gue lebih tinggi dari burj khalifa, meskipun penakut :p.
Oiya, katanya di Burj Khalifa itu punya 3 waktu berbeda untuk sahur dan berbuka puasa.

...

Bahas cermin malah jadi ke Burj Khalifa.
Tadinya pengen sekalian bahas rumus cermin cekung dan cembung, tapi gue sadar diri- nilai fisika gue pas-pasan sekali.

Udah dulu ya, awas jangan ngaca lama-lama.

Buku Seri Tokoh Dunia

#CeritaDariKamar Hari Kesepuluh



Buku Seri Tokoh Dunia tersebut semuanya dibelikan oleh Bapak sejak saya masih Sekolah Dasar.
Beberapa sudah hilang, tinggal tersisa beberapa buku seperti pada gambar diatas.
Isinya cerita bergambar berisi tentang kisah para Tokoh Dunia sejak masa kecil mereka hingga saat mereka 'tiada'.
Seperti Plato seorang Filsuf Yunani, Walt Disney yang sangat Kreatif, Leonardo da Vinci pelukis pemilik senyum misterius Monalisa, Al Khawarizmi matematikawan ulung pertama, Wolfang Amadeus Mozart Penggubah Musik, juga Albert Einstein sang Ilmuwan Ternama.
Mempelajari kisah-kisah mereka begitu menarik, meski dahulu ada beberapa poin-poin cerita yang saya tidak mengerti.

Mereka semua orang-orang hebat yang dikenal dunia, ada beberapa dari mereka yang mempunyai latar belakang keluarga yang tidak sempurna atau memiliki masalah kesehatan.
Kekurangan-kekurangan tersebut mereka semua jadikan sebagai kelebihan.

Mengenal banyak orang-orang hebat, dan tau kisah-kisah mereka sedikit banyak mempengaruhi cara berfikir seseorang. Tapi gak lantas membuat mereka menjadi seseorang yang hebat juga.
Karena yang hebat itu kalau kita bisa mempraktekkan semua teori yang kita dapatkan dari mereka, malah kalau bisa menciptakan teori baru yang dikenal dunia.

#LagiSerius

Gunting

#CeritaDariKamar Hari Kesembilan


Gunting. Salah satu benda yang sangat berguna.
Biasa dipakai untuk membuka bungkusan makanan seperti Indomie, memotong kertas menjadi beberapa bagian, atau memotong poni yang sudah kepanjangan.
Aa' beberapa kali mencukur rambutnya sendiri di kamarnya menggunakan gunting, dan saat ibu mengetahui hal tersebut beliau akan memarahinya.
Gue sendiri, gak pernah senekat itu motong rambut sendiri- paling motong poni yang udah kepanjangan dan gak enak dipandang, itu juga udahannya nyesel--'

Alhamdulillah selama ini gunting tersebut gak pernah dipergunain buat hal-hal yang membahayakan kok. Kaya motong urat nadi (Ewh. Gak akan lah ya.) Atau gunting-gunting foto mantan.

Gunting tersebut paling sering digunakan untuk memotong-motong tubuh kertas.
Memisahkannya menjadi beberapa bagian.. Korban-korbannya beragam mulai dari majalah, artikel internet atau foto.
Menggunting-gunting kertas begitu mudah dilakukan, tapi sekali dilakukan gak akan bisa kembali seperti bentuk yang semula.
Mengguting kertas tidak akan menciptakan luka atapun meninggalkan noda darah jika kita hati-hati melakukannya. Sama ketika meninggalkan kenangan masa lalu yang tajam.. UrGh.

...

Maafkan keterlambatan postingan ini, maaf buat diri saya sendiri.
Saya ikut #CeritaDariKamar supaya lebih konsisten terutama dalam menulis.
Mengecewakan ya.
Tapi saya sedang mencoba mengejar ketertinggalan saya dibanding yang lainnya. Hehe semoga bisa!

Sabtu, 10 Agustus 2013

Minyak Kayu Putih

#CeritaDariKamar Hari Kedelapan

Postingan ini seharusnya diketik dan dipublikasikan pada saat Hari Raya Lebaran kemarin.
Ada beberapa alasan, diantaranya keterbatasan waktu dan kelelahan setelah pergi seharian.

Ah iya, Mohon Maaf Lahir Batin.


Hari Lebaran selalu menjadi hari yang dinantikan. Ada banyak alasan kenapa orang-orang begitu menantikannya.

Salah satunya adalah berkumpul dengan keluarga besar, hal yang mewah bukan?
Saya bukan tipe orang yang senang berkumpul dengan banyak orang yang tidak begitu akrab dengan saya, rasanya canggung dan saya selalu merasa serba salah dengan penampilan dan kehadiran saya. Berlebihan mungkin :|.

Tapi meskipun canggung, rasanya hangat dan menyenangkan. Pertanyaan-pertanyaan singkat tentang kehidupan masing-masing, juga basa basi pasti seperti 'udah gede ya kamu sekarang, dulu masih ditimang-timang.'..
Dikelilingi orang-orang yang 1 pohon keluarga dan berhubungan darah pada tubuh kita.. Berbagi canda dan kabar lewat beberapa patah kata.

Hangat. Layaknya menggosokkan minyak kayu putih pada bagian-bagian tubuh saya.
Dan saya rasa, saya bukan satu-satunya orang yang mencintai kehangatannya.
Meskipun begitu, ada salah seorang teman kelas saya saat SMP begitu membenci dirinya, mungkin pada baunya..

Sayapun sebenernya begitu. Meskipun tidak terlalu menyukai bebauan pada dirinya, kehangatannya begitu membuat saya nyaman.
Dan rasa nyaman, membuat kita melupakan kekurangan-kekurangan pada dirinya.


Rabu, 07 Agustus 2013

Patrick Star!

#CeritaDariKamar Hari Ketujuh


Patrick Star. Salah satu tokoh dalam serial kartun SpongeBob SquarePants.
Wujudnya adalah bintang laut berwarna pink yang setiap harinya bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana hijau bermotif bunga-bunga.
Patrick tinggal di sebuah rumah batu, dan mempunyai ayah-ibu juga kakak perempuan.

I'm addicted to Patrick Star.
Setiapkali menonton serial kartun tersebut, Patrick begitu menyita perhatian gue.
Rasanya mata gue ikut berbunga-bunga layaknya langit Bikini Bottom setiap kali melihatnya.
Tingkahnya yang kadang polos-polos berbahaya. Dan perkataan yang keluar dari mulutnya begitu apa adanya dan mempesona. Dan lagi, dia begitu setia pada sahabatnya.
Gue amat suka.

Boneka Patrick tersebut gue dapatkan dari Ibu, ketika gue SD.
Dia gue tempatkan di sisi tempat tidur gue atau kadang di rak buku gue.
Gue normal aja kok memperlakukan dia, gak gue ajak ngomong atau main UNO, paling gue peluk atau gue ajak foto hehe.

Suatu waktu gue pernah kehilangan dia, rasanya gue sudah mencarinya kemana-mana, ke setiap sudut yang memungkinkan di Rumah.
Terakhir kali, Ibu menyuruh gue untuk mencucinya- tapi setelah itu entah kemana.
Gue sempat menyerah, tapi ternyata kami memang 'berjodoh'.
Boneka Patrick ini ditemukan kembali bersama boneka-boneka lama gue lainnya di dalam lemari baju nenek gue di kamarnya. Gak ngerti kenapa- jangan tanyakan gue.
Kalo gasalah nenek gue emang gak begitu suka sama boneka. Tapi boneka Patrick ini kan lain adanya..:( Jauh dari kata seram. Dan kalaupun suatu malam dia hidup seperti cerita di Toy Story, rasanya tidak apa-apa..

Oiya, Boneka Patrick ini masuk list barang-barang yang bakal gue bawa kalau gue jadi kuliah di Kota Lain! Emang sih masih 2 tahun lagi..

Umm. Patrick memang seekor bintang laut yang fiksi, tapi sosoknya begitu berarti. Dan.. Mengutip dari postingan gue pada bulan april lalu :
Dari kecil gue selalu menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan bintang. Mulai dari bintang-bintang di langit, bintang laut pink, seorang bintang film.
Dan gue selalu berharap, gue dapat menjadi seorang bintang.
Suatu hari di masa depan, seseorang menyadari keberadaan gue di masa lalu.
Mencintai dan menghargai sosok gue.
Meski sosok gue tersebut sudah lama mati.
Dan gue ingin, kehadiran gue bisa menimbulkan harapan bagi hidup seseorang.
Harapan apapun itu. Harapan yang mereka panjatkan diam-diam dalam hati, dan berusaha mereka gapai setiap hari.....


Tyas Hanina

Selasa, 06 Agustus 2013

Buku Dongeng

#CeritaDariKamar Hari Keenam
Buku-buku dongeng tersebut berukuran kecil, dan disertai ilustrasi pada beberapa halamannya.
Pemilik buku tersebut yang asli adalah Kakak perempuan saya, dia mendapat buku-buku dongeng tersebut dari Bapak. Bapak membelinya untuk menghiburnya karena ketika itu kecelakaan membuat dia harus memakai kursi roda & tongkat dalam beberapa saat.
Waktu itu dia masih menjadi murid SD dan saya masih bayi.

Sebenarnya, jumlahnya lebih dari jumlah buku yang ada dalam foto tersebut. Entah dimana keberadaan yang lainnya- mungkin tertumpuk di sudut gudang bersama buku-buku lama.
Empat buku yang kini tertumpuk di rak buku saya pun keadaannya sudah tidak lagi sempurna. Ada beberapa halaman yang terobek, ada yang tercoret pensil warna, ada juga halaman yang hilang entah kemana.
Meskipun buku tersebut sudah usang, tapi cerita-cerita tersebut tak pernah menghilang dari ingatan saya. Saya merasa senang sekali membaca cerita dongeng- memvisualisasikan gambaran cerita, membayangkan menjadi bagian dari tokoh cerita, melafalkan mantera, dan lain-lainnya. Begitu banyak hal ajaib yang saya temukan di dalam dunia dongeng.
Seperti bagaimana sebutir biji kapri bisa membuktikan kesejatian seorang Putri, kecerdikan sebuah kue jahe, persaudaraan 3 babi kecil, dan bagaimana mantra sang raksasa di kisah Jack dan Pohon Buncis.

"Bili, bili, bulu, bang, kucium darah orang! Aku suka roti, dari gilingan tulang!"

Dunia dongeng memang luar biasa, seakan apapun bisa terjadi disana.
Sayangnya, saya hanya bisa menengoknya dari cerita-cerita yang tertulis di buku atau ketika saya memejamkan mata dan membayangkan berada disana.

Jadi, jika kalian bisa pergi ke dunia dongeng- cerita mana yang akan kalian pilih untuk jalani?



Tyas Hanina

Senin, 05 Agustus 2013

Guling

#CeritaDariKamar Hari Kelima


Tidur tanpa guling sangat terasa asing buat saya, nyenyak atau tidaknya tidur saya tergantung pada benda lonjong ini. Beberapa artikel di Internet mengatakan, bahwa hal tersebut pertanda bahwa orang itu membutuhkan perlindungan dan kenyamanan. Mungkin..

Setiap kali saya menginap di hotel dan tidak menemukan guling, biasanya bantal menjadi penggantinya untuk saya peluk sepanjang tidur saya, tapi tetap saja rasanya beda.
Dari bentuk saja sudah beda, meskipun hal yang mengisi mereka berdua sama (kapuk atau busa) dan digunakan untuk hal yang sama. Tapi kenyamanan yang diberikan tetap saja beda, karena dua benda ini memang beda... ._.

Ehm.. Seperti kenal dengan banyak orang yang berbeda, setiap dari mereka menciptakan kenyamanan yang berbeda.
Suatu bentuk percakapan yang sama, atau berada di dalam suatu situasi dan tempat yang sama. Jika dilalui dengan orang yang berbeda. Tetap saja, beda.

Salah satu tanda saya nyaman terhadap seseorang, adalah ketika saya rela  dan percaya untuk berbagi sesuatu yang tidak pernah saya bagi kepada orang lain sebelumnya. Seperti sebuah cerita, kutipan favorit yang saya baca, atau sederet tawa dan seurai air mata.
Bagi saya, rasa percaya itu sendiri sangat penting dampak dan maknanya.

Dan guling di kamar saya merupakan salah satu benda yang saya percayai. Bukan sekali-dua kali, ketika malam-malam melankolis saya terjadi dan akhirnya dia menyerap air mata yang jatuh dari pipi. Atau sekedar tawa keras di dini hari.
Dia selalu memaklumi, menyiapkan dirinya untuk saya peluki.

Benda lonjong nan empuk ini. Jika tidak berbalutkan sarung guling, rupanya putih polos. Layaknya hantu Pocong.
Kadang ketika saya baru saja mencuci sarung guling dan malas mengganti dengan yang baru. Saya memeluknya dengan enggan, karena setiap kali beranjak tidur- fikiran saya pergi kemana-mana.
Tapi meskipun sedikit ada rasa takut memeluk saya malam itu, saya tidak akan membiarkan guling saya pergi kemana-mana. Saya hanya ingin dia disana- bersedia untuk saya peluk sepanjang tidur saya.

Selamat malam.


Tyas Hanina

Minggu, 04 Agustus 2013

Skipping

#CeritaDariKamar Hari Keempat

Sejak saya kecil, Bapak mengajarkan saya untuk terbiasa berolahraga. Beliau bilang, penting untuk saya mengetahui manfaat olahraga dan juga dasar-dasar setiap permainan olahraga.
Beberapa olahraga yang beliau ajarkan, ada yang lumayan saya kuasai dan sukai.
Seperti Berenang, Bermain sepeda, Berlari, dan Skipping.
Saya pribadi kurang suka dengan  olahraga yang membentuk kelompok, dan mengharuskan saya bekerja sama dengan orang lain.

...

Ketika saya SD, permainan Skipping ini termasuk permainan yang mengasyikan. Melompat-lompat, berlomba skor tertinggi dengan teman bermain..
Sebenarnya Lompat Tali lebih menyenangkan, karena bisa bermain bersama-sama teman yang lainnya.
Dan lagi, permainan tersebut tidak memerlukan modal yang banyak- hanya perlu mengumpulkan karet gelang di dapur. Lain dengan Skipping yang perlu modal untuk membeli talinya.

Tapi sayangnya, semakin tinggi usia saya- semakin jauh saya dengan teman-teman bermain saya di gang.
Kini, tidak ada lagi ribut-ribut di Tiang Listrik depan rumah- entah untuk bermain Lompat Tali, Petak Umpet, Galasin dan lain-lain. Oh ya, juga latihan menari untuk tujuh belasan. Uh menari.. saya tidak pernah menyukai kegiatan itu.

Sejak saya menjadi Siswi SMA, beberapa orang yang mengenal saya mengatakan bahwa saya menjadi... Uhm gemuk.
Pipi saya membulat. Dan memang berat badan saya naik. Sedangkan tinggi badan saya hanya rata-rata.
Ibu sudah mewanti-wanti untuk lebih bisa menjaga diri, karena beliau merasa saya terlalu acuh pada diri sendiri.

Akhirnya seiring waktu, saya mulai sadar diri. Bagaimanapun salah satu cara seorang perempuan menghargai dirinya adalah dengan merawatnya. Kata kakak, mungkin pertanda bahwa saya sudah hampir dewasa.
Selain itu saya rindu berolahraga pagi setiap akhir pekan. Bersepeda bersama Bapak, berenang, lari pagi..
Dan Skipping.

Bapak pun membelikan Tali Skipping untuk saya, karena yang lama sudah hilang entah kemana.


Sebuah tali Skipping berwarna kuning dengan pegangan biru.
Dari awal membeli, saya baru 3 kali menggunakannya. HEHEHE bikin malu.
Semoga aja sehabis Ramadhan , tangan saya bisa rutin menggenggam pegangan biru dan melompat di atas tali kuning itu..


Tyas Hanina

Sabtu, 03 Agustus 2013

Tempat Sampah

#CeritaDariKamar Hari Ketiga

Postingan ketiga dalam #CeritaDariKamar ini saya tulis hanya selang beberapa jam dengan postingan pertama dan kedua.
Jadinya bukan per-hari malah per-jam. HEHEHE. #skip

...



Tempat sampah di kamar saya berada di samping meja belajar. Dilapisi plastik pada bagian atasnya agar sampah yang mengisinya bisa lebih mudah diangkat.

Kita bisa menilai seseorang dari tempat sampahnya.
Selama kurang lebih seminggu tempat sampah di kamar saya akan terisi penuh dan isinya hampir tumpah. Biasanya oleh gumpalan kertas atau tisu, barang-barang aneh yang saya temukan ketika membongkar kamar, dan bungkus makanan ringan juga botol minuman.
Ibu saya sebal dengan kebiasaan saya yang jarang tergerak untuk membuang isi tempat sampah tersebut. Biasanya dia akan 'konser' dan menciptakan larangan untuk tidak boleh membawa makanan dan minuman ke kamar. Tapi, hal itu terus terulang.
Ya, saya memang pemalas.

Kebiasaan yang sangat buruk memang, menumpuk sampah dan membiarkannya berada di pojok ruangan. Menunggu seseorang mengingatkan.
Kalau 2 tahun lagi, saya udah tinggal di Jogja dan jadi mahasiswi salah satu Universitas Negeri. Mudah-mudahan kebiasaan ini sudah menghilang, Ibu yang biasanya 'bernyanyi' tentang hal ini hanya bisa mengingatkan lewat ponsel.

Seringkali, tempat sampah menjadi saksi sebuah kasus kejahatan di cerita-cerita detektif atau bahkan di dunia nyata. Widih.
Perannya penting dan nyata. Tanpa tempat sampah, dan orang-orang yang mengurus sampah.. bumi kita akan penuh sampah berceceran dimana-mana, bayangkan betapa tidak sehatnya dan bagaimana bau tidak sedap yang dihirup hidung kita.

...

Selain itu tempat sampah juga kerap diartikan sebagai seseorang yang siap menyimpan dan mendengarkan cerita seseorang.
Mungkin agak kasar, bagaimana seseorang yang selalu setia dan sedia mendengar kita diibaratkan sebagai tempat sampah. Tapi, dibalik semua itu tempat sampah adalah benda yang sangat berguna.
Dia siap diisi oleh sesuatu yang mungkin benda lain tak mampu dan tak mau 'mengisi'.
Seperti seseorang yang selalu siap mendengarkan keluhan dan celotehan kita yang terkadang terdengar seperti sampah untuk orang lain, tidak penting.

Beberapa orang lebih suka bercerita dibandingkan mendengar. Dan ketika tiba giliran mereka harus mendengar cerita orang lain, mereka tetap sempat menyelipkan cerita mereka dalam pembicaraan itu.
Terkadang memang mengganggu, tapi rasanya saya pun pernah seperti itu.

Karena itu, saya selalu merasa bersyukur mempunyai teman yang bisa menjadi 'tempat sampah'. Dan saya sangat berharap bisa menjadi 'tempat sampah' yang baik dan cukup untuk diisi oleh orang-orang sekitar saya.


Tyas Hanina

Radio

#CeritaDariKamar Hari Kedua

Ada sebuah radio kecil di kamar kecil saya.
Sebuah radio yang sempat menjadi rebutan antara saya dan Aa' saya ketika saya masih mengenakan rok seragam merah putih.
Sekarang Aa' lebih sering mendengarkan suara dari kotak berisi gambar bergerak di kamarnya, Televisi. Juga ada radio keluaran terbaru disana, namun jarang dipakainya.
Dan bagaimana dengan nasib radio lama tersebut di kamar saya?

Seiring bertambahnya usia saya, semakin banyak benda lain yang menyita perhatian saya. Novel, ponsel, komik, internet juga DVD film.
Saya tetap senang mendengarkan musik, saya selalu suka. Hanya saja kini medianya telah berbeda.
Lewat kumpulan lagu di ponsel yang terhubung dengan earphone, atau lewat internet.

Terkadang ketika saya rindu masa-masa SD saya teringat radio itu. Ketika saya masih rajin memutar kaset band-band favorit saya atau mendengar celotehan para penyiar radio.
Dulu saya sempat bercita-cita menjadi seorang Penyiar, rasanya menyenangkan sekali bisa didengarkan oleh banyak orang- namun satu-satunya identitas yang diketahui orang-orang tersebut hanyalah suara dan nama kita. Bisa bercerita, memutarkan lagu-lagu kesukaan kita dan tidak perlu khawatir tentang bagaimana pendapat orang tentang penampilan kita saat berbicara.
Lalu, ketika saya SMP saya sempat ingin masuk ke ekskul Radio Sekolah. Namun sifat pemalu saya membuat saya mengurungkan niat tersebut meskipun jam siaran radio tersebut sangat pendek.

Saat ini saya sedang membaca buku Melbournenya Winna Efendi. Salah satu tokoh wanita yang bernama Laura, pekerjaannya adalah penyiar radio tengah malam. Dari jam 10 malam-2 pagi.
Ketika membacanya saya menjadi teringat cita-cita 'lama' saya, dan jam siarannya begitu menarik perhatian saya.
Pasti menyenangkan sekali, berceloteh tengah malam sendirian dan hanya didengarkan oleh orang-orang yang belum tidur atau bahkan kesepian malam itu.

Sejujurnya, saya hampir tidak pernah mendengarkan siaran radio lagi. Paling hanya ketika saya sedang dalam perjalanan, ketika radio mobil dinyalakan.
Tetap terasa menarik dan menyenangkan, mendengarkan para penyiar berceloteh, mendengarkan lagu secara acak- entah itu lagu baru yang baru sekali itu saya dengar ataupun lagu lama yang sudah lama tidak saya dengar.


Lewat radio aku sampaikan
Kerinduan yang lama terpendam
Terus mencari biar musim berganti
(Sheila On 7-Radio ♩♪♫♬)




Tyas Hanina

Jumat, 02 Agustus 2013

Boneka Giting #CeritaDariKamar (Hari Pertama)

(Tentang #CeritaDariKamar)

Postingan #CeritaDariKamar ini terlambat 1 hari dibanding yang lain.
Sama seperti sebuah benda penghuni kamar saya yang akan dibahas dalam satu postingan ini.


Boneka giting. Begitu saya menyebutnya.
Boneka tersebut adalah pemberian dari teman-teman saya di usia saya yang ke 14 tahun lewat 2 hari.
Ya, boneka ini datang terlambat bersama kejutan ulang tahun yang mereka berikan.
Tapi keterlambatannya saya maklumi, saya terima dengan senang hati.

Saat itu saya begitu berdebar ketika melihat kotak-kotak hadiah yang dibungkus dengan kertas kado.
Kotak pertama dibuka dari pembungkusnya, sebuah kotak sepatu. Yang anehnya ada beberapa helai rambut berwarna hitam di lubang kotak tersebut.
Apakah boneka barbie? Uh. Terus terang saya sedikit takut dengan boneka yang menyerupai manusia.
Dan ketika saya membuka kotak tersebut.. Saya menemukannya.
Boneka Giting.

Kenapa disebut giting?
Ketika saya mendirikannya di meja, tiba-tiba salah seorang teman saya memencet ujung jarinya.
Dan boneka itu pun menari berputar-putar di tempat, dan juga terdengar musik mengiringi tariannya.
Saya pun tertawa, dan begitupun mereka.

Salah satu dari mereka mengatakan boneka ini diberi dari salah seorang penjual mainan di pinggir jalan.
Entah kenapa mereka memilih menghadiahkan boneka itu, entah hal apa yang mengingatkan mereka pada saya ketika membelinya.
Saya tidak pernah menari-menari di tempat ketika bersama mereka, malahan saya benci menari. Dan ketika mereka memencet kelingking saya, tidak akan terdengar musik mengalun keluar dari dalam tubuh saya.

Sekali waktu pernah salah seorang saudara saya yang balita masuk ke kamar saya dan memencet kelingkingnya. Dia kaget dan nampaknya hampir menangis ketika melihat gerakan tarinya yang tiba-tiba.
Sama seperti saya ketika siang itu, tanggal 28 Oktober 2011. Kejutan yang mereka berikan mengagetkan saya dan sempat menciptakan tangis di wajah saya.


Boneka ini sudah hampir 2 tahun berdiri di lemari buku saya. Sesekali saya iseng, memencet kelingkingnya, dan membiarkannya menari. Tapi tak pernah saya biarkan dia menari terlalu lama, karena saya takut baterainya habis dayanya meskipun saya sadar suatu hari hal itu tetap akan terjadi.
Daya baterai yang menggerakkan boneka tersebut suatu waktu akan habis, tapi tidak dengan kenangan tentang mereka- tidak akan habis dan tidak akan terganti.



Tyas Hanina

Senin, 10 Juni 2013

Fffffffffflu~

Heyah~
Gue mengetik postingan ini, dengan salah satu lubang hidung yang mampet. Kepala yang pusing sebelah. Tenggorokan yang panas. Dan dibungkus dengan hawa gerah di kamar yang kipasnya sengaja dimatiin.

LO KENAPA?! APAKAH INI SUATU BENTUK PROSES MOVE ON?

Move on, palelo.
Kayanya sih gejala influenza, atau karena kecapekan.
Atau bisa jadi sih ini Syndrom Liburan.

Syndrom Liburan???
Iya. Jadi tubuh gue ini punya kebiasaan aneh, rentan kena penyakit saat mendekati hari libur atau bahkan saat gue sedang asik-asiknya berlibur.
...
2 Tahun lalu, sekeluarga berlibur selama seminggu.
Hari pertama, gue baik-baik saja. Masih bisa jingkrak sana-jingkrak sini. Masih bisa turun naik tangga dengan lari. Masih bisa membedakan yang mana lelaki tampan dan mana pelaku bom bunuh diri. Masih normal lah pokonya.
Masih Sumringah

Hari kedua, saat kami liburan ke suatu Kebun Binatang. Tiba-tiba gue merasa pusing, mata berkunang, lalu flashback bermunculan, kamera zoom in-zoom out ke muka gue, hujan petir berdatangan. Aih, gue cocok juga jadi penulis skenario FTV.
Wajah (calon) pemain antagonis FTVdari samping.
Gue emang gak begitu suka berada di ruang terbuka dalam waktu lama dengan sinar matahari yang sukses bikin mata silau dan kepala keliyengan. (Alasan kenapa gue kurang suka kegiatan baris berbaris.)
Tapi rasa pusingnya kali itu terasa berlipat, gue lemas mendadak. Gue duduk di bangku yang tersedia disana, kakak gue nyamperin dan ngajak ke mobil. Gue diam sampai waktu makan siang, sampai makanan sudah diantarkan ke meja makan, terus gue.. Tiba-tiba nangis._.
Begitulah tabiat gue kalo sakit. Gak ngomong apa-apa. Tapi tiba-tiba nangis. Kebayang kan selama tahun-tahun gagal move on ini nangisnya kaya apa? (Gak sengaja keketik).

Hari ketiga, gue berobat sama bapak ke Rumah Sakit Daerah sana. Merasa takut awalnya, gue takut ditanya-tanyain, gue takut ada soal essay, gue gak ngerti sama sekali dengan bahasa daerah ini..
Eh ternyata waktu ada lembar pendaftaran, pake bahasa inggris. Perawatnya juga ngomongnya pake Bahasa Inggris. Dan gue cuma cukup jawab dengan kalimat simpel aja
"Yes, No, *ngangguk*, *geleng*, Yes, I'm Single and I'm happy."

Hari keempat-kelima, gue masih sakit. Tapi udah mendingan. Dan hari-hari liburan disini jadi terasa menyebalkan. Ruang yang gue datangi cuma kamar hotel, apartemen bapak, minimarket, sama belanja di mall depan hotel. (Mau nangis ingetnya.)
Keinginan untuk explorasi daerah dalam diri gue meronta-ronta. Gue mau liburan bukan mau sakit-sakitan.

Hari keenam. Gue membaik. Terus malemnya akhirnya gue jalan-jalan dengan kakak gue, Kemana-mana jalan kaki, bukan karena kami pecinta lingkungan sejati, tapi karena awalnya salah mengira jarak apartemen bapak yang kirain deket. Maklum cewek.
Sampai depan Apartemen Bapak, pintu gerbangnya dikunci. Belnya mati. Hape gak ada pulsa. Mau lemparin batu ke jendela kejauhan. Gue nangis lagi._.
Akhirnya kami kembali ke Hotel, makan di pinggir kolam renang ditemani Live Music. Gue memesan ikan bakar, asal mesen aja gak tanya-tanya harga dulu, udah deg-degan pas selesai makan-eh ternyata murahnya kebangetan.


Terus selesai makan, kami duduk-duduk di pinggir balkon, menatap lampu-lampu gemerlap dari bawah kota. Bintang-sang cahaya masa lalu tidak tampak, tergantikan oleh cahaya dari gedung-gedung tinggi dan perumahan. Gak kalah indahnya memang.
Kami diam dalam waktu yang lama. Suasana yang syahdu memancing gue untuk kembali mengingat hal yang seharusnya sudah gue lupakan. Seseorang yang mengirimi hampir 10 sms ke ponsel gue, namun tidak bisa gue balas karena perbedaan ruang dan waktu. Terus.. Gue nangis diam-diam.

Hari Ketujuh. Liburan gue di tempat ini pun usai, dan masa-masa sakit gue pun selesai. Bertepatan dengan hari terakhir di tahun 2011, kami sempat mengunjungi suatu tempat wisata disana dan berfoto-foto ria.



...

Udah ah, flashback ke masa-masa liburan suram segitu aja.

KOK LU NANGIS MULU SIH PAS LIBURAN? CENGENG LO.
Gue jarang nangis, itu gara-gara kondisi badan lagi gak ngenakin sama emosi yang berlebihan._. #PembelaanDiri

Dan selain liburan yang gue ceritakan diatas, rata-rata emang kondisi badan gue jatoh pas liburan. Saat lagi santai, gak ada tugas yang harus dibantai, justru saat itulah gue terkulai. Ergh.

Bubay. Semoga masa liburan semester ini gak sesuram liburan 2 taun lalu.