Pages

Sabtu, 20 Agustus 2016

Media Sosial


Akhir-akhir ini,
Aku merasa ingin menonaktifkan semua akun media sosial ku.
Atau hanya sekedar menghapus semua postinganku.
Aku ingin hilang, tak berjejak.
Meski aku sadar betul, apapun yang sudah dibagikan di jagat internet, tak akan pernah terhapus.

Namun, nyatanya. Tak semudah itu.
Aku masih suka scrolling timeline. Melihat-lihat postingan teman, mengintip semesta mereka untuk sekedar tau bagaimana kabarnya. Yah, meskipun apa-apa yang dibagi belum tentu sama dengan yang sebenarnya terjadi. Tapi, setidaknya teknologi mengizinkanku untuk sekedar tahu mereka masih ada di semesta.
Aku juga masih senang menonton postingan orang-orang yang tak kukenal di dunia nyata, tapi menarik untuk kuikuti di media sosialnya. Mereka seringkali memberikan sesuatu yang menarik setiap harinya. Terkadang menginsipirasi, menginformasi, atau sekedar untuk haha-hihi.
Aku pun, masih gemar membagikan sepotong demi sepotong kehidupanku di media sosialku. Meski aku selalu menahan diri untuk tidak terlalu membuka diri. Tapi, rasanya selama akun media sosialku masih ada, aku akan terus menelanjangi diriku sendiri. Dan, selama pengikutku masih ada, aku selamanya akan peduli tentang apapun yang kubagi.

Mungkin, jika dibandingkan dengan kawan-kawan seumuranku. Aku memang tidak terlalu terbuka di media sosial. Hampir semua akun media sosialku, aku beri gembok. Kuncinya hanya kubuka apabila aku mengenal orang tersebut di dunia nyata.
Seorang temanku pernah mengatakan aku terlalu sombong akan hal itu. Aku hanya tersenyum menanggapinya, kami berbeda persepsi akan makna sombong itu sendiri.
Bagiku, hal yang kulakukan itu bukanlah bentuk kejumawaan diri.
Bagiku juga, itu otoritasku untuk memilih siapa yang kuikuti dan siapa yang mengikutiku.

...

Media sosial itu kebanyakan adalah tentang pilihan.
Dari awal, kamu memilih untuk membuat sebuah akun atau tidak.
Lalu, memilih postingan apa yang ingin kamu bagi dan akun lain yang ingin kamu ikuti.
Jangan lupa. Kamu juga harus memilih foto profilmu dan sepatah dua patah kata untuk menjadi biomu.
Kamu bahkan dapat memilih untuk menjadi dirimu sendiri atau memakai topengmu di sini.

Itu terserah kamu.
Namun, jangan lupa kamu harus bertanggung jawab akan pilihanmu sendiri.

Media sosialmu itu sedikit banyak menggambarkan dirimu. Menceritakan sedikit demi sedikit tentang semestamu.
Postingan apa yang kamu bagi hari ini? Foto terbarumukah? Lagu yang sedang kau dengarkan? Film yang sedang kau tonton? Tempat yang baru kau kunjungi? Ah, atau kau baru saja memperbarui status hubunganmu?

Media sosialmu itu sedikit banyak mempertontonkanmu kehidupan orang-orang yang kamu ikuti.
Hati-hati, kamu bisa saja dipengaruhi. Hati-hati, ada banyak penyakit hati.
Barangkali, kamu merasa iri melihat kehidupan seseorang yang terlihat lebih menarik. Barangkali, kamu cemburu melihat seseorang mendapatkan apa yang dia mau. Barangkali, kamu jumawa karena merasa dirimu lebih baik dari dirinya. Barangkali, kamu marah karena apa yang dia bagi tidak sama dengan apa yang kamu yakini.

Sekarang, jika kamu sadar akan hal ini. Kamu pun merasa harus berhati-hati terhadap apa yang kamu bagi. Karena sedikit banyak, kamu mempengaruhi.

...

Aku pun berhati-hati dalam mengetikkan setiap huruf dan spasi di postingan ini.
Salah benarnya pendapatku, aku tidak tahu.
Hanya saja, aku merasa perlu mawas diri untuk tidak terjebak dalam egoku sendiri. Untuk tidak merasa bahwa aku paling benar atau aku tidak pernah salah.

Kamu tahu Ego Traps?
Ego Traps itu begini.. kamu merasa telur itu paling enak kalau diceplok. Lalu, kalau kamu dengar ada orang lain yang  bilang kalau telur itu paling enak direbus. Kamu merasa marah dan menganggap bahwa mereka itu aneh. Merasa bahwa kamu yang paling benar. Selain kamu, itu salah.

Ah, mungkin analogiku tentang telur ini ngaco.
Selengkapnya kamu bisa memahaminya dengan membaca tulisan yang ada di gambar di bawah ini.



“Always be aware of the feeling of superiority.”

Berhubungan dengan media sosial. Seringkali, Ego Traps menyerang kita di sana.
Maka dari itu, berhati-hatilah dengan media sosialmu.
Berhati-hatilah dengan egomu.

...

Hari ini..
(Ah, ralat. Karena ini sudah pukul 3 pagi.)
Maksudku, kemarin.

Aku tidak jadi menonaktifkan media sosialku atau menghapus postingan-postinganku di sana.
Aku ingin menjadikannya mesin waktu. Sewaktu-waktu, ketika sudah ada media sosial baru. Aku dapat membuka profilku dan melihat-lihat lagi apa yang ada di sana.
Aku suka mengenang-ngenang sesuatu.

Malahan, aku membagikan beberapa hal di media sosialku hari ini.
Aku mengunggah sebuah foto yang kuambil ketika aku sedang menjemur pakaian di atap kosanku.
Aku juga mengunggah beberapa tweet terkait  lipstik yang kupakai hari ini dan komik yang kubaca malam ini.
Tidak ada satupun yang krusial dan penting untuk orang lain ketahui, mungkin.
Tapi, bisa jadi juga penting.

Karena foto itu, pengikutku tahu aku ada di mana saat ini.
Karena tweetku tentang lipstik, pengikutku tahu seperti apa produk bibir itu dari review (sotoy)ku.
Karena tweetku tentang komik, pengikutku memiliki bacaan baru.

Aku memberikan pengaruh dari media sosialku. Mungkin kecil. Mungkin tidak seberapa. Tapi, ada.
Saat ini pun, aku sedang mempengaruhimu lewat tulisanku.
Seperti apa pengaruh yang kuberikan, aku tidak benar-benar tahu.
Mungkin, kamu hanya akan menganggap tulisan ini bagai angin lalu.
Atau mungkin tulisan ini membangkitkan ide yang sudah lama terkubur dalam pikiranmu.
Atau mungkin, tulisan ini membuatmu rindu padaku.
(Oke, sepertinya aku lebih baik tidur daripada tulisan ini berubah menjadi sajak patah hati).

Hehe.



Tyas Hanina
Jatinangor

Kamis, 28 Juli 2016

Love?



Peringatan : Tulisan ini mungkin akan sedikit menyinggung hal pribadi. Tanpa ditujukan untuk siapa pun atau untuk kepentingan apa pun. Penulis hanya mencurahkan keresahannya tentang cinta dan betapa susahnya menulis tentang cinta tanpa terkesan dangdut or menye.

Sabtu, 09 Juli 2016

Cita Cinta



Kurang lebih tiga bulan lagi, gue udah berusia 19 tahun.
I’m not fascinated. And to be honest, i’m afraid.
Gue selalu beranggapan bahwa usia 20 tahun itu sebagai langkah awal dari sesuatu.
Ya, meskipun usia gak akan pernah bisa jadi ukuran seseorang menjadi dewasa sih.
I get older. And maybe if i’m lucky, i get wiser too.



Sejak tahun kemarin, 2015. Tepatnya setelah gue lulus SMA.
Gue ngerasa banyak banget yang hal yang berubah. Dan yang paling berbeda, adalah diri gue sendiri.
Lu pernah gak sih ngerasa gitu?
Gue tau udah berkali-kali gue nulis pertanyaan tentang ini.
Lu pernah gak ngerasa masih orang yang sama tapi sekaligus berbeda?

...

Tadi siang waktu beres-beres kamar.
Gue menemukan dua kotak besar. Yang ternyata berisi buku-buku diary gue.
Dalam rentang waktu 2009-2014, ada banyak banget buku. Mungkin ada sepuluh, atau lebih.
Gak. Gue gak serajin itu nulis diary. Gue belum pernah bisa sekomitmen itu nyelesain sesuatu.

Buku-buku yang berisi segala keluh kesah gue selama enam tahun itu gue dapatkan secara random. Hadiah ulang tahun, hadiah majalah, hadiah dari kantor bapak, buku tulis gak kepakai, buku notes yang lucu yang dengan impulsifnya gue beli, dan sebagainya.
Kebanyakan memang hadiah. Tapi, ada satu yang menarik banget.

Bisa dibilang ini buku diary pertama gue. Sampulnya barbie, warnanya pink. Bisa digembok.
Hadiah dari seorang teman dari SD waktu gue mau beranjak ke SMP. Dia dan saudara kembarnya memberikan gue hadiah saat gue berulang tahun.
Berkali-kali gue tolak hadiahnya. Karena gue malu. Malu banget.
(Gue dari kecil emang super pemalu dan paling gak bisa kalo udah jadi bahan ledekan).
Tapi, temen-temen gue bilang.. jahat kalo gak nerima kado. Karena gue ngerasa gak enak yaudah dua-duanya akhirnya gue terima.
Dan, lucunya.
Hadiahnya juga kembar.

Di antara buku-buku itu. Hampir gak ada yang gue tulis sampai lembar terakhirnya.
Gue selalu berhenti menulis di tengah-tengah buku. Malah, ada yang baru di halaman awal tapi gak gue lanjutin buat nulis di sana.
Kenapa ya? Mungkin, karena gue menemukan buku yang menurut gue lebih menarik untuk diisi.
Atau mungkin, ya karena kebiasaan jelek gue aja. Gak bisa konsisten.

Isinya? Hmm.. Mungkin terlalu privasi kalo gue tulis di sini.
Kayanya kalo gue ngejedotin diri gue ke lemari atau abis mabok minuman keras baru gue bisa tulis di sini.
Which is, it’ll never happen.
Isinya ya ada yang cinta-cintaan. Yang buat gue heran saat gue baca lagi sekarang. Lah, gue pernah se-menjijikan itu ya?
Ada juga naskah pidato waktu gue jadi calon ketua osis. Gue juga gak ngerti kenapa gue tulis di diary.
Ada juga list hal yang mau gue lakuin dan barang yang gue butuhin.
Tapi, dari sekian banyak tulisan curahan hati gue itu..
Gue paling suka saat gue membaca kembali tulisan gue tentang cita-cita.

Tyas waktu kecil gak pernah pengen jadi dokter. Gak mau jadi polisi. Gak tertarik jadi pilot. Cita-cita anak kecil pada umumnya.
Gue inget banget, dulu om gue pernah bilang, “Kamu kenapa gak mau jadi dokter aja sih gedenya?”
Katanya, setelah melihat nilai di buku rapot gue. Gue memang tidak pernah lepas dari peringkat tinggi meskipun bukan yang tertinggi sejak SD hingga SMA, yang kata orang-orang mencirikan seseorang sebagai “pintar”. Dokter, konon profesi orang-orang “pintar”.
Iya, gue yakin kok. Orang-orang yang bercita-cita jadi dokter adalah orang-orang yang pintar. Yang mulia hatinya. Tapi, gue gak pernah bercita-cita jadi itu. Simply,  i can't imagine myself doing that in the future.

...

Terus, seorang Tyas dulu ngebayangin masa depannya kaya apa ya?

Dari dulu, Tyas orangnya keras kepala. Susah diatur. Dan gak bisa diem.
Tyas emang keliatannya kalem. Diem aja sama orang baru. Tapi, sebenernya otaknya gak bisa diem buat mikirin sesuatu.
Tyas maunya kerja, tapi kaya gak kerja. Tyas gak suka liat orang kerja yang pake seragam, berangkat pagi lalu pulang malem.. berulang-ulang kaya gitu lima hari dalam seminggu. Tyas juga gak suka harus terus menerus kerja di suatu tempat yang sama. Tyas bisa mati karena bosan. Tyas bisa kerja dengan asal-asalan.
Makanya, dari dulu Tyas selalu tertarik dengan pekerjaan atau profesi yang gak pernah sama setiap harinya.
Komikus, penulis, dan jurnalis.
Sesuatu yang menuntut pikirannya untuk berkelana ke mana-mana. Sesuatu yang memaksanya menciptakan sesuatu dari jiwanya. Sesuatu yang membuatnya belajar lebih jauh tentang manusia dan semesta.


...

Iya, dulu gue sempet pengen jadi komikus. Karena gue suka banget komik.
Gue dulu suka jalan di Mal sambil baca komik dan nubruk-nubruk orang, sampe akhirnya tangan gue ditarik dan diomelin.
Sering banget beli buku gambar atau sketsa, berbagai alat gambar, buku panduan menggambar, dan mencoba dekat dengan orang yang suka menggambar juga.
Namun, gak bertahan begitu lama.
Entah di usia berapa, gue ngerasa gambar bukan sesuatu yang jago banget gue lakuin.
Gue masih suka baca komik, liat-liat video orang gambar, atau ngobrol-ngobrol dengan sesama pecinta komik.
Namun, ya sebatas itu saja.

Oh iya, jadi inget.
Waktu SMP dulu pernah ketemu sama orang yang gambarnya bagus bangeeeet!
Tapi, dingin banget. Es kul-kul juga kalah deh sama dia.
Gue pernah ya, ngajak ngobrol dia di angkot panjang lebar terus gue dicuekin. Mana gue sama dia turunnya barengan lagi, masih harus jalan lumayan jauh untuk ke rumah masing-masing
Kesel, dan akhirnya gue pun curhat ke seorang teman. Dan dia marah-marah dong langsung ke orangnya besoknya..
Gue sampe pernah berantem sama dia pake sapu dan pengki di kelas. Kaya main lightsaber gitu. Abis itu kita liat-liatan dan ketawa. Ngapain sih tolol, kayanya masing-masing mikir gitu dalem ati.
Seiring jalannya waktu. Ya orangnya udah lumayan dah jadi gak cuek-cuek amat.
Gue pernah iseng kan ngirimin link di devianart yang isinya gambar trio bikini bottom yang gue cinta bgt.
Terus besoknya dia ngasih kertas, berisi gambar itu:’) Rasanya kertasnya pengen gue laminating.
Itu pertama kali seseorang buat “sesuatu” untuk gue. I really apreciate it.


Tapi, kertasnya ilang.................. :(
...

Penulis.
Sampe saat ini, gue masih pengen banget jadi penulis.
Nerbitin buku atau buat skenario film.

Namun, gue merasa masih banyak yang harus gue pelajari dan gue perbaiki perihal menulis.
Sampe sekarang pun, untuk masalah konsistensi menulis gue payah sekali.
Coba lihat aja, blog ini udah berapa usianya dan berapa jumlah tulisan yang gue publikasikan. Sangat tidak imbang.

Berhubungan dengan menulis.
Gue barusan buka blog seorang teman SMP.
Dia bukan orang yang sociable. Meski gak terlalu dekat dengan banyak orang. Dia baik banget, selalu ngingetin PR ke satu kelas meskipun berujung jadi bahan contekan satu kelas besoknya.
Tapi, menariknya dia selalu inget gue.
Di salah satu media sosialnya dia bilang, suka membaca tulisan di blog gue yang katanya “rasanya kaya ngalemin sendiri”.
Kita gak terlalu deket, dan gue suka takut sama dia. Karena menurut gue, agresif sekali kalo ngehubungin gue. Kaya tiba-tiba telepon, kalo pesannya gak dibales bakal terus-terusan ngirim.
Dulu gue sempet jengah memang. Tapi, kalo dipikir-pikir lagi mungkin itu semua karena dia peduli dan masih mengingat gue sebagai seorang teman.
Well, thank you once again. Thank you for reading. I hope you have a wonderful life! Btw, tulisan di blog lu bagus dan lu konsisten banget nulis. Hebat :)

...

Menjadi seorang jurnalis ternyata udah dari dulu jadi cita-cita gue.
Gue baru sadar. Gue sempet lupa dengan cita-cita ini.

Saat ini gue sedang menempuh pendidikan di jurusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran. Sudah memasuki tahun kedua.
Terus terang, awalnya ini bukan pilihan utama gue. Waktu harus memilih jurusan kuliah, pilihan gue begitu bercabang.
Psikologi, komunikasi, sosiologi, sejarah, antropologi, sastra indonesia, ilmu perpustakaan, ilmu politik, ilmu pemerintahan, hukum,hubungan internasional, dan sebagainya.
Segala macam ilmu sosial yang sangat ingin gue pelajarin.

Omongan seorang guru les ternyata sangat mempengaruhi pilihan gue.
Dia menyarankan gue untuk memilih jurnalistik.
Terus setelah gue pertimbangkan, kenapa enggak?

Seorang jurnalis dituntut untuk terus belajar banyak hal. Untuk tahu banyak hal, tapi tidak semua hal. Makanya itu, dituntut untuk terus bertanya dan cari tahu.
Kerjaan yang gak bakal sama setiap harinya. Ketemu sama orang yang berbeda latar belakang. Ngobrol sama orang-orang perihal manusia dan semesta.
Kurang menarik apa?

Semua temen deket gue selalu ngomong.
“Gue seneng banget yas lu masuk jurusan yang emang lu banget”.

Emang sih baru tahun kedua. Baru aja melepas status sebagai maba. Tapi, rasanya bahagia.
Ada terlalu banyak orang menarik di jurnalistik. Kisah tentang ini akan gue tuliskan nanti. Salah satunya orang yang gue ceritakan di sini.

...

Ngomongin cita-cita.
Menurut gue selalu menarik untuk diperbincangkan.
Selalu ada latar belakang kenapa seseorang bercita-cita tentang sesuatu.

Ternyata dari dulu gue masih bermimpi tentang hal yang sama. Tapi, yang berbeda jadi makin kompleks aja cara berpikirnya. Karena setelah gue bertambah tua, gue melihat bagaimana semesta bekerja. Dan mimpi-mimpi itu menjadi lebih nyata, bahwa tidak semuanya indah dan tidak sepenuhnya mudah.
Tapi, namanya juga cita-cita. Harus dijalani dengan cinta.


Jadi, dulu cita-cita kalian jadi apa? Apa sekarang kalian masih bermimpi akan hal yang sama?



Tyas Hanina

Senin, 27 Juni 2016

Harumnya Nostalgia dan Perbedaan



Malamku tersusun oleh seracik percakapan dengan bumbu-bumbu kerinduan dengan beberapa orang teman di masa sekolahku yang kutinggalkan dua tahun silam.
Tidak banyak yang berubah dari mereka. Bahkan rasanya sama saja. Jika kita membicarakan perihal fisikal.
Namun, aku yakin. Benturan-benturan yang terjadi di hidup mereka (sepengetahuan atau tanpa sepengetahuanku) membentuk mereka. Menjadi sesuatu yang berbeda.
Mungkin, aku juga seperti itu.

Beberapa dari mereka masih ku curi dengar perihal semestanya, lewat percakapan-percakapan di aplikasi chat. Beberapa hanya ku cari tahu dari hal-hal yang mereka bagikan di media sosialnya. Beberapa menghilang begitu saja, menguap bersama kesibukan di semestanya (dan muncul kembali malam ini!).


Senin, 23 Mei 2016

TITIK BALIK

“Apa sih yas menurut lu yang jadi titik balik dalam hidup lu?”

Pertanyaan yang orang ini lontarkan cukup menyebalkan. Pertanyaan ini menggantung di langit-langit kala suara sang pembawa acara memenuhi ruangan.
Kami sedang mengikuti rangkaian acara Festival Indonesia Menggugat yang diadakan di GIM (Gedung Indonesia Menggugat) Bandung pada tanggal 21 Mei yang lalu.
Gedung ini punya sejarah yang menarik, di sini Soekarno diadili. Ada banyak sekali hiasan dalam gedung yang bercerita tentang kisah hidup Soekarno. Festival Indonesia Menggugat yang dimulai sejak 19 Mei yang lalu pun menurut saya pribadi sangat menarik dan penting untuk diikuti.
Awalnya saya ke sini karena ajakan orang ini. Itung-itung liputan. Yah, sekalian kasih santapan bergizi buat pikiran.
Sesi diskusi pertama yang kami ikuti adalah tentang musik sebagai bentuk perlawanan. Setelah itu, diskusi tentang Soekarno dan Perlawanan Kelas dilakukan, jeda yang tercipta cukup lama dan membuat kami sempat mengobrol tentang beberapa hal.
Pertanyaan itu adalah salah satu bagian dari percakapan kami.
Ah, ya. Dan pertanyaan darinya itu belum terjawab hingga saat ini saya mengetik ini.

Pertanyaan itu membuka pertanyaan-pertanyaan yang lain.
Rasanya pertanyaan-pertanyaan itu  saling berbenturan di dalam kepala saya.
Kenapa dia tiba-tiba bertanya seperti itu?
Ada apa dengan titik balik?
Memang apa sebenarnya makna titik balik itu sendiri?
Katanya, titik balik adalah titik di mana ada suatu peristiwa atau kejadian yang mengubah hidup saya. Or particularly, changing me into who i am right now.
Dan, duh. Saya gak bisa jawab.
Emang saya yang sekarang ini siapa? Emang saya yang dulu seperti apa?


Minggu, 22 Mei 2016

Could you stay away but come closer?

Mohon jangan ada sekat.
Jarak sudah cukup lega.
Kenapa kamu harus menjauh dengan tega?

Mohon jangan terlalu dekat.
Aku butuh ruang di antara kita.
Kenapa kamu terus menekanku tanpa peka?

...

Cukup. Cukup berada di sana.
Jangan ke mana-mana.

Cukup main-main di dalam diriku saja.
Jadikan itu semestamu semata.

Berkomunikasi Lewat Puisi

Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Sekelompok orang pecinta sastra berkumpul. Tirai merah dibuka. Lantunan musik dan musikalisasi puisi memenuhi gendang telinga. Di luar hujan turun dengan derasnya, di luar para polisi yang berjaga berteduh untuk sementara.

Kamis, 03 Maret 2016

Tentang Blog Ini

Saya baru saja membuka halaman statistik blog ini.
Dan, saya cukup terkejut menyadari fakta bahwa umur blog ini sudah hampir 6 tahun.
Blog ini sekarang sudah seusia anak kecil yang akan berseragam putih merah.
Ada 187 tulisan yang dipublikasikan di halaman blog ini. Faktanya, ada beberapa tulisan yang saya pilih untuk kemudian disimpan di draft karena satu atau dua alasan (terlalu pribadi, tidak jelas tujuannya, dan sebagainya..)
Hanya ada 23 komentar.
Jumlah pengunjungnya hampir 30.000. Apakah itu jumlah yang besar atau kecil, saya tidak tahu.



Maaf, sedari awal sudah menyuguhkan kamu dengan segerombolan angka.
Saya juga tidak terlalu suka angka, saya sukanya kata.
Namun, angka-angka yang bergelimpangan di statistik blog saya ini membuat saya intropeksi diri.

Usia blog ini, jika dibandingkan dengan usia manusia memang masih sangat muda.
Namun, untuk usia sebuah halaman blog. Ini cukup tua.
Sayangnya, hanya sedikit jumlah tulisan yang saya publikasikan di sini. Membuat saya merasa betapa pemalasnya diri ini.
Dan.... ternyata saya cukup setia. Sebab beberapa kawan saya, berkali-kali mengganti blognya. Namun,blog ini tetap jadi satu-satunya tempat saya berbagi cerita.
Bukti lain saya adalah sosok yang setia (iya agak jijik ya bacanya) adalah..
Sejak awal saya menulis di halaman blog ini hingga sekarang saya menulis ini.. Saya tetap menulis surat tanpa penerima untuk orang yang sama. Siapa orangnya?! Itu rahasia saya dan semesta. Jadi mohon berhenti bertanya akan hal ini, sebab saya tidak akan menjawabnya.
Tapi, saya mau membocorkan satu hal. Dia baca tulisan saya. Dan, ya. Dia tahu itu tentangnya. Malahan, dia nagih buat saya kembali menulis tentangnya (emang banyak maunya).



...

Awal saya menulis di halaman blog ini, saya mencoba untuk bersembunyi.
Kemudian, suatu hari. Saya memberanikan diri, untuk membagikan linknya di halaman facebook saya.
Saya ingat, sepertinya saat itu, teman-teman saya jadi buat blog juga.
Dan, salah satu wali kelas saya, sampai membacanya dan menanyakan kabarnya :’)
Malu pisan waktu tahu beliau baca, tapi girang juga sih haha. Tulisan gue mah apa, tapi diapresiasi :’)

Saya juga sempat malu, waktu diledeki sebagai penulis.
Mungkin sampai sekarang masih.

Blog ini sepertinya memang sudah melekat dengan diri saya.
Setiap ada perlombaan menulis atau blog, pasti teman-teman saya mengabari saya.
Tapi, tidak pernah saya ikuti, karena saya tidak cukup berani.

Beberapa teman, bahkan menyarankan untuk menulis buku.
Ah, tapi kemampuan saya masih jauh dari itu.
Saya masih cukup puas menulis di sini. Saya masih cukup bahagia ada yang membaca tulisan saya di sini.

Tapi, pasti, nanti.
Saya berani.


...

Beberapa fakta tentang saya dan blog saya :

 ·         Saya sempat bergabung di sebuah grup blogger. Tapi saya sangat pasif. Saya jarang terlibat di dalam obrolan grup, dan tidak pernah ikut kopi darat. (because, one of my biggest fear, is stranger).
·         Awal-awal ngeblog, viewers per postingan sangat sedikit. Sekarang, kalau saya posting sesuatu, yang lihat lumayan. Paling sedikit belasan hingga puluhan. Eh masih sedikit ya?
·         Saya ikut beberapa writing challenge. Bahkan pernah buat writing challenge sendiri. Tapi, ya gitu, ehehe.. saya gak konsisten. Tapi, tulisan-tulisan saya yang masuk ke tantangan menulis itu punya banyak sekali pembaca. Alhamdulillah.
·         Saya gak pernah ikut lomba blog. Pengen ikut. Pengen banget. Tapi, atut.
·         Saya pernah dengan cerobohnya, menulis tentang kisah asmara saya, dan saya menyesalinya.
·         Saya dulu pernah dengan gak pentingnya buat laman yang isinya foto-foto saya. Dan, parahnya, foto saya di laman itu gak ada yang cakep. Foto aib semua.  Terus dulu sempet diledekin, dan kayanya disimpan oleh beberapa teman saya. YA SAYA SANGAT MENYESAL. (Sama aja sih kaya story snapchat saya, sumpah jangan diadd ya, idnya tyashanina).
·         Iya, id semua socmed saya tyashanina. Dan, iya, percuma kamu ngeadd kalo kamu gak kenal saya. Saya gak pernah accept kalo gak kenal.
·         Saya gak punya path, soalnya path tempat orang pamer. WKWKWK. Eh gak deng. Pokonya saya gak suka aja. Gak penting juga lah orang tau saya di mana, sama siapa, ngapain, dengerin lagu apa, nonton film apa hehehe. Kalo mau tau saya gimana, semesta saya seperti apa.. rajin baca blog ini aja ya.
·         Saya paling bahagia kalo ada yang komentar di postingan blog saya. Soalnya pada silent reader euyyy. (kode biar dikomen)
·         Saya emang suka nulis, tapi jangan suka ngeledek saya penulis :( aq jadi malu.
·         Saya laper abis ngetik tulisan ini. Sekian.



...

Ohya, kalau kamu cukup teliti.
Sebenarnya ada laman yang bercerita tentang diri saya di halaman blog ini. Tapi halaman tersebut tidak pernah saya update sejak SMA.

http://haninabobo.blogspot.co.id/p/mau-tau-gue-siapa.html#

...

Sebenarnya, saya ingin membahas mengenai hal ini sejak beberapa hari yang lalu.
Jujur, hal ini cukup menganggu.

Jadi, beberapa hari yang lalu..
Saya berkunjung ke salah satu halaman blog seseorang yang tidak saya kenal di dunia nyata- tapi orang ini mencoba menghubungi saya beberapa kali melalui dunia maya (Tapi selalu saya abaikan, karena saya tidak mengenalnya. Dan aturan utama saya jika berteman dengan seseorang di dunia maya adalah saya mengenalnya di dunia nyata).

Saya membaca tulisan-tulisannya, dan saya pun membuka laman mengenai dirinya.
Dan saya terkejut, juga jengkel.
Menyadari bahwa gaya menulisnya sama persis dengan saya.
Dari awal kata, hingga cara dia menutup perkenalan dirinya.
Dari kalimat “siapa sih aku” hingga tanda tangan di akhirnya.

Saya tidak akan memberikan link blognya, atau memberi tahu siapa dia di tulisan ini.
Tapi, saya tahu, bahwa kemungkinan besar kamu (yang saya maksud) membaca ini..
Saya cuma pengen bilang.. kamu melewati batas.
Masa sih, sampe perkenalan diri, kamu menyalinnya? Hehe.

Saya pernah mengalami tulisan saya disalin, dan dibagikan tanpa seizin saya sebelumnya.
Di blog orang lain, di twitter.. Tapi, entah kenapa, tidak merasa sejengkel ini.
Mungkin karena bagi saya, blog ini sangat pribadi. Dan terutama laman tentang diri saya, merupakan bagian saya bercerita tentang siapa saya. Blog ini sudah bagian dari saya. Dan cerita tentang saya, adalah milik saya.

Memang, saya tahu. Apapun yang dibagi di dunia maya, sudah tidak bisa dibilang sepenuhnya milik saya.
Karena itu, semua akun saya di social media saya kunci.
Satu-satunya pintu untuk mengenal semesta saya lewat dunia maya hanya lewat tulisan-tulisan saya di halaman blog ini.

Maaf jika saya menutup diri, maaf jika saya tinggi hati.

...

Hmm. Udah ah kzl kzlannya. Hehe.

Oh ya,
Beberapa waktu yang lalu, saya menjanjikan sesuatu. Bahwa saya akan menuliskan beberapa fiksi yang temanya diberikan oleh teman-teman saya.
Tapi, baru satu kisah fiksi yang saya tulis dan publikasikan di blog ini.
Tema yang diberikan untuk tulisan itu adalah “Janji” oleh Kak Rani. Makanya saya pake nama Rani, untuk tokoh utamannya.

Saya rasanya kapok untuk berjanji lagi. Dan saya tahu menunggu itu melelahkan.
Jadi, saya gak akan membuat kamu, pembacaku, untuk menunggu..
Tulisan baru di blog ini. Entah itu kisah fiksi, cerita tentang semesta saya, atau surat tanpa penerima.

Tapi rencananya ,saya akan memperbarui laman tentang diri saya, nanti.
Soalnya, meski tetap orang yang sama. Tapi, kini, saya berbeda.
Entah kapan.
Pokonya nanti.
Hehe.

...

Untuk menutup tulisan ini.
Saya ingin berterimakasih untuk kamu, pembacaku (entah siapa, entah ada atau gak)..
Terimakasih sudah merelakan waktumu untuk membaca barisan huruf yang saya tuliskan di halaman blog ini.
uUWuwuw i love u.

Dan,
Saya ingin bertanya kepada kamu, pembacaku (entah siapa, entah ada atau gak)..
Tulisan apa yang paling kamu sukai dari halaman blog ini, kenapa?
Tulisan apa yang paling ingin kamu baca dan paling ingin saya tulis, kenapa?

Jawab di kolom komentarnya, ya! ;)


Tyas Hanina
Jatinangor

P.S
Maaf jika saya terkesan sombong. Sungguh, saya bersungguh.
Tidak ada yang dapat saya sombongkan.
Saya hanya mencoba berbagi kisah, seperti biasa.
Dan kali ini saya bercerita tentang ini, tempat saya bercerita.

Untuk kamu, yang sempat saya singgung di sini.

Tidak apa, kamu. Tetap menulis ya. Saya tidak pernah mencoba memadamkan api kamu :)

Rabu, 17 Februari 2016

Longing


Hai Tuan,

Sudah cukup lama, aku tidak menghidupkanmu lewat tulisan.
Namun, bukan berarti kau sudah mati- meskipun kau hidup bersama rintihan kata yang menunggu ku bangkitkan.

Di dunia nyata,
Aku hidup dalam kehidupanku, begitu pula kamu yang hidup dalam kehidupanmu.
Tidak ada lagi kita di dunia nyata, begitu pula kehidupan tentang kita.

Kita.
Adalah bagian dari masa lalu.
Yang indah namun membuat lelah.
Yang manis namun membawa tangis.
Baik dulu, maupun jika aku membangkitkannya dalam ingatan.
Seperti sekarang ini.

Sungguh aku sama sekali tidak merasa sendu, maafkan jika tulisanku bernada begitu.
Aku hanya, sedang rindu.

Pada pemilik tawa terindah yang pernah kusaksikan.
Pada pemilik mata terteduh yang pernah kupandangi.
Pada pemilik hati, yang pernah membuatku utuh.
Padamu, Tuan.

...

Mengapa kau masih menulis tentangku, jika melepasku pergi adalah pilihanmu Nona?

Sebab,
Dengan menulis aku bisa menghidupkanmu.
Dalam penghidupanmu lewat barisan huruf yang kutuliskan.
Aku bisa hidup bersamamu.
Aku bisa menghabiskan waktu untuk mengingatmu tanpa sia-sia.

Aku menghasilkan karya.
Dengan menghidupkanmu, beserta membangitkan kita yang membawa luka.

Sebab kata-kata abadi,
Dan aku belum binasa.

Sebab kamu pernah sangat berarti.
Dan aku kini mencoba menjadikanmu biasa saja.

...

Sebab,
Aku tidak bisa mengobati rindu dengan pertemuan kita.
Terlalu mahal harga yang harus “kubayar”.
Akan semakin banyak luka yang menguar.

Maka dari itu,
Aku memilih pengobatan alternatif dengan cara menulis.
Ini gratis.
Dan aku dapat menyembunyikan ekspresi asliku.

Ah percayalah.
Aku tidak sesedih yang ditampakkan tulisanku.
Namun juga tidak seberani yang ditunjukkan kata-kataku.

Dan percayalah.
Aku memang merindukanmu.
Tanpa perlu kamu tau.

...




Tyas Hanina

(25/1/2014)

Minggu, 31 Januari 2016

Perihal Janji



“Mungkin hanya ini yang bisa kuberi.”

Katamu.
Aku tersentak dan juga bingung. Apa yang ingin kau berikan padaku?
Kulihat kau tidak membawa apapun bersamamu, selain senyum malu-malu itu.
Apa mungkin kau menyembunyikannya di saku celanamu?
Aku terus bertanya kepadamu di dalam kepalaku.

“Semoga hal ini, dapat membuatmu terus mengingatku sebagai perihal yang baik.”
“Dan suatu saat kamu kesal padaku. Ada hal ini yang dapat membuatmu memaafkanku hehehe.”

Kau terus berbicara. Tanpa menunjukkan apa-apa.

“Katakanlah apa hal itu.”

Senyummu melebar ketika mendengarku bersuara.

“Apakah kau merasa penasaran akan hal ini?”
“Tentu saja.”

Kau tidak merogoh saku celanamu untuk mengambil hal itu.

Justru, kau memegang tanganku dan menggenggamnya erat.

“Ran.”

Aku yakin sekali, dress merah yang kukenakan ini masih kalah jauh merahnya oleh rona pipiku.

“Aku cuma bisa ngasih ini ke kamu.”

Suaramu dalam dan halus.
Dan aku yakin sekali. Suara hingar bingar live music di restoran ini tidak seberapa berisiknya dari degup jantungku.

“Janji.”

...

Bulan menyembunyikan separuh tubuhnya dari langit malam ini.
Katanya, dia sedang merasa tidak utuh.

Barangkali kamu ingin tahu, begitu pula aku.

Aku bersembunyi dari siapapun yang kukenal malam ini.
Ku matikan telpon genggamku. Tidak ingin berhubungan dengan siapapun.
Kecuali, kamu.

Aku merutuki diriku sendiri ketika mengingat kamu.
Aku tidak bisa menyalahkanmu, lagi-lagi.

Sudah lama kita tidak terhubung.
Tali yang menghubungkan kita berdua sepertinya sudah putus.
Kapan itu terjadi, aku tak tahu. Bagaimana itu terjadi, aku tak mau tahu.

Walau begitu, aku masih sering mengingatmu.
Senyum malu-malu itu. Kemeja yang digulung hingga siku. Hembusan asap rokokmu.
Percakapan kita malam itu.
Janjimu.

...

“Janji..?”
“Ran..”

Lagi, kau panggil namaku.

“Aku tahu, aku cuma bisa janji saat ini.”
“...Tapi kita tidak tahu bagaimana nanti.”

Perlahan, tanganmu bergerak menyentuh pipiku. Mengusapnya secara halus.

“Aku tahu dan aku mau. Kamu bakal ngerti. Dan, kamu pasti ngerti.”
“Ran.. Aku janji kita akan bahagia. Aku janji kita akan baik-baik saja.”

Kau sibuk berbicara. Aku sibuk menahan ledakan di dadaku.

...

Ya, kita tidak tahu bagaimana dan apa yang akan terjadi nanti.
Benar katamu. Aku setuju.

Karena saat ini,
Adalah masa depan dari masa lalu kita itu.

Dan aku pun akhirnya tahu bagaimana dahsyatnya pemberianmu itu.

Ya, janjimu.

...

“Apa maksudmu?”

Aku melepas tanganmu. Sedikit memberikan jarak kepadamu.

“Aku janji Ran. Bahwa pada akhirnya, hanya akan ada kita berdua.”
“Tanpa ada orang lain, untuk menjadi tiga.”

Pada akhirnya, aku tidak kuasa menahan ledakan itu.

“Kenapa kau harus berjanji? Kenpa tidak memberiku bukti?”

Kau menarik nafasmu perlahan, lalu menatapku lebih dalam.

“Gak bisa, untuk saat ini saja.”
“Kita harus menunggu waktu yang tepat Ran.”

Aku menggelengkan kepalaku.

“Apakah pernah ada waktu yang tepat untuk kita?”
“Apakah pernah hatimu tetap untukku saja?”

Kau menggengam kembali tanganku.

“Pasti. Pasti ada.”
“Hatiku hanya untukmu Ran.”
“Tapi semesta belum mengizinkan kita untuk berdua.”
“Karena aku masih terikat oleh orang lain.

“Saat ini, adalah saat yang buruk untuk melepaskan ikatan itu.”

...

Aku mencegah air mataku untuk tumpah lagi malam ini.
Aku tidak ingin benci kamu, tidak ingin sama sekali.
Aku ingin terus mengingatmu sebagai perihal yang baik untukku.
Aku ingin terus memegang janjimu itu.

...

“Dia sedang berbadan dua.”

Air mataku tumpah tanpa sempat aku cegah.

“Jadi, aku mohon Ran. Mohon sekali.”
“Aku janji sama kamu Ran kita akan bahagia, nanti.”
“Tapi aku mohon kamu juga bisa janji kepadaku.”
“Bahwa kamu bersedia untuk menunggu.”

Terus terang, aku tidak tahu ingin menamparmu atau memelukmu saat ini.
Aku merasa marah sebagai seorang perempuan.
Namun, juga merasa cemburu sebagai seorang kekasih.

...

Siapapun yang mendengar kisah kita pasti akan timbul rasa benci di dadanya.
Aku tahu pasti.
Perlahan, bukan hanya orang-orang lain saja.
Aku mulai membenci diriku sendiri.
Ketika aku mulai jengah dan sadar bahwa janjimu palsu.

Tapi, aku tidak pernah bisa membenci kamu.

...

“Lalu, apa rencanamu untuk kita?”

Bergetar, akhirnya keluar kalimat tanya itu dari bibirku.

“Aku akan meminangmu Ran..”
“Setelah aku memutus tali pernikahanku dengannya..”
“Setelah anakku sudah lahir dari perutnya..”

...
  
Masih terasa hangat di ingatanku.
Semua detail kejadian malam itu.

Aku ingat dengan jelas, bagaimana semua pasang mata melihat ke arah meja kita.
Aku ingat, aku menatap kamu dengan amarah.
Aku ingat, kamu memegangi pipimu yang merah.
Setelah ada tamparan yang keras dariku di sana.

...

“Aku gak pernah nyangka bahwa kamu sejahat ini.”
“...Aku juga jahat karena egois menahanmu selama ini. Mengabaikan tali ikatan itu.”

Aku menatap nanar cincin di jemarimu.

“Jika kamu ingin aku terus mengingatmu sebagai perihal yang baik.”
“Lupakan rencana itu.”
“Aku akan tetap memegang janjimu. Bahwa kita akan bahagia dan baik-baik saja.”

Kini, aku menggengam erat tanganmu.

“...tapi aku tahu bahwa kamu juga tahu.”
“Bahwa kita tidak akan bisa berdua.”
“Aku tidak dapat menggenapimu, sebaliknya juga kamu.”
“Dari awal hubungan kita sudah ganjil.”
“Jadi, biarlah seperti ini.”
“Kalau memang hatimu untukku, aku tidak keberatan kamu terikat oleh hati yang lain.”
“Biarkan perihal hati kita menjadi rahasia.”
“Dan perihal janjimu, menjadi hadiah terindah untukku. Walau mustahil untuk menepatinya.”

...

Di bilangan yang tak terbilang.
Aku mengingatmu.

Hatiku lebam. Rindu itu kejam.
Aku meringis, mengingat janjimu yang manis.
Aku menangis, mengingat pelukmu yang magis.

Aku ingat dipeluk kamu setelah aku menamparmu dan mengucapkan kata-kata itu.
Ledakan itu meredam dengan sendirinya karena pelukan itu.
Setelah itu kamu mengantarku pulang ke rumah.
Memberikan kecupan ringan pada bibirku.
Mengucapkan selamat tinggal, dan berjanji akan tetap menghubungiku.
Dan berjanji akan melupakan rencanamu.
Aku ingat memeluk kamu sebelum kamu pergi.
Dan meminta kamu untuk bahagia.
Dan meminta bahwa kejahatan kita cukup sampai sini saja.
Aku ingat kita sama-sama menangis.

...

Hai, kamu?
Apa kabarmu?
Bagaimana kabar jagoan kecilmu?
Aku rasa aku tahu alasan mengapa tali kita terputus tiba-tiba.
Itu karena kamu sudah merasa genap.
Atau kamu sudah tahu.
Bahwa untuk merasa genap, kamu harus menghilangkan satu bilangan yang membuatmu selama ini ganjil.
Yaitu, aku.

Aku adalah bilangan yang kau pilih untuk dihapus dalam hidupmu.

Tak apa.
Aku tidak akan membencimu walau itu berarti..
Janji itu hanya untuk buatmu saja.
Bahwa yang bahagia dan baik-baik saja, itu kamu.
Aku tidak perlu.

Tidak apa, kamu.
Aku tetap mencintaimu.

Aku tidak peduli seluruh dunia membenciku.
Selama ada kamu, yang pernah mencintaiku.


Tng, 31 jan 2015.
Rani.

Kekasih gelapmu /Bilangan ganjilmu