Pages

Sabtu, 27 April 2013

2 Weeks Ago


Postingan ini sebenarnya tentang kejadian 2 minggu yang lalu.
Cuma karena perayaan Hari Kartini dan Hari Bumi. Gue gak sempet ngeposting (Alibi).
Jadi inget sebuah lirik lagu..
Dilahirkan seorang Tyas Hanina
Adapun (Tyas) wanita lemah lembut manja
Tyas dijajah rasa malas sejak dulu~~~
#MaksaBanget
...

EMANG ADA APA SIH YAS 2 MINGGU LALU?
Dua minggu lalu, malam minggu. Dan malam itu, punggung gue gak pegal karena terlalu lama main laptop.
Suatu kejadian yang cukup langka. Mungkin, semesta sengaja membuat rencana  supaya ada jeda dalam melakukan aktivitas rutin itu-. 

Dimulai dari sore hari.
Syahrani (Nama sebenarnya).  Mengirimi gue pesan di WhatSapp.
“Yas.. Kau dimana?”
Lalu, dia mengajak gue untuk nonton film. Gue yang udah lapuk dimakan waktu karena kelamaan online, menolaknya. Gue belum mandi seharian itu, bisa-bisa kami berjalan ke bioskop diiringi rombongan lalat.
Akhirnya kami jadi jalan (setelah gue mandi tentunya). Dan berujung di kelapa dua, di sebuah warung pempek milik tetangga rumah gue..
Kami memesan  satu Kapal Selam dan dua Lenjer, juga satu gelas Es Teh Manis.
Gue sebenarnya tidak terlalu lapar, gue hanya ingin mengobrol sore itu.
Selama kami mengobrol sambil diselingi kegiatan mengunyah.
Tiba-tiba.. Seorang wanita penjaga warung muncul dan berpuisi.
Iya, berpuisi. Tanpa teks.
“Cinta... Cinta itu kalau terlalu lama disimpan bisa basi.”
Gue bengong sesaat. Dan bibir gue pun bergetar, menahan tawa.
Dan dia melanjutkan puisinya sambil berjalan ke arah penggorengan.
Dia membuka sebuah lemari kecil, mengeluarkan entah apa.
“Seperti bahan makanan yang didiamkan. Cinta akan busuk jika terlalu lama disimpan, seperti bahan makanan...”
Brilian sekali, diam-diam gue menyetujui puisi yang dia ucapkan tiba-tiba tadi.
Gue melongok ke sudut-sudut atas dinding warung tersebut. Mencari CCTV, siapa yang tahu kalau ini merupakan acara Reality Show.
Bersih. Meski nampak kotor dan banyak kelelawar bergelantungan. Tapi tidak ada CCTV.
Jadi, kenapa mbak-mbak itu ngomong sendiri????
Gue memerhatikannya terus menerus. Untungnya dia tidak menyadari itu.
Dia memakai headset dari tadi, apa mungkin dia sedang mengobrol dengan seseorang di telepon?

Sebenarnya puisinya masih panjang lagi. Panjang sekali. Sampai gue melupakan sebagian besar isi puisi tersebut.
Selain pembacaan puisi yang sangat tiba-tiba tersebut. Dia sesekali bersenandung heboh.
Yang gue paling ingat, saat dia menyapu sambil bernyanyi lagu Adera.
Dan kau hadir merubah segalanya
Menjadi lebih indah
Kau bawa cintaku setinggi angkasa
Membuatku merasa sempurna
Dan membuatku utuh tuk menjalani hidup
Berdua denganmu selama-lamanya
Kaulah yang terbaik untukkurgh~

Kemudian, pemilik warung datang sambil menyerahkan seorang bayi lelaki kepadanya.
Dia menimbang-nimbang lelaki itu. Dia berkata...
“Yaampun!!!! Aku masih muda, tapi sudah punya bayi...”
Dia ngomong sendiri lagi. Rasanya gue pengen mengguncang tubuhnya, dan menyemburkan kuah pempek ke wajahnya. Siapa tau dia kerasukan. Kelakuannya aneh sekali.

Setelah uji nyali selama beberapa lama. Menahan tawa setengah mati.
Akhirnya teman-teman kami datang, mereka menyelamatkan kami.
Dan hal yang mengejutkan lainnya adalah saat kami membayar di kasir.... K
Harga yang cukup fantastis untuk 3 potong pempek dan 1 gelas es teh manis..
Mungkin ini yang disebut karma karena sudah mentertawakan seseorang dalam hati.
*usap air mata* *pukul-pukul dompet*

Setelah itu, kami melewati malam bersama di ruang tamu rumah gue.
Satu hal yang sangat gue ingat malam itu, langit indah sekali. Ada beberapa bintang, para cahaya masa lalu yang berkerjap-kerjap riang.
Gue yang pulang ke rumah sambil menggowes sepeda sendirian.
Sesekali menoleh ke atas, mengulum senyum.

Bintang  memerlukan waktu sekian tahun cahaya untuk terlihat di bumi.
Bintang yang kita lihat malam ini , sudah lama mati. Namun cahayanya masih dapat kita nikmati.
Sayang, polusi cahaya sudah ada dimana-mana. Cahaya masa lalu tersebut digantikan oleh penerangan lampu-lampu jalanan dan gedung-gedung tinggi.

Gue jadi ingat, sebuah kebiasan kecil orang-orang. Memanjatkan doa dalam hati- ketika bintang jatuh.
Jadi, orang-orang selama ini mengharapkan sesuatu di masa depan, pada sebuah cahaya dari masa lalu?
J


Tapi namanya juga harapan-sekecil apapun itu. Kita terbiasa berpegang padanya.
Meski kadang- memang bukan pegangan atau pijakan utama.

Dari kecil gue selalu menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan bintang. Mulai dari bintang-bintang di langit, bintang laut pink, seorang bintang film.
Dan gue selalu berharap, gue dapat menjadi seorang bintang.
Suatu hari di masa depan, seseorang menyadari keberadaan gue di masa lalu.
Mencintai dan menghargai sosok gue.
Meski sosok gue tersebut sudah lama mati.
Dan gue ingin, kehadiran gue bisa menimbulkan harapan bagi hidup seseorang.
Harapan apapun itu. Harapan yang mereka panjatkan diam-diam dalam hati, dan berusaha mereka gapai setiap hari.

Udah dulu ah. Saya mau tidur, dan bermimpi. Bangun lebih pagi, dan menjemput mimpi.

Senin, 15 April 2013

The Fabulous Udin. Semua seakan mudah saat ia ada.


Assalamualaikum

Seminggu yang lalu, gue selesai melahap abis isi novel The Fabulous Udin.

Buku ini adalah buku kedua karangan pemilik akun @wowkonyol / si Fabulous Onyol / Rons Imawan.

“Kisah kolosal dari seorang pemuda tanggung yang berjuang memudahkan hidup orang lain, dan bukan hidupnya sendiri.”

Begitu uraian singkat tentang buku tersebut dari blog penulisnya sendiri.

Pemuda tanggung itu, Udin namanya.
Seorang bocah SMP, yang hidup dengan sederhana bukan dengan gelimang harta.
Menabung uang jajannya untuk mewujudkan cita-cita emaknya. Dan untuk itu, Udin rela membantu pekerjaan seorang Pemilik Kantin. Hanya untuk beberapa potong gorengan.
Berbeda sekali dengan remaja kebanyakan, termasuk gue. Yang suka ngerasa kekurangan uang jajan, hanya untuk kesenangan yang sementara.

Udin. Semua seakan mudah saat ia ada.
Dengan akalnya yang luar biasa. Dan kerendahan hatinya.
Dia menyelamatkan banyak nyawa,  menyelesaikan banyak masalah dan memabukkan kita oleh setiap kata-katanya.
Dia mampu membuat siapa saja jatuh cinta.

Tapi di dalam Novel TFU tokohnya bukan Udin saja.
Ada Suri, seorang remaja cantik dengan karakter yang menarik dengan penyakit yang siap merenggut nyawanya setiap detik. Dia penyelenggara sayembara-sayembara yang menggelitik nyali.
Ada Inong, si  manis berjidat nongnong. Rela meminjamkan mimpinya untuk orang lain. Ketegaran hatinya benar-benar membuat salut.
Ada Jeki, si selebtwit yang doyan ngegombal dan jatuh cinta oleh pengasuhnya sendiri.  Juga ada Ucup, si Endut yang suka ngebanyol dan fobia kerupuk.
Ada Onyol, si penulis buku yang hobby ngobrol sama Tokoh Utama (Udin) dalam bukunya sendiri. Dan akan sukses bikin kita geregetan.
Dan ada banyak tokoh lainnya.

Tokoh favorit gue adalah seorang Udin. Bukan Udin seorang.
Gue suka semua tokoh, semuanya pas sama porsinya. Semua gue suka kepribadiannya, meski belum jelas kenampakan wujud dan SENDALnya.

Bukan berlebihan jika gue mengatakan. Gue jatuh cinta dengan tokoh Udin, mungkin lebih tepatnya oleh si Penulis Bukunya (Onyol) :p.
Meski Onyol suka nyolong sendal, tapi dia adalah penulis yang handal. Dan kali ini bukan hanya sendal yang dia curi, tapi juga hati para pembacanya. Eaa.

Soal bab favorit, semua bab gue suka. Mulai dari Kata Pengantar sampai Tentang Rons Imawan.
"Hanya sebuah titik kecil di antara berjuta galaksi mahakarya Sang Pencipta". Perkenalan singkat yang bikin gue tersenyum membacanya.

Soal kutipan favorit dalam setiap bab favorit. Gue menyukai keseluruhannya.
Segala penggunaan kata hingga tanda baca. Perdebatan antara Onyol dan Udin. Puisi-puisi Udin. Percakapan antar tokoh. Teori-teori Psikologi. Semuanya deh pokonya.
Luar biasa dan mengena. Onyol mengajak pembaca berfikir, tertawa, menangis, merasa.

Ada 3 kutipan yang sangat berkesan buat gue. Karena sukses bikin gue mengeluarkan suara tawa yang keras dan senyum yang lebar di wajah karena gemes.

(1) "Gue, kan, Nyol?"
"Apa, sih, Din? Main samber aja kayak copet!"
"Tapi, emang gue, kan, Nyol? Jangan becanda, deh. Nggak lucu!"
"Sorry, Din. Kali ini pemenangnya emang bukan elu."
"Oke! Kalau gitu gue ngundurin diri aja! Gue mau cari penulis lain yang lebih bisa menghargai pemeran utama!"
(Perdebatan antara penulis dan tokoh utama)

(2) (Puisi Udin buat Suri di menara. Bab Truth Or Dare.)

Jika cinta itu agama, maka aku memelukmu seperti memeluk agama.
Tak akan pernah kulepas hingga aku menua dan tiada.
Jika aku pindah ke lain cinta, maka aku pindah agama.
Tak akan pernah kuganti hingga aku meregang nyawa.
Demi Tuhan, aku mencintamu.
Karena Tuhan... Aku memilikimu.

(3)
"Jika x sama dengan y, dan z lebih besar daripada y, berapakah x ditambah z?" Tanya dosen pembimbing.
"Hewan yg memiliki gigi kenapa giginya selalu terlihat putih, padahal tidak pernah gosok gigi? Sedangkan kita, satu hari saja tidak menggosok gigi, langsung kuning. Kamu tahu jawabannya?" Tanya Justin Bieber.
"Bagaimana asal mula kehidupan? Coba kamu jelaskan!" tanya Sule.

...

Dan selepas membaca novel itu. Gue yakin, kebanyakan pembaca akan bertanya-tanya.
“Tokoh Udin itu nyata gak sih?”
Gue pun begitu.
Dan gue yakin, kebanyakan perempuan akan kepincut berat dengan seorang Udin.
Dari kata-katanya, cara dia memenangkan sayembara, cara dia menyelesaian masalah kecil hingga soal nyawa, kepribadiannya, prinsipnya, pencipta tokohnya (eaa). Selain itu tokoh si Udin digambarkan punya wajah yang rupawan. (Bikin gue sendiri keringetan ngebayangin gue jadi wanitanya ._.)

Cowok yang ada di header twitternya Onyol. Kata Onyol dia punya faktor U. 
Kemudian setelah bertanya-tanya dan jatuh cinta pada si tokoh utama. Kebanyakan akan meronta-ronta membabi buta berkeinginan agar novel ini di filmkan.
Tapi sebelum kalian-kalian semua menontonnya di bioskop-bioskop kesayangan, akan lebih baik jika membaca bukunya terlebih dahulu :p. (Bukan Iklan Berbayar)

Selain jatuh cinta dengan tokoh Udin, kalian kalian yang perempuan.
Akan iri dengan sosok serta kepribadian para tokoh wanita di novel ini. Gue pun begitu.
Gue merasa gue gak sesempurna Suri. Gak secantik Bi Aidah. Gak setegar Inong, meski sama2 kena friendzone. Gak semulia Ibunya Udin. Gak sebaik Mamanya suri. Gak sesetia Kak Siloh. Gak sebijak Bu Arwiyah.
Rasanya gue belum jadi wanita  hebat seutuhnya seperti mereka.
Tapi meski begitu, gue rela kok jadi calon bidadari surganya Onyol:3

...

Jadi, selesai kalian (siapapun) yang membaca postingan ini. Beli atau pinjamlah buku TFU ini.
Ada banyak pesan dan kesan yang akan kalian dapatkan. Alur cerita yang sukses mencipta tangis dan senyum dalam wajah kalian.
Dan bersiap-siaplah jatuh cinta..

:3


Senin, 01 April 2013

Pesan Kesekian, Untuk Kita.

Aku ingin mengetikkan beberapa kata di ponselku, lalu kukirimkan kepadamu. Lewat pesan singkat tentu.
Jika saja aku sejenak melupakan perihal batasan. Mungkin sudah tak terterka sebanyak apa kata yang akan kukirimkan.

Entah hal ini harus kusyukuri atau tidak. Aku selalu membatasi diri jika hal itu mengenai dirimu.
Aku harus bisa mengontrol diriku, sepenuhnya. Perasaanku, gesture tubuhku, mimik wajahku, perkataanku, jeda dan tarikan nafasku, dan lain-lainnya.
Terlebih jika harus berhubungan secara langsung. Lewat suatu media tidak langsung pun rasanya tak karuan.

Dan. Ada satu hal yang sering aku lewatkan. Ada satu batas yang sengaja aku lupakan.
"Kita" sudah berbeda.

Aku selalu sulit menerima perubahan. Aku cenderung ingin segala sesuatunya bergerak sama dengan apa yang aku inginkan, memberi kenyamanan tetap untukku. Tidak perduli hal itu baik atau buruk.
Terlebih perihal "kita".

Kenapa aku menyebutnya dengan kata "kita"?
Karena bagaimanapun.. Pertemuan, percakapan, kedekatan, hubungan, kemesraan dan perpisahan itu kita jalani berdua. Sebagai dua aktor utama.
Meski mungkin hanya aku yang terus mengingatnya, seperti gajah yang terus mengingat rute perjalanannya.
Akupun begitu setiap harinya, meniti segala awal terbentuknya kita hingga akhir yang menyakitkan lewat ingatanku. Berulang kali begitu.
Meski menyakitkan, itu terasa menyenangkan.

Mungkin kau tidak akan mengerti.
Bagaimana satu lirik lagu, satu folder di laptop, surat-surat tanpa nama yang tak pernah kukirimkan, percakapan kita di ponsel, segala ucapan selamat pagi dan malam, alat transportasi saat kau mengantarku pulang, hadiah ulang tahun yang masih rapi kusimpan, hal-hal yang dulu sering kita tertawakan, segala hal remeh yang kita perbincangkan, tiket-tiket film yang pernah kita tonton.
Dan lain-lain. Masih banyak sekali.
Setiap aku membuka atau menyentuh itu semua. Bahkan hanya dengan menengoknya.
Aku selalu ingin cepat pulang, menjemputmu. Menuju "kita", kembali.

Tapi tak pernah ada cukup keberanian. Nyaliku kalah besar oleh keinginanku sendiri.
Aku ingin (kita) kembali. Tak pernah secara lugas dapat aku sampaikan.
Aku selalu takut dan membiarkan fikiranku menjadi buruk.

Bagaimana jika aku menjemputmu, lalu kau tidak mau.
Bagaimana jika aku menjemputmu, lalu kau menutup pintu.
Bagaimana jika aku menjemputmu, lalu kau mengusirku.
Bagaimana jika aku menjemputmu, lalu kau dijemput orang lain terlebih dahulu.
Bagaimana jika aku menjemputmu, lalu kau sudah lama pindah ke tempat baru.
Bagaimana jika aku menjemputmu, lalu ternyata kau memberikan alamat palsu. (Re: Harapan Palsu)
Dan masih banyak bagaimana-bagaimana lainnya.

Tapi, bagaimana mungkin tak pernah terfikirkan olehku keadaanku sendiri. Keadaan ruang hatiku..
Berantakan sekali sejak kamu tinggal pergi, dan aku tidak pernah mencoba merapikannya. Merasa tak mampu dan tak mau setiap menggeser atau memindahkan sesuatu di ruang ini.
Karena berharap kau akan datang, dan membantuku merapikannya.
Harapan. Bagaimana bisa aku berpegang pada sesuatu yang tidak memberi kepastian?

Bagaimana mungkin, aku sudah berlari lama sekali. Lelah sekali. Namun tak berpindah sama sekali.
Seperti berlari di treadmill.
Semoga saja ada manfaat untuk kesehatan dan kebugaran hatiku pelarianku selama ini :|.

Dan..
Bagaimana aku harus menutup tulisan ini? Menghentikan jariku memuntahkan huruf-huruf.
Apa itu semudah menutup perjalanan "kita"?

Tidak usah dijawab. Aku tidak butuh jawaban kali ini. Aku tau aku sedang berbicara sendiri,  kamu sudah lama pergi dan tidak dapat mendengarkan lagi.

Senin, 18 Maret 2013

Dear You, How was your sleep?

Mungkin sekarang, kamu sedang tidur sambil memeluk gulingmu.
Dengan mulut yang terbuka, seperti kebiasanmu.
Akan ada air yang mengalir dari mulutmu, dengan bunyi dengkur perlahan.

Atau mungkin,
Malam ini kau sedang duduk di atas ranjangmu.
Memegang ponselmu di tangan kanan. Sambil menatap ke jendela kamarmu, melihat kucing tetanggamu kawin.
Dengan volume suara yang dipelankan. Sesekali mengucapkan rayuan dan candaan.
Hingga seseorang diseberang telpon, tertawa kegirangan.
Kau memang pandai sekali membuat orang tertawa, tak heran bila begitu banyak yang suka.

Tapi terlalu banyak kemungkinan akan hal apa yang kamu lakukan. Seandainya aku punya cukup keberanian untuk sekedar menyapa dan menanyakan.

Lalu, jika seandainya kau bertanya apa yang sedang kulakukan dini hari ini..
Seperti layaknya perempuan yang sedang jatuh hati.
Aku akan menjawab dengan hati-hati.

"Aku sedang menulis, sambil sesekali mengamati kicauan teman-teman di twitter.  
Kenapa aku belum tidur? 
Jadwal tidurku memang berantakan, sama seperti keadaanku saat pagi pertama ketika kehilanganmu- sama seperti pagi yang terus berlanjut hingga saat ini. Aku rasakan kau menghilang, tapi aku pun tak yakin dengan perasaanku. Bahwasanya, bisa saja kan kau hanya pergi sejenak? Kau hanya sedang singgah di beberapa tempat, mencari entah apa yang aku tidak mengerti. Namun suatu hari nanti, kau pasti kembali. Selalu aku yakini."

Pada kenyataannya aku tidak akan pernah mengirimkannya. Tidak ada cukup keberanian.
Itu hanya akan ditampilkan di halaman blogku, sebagai pesan tanpa penerima seperti tulisanku yang lainnya.
Lagipula, untuk kukirimkan lewat pesan singkat pun rasanya berlebihan.
Dan kau akan membalasnya lama, atau mungkin tidak ada balasan sama sekali.
Seperti kebiasaanmu, ketika kau tidak mengerti atau tidak perduli.
Dan aku akan menunggu lama sekali, lalu tidak tidur hingga larut pagi.
Seperti perangaiku yang kau tau, menunggu adalah hal yang kubenci.

Lalu, apa sesungguhnya yang  dapat kukatakan padamu seandainya kau menanyakan tentang hal itu?
Tentu kau pasti tau. Aku akan membalasnya dengan singkat dan dibubuhi bunyi tawa di belakang kalimat.
"Ngeblog hehehe..."
"Lg nulis wkwk."
"Lg ngeblog. Pegel gue-__- wakakak."
"AgY nUliz NiCh qAqA"

Basi dan bodoh sekali. Aku memang tidak pernah pandai basa basi, aku akui.

(Fck texting i want you here. I want you there. I want you everywhere. I want you suwer tekewer kewer -__________-)

Good night You, semoga tidurmu menyenangkan. Semoga kau memimpikan kita berpasangan. Semoga harga bawang tidak kemahalan. Semoga jakarta tidak lagi akrab dengan kemacetan. Semoga Sutan tidak kegantengan. Semoga kita dijodohkan oleh Tuhan.
Semoga yang baca postingan ini mengaminkan :)))


Rabu, 13 Maret 2013

Hargai Waktu

Lagi dan lagi. Gue gagal untuk menciptakan jadwal teratur untuk ngeblog.
Banyak sekali ide yang datang ke kepala gue. Mengetuk pintu, masuk. Namun hanya singgah sebentar.
Karena tidak segera gue pindahkan ide-ide itu lewat kata-kata.

Gue juga kembali gagal, untuk mengatur jadwal tidur.
Badan gue capek, tapi setiap malam gue melupakan apa itu rasa kantuk.
Rasanya kaya dikhianatin badan sendiri.

Bagai dua sisi mata uang.

Terkadang, gue menjelma menjadi pribadi yang serba teratur dan disiplin.
Gue mudah cemas jika tidak mempersiapkan sesuatu dengan baik.
Gue selalu mencoba untuk mempersiapkan diri.
Tapi gue sadari belakangan ini, terlalu banyak persiapan.
Yang perlu gue perbanyak adalah tindakan.

Namun. Bukan sekali dua kali, gue terjajah oleh rasa malas.
Keinginan untuk terus menunda.
Menunda, karena merasa waktu berjalan lama.
Merasa waktu bergantung pada gerak saya.
Padahal justru, tidak perduli gerak yang saya lakukan lamban atau cepat.
Waktu selalu menjalankan tugasnya secara objektif.
Semua mendapat bagiannya sama, tapi tidak semua mampu menghargainya dengan rasa yang sama.
Seorang presiden, artis papan atas, penulis terkenal, tukang gorengan, mamang fotocopyan.
Sampai pelajar SMA seperti saya.
Semua punya jatah waktu yang sama setiap hari, 24 jam.

Dengan jatah waktu yang sama itu. Pencapaiannya memang berbeda.
Tapi gue fikir dan gue rasa (Karena logika dan hati sering bersebrangan).
Meski arti "sukses" sendiri, juga tokoh yang dianggap sukses itu berbeda untuk setiap orang.
Menurut pendapat gue, orang yang sukses itu selalu bisa menghargai waktu. Dan menghargai Sang Pencipta yang Mengatur Waktu.
Sukses dalam bidang apapun.

Dan apakah gue sudah mampu menghargai waktu?
Bukan hanya waktu saja. Bahkan apakah gue sudah mampu menghargai diri gue sendiri?

Dengan menulis postingan ini yang berarti menggagalkan upaya gue untuk mengatur waktu tidur, apakah itu juga berarti gue juga sudah tidak menghargai waktu?

Tapi gue rasa, itu juga bergantung apa yang gue kerjakan di malam hari ketika gue mengganggu waktu tidur gue sendiri.
Dan gue juga yakin, orang-orang sukses di luar sana sudah sering mengorbankan waktu tidurnya untuk karya mereka.

Gue akui, seringkali yang gue lakukan hanya buka 1cak atau mengamati timeline Twitter.
Jarang sekali gue lakukan kegiatan menulis. Padahal bagi gue menulis dan membaca merupakan suatu bentuk rekreasi.
Rekreasi kata-kata. Mengistirahatkan otak gue yang sesak oleh cerita yang gue simpan sendiri.

Jadi selama itu merupakan hal yang berguna. Gue rasa sang "waktu" pun juga merasa kita menghargainya.
Gue meyakini itu.
Dan ada satu hal yang gue yakini dan pegang selama ini.
"Pemilik semesta dan semesta selalu mengamini apa yang kita yakini."


Dan gue meyakini dan selalu mengamini.
Bahwa suatu hari gue akan jadi orang yang sukses.
Sukses bagi diri gue sendiri, bagi keluarga, dan bagi orang lain.

Memang selama ini gue masih terlalu sering mengambil jeda dalam setiap gerakan untuk menggapai mimpi gue.
Selama ini juga gue masih terlalu sering mengambil jalan memutar, daripada langsung menuju tujuan.
Sama seperti postingan ini.
Bertele-tele dan mungkin sedikit menyimpang dari maksud dan tujuan awal gue.
Tapi kali ini, gue benar-benar membebaskan otak gue mengetikkan semuanya.
Merapikan barisan kata-kata yang selama ini hanya menetap di otak.
Tak apa kali ini, kalau banyak yang tidak mengerti.
Tujuan tulisan gue kali ini, hanya melegakan fikiran.

Haha, sampai disini dahulu. Saya mau tidur, dan bermimpi. Bangun lebih pagi, dan menjemput mimpi.


Senin, 04 Februari 2013

Pegel


Kalau kelamaan ngeliat ke belakang, punggung bakal pegel.
Kalau kelamaan nginget yang udah di "belakang", hati juga bakal pegel.

Kalau punggung yang pegel sih. Tinggal  minta pijit pake balsem.
Meski awalnya panas. Tapi badan langsung enakan.

Seandainya untuk mengatasi hati yang pegel juga segampang itu..
Minta pijit rongga perut sebelah kanan pake balsem khusus Move On.
Nanti awalnya bakal kerasa panas kaya ngeliat si dia Move On duluan.
Tapi hati bakal enakan.

Seandainya ada. Seandainya bisa. Seandainya mampu. Seandainya dapat.
Seandainya gue bisa berhenti ngomong seandainya.

Pasti rasanya gak bakal "sepegel" ini.
Pasti rasa pegel ini gak bakal berkelanjutan.
Pasti gue gak bakal terus tergoda buat terus melihat ke belakang.
Pasti gue gak bakal lupa kalau kenangan hanya bisa dikenang.
Pasti gue bakal berhasil untuk dapat jatuh kepada selainnya.
Pasti? Gak ada omongan yang pasti. Apalagi diucap oleh mulut orang yang lagi patah hati.

Rasanya jari gue juga udah pegel.
Terus menerus menulis tentang keluhan hati yang mulai pegel ini.
Jari yang dulu pernah dia genggam ini.
Rasanya juga pengen gue cepet-cepet mengakhiri semuanya.
Berhenti mengingatnya. Berhenti mengenangnya. Berhenti menuliskan tentang itu semua.

Rasanya luar biasa pegelnya, dan dia gak pernah menyadarinya.

Sabtu, 01 Desember 2012

Nenekku Pahlawanku

Assalamualaikum.


Postingan ini bukan tentang lirik lagu band Wa**.
(Ataupun pembahasan lirik lagu band tersebut secara etimologis dan istilah.)


Postingan ini gue dedikasikan untuk salah seorang pahlawan hidup gue.
Nenek gue, yang biasa gue panggil dengan sebutan "Mamah" sejak kecil.


Nama lengkapnya Mas'ah. Begitu nama yang tertera di KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan Kartu Keluarga.
Lahir dan tumbuh besar di kota Jakarta.
Usia beliau sudah 79 tahun, tapi alhamdulillah fisiknya masih kuat dan hampir gak pernah sakit.
Sang suami a.k.a Kakek, yang dari kecil juga sudah biasa gue panggil "Ayah". 'Pulang' lebih dahulu, beberapa tahun lalu.

Beliau orangnya gesit, dan getol banget setiap ngerjain sesuatu.
Perhatian dan pengertian dari beliau, begitu kental gue dan kakak-kakak gue rasakan sedari kecil.
Bukan bermaksud merendahkan posisi Ibu (Nyokap aye).
Tapi kekhasan perhatian dan kasih beliau begitu membekas.

Sejak dulu, kamar dia adalah tempat yang paling nyaman di dalam rumah.
Gue dan kakak-kakak gue tidur berempat di kamar dia dulu. Saat tubuh kami masih mungil dan cukup satu ranjang.
Lalu, Kakak perempuan gue beranjak besar. Dan mendapat kamarnya sendiri di lantai atas.
Setelah itu Abang gue yang mengalami hal serupa.
Hingga akhirnya hanya gue yang tidur sekamar dengan beliau.
Sungguh, gue gak keberatan dan gak iri dengan kakak-kakak gue karena punya ruang pribadi sendiri di dalam rumah.
Bagi gue, tidur bareng mamah adalah hal terbaik. Tidur sambil dikipasin, dipijitin, dan lain-lain. Benar-benar selalu membuat gue ngerasa disayang.

Hingga gue beranjak remaja, dan mulai ngebet pengen kamar sendiri. Dan terkabul.
Tetep aja, gue masih betah tidur di kamar beliau. Sampai Ortu mencak-mencak, gara-gara nganggep gue gak mandiri.

Tapi sekarang, memang udah lain sih.
Gue sekarang lebih jaga privasi gue. Lebih ngerasa bebas dan nyaman di kamar sendiri. Karena gue sering tidur malam dan gocan abis.
Gue juga ngerasa bakal nyiksa nenek gue kalo tidur bareng dia.
Dia bakal gak bisa tidur gara-gara denger gue ketawa-tawa sendiri baca novel.
Atau ketendang sampe ke dapur gara-gara ketidaksadaran gue yang bisa menciptakan tendangan ala madun kalo tidur.

Ehm.

Suatu hari waktu gue masih nampak seperti kembaran dora dengan gigi berjendela, beliau sakit. Gue lupa tepatnya sakit apa.
Tapi yang jelas hari itu, siang itu.. Gue selalu ingat, gue dan abang nangis-nangis nunggu beliau pulang.

Hal itu hampir selalu terulang, meski gak sampe jejeritan. Tapi melihat beliau sakit, bener-bener hal yang menyesakkan.

Pernah suatu pagi, beliau sakit. Dan hanya bisa terbaring di tempat tidur.
Gue yang masuk siang, masih setia menunggu di kasur. Dan abang gue yang sudah siap dengan seragam merah putihnya berdiri di depan pintu kamar dengan tatapan sendu.
"Anip gausah sekolah aja lah kalo mamah sakit begini."
Gue sampe sekarang masih terenyuh mengingatnya.

Waktu TK, beliau yang mengantar gue di hari pertama naik becak.
Beliau yang nemenin gue pengambilan nilai renang.
Beliau yang selalu memaklumi kalo gue beberapa kali lupa bawa *sensor* waktu berenang.
Beliau yang ngajarin gue jurus kamehameha. Tapi yang ini boong.

Dan gue, Bukanlah Shincan yang selalu jadi anak TK.
Gue bertumbuh besar, dan pribadi gue berkembang.
Gue beranjak remaja bahkan dewasa , dan nenek gue justru bertambah renta.

Februari lalu (2012).
Saat gue lagi heboh belajar unyu buat UAN SMP.
Ada tragedi kelabu yang menimpa beliau.

Siang menjelang sore, gue baru pulang sekolah. Seperti biasa mengucap salam dan membuka pintu pagar.
Gue yang lugu ini selalu agak lambat menyadari sesuatu. Merasa aneh dengan keadaan rumah yang lebih sepi dari biasanya.
Dan mobil yang menghilang dari garasi, padahal setau gue bokap lagi gaada supir waktu itu.
Tiba-tiba ada yang menepuk pundak gue pelan.
Bukan, bukan slenderman.
Tetangga gue yang datang membawa kabar, katanya beliau masuk Rumah Sakit.

Gue jelas shock. Dan baru menyadari ada noda darah di pagar dan tembok depan rumah.
Di lantai ada sedikit noda darah, ditembok dekat keran juga.
Gue panik, lalu tetangga gue menyodorkan kunci dan menjelaskan kalau beliau jatuh dari tangga.
Tanpa basa-basi gue langsung buka pintu yang menghubungkan langsung ke tangga.
Benar. Ada noda darah yang belum sempat dibersihkan.
Lalu di  dekat kamar mandi, ada tumpukan baju dengan bercak darah.
Gue langsung paham apa yang terjadi.

Seperti yang sudah gue katakan di awal postingan. Beliau orangnya getol. Benar-benar getol.
Di usia senjanya ini beliau selalu merasa tidak bisa duduk diam saja.
Beliau selalu ini mengerjakan sesuatu. Dan hal yang membahayakan dari itu, beliau gemar naik turun tangga.
Meski sekarang rasanya gerakannya tidak segesit dahulu, tapi kakinya masih kuat menapaki anak tangga sepanjang hari.
Dan hari itu, gue tau apa yang dia kerjakan sehingga naik turun tangga lagi.
Mengangkat cucian kotor.

Dan setibanya gue di rumah sakit. Gue benar-benar sibuk menahan tangis.
Kepalanya terantuk ujung pintu, sehingga mengalami sedikit pendarahan.
Lalu setelah itu beliau dirawat di rumah sakit selama seminggu.
Dan perlahan-lahan kembali seperti semula.
Ya, kebiasaan naik turun tangga itu sulit dihentikan.

Dan puncaknya hari ini.
Nyokap sama kakak perempuan lagi ke Anyer. Berlibur dan leyeh leyeh di pantai sambil nyari gatot kaca(?)
Abang ngampus. Dan gue seharian baca buku sampe mampus buat UAS.

Berhubung gue gak bisa masak. Dan membiarkan nenek gue memasak itu beresiko tinggi.
Gue melipir sejenak beli mie ayam.
Tiba-tiba pas lagi unyu-unyunya nungguin makanan, gue kefikiran.
Bokap lagi bobok siang-siang ini, kalau nenek gue ditinggal sendiri dirumah...
Bisa-bisa dia udah jalan-jalan sendirian sampe pangkalan ojek lagi, atau naik turun tangga lagi.
Gue akhirnya memutuskan untuk makan di rumah..

Setibanya gue dirumah, dan bersyukur karena dia baru bangun tidur.
Gue memulai ritual makan siang.
Beliau sempat mau naik ke atas, dan gue melarangnya.

Dan....... Saat perhatian gue teralih ke buku pelajaran.
Tiba-tiba bunyi barang jatuh terdengar dari lantai atas.Keras sekali.
Dan suara beliau parau terdengar.

Sesampainya gue di lantai atas. Gue sudah menemukan beliau menangis sambil tiduran di lantai.
Gue panik, takut. Kalau kepalanya lagi-lagi terantuk.
Tapi gue gak menemukan jejak darah. Yang ada hanya dia yang memegang kakinya.

Gue coba angkat, mamah malah jejeritan. Sepertinya ada yang salah. Gue langsung bangunin bokap.

Dari situlah, asal kekalutan dan kelelahan fikiran juga tubuh gue hari ini.

Saat ini, beliau lagi tidur. Semoga rasa sakit di kakinya berangsur membaik.
Dan kejadian seperti ini gak akan terulang lagi.

Punggung gue rasanya pegal sekali seharian ini. Tapi gak sebanding dengan sakit yang beliau rasakan, karena  sedikit banyak itu adalah karena kelengahan gue.
Cucunya yang belum bisa dengan benar membagi perhatiannya untuk neneknya yang sudah renta.

Coy.. Rasanya gue pengen gelitikin diri sendiri. Pake belati.


Gue jadi susah tidur. Selain karena efek kopi yang gue minum saat nonton bola tadi.
Kekalutan fikiran selalu jadi penghalang untuk tidur.
Selain itu materi UAS belum sempat gue lahap abis.
Dan lagi, gue benar-benar harus nulis postingan ini. Atau kata-kata ini bakal bikin dada gue makin sesak.
Karena terlalu banyak kata dan cerita yang gak bisa gue bagi akhir-akhir ini kepada orang lain.

Menulis, selalu membuat gue merasa punya ruang untuk bercerita dan didengarkan.
Rasanya seperti direngkuh dengan hangat dalam dekapan Mamah.


Tyas Hanina

Sabtu, 27 Oktober 2012

i feel bad

sesak.
kata dan luka sudah berebut tempat di dalam dada.
pemiliknya enggan untuk mengeluarkannya.
bahkan untuk sekedar membuat mereka bisa bernafas sedikit lega.
pemiliknya bahkan enggan untuk mengaturnya.
bahkan untuk membuat mereka lebih nyaman berdiam disana.
pemiliknya kesulitan melakukannya.
padahal dia hanya perlu bercerita, atau sekedar menulis dan menyusun kalimat sederhana.

Kamis, 25 Oktober 2012

Berfikir tentang fikiran kamu

Berfikir tentang apa yang kamu fikirkan.
Jika tau, pesan-pesan singkatmu masih tersimpan di handphone lamaku.
Bahkan sekedar ucapan selamat pagi dan malam.

Susunan huruf dan kata yang kau ketikkan itu.
Selalu sempurna untuk mencipta lengkungan senyum di bibirku.

"Selamat Pagi." "Selamat Malam"
Membuatku merasa, aku masih ada disetiap pagi hingga malammu.

"Tapi pesan-pesan itu hanya bagian dari masa lalu." Katamu, di dalam fikiranku.



Malam , Kamu.


1Nov11


P.S
Aku ingin sekali percakapan kita tidak hanya ada dalam fikiranku.
Dan lebih dari sekedar kalimat-kalimat yang diketikkan dari ponselmu.
Karena tak dapat kudengar jeda dan tarikan nafas darimu.
Karena tak dapat kudengar simponi indahmu, yang hanya terdengar olehku.

Selasa, 02 Oktober 2012

October Rain

Guten Abend!

Saat jam pelajaran terakhir tadi..
Hujan hampir sampai. Angin dan kawan-kawannya lebih dulu datang.
Angin sibuk mengetuk-ngetuk jendela kelas, langit dengan pekat yang bergelayut manja dan petir yang berteriak-teriak dengan gegap gempita.
Hujan. Adalah cinderamata dari kedatangan bulan Oktober.

Kabar baiknya adalah sekolah dipulangkan lebih awal.
Meskipun hanya lebih cepat 30-45 menit.
Tapi itu cukup untuk membuat saya lebih tenang, setidaknya masih ada harapan terhindar dari hal yang paling saya benci. (Sepatu basah. Beserta kaos kakinya. Melihat jari kaki saya yang mengeriput ketika membuka sepatu, dan aroma kaos kaki yang begitu "wangi".)
...
Setiap melihat hujan, rasanya saya ingin jadi laut. Musim hujan selalu laut sambut dengan suka cita.
Karena hujan, adalah kencan antara laut dan langit. Selama ini mereka saling mencintai.
Saling berbagi warna dari hati masing-masing. Biru dari cerahnya langit, biru dari dalamnya laut.
Keluasan hati mereka bagai ruang tanpa batas.

Kadang mereka terlihat begitu dekat.


Nyatanya jarak begitu nyata. Mengambang diantara keduanya.
Membuat mereka makin mengeratkan genggaman tangan, tak rela melepas kebersamaan.
Karena itulah turun hujan.

Agar langit bisa lebih mudah merengkuh laut.
Agar laut bisa dengan puas mengecup kening langit.

Karenanya, Oktober bagi kami bertiga (Saya, Laut dan Langit) adalah bulan penuh cinta, harapan, dan kebersamaan.
...
Jumat keempat di bulan Oktober ini. Usia saya genap 15 tahun.
Saya harap saya bisa jadi laut, dengan kedalaman fikirannya. Dan kejernihan hatinya.
Tapi kadang saya juga ingin jadi langit, dengan kecerian wajahnya. Dan terangnya perasaannya.

Tahun lalu saat saya masih bersamanya.
Dia bilang saya terlalu sering bercanda. Mungkin saat itu saya sedang jadi langit.
Tapi dia akhir perjalanan kami (Hujan bulan november), dia bilang saya sangat sulit dimengerti. Mungkin saat itu saya menjelma jadi laut paling dalam.

Atau mungkin. Dia hanya tidak sanggup menerka kedalaman fikiran saya, dan  saya tidak sanggup menyibak langit abu-abu yang menggantung di hatinya.


Tyas Hanina

Sabtu, 23 Juni 2012

Love is you, Mom.



"IBU: (i)ndah, (b)aik, (u)nik.

Cantik itu ibu, wajahnya dan jiwanya."



w/ kakak



biyutivul

Selamat ulang tahun Ibu. (22 Juni)
Semoga dengan semakin bertambahnya umurmu.. Semakin bertambah juga amalan baik dalam hidupmu, Semakin bertambah pula cinta dan kasihmu padaNya.
Amin

Ulang tahunmu bertepatan dengan ulang tahun kota jakarta.
Kota kelahiranmu. Kota yang mempertemukan kau dengan jodohmu.
Suamimu satu-satunya. Ayah anak-anakmu. Ayahku :>


Love You "Banget" Ibu.
Someday i promise i will make you proud.
Anak bungsumu ini, yang selalu kau katakan punya tabiat keras kepala.
Akan membuktikan padamu bahwa dia mampu bertahan dan melawan kerasnya jalan yang harus dia lalui di masa depan untuk meraih apa yang dia citakan.
("Berat". Namun tak seberat perjuanganmu saat melahirkan ku. Putrimu yg super minyi ini)


Tyas Hanina,

Seseorang yang selalu mencintaimu Ibu.