Pages

Minggu, 26 Mei 2013

Selamat datang, Hari Senin.

Kadang gue berfikir. Bagaimana rasanya menjadi Hari Senin?

Bertemu orang-orang yang berterus terang membencinya secara rutin.
Dijadikan sebagai lelucon, sebagai cacian, sebagai bentuk keluhan.
Yang biasa mereka ketikkan lalu kirimkan di media sosial..

"ARGH. Besok senin.. Mlz bangeudh."
"SENIN LO SIAPA SIH ANNOYING BANGET!"
"Besok senin. HAHAHAHAHAHHAHAHAFAK."
"Udah senin aja. Pengen cepet-cepet libur."
"Walaupun gue gak kenal siapa senin, gue udah bisa menilai dia adalah orang yang sangat menyebalkan."
"Hell-o, welcome MONsterDAY."

...

Kadang gue berfikir. Pernahkah Senin jenuh akan semua cacian yang menekan?
Pernahkah dia iri terhadap hari Minggu, yang selalu dinantikan kehadirannya?
Pernahkah?

Ah, Senin itu bukan makhluk hidup. Dia tanpa nyawa, tidak ada raga, hanya sebuah unit waktu yang diperlukan bumi untuk berotasi pada porosnya sendiri.

Coba fikirkan ulang. Bagaimana kalau seseorang berfikir seperti itu tentangmu?

Ah, Tyas Hanina dia hanya makhluk hidup biasa. Bernyawa, beraga, hanya seorang perempuan biasa yang tidak istimewa.

Atau, bayangkan.. Setiap satu hari di setiap minggu. Orang-orang memenuhi tab Mention Twittermu.
"Lo ganggu banget. Kenapa sih gue harus ketemu lo."
Atau
"Lo lagi-lo lagi. Sayang sekali bertemu dengan lo adalah keharusan."
Kata-kata cacian dan keluhan semacam itulah yang akan lo telan meskipun terasa tidak menyenangkan di tenggorokan.
Seakan-akan kehadirannya sangat tidak diinginkan, tidak dibutuhkan malah..
...

Merasa tidak dibutuhkan, itu menyedihkan.
Kadang-kadang gue merasakannya, kecewa melihat orang-orang terdekat sejenak lupa sama gue ketika mereka berhasil mencapai apa yang mereka inginkan..
Kecewa itu manusiawi kan? Rasanya aneh jika ada orang yang tidak pernah kecewa seumur hidupnya.

Disaat mereka sedang terjatuh.. Proses untuk bangkit.. Sampai bangkit lagi dan mencapai apapun itu..
Tapi, saat mereka berhasil. Dunia mereka pun penuh akan hal itu. Saking penuhnya, tidak ada lagi ruang yang dapat kita isi.
Dalam artian, bukan gak seneng ngeliat mereka bahagia. Cuma kecewa karena mereka akhirnya lupa.

Hahaha #KetawaHambar #HambarHambarPisang

Tapi, di balik itu semua gue belajar... (Mengutip dari Malam Minggu Miko Episode Malam Terakhir Miko.)
"... Gue juga belajar kita juga gak harus tahu orang lain butuh kita atau tidak, tapi yang penting kita ada untuk mereka."

#NgusapAirMata #MenyenderManjaPadaHerjunotAli

(Duh hashtagnya ganggu konsentrasi pembaca nih pasti..)

Ehem, ya jadi.. Mungkin itu yang membuat Hari Senin bertahan sampai sejauh ini.
Itu yang membuat mereka gak berdemo dan bakar-bakar ban di depan Gedung Pemerintahan untuk perpindahan jabatan menjadi hari libur.
Karena cukup bagi mereka untuk selalu ada untuk orang-orang, karena bagaimanapun dia pun sadar orang-orang membutuhkannya.
Logikanya sih, orang-orang benci dia karena hari sebelumnya adalah Hari Libur kan? Coba aja kalau Hari Senin adalah Hari Libur, maka Hari Selasa adalah Hari pembuka hari kerja kan? Dia pun akan bernasib sama seperti Hari Senin. Gak bakal ada habisnya.
Ngerti gak? Sebenarnya gue gak ngerti, jelasin ya ke gue kalo ngerti #lah

Dan.. gue heran sama orang yang terlalu sering mengeluhkan isi fikiran mereka di media sosial.
Media sosial adalah suatu bukti bahwa setiap orang butuh didengarkan.
Tapi, yang pakai media sosial bukan hanya dia aja kan?
Orang-orang yang mengikuti dia atau berteman dengannya di media sosial harus mendengarkan setiap patah keluhan atau cacian yang mereka ketikkan.
Duh, enak gak sih rasanya setiap hari ada dengerin orang yang teriak-teriak nama binatang atau ngeluhin hal-hal yang kadang gak terlalu perlu dipusingkan?

...

YAUDAH SIH YAS TINGGAL HAPUS AJA DARI PERTEMANAN.
Iya, tau. Tapi gak sesimpel itu. Rasa gak enak karena hubungan pertemanan di dunia nyata kadang jadi hambatan.

EH INI TOPIK POSTINGAN BLOG LO KENAPA JADI KEMANA-MANA SIH?!
Oh iya. Harusnya yang bener kaya jodoh ya gak kemana-mana.
Eh, Tapi sebenarnya jodoh itu ada dimana sih?!

NGELANTUR ABIS. UDAH SANA NGETWIT KELUHAN KALAU BESOK HARI SENIN DULU DI TWITTER. TERUS OFFLINE DAN BOBO-BOBO LUCU.
Yeh. Itu mah namanya gue nelen ludah sendiri,
eh tapi bukannya emang setiap hari kita nelen ludah sendiri ya? O.o

"...."
...

Huahaha. #MasihKetawaHambar
Akhirnya setelah ngetik 5476587081397931649 huruf ini gue inget juga rasa kantuk..

Untuk yang abis baca postingan ini..
Jangan lupa untuk kurangin kebiasaan ngeluh di Media Sosial ya, jangan lupa juga untuk selalu inget orang-orang yang selalu mendukung dan selalu ada untuk kalian, jangan lupa untuk jangan ngeluhin hari senin mulu- bersyukur masih diberi kesempatan sama Tuhan ketemu sama Hari Senin..

Terus. Jangan lupa untuk tetap rutin buka halaman blog ini.. #IklanTidakBerbayar


-Tyas Hanina(bobo) pengen bobo-

Senin, 06 Mei 2013

penting gak penting

Just a day,
Just an ordinary day.
Just trying to get by.

Seperti hari sekolah yang biasanya. Alarm berdering lincah tepat pada pukul 5 pagi.
Gue yang malas-malas menggemaskan ini, mematikan alarm tersebut. Dan tidur kembali selama 5 menit.

5 menit..
Dikali 12.
60 menit.
1 jam.
3600 detik.

Gue duduk di tempat tidur dengan perlahan. Melihat handphone. Dan sontak terkejut.
Sedikit lebih kaget daripada waktu gue ditinggal move on duluan.

Akhirnya gue mandi bebek (lah, setiap pagi bukannya emang gitu?).
Cipak cipak sebentar, cuci muka, gosok gigi. Dan... the worst part.... gue meninggalkan kewajiban untuk 2 rakaat shalat shubuh.

Abis mandi, tak kutolong ibu membersihkan tempat tidurku.
Mana sempet coy. Selesai mandi, waktu masuk sekolah tinggal seperempat jam.
Akhirnya gue naik ojek langganan. Dan sampai sekolah dengan tenteram dan sejahtera.

UDAH YAS, LU MAU CERITA ITU DOANG? IH, GAK PENTING BANGET TAU YAS.

Ya gak juga sih.
Cuma ini pertama kalinya gue telat bangun selama jadi Siswi SMA. Telat yang bener-bener keparat.
Meski gak sekeparat waktu gue di SMP sih. Baru bangun jam 8 atau jam 10an.

Aku tidak sekebo dahulu. *Mata berkaca-kaca*

...

Kegiatan gue di sekolah gak perlu gue ceritain yah. Sama kok kaya hari-hari gue yang biasanya.
Duduk, merhatiin guru, bengong, merhatiin temen-temen sekelas, ketawa, ngobrol, ngegosipin artis, ke kantin, (hampir) ketiduran, duduk di depan kelas, merhatiin orang lewat, bengong lagi.
Oiya belajar sama kerjain tugas.

KATANYA GAK MAU DICERITAIN?

Tapi itu kan gak mendetail. Cuma gue paparkan aja.
Yaudahlah ya.......

...

Pulang sekolah, seperti biasa, gue naik angkutan umum.
Sendirian. Tanpa ada senderan, dan teman untuk membuka obrolan.
Padahal jalanan begitu penuh keramaian dan kebisingan, kenapa gue tetap merasa kesepian???

Ish. Ilfeel sendiri baca ketikan gue barusan.

Kebiasaan gue ketika pulang sekolah yang sulit dihapuskan. Adalah memperhatikan keadaan sekitar.
Apa saja.
Para pelajar yang sedang tawuran, anak-anak jalanan, sopir angkutan, minuman penyegar tenggorokan, arakan awan, setiap hal yang menarik perhatian dan membuat penasaran..

Siang tadi, di pertengahan jalan. Perhatian gue tertarik dengan seseorang.
Seorang lelaki, berumur paruh baya, dengan rambut dibelah dua, terlihat sekali dia memakai minyak rambut yang... kebanyakan.
Memakai jas setelan. Khas orang kantoran.
Setelah gue terka, dari wajahnya umurnya belum uzur. Namun rambut belah tengahnya sudah menipis.
Mungkin dia termasuk orang yang (terlalu) banyak berfikir.

Gue melihatnya, sebagai seseorang  yang datang dari masa lalu.
Bisa jadi kan mesin waktu doraemon benar-benar sudah diciptakan?
Ini aneh, perhatian gue jarang tersentil hingga gue memperhatikan orang lain secara detail.

Lalu, dia menaiki angkot yang sedari tadi gue tumpangi.
Tercium samar wewangian parfumnya. Parfum cowok, namun sudah tua sekali wanginya.
Entahlah, darimana gue tau. Gue hanya menilai, tapi tidak berani menyimpulkan.

Ibarat buku.
Dia adalah buku tua yang tebal, dengan huruf-huruf dengan font yang terlalu kecil. Jarang menjadi perhatian seseorang, namun menjadi yang terlihat perbedaannya ketika disandingkan dengan buku-buku yang baru dari percetakan. Atau buku-buku lama yang dicetak ulang sesuai perkembangan zaman.
Orang-orang takut menyentuhnya, karena usianya yang entah sudah berapa. Membuat mereka berfikir lembaran-lembaran kertasnya mudah terlepas, dan akan menyusahkan mereka..
Banyak orang yang enggan memperhatikannya. Karena enggan membaca tiap kata yang tertulis dengan font-font kecil itu. Perhatian mereka sama sekali tidak tersentil.
Dan. Bagi gue ini menyedihkan.
Jikalau gue terlahir menjadi sebuah buku. Gue ingin menjadi buku yang sering orang baca, namun juga tak lupa mereka jaga.
Gue tak ingin, lembaran-lembaran kertas dalam diri gue lapuk dimakan usia atau hilang tertelan tenggorokan tikus-tikus rumahan.
Gue ingin mereka dapat memetik manfaat dari dalam diri gue. Namun tak lupa juga mereka tanamkan benih dari manfaat yang mereka konsumsi, hingga tumbuh pepohonan. Hingga menjadi hutan.

Gue kembali berenang ke permukaan, setelah lama tenggelam dalam lamunan- setelah melihat penampilan orang tadi.
Padahal baru penampilan yang gue lihat, belum bagian hatinya.
Tapi gue sudah dapat membuat beberapa kalimat panjang untuk mendeskripsikannya.

Dari situ gue mempelajari banyak hal.
Hal-hal yang mungkin terlalu basi untuk kebanyakan orang. Karena sudah pernah disampaikan atau terlalu lama disimpan, namun baru gue temukan dan kemukakan.
Ide itu bisa datang dari mana saja.
Setiap pemilik wajah mempunyai kisahnya sendiri.
Dan komitmen yang harus gue tunaikan adalah gue harus mampu menuliskannya secara rutin namun perlahan.
Kata-kata yang berbaris rapi di otak gue, harus segera gue pindahkan melalui pensil atau tuts keyboard. Karena setiap waktunya ada banyak rentetan kata yang datang- mereka semua butuh ruang baru. Agar tidak merasa sesak, dan akhirnya migrasi karena posisinya terus terdesak.
Dan sebagian dari barisan kata itu gue pindahkan kesini.

Inilah kebiasaan buruk gue selain suka bangun terlambat, mengumpulkan niat untuk menulis pun lambat.

HueHeHeHe.

Jadi, insyallah. Gue akan memulai untuk lebih berkomitmen untuk membuat jadwal mingguan ngeblog.
Untuk para pengunjung setia yang entah siapa saja. Gue juga gak tau apakah mereka benar ada, namun itu tak mengapa.
Soalnya titik berat komitmen ini pun lebih ke gue sendiri. Untuk gue sendiri.
Karena gue butuh tempat untuk berbagi, tapi gue bersyukur jika ada orang-orang setia yang rela membagi waktunya untuk membaca rentetan kata yang gue ketik selama ini.

:'3

Sabtu, 04 Mei 2013

apa yang sedang dan akan saya rindukan

Melihat 5-10 tahun kebelakang. Gue melihat diri gue sendiri adalah seorang anak kecil yang jutek dan susah dibilangin. Keras kepala.
Ya. Mungkin, gue yang sekarang pun gak jauh beda.
mata galaknya mana mata galaknya.....
Gue ini galak banget dari kecil, paling gak suka diliatin orang lama- bawaanya jadi curiga mulu, pundungan abis. Pokonya rese deh. (karena ngebagusin diri sendiri udah terlalu mainstream).
Dan gue ini sensitif kalo diledekin. Meskipun gue senang bercanda dan tertawa.

Waktu gue SD,  gue pulang sambil diikutin sama 2 teman cowok gue. Karena gue sebel diintilin mereka, gue nengok ke mereka dengan tatapan tajam. Lebih tajam dari acara gosip silet.
Tapi respon mereka malah tertawa, dan mengajak gue bercanda.
Gue yang saat itu, sedang mengemban tugas piket harian sekolah dan membawa sapu dari rumah.
Jadi kesel sendiri, dan mukul sapu itu ke jalanan- dan sapunya patah menjadi 2 bagian. Layaknya hati gue ketika ditinggal move on duluan...
Lalu gue lapor nyokap, dan Alhamdulillah gak dimarahin.
Gue lupa alibi apa yang gue berikan saat itu. Sampai nyokap akhirnya ngebeliin sapu pengganti lagi.
Besoknya mereka ngintilin lagi. Dan sapu baru itu patah lagi.
Lalu besoknya lagi, hal yang sama terulang lagi.
Dan akhirnya besoknya gue memutuskan untuk gak bawa sapu lagi.
(Ini beneran).

Moral valuenya sih.. Semua orang pernah ngelakuin kesalahan, tapi yang terburuk dari itu semua adalah mereka yang mengulangi kesalahan yang sama. Di lain hari, kita harus bisa melakukan kesalahan lain yang lebih baik.(Pernah baca dimana gitu). Contohnya : Kalo abis ditinggal move on, ikhlaslah dan maafin diri sendiri. Jangan cuma dijadiin bahan postingan blog terus doang..

Sial. Apa yang barusan gue ketik..

Di lingkungan rumah, mungkin udah jadi makanan sehari-hari bagi tetangga-tetangga gue jika mendengar suara teriakan dari rumah gue.
Teriakan. Erangan. Desahan... AAAAARGH (Ngetiknya sambil teriak biar mengkhayati.
Mulai dari teriakan nyokap yang nyuruh gue mandi, teriakan nyokap nyuruh gue sama Aa' gue baikan, teriakan nyokap nyuruh gue kecilin volume TV ketika gue nonton kartun, teriakan nyokap nyuruh gue beresin mainan, teriakan nyokap----
KOK NYOKAP LO TERIAK-TERIAK MULU SIH YAS?
Iya ya, kenapa ya. Mungkin karena bibir dia bentuknya mirip bibir susana.
Atau mungkin karena acara TV favoritnya adalah pertandingan sepak bola.
Dan salah satu kebiasaan lucunya adalah beliau sering nyuruh gue manggil Aa' gue dengan cara teriak.
Misal gue di lantai satu lagi duduk-duduk lucu, dan posisi beliau lagi di dapur masak-masak lucu. Dan Aa' gue lagi di kamarnya gatau ngelakuin apa-gatau ngelakuin apa lucu.
Beliau bakal teriak.. "ADEEEEEEEEK PANGGILIN AA', BILANGIN JANGAN TIDUR UDAH MAU MAGHRIB"
Dan sebelum gue membuka mulut pun, abang gue bakal membalas teriak dari lantai atas.
"IYAAAAAAAA DENGER, GAUSAH TERIAK. GAUSAH NYURUH TYAS MANGGIL. GAUSAH MAKSA-MAKSA, MOVEON-GAK BISA DIPAKSA."

Entahlah maunya apa. Tapi yang jelas- sekarang beliau sudah lebih canggih.
Kalau manggil gue atau nyuruh-nyuruh lucu gak lewat teriakan lagi, kadang-kadang masih sih.
Sekarang ini beliau manggilnya lewat telepon. Atau sms.
Dan ini jauh lebih mengganggu kedamaian hari-hari gue daripada teriak....
Karena beliau bakal sewot kalo gak diangkat atau dibales smsnya.
Padahal kami masih satu atap rumah, hanya menjejak lantai yang berbeda. Gimana kalo gue jadi kuliah di Jogja..
Posesif banget- scorpio kan paling gak suka diposesifin... Huh.

Semenjak Facebook mencapai puncak ketenarannya. Nyokap gue juga gak mau kalah saing sama anaknya.
Beliau ngotot minta dibikinin akun facebook. Dan Id kaskus.
Semenjak ditunjukin foto-foto kakak perempuan gue di akun facebooknya.
Dan juga melihat kenampakan Priyono Nyoto yang melegenda di Kaskus.

Tapi karena kondisi kejiwaan gue masih normal. Dan kepribadian gue tidak ganda.
Maka... gue menyeret Aa' gue dalam masalah yang cukup serius tersebut.
Dan karena kami sama-sama khawatir dengan kasus penculikan yang berawal dari teman Facebook. Dan wujud manusia-manusia 4-EL-4-YE yang cukup meresahkan disana.
Kami sama-sama menolak permintaannya.

Sebenernya sih, alasan aslinya gue takut beliau jadi lupa waktu gara-gara keranjingan facebook.
Dan gue takut beliau menunjukkan keposesifannya lewat Wall Facebook gue.
Alah. Gue rasa kebanyakan remaja sekarang pun takut akan hal itu.

Tapi, meski suasana rumah kami ramai oleh teriakan. Dan keributan-keributan sepele yang lucu jika diperbincangkan. Suasananya begitu hangat dan menyenangkan.
Meski setiap pagi gue ribut sama beliau karena kaos kaki baru gak ketemu. Meski beliau suka sebel sama gue karena kebanyakan beli buku. Meski akhirnya Oki bercerai sama Pasha Ungu.
Meskipun begitu, gue sangat sayang sama beliau.
*Backsound : Kahitna-Takkan terganti
Kau Bukan Hanya Sekedar Indah
Kau Tak Akan Terganti


3 tahun kedepan. Gue udah jadi seorang mahasiswi, di salah satu Universitas Negeri Ternama Yang lokasinya di Jogja. *Aminin dong*
Gue akan terpisah oleh jarak sekian km dan sekian waktu.
Beliau akan lebih sering nelpon dan sms gue.
Kami gak bisa nonton Tukang Bubur Naik Haji dan Stand Up Comedy di TV bareng-bareng lagi.
Huhu.

We'll see.. Bagaimana hubungan LDR ibu dan anak sesungguhnya adalah hubungan LDR yang tak akan putus.
:)
Kiri : Yang lagi LDR sama nyokap
Kanan : Hampir LDR sama nyokap

Wah terharu gue. Ternyata lu selain mirip Kate Middleton juga sayang nyokap yah..
iyalah..

Terus postingan blog lo yang ini, intinya tentang apa sih?
Gue lagi kangen jadi anak SD, dan gue tau gue bakal kangen sama nyokap saat kuliah nanti.

Terus yas, terus yas.. Gak ada kata-kata penutup postingan nih?
Daritadi juga pengen gue tutup, tapi lo nanya-nanya mulu sih! *galak*

Sebelum ditutup, tulis quotes buat dipajang dong. Biar keliatan bijak dikit..
Ini bukan quotes bagi gue. Ini hanyalah sepenggal kalimat untuk mengingatkan diri gue sendiri.
Gue ketik di postingan blog ini, supaya hal ini bisa jadi pengingat orang lain.

Manusia itu selalu pengen cepet ini, pengen cepet itu.
Dari kecil kita merasakannya. Gue merasakannya.
Rasanya pengen serba cepet ngerasain tambah usia.
Anak-anak SD pengen cepet SMP, Anak SMP pengen cepet SMA, Anak SMA pengen cepet kuliah,
Anak kuliah pengen cepet Wisuda... Anak bawang mahal harganya.
Akhirnya malah lupa untuk menikmati prosesnya.
Padahal Indomie yang dibilang mie instan aja ada proses supaya bisa dinikmatin. (Meski makannya dengan cara diremukin+kasih bumbu doang, tetep kan kita harus ngebuka bungkus kemasan+bungkus bumbunya, meski singkat-itu kan proses jugak).


Dan kita pun sering lupa.
Disaat kita melangkah menuju orang "dewasa". Orang tua kita pun semakin merenta.
Jadi, Jangan lupa untuk membahagiakan mereka, gak perlu menunggu dewasa. Dewasa itu bukan hal yang ditunggu. Dia datang tanpa batasan umur tertentu, bagi gue begitu..


Sekian

Sabtu, 27 April 2013

2 Weeks Ago


Postingan ini sebenarnya tentang kejadian 2 minggu yang lalu.
Cuma karena perayaan Hari Kartini dan Hari Bumi. Gue gak sempet ngeposting (Alibi).
Jadi inget sebuah lirik lagu..
Dilahirkan seorang Tyas Hanina
Adapun (Tyas) wanita lemah lembut manja
Tyas dijajah rasa malas sejak dulu~~~
#MaksaBanget
...

EMANG ADA APA SIH YAS 2 MINGGU LALU?
Dua minggu lalu, malam minggu. Dan malam itu, punggung gue gak pegal karena terlalu lama main laptop.
Suatu kejadian yang cukup langka. Mungkin, semesta sengaja membuat rencana  supaya ada jeda dalam melakukan aktivitas rutin itu-. 

Dimulai dari sore hari.
Syahrani (Nama sebenarnya).  Mengirimi gue pesan di WhatSapp.
“Yas.. Kau dimana?”
Lalu, dia mengajak gue untuk nonton film. Gue yang udah lapuk dimakan waktu karena kelamaan online, menolaknya. Gue belum mandi seharian itu, bisa-bisa kami berjalan ke bioskop diiringi rombongan lalat.
Akhirnya kami jadi jalan (setelah gue mandi tentunya). Dan berujung di kelapa dua, di sebuah warung pempek milik tetangga rumah gue..
Kami memesan  satu Kapal Selam dan dua Lenjer, juga satu gelas Es Teh Manis.
Gue sebenarnya tidak terlalu lapar, gue hanya ingin mengobrol sore itu.
Selama kami mengobrol sambil diselingi kegiatan mengunyah.
Tiba-tiba.. Seorang wanita penjaga warung muncul dan berpuisi.
Iya, berpuisi. Tanpa teks.
“Cinta... Cinta itu kalau terlalu lama disimpan bisa basi.”
Gue bengong sesaat. Dan bibir gue pun bergetar, menahan tawa.
Dan dia melanjutkan puisinya sambil berjalan ke arah penggorengan.
Dia membuka sebuah lemari kecil, mengeluarkan entah apa.
“Seperti bahan makanan yang didiamkan. Cinta akan busuk jika terlalu lama disimpan, seperti bahan makanan...”
Brilian sekali, diam-diam gue menyetujui puisi yang dia ucapkan tiba-tiba tadi.
Gue melongok ke sudut-sudut atas dinding warung tersebut. Mencari CCTV, siapa yang tahu kalau ini merupakan acara Reality Show.
Bersih. Meski nampak kotor dan banyak kelelawar bergelantungan. Tapi tidak ada CCTV.
Jadi, kenapa mbak-mbak itu ngomong sendiri????
Gue memerhatikannya terus menerus. Untungnya dia tidak menyadari itu.
Dia memakai headset dari tadi, apa mungkin dia sedang mengobrol dengan seseorang di telepon?

Sebenarnya puisinya masih panjang lagi. Panjang sekali. Sampai gue melupakan sebagian besar isi puisi tersebut.
Selain pembacaan puisi yang sangat tiba-tiba tersebut. Dia sesekali bersenandung heboh.
Yang gue paling ingat, saat dia menyapu sambil bernyanyi lagu Adera.
Dan kau hadir merubah segalanya
Menjadi lebih indah
Kau bawa cintaku setinggi angkasa
Membuatku merasa sempurna
Dan membuatku utuh tuk menjalani hidup
Berdua denganmu selama-lamanya
Kaulah yang terbaik untukkurgh~

Kemudian, pemilik warung datang sambil menyerahkan seorang bayi lelaki kepadanya.
Dia menimbang-nimbang lelaki itu. Dia berkata...
“Yaampun!!!! Aku masih muda, tapi sudah punya bayi...”
Dia ngomong sendiri lagi. Rasanya gue pengen mengguncang tubuhnya, dan menyemburkan kuah pempek ke wajahnya. Siapa tau dia kerasukan. Kelakuannya aneh sekali.

Setelah uji nyali selama beberapa lama. Menahan tawa setengah mati.
Akhirnya teman-teman kami datang, mereka menyelamatkan kami.
Dan hal yang mengejutkan lainnya adalah saat kami membayar di kasir.... K
Harga yang cukup fantastis untuk 3 potong pempek dan 1 gelas es teh manis..
Mungkin ini yang disebut karma karena sudah mentertawakan seseorang dalam hati.
*usap air mata* *pukul-pukul dompet*

Setelah itu, kami melewati malam bersama di ruang tamu rumah gue.
Satu hal yang sangat gue ingat malam itu, langit indah sekali. Ada beberapa bintang, para cahaya masa lalu yang berkerjap-kerjap riang.
Gue yang pulang ke rumah sambil menggowes sepeda sendirian.
Sesekali menoleh ke atas, mengulum senyum.

Bintang  memerlukan waktu sekian tahun cahaya untuk terlihat di bumi.
Bintang yang kita lihat malam ini , sudah lama mati. Namun cahayanya masih dapat kita nikmati.
Sayang, polusi cahaya sudah ada dimana-mana. Cahaya masa lalu tersebut digantikan oleh penerangan lampu-lampu jalanan dan gedung-gedung tinggi.

Gue jadi ingat, sebuah kebiasan kecil orang-orang. Memanjatkan doa dalam hati- ketika bintang jatuh.
Jadi, orang-orang selama ini mengharapkan sesuatu di masa depan, pada sebuah cahaya dari masa lalu?
J


Tapi namanya juga harapan-sekecil apapun itu. Kita terbiasa berpegang padanya.
Meski kadang- memang bukan pegangan atau pijakan utama.

Dari kecil gue selalu menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan bintang. Mulai dari bintang-bintang di langit, bintang laut pink, seorang bintang film.
Dan gue selalu berharap, gue dapat menjadi seorang bintang.
Suatu hari di masa depan, seseorang menyadari keberadaan gue di masa lalu.
Mencintai dan menghargai sosok gue.
Meski sosok gue tersebut sudah lama mati.
Dan gue ingin, kehadiran gue bisa menimbulkan harapan bagi hidup seseorang.
Harapan apapun itu. Harapan yang mereka panjatkan diam-diam dalam hati, dan berusaha mereka gapai setiap hari.

Udah dulu ah. Saya mau tidur, dan bermimpi. Bangun lebih pagi, dan menjemput mimpi.

Senin, 15 April 2013

The Fabulous Udin. Semua seakan mudah saat ia ada.


Assalamualaikum

Seminggu yang lalu, gue selesai melahap abis isi novel The Fabulous Udin.

Buku ini adalah buku kedua karangan pemilik akun @wowkonyol / si Fabulous Onyol / Rons Imawan.

“Kisah kolosal dari seorang pemuda tanggung yang berjuang memudahkan hidup orang lain, dan bukan hidupnya sendiri.”

Begitu uraian singkat tentang buku tersebut dari blog penulisnya sendiri.

Pemuda tanggung itu, Udin namanya.
Seorang bocah SMP, yang hidup dengan sederhana bukan dengan gelimang harta.
Menabung uang jajannya untuk mewujudkan cita-cita emaknya. Dan untuk itu, Udin rela membantu pekerjaan seorang Pemilik Kantin. Hanya untuk beberapa potong gorengan.
Berbeda sekali dengan remaja kebanyakan, termasuk gue. Yang suka ngerasa kekurangan uang jajan, hanya untuk kesenangan yang sementara.

Udin. Semua seakan mudah saat ia ada.
Dengan akalnya yang luar biasa. Dan kerendahan hatinya.
Dia menyelamatkan banyak nyawa,  menyelesaikan banyak masalah dan memabukkan kita oleh setiap kata-katanya.
Dia mampu membuat siapa saja jatuh cinta.

Tapi di dalam Novel TFU tokohnya bukan Udin saja.
Ada Suri, seorang remaja cantik dengan karakter yang menarik dengan penyakit yang siap merenggut nyawanya setiap detik. Dia penyelenggara sayembara-sayembara yang menggelitik nyali.
Ada Inong, si  manis berjidat nongnong. Rela meminjamkan mimpinya untuk orang lain. Ketegaran hatinya benar-benar membuat salut.
Ada Jeki, si selebtwit yang doyan ngegombal dan jatuh cinta oleh pengasuhnya sendiri.  Juga ada Ucup, si Endut yang suka ngebanyol dan fobia kerupuk.
Ada Onyol, si penulis buku yang hobby ngobrol sama Tokoh Utama (Udin) dalam bukunya sendiri. Dan akan sukses bikin kita geregetan.
Dan ada banyak tokoh lainnya.

Tokoh favorit gue adalah seorang Udin. Bukan Udin seorang.
Gue suka semua tokoh, semuanya pas sama porsinya. Semua gue suka kepribadiannya, meski belum jelas kenampakan wujud dan SENDALnya.

Bukan berlebihan jika gue mengatakan. Gue jatuh cinta dengan tokoh Udin, mungkin lebih tepatnya oleh si Penulis Bukunya (Onyol) :p.
Meski Onyol suka nyolong sendal, tapi dia adalah penulis yang handal. Dan kali ini bukan hanya sendal yang dia curi, tapi juga hati para pembacanya. Eaa.

Soal bab favorit, semua bab gue suka. Mulai dari Kata Pengantar sampai Tentang Rons Imawan.
"Hanya sebuah titik kecil di antara berjuta galaksi mahakarya Sang Pencipta". Perkenalan singkat yang bikin gue tersenyum membacanya.

Soal kutipan favorit dalam setiap bab favorit. Gue menyukai keseluruhannya.
Segala penggunaan kata hingga tanda baca. Perdebatan antara Onyol dan Udin. Puisi-puisi Udin. Percakapan antar tokoh. Teori-teori Psikologi. Semuanya deh pokonya.
Luar biasa dan mengena. Onyol mengajak pembaca berfikir, tertawa, menangis, merasa.

Ada 3 kutipan yang sangat berkesan buat gue. Karena sukses bikin gue mengeluarkan suara tawa yang keras dan senyum yang lebar di wajah karena gemes.

(1) "Gue, kan, Nyol?"
"Apa, sih, Din? Main samber aja kayak copet!"
"Tapi, emang gue, kan, Nyol? Jangan becanda, deh. Nggak lucu!"
"Sorry, Din. Kali ini pemenangnya emang bukan elu."
"Oke! Kalau gitu gue ngundurin diri aja! Gue mau cari penulis lain yang lebih bisa menghargai pemeran utama!"
(Perdebatan antara penulis dan tokoh utama)

(2) (Puisi Udin buat Suri di menara. Bab Truth Or Dare.)

Jika cinta itu agama, maka aku memelukmu seperti memeluk agama.
Tak akan pernah kulepas hingga aku menua dan tiada.
Jika aku pindah ke lain cinta, maka aku pindah agama.
Tak akan pernah kuganti hingga aku meregang nyawa.
Demi Tuhan, aku mencintamu.
Karena Tuhan... Aku memilikimu.

(3)
"Jika x sama dengan y, dan z lebih besar daripada y, berapakah x ditambah z?" Tanya dosen pembimbing.
"Hewan yg memiliki gigi kenapa giginya selalu terlihat putih, padahal tidak pernah gosok gigi? Sedangkan kita, satu hari saja tidak menggosok gigi, langsung kuning. Kamu tahu jawabannya?" Tanya Justin Bieber.
"Bagaimana asal mula kehidupan? Coba kamu jelaskan!" tanya Sule.

...

Dan selepas membaca novel itu. Gue yakin, kebanyakan pembaca akan bertanya-tanya.
“Tokoh Udin itu nyata gak sih?”
Gue pun begitu.
Dan gue yakin, kebanyakan perempuan akan kepincut berat dengan seorang Udin.
Dari kata-katanya, cara dia memenangkan sayembara, cara dia menyelesaian masalah kecil hingga soal nyawa, kepribadiannya, prinsipnya, pencipta tokohnya (eaa). Selain itu tokoh si Udin digambarkan punya wajah yang rupawan. (Bikin gue sendiri keringetan ngebayangin gue jadi wanitanya ._.)

Cowok yang ada di header twitternya Onyol. Kata Onyol dia punya faktor U. 
Kemudian setelah bertanya-tanya dan jatuh cinta pada si tokoh utama. Kebanyakan akan meronta-ronta membabi buta berkeinginan agar novel ini di filmkan.
Tapi sebelum kalian-kalian semua menontonnya di bioskop-bioskop kesayangan, akan lebih baik jika membaca bukunya terlebih dahulu :p. (Bukan Iklan Berbayar)

Selain jatuh cinta dengan tokoh Udin, kalian kalian yang perempuan.
Akan iri dengan sosok serta kepribadian para tokoh wanita di novel ini. Gue pun begitu.
Gue merasa gue gak sesempurna Suri. Gak secantik Bi Aidah. Gak setegar Inong, meski sama2 kena friendzone. Gak semulia Ibunya Udin. Gak sebaik Mamanya suri. Gak sesetia Kak Siloh. Gak sebijak Bu Arwiyah.
Rasanya gue belum jadi wanita  hebat seutuhnya seperti mereka.
Tapi meski begitu, gue rela kok jadi calon bidadari surganya Onyol:3

...

Jadi, selesai kalian (siapapun) yang membaca postingan ini. Beli atau pinjamlah buku TFU ini.
Ada banyak pesan dan kesan yang akan kalian dapatkan. Alur cerita yang sukses mencipta tangis dan senyum dalam wajah kalian.
Dan bersiap-siaplah jatuh cinta..

:3


Senin, 01 April 2013

Pesan Kesekian, Untuk Kita.

Aku ingin mengetikkan beberapa kata di ponselku, lalu kukirimkan kepadamu. Lewat pesan singkat tentu.
Jika saja aku sejenak melupakan perihal batasan. Mungkin sudah tak terterka sebanyak apa kata yang akan kukirimkan.

Entah hal ini harus kusyukuri atau tidak. Aku selalu membatasi diri jika hal itu mengenai dirimu.
Aku harus bisa mengontrol diriku, sepenuhnya. Perasaanku, gesture tubuhku, mimik wajahku, perkataanku, jeda dan tarikan nafasku, dan lain-lainnya.
Terlebih jika harus berhubungan secara langsung. Lewat suatu media tidak langsung pun rasanya tak karuan.

Dan. Ada satu hal yang sering aku lewatkan. Ada satu batas yang sengaja aku lupakan.
"Kita" sudah berbeda.

Aku selalu sulit menerima perubahan. Aku cenderung ingin segala sesuatunya bergerak sama dengan apa yang aku inginkan, memberi kenyamanan tetap untukku. Tidak perduli hal itu baik atau buruk.
Terlebih perihal "kita".

Kenapa aku menyebutnya dengan kata "kita"?
Karena bagaimanapun.. Pertemuan, percakapan, kedekatan, hubungan, kemesraan dan perpisahan itu kita jalani berdua. Sebagai dua aktor utama.
Meski mungkin hanya aku yang terus mengingatnya, seperti gajah yang terus mengingat rute perjalanannya.
Akupun begitu setiap harinya, meniti segala awal terbentuknya kita hingga akhir yang menyakitkan lewat ingatanku. Berulang kali begitu.
Meski menyakitkan, itu terasa menyenangkan.

Mungkin kau tidak akan mengerti.
Bagaimana satu lirik lagu, satu folder di laptop, surat-surat tanpa nama yang tak pernah kukirimkan, percakapan kita di ponsel, segala ucapan selamat pagi dan malam, alat transportasi saat kau mengantarku pulang, hadiah ulang tahun yang masih rapi kusimpan, hal-hal yang dulu sering kita tertawakan, segala hal remeh yang kita perbincangkan, tiket-tiket film yang pernah kita tonton.
Dan lain-lain. Masih banyak sekali.
Setiap aku membuka atau menyentuh itu semua. Bahkan hanya dengan menengoknya.
Aku selalu ingin cepat pulang, menjemputmu. Menuju "kita", kembali.

Tapi tak pernah ada cukup keberanian. Nyaliku kalah besar oleh keinginanku sendiri.
Aku ingin (kita) kembali. Tak pernah secara lugas dapat aku sampaikan.
Aku selalu takut dan membiarkan fikiranku menjadi buruk.

Bagaimana jika aku menjemputmu, lalu kau tidak mau.
Bagaimana jika aku menjemputmu, lalu kau menutup pintu.
Bagaimana jika aku menjemputmu, lalu kau mengusirku.
Bagaimana jika aku menjemputmu, lalu kau dijemput orang lain terlebih dahulu.
Bagaimana jika aku menjemputmu, lalu kau sudah lama pindah ke tempat baru.
Bagaimana jika aku menjemputmu, lalu ternyata kau memberikan alamat palsu. (Re: Harapan Palsu)
Dan masih banyak bagaimana-bagaimana lainnya.

Tapi, bagaimana mungkin tak pernah terfikirkan olehku keadaanku sendiri. Keadaan ruang hatiku..
Berantakan sekali sejak kamu tinggal pergi, dan aku tidak pernah mencoba merapikannya. Merasa tak mampu dan tak mau setiap menggeser atau memindahkan sesuatu di ruang ini.
Karena berharap kau akan datang, dan membantuku merapikannya.
Harapan. Bagaimana bisa aku berpegang pada sesuatu yang tidak memberi kepastian?

Bagaimana mungkin, aku sudah berlari lama sekali. Lelah sekali. Namun tak berpindah sama sekali.
Seperti berlari di treadmill.
Semoga saja ada manfaat untuk kesehatan dan kebugaran hatiku pelarianku selama ini :|.

Dan..
Bagaimana aku harus menutup tulisan ini? Menghentikan jariku memuntahkan huruf-huruf.
Apa itu semudah menutup perjalanan "kita"?

Tidak usah dijawab. Aku tidak butuh jawaban kali ini. Aku tau aku sedang berbicara sendiri,  kamu sudah lama pergi dan tidak dapat mendengarkan lagi.

Senin, 18 Maret 2013

Dear You, How was your sleep?

Mungkin sekarang, kamu sedang tidur sambil memeluk gulingmu.
Dengan mulut yang terbuka, seperti kebiasanmu.
Akan ada air yang mengalir dari mulutmu, dengan bunyi dengkur perlahan.

Atau mungkin,
Malam ini kau sedang duduk di atas ranjangmu.
Memegang ponselmu di tangan kanan. Sambil menatap ke jendela kamarmu, melihat kucing tetanggamu kawin.
Dengan volume suara yang dipelankan. Sesekali mengucapkan rayuan dan candaan.
Hingga seseorang diseberang telpon, tertawa kegirangan.
Kau memang pandai sekali membuat orang tertawa, tak heran bila begitu banyak yang suka.

Tapi terlalu banyak kemungkinan akan hal apa yang kamu lakukan. Seandainya aku punya cukup keberanian untuk sekedar menyapa dan menanyakan.

Lalu, jika seandainya kau bertanya apa yang sedang kulakukan dini hari ini..
Seperti layaknya perempuan yang sedang jatuh hati.
Aku akan menjawab dengan hati-hati.

"Aku sedang menulis, sambil sesekali mengamati kicauan teman-teman di twitter.  
Kenapa aku belum tidur? 
Jadwal tidurku memang berantakan, sama seperti keadaanku saat pagi pertama ketika kehilanganmu- sama seperti pagi yang terus berlanjut hingga saat ini. Aku rasakan kau menghilang, tapi aku pun tak yakin dengan perasaanku. Bahwasanya, bisa saja kan kau hanya pergi sejenak? Kau hanya sedang singgah di beberapa tempat, mencari entah apa yang aku tidak mengerti. Namun suatu hari nanti, kau pasti kembali. Selalu aku yakini."

Pada kenyataannya aku tidak akan pernah mengirimkannya. Tidak ada cukup keberanian.
Itu hanya akan ditampilkan di halaman blogku, sebagai pesan tanpa penerima seperti tulisanku yang lainnya.
Lagipula, untuk kukirimkan lewat pesan singkat pun rasanya berlebihan.
Dan kau akan membalasnya lama, atau mungkin tidak ada balasan sama sekali.
Seperti kebiasaanmu, ketika kau tidak mengerti atau tidak perduli.
Dan aku akan menunggu lama sekali, lalu tidak tidur hingga larut pagi.
Seperti perangaiku yang kau tau, menunggu adalah hal yang kubenci.

Lalu, apa sesungguhnya yang  dapat kukatakan padamu seandainya kau menanyakan tentang hal itu?
Tentu kau pasti tau. Aku akan membalasnya dengan singkat dan dibubuhi bunyi tawa di belakang kalimat.
"Ngeblog hehehe..."
"Lg nulis wkwk."
"Lg ngeblog. Pegel gue-__- wakakak."
"AgY nUliz NiCh qAqA"

Basi dan bodoh sekali. Aku memang tidak pernah pandai basa basi, aku akui.

(Fck texting i want you here. I want you there. I want you everywhere. I want you suwer tekewer kewer -__________-)

Good night You, semoga tidurmu menyenangkan. Semoga kau memimpikan kita berpasangan. Semoga harga bawang tidak kemahalan. Semoga jakarta tidak lagi akrab dengan kemacetan. Semoga Sutan tidak kegantengan. Semoga kita dijodohkan oleh Tuhan.
Semoga yang baca postingan ini mengaminkan :)))


Rabu, 13 Maret 2013

Hargai Waktu

Lagi dan lagi. Gue gagal untuk menciptakan jadwal teratur untuk ngeblog.
Banyak sekali ide yang datang ke kepala gue. Mengetuk pintu, masuk. Namun hanya singgah sebentar.
Karena tidak segera gue pindahkan ide-ide itu lewat kata-kata.

Gue juga kembali gagal, untuk mengatur jadwal tidur.
Badan gue capek, tapi setiap malam gue melupakan apa itu rasa kantuk.
Rasanya kaya dikhianatin badan sendiri.

Bagai dua sisi mata uang.

Terkadang, gue menjelma menjadi pribadi yang serba teratur dan disiplin.
Gue mudah cemas jika tidak mempersiapkan sesuatu dengan baik.
Gue selalu mencoba untuk mempersiapkan diri.
Tapi gue sadari belakangan ini, terlalu banyak persiapan.
Yang perlu gue perbanyak adalah tindakan.

Namun. Bukan sekali dua kali, gue terjajah oleh rasa malas.
Keinginan untuk terus menunda.
Menunda, karena merasa waktu berjalan lama.
Merasa waktu bergantung pada gerak saya.
Padahal justru, tidak perduli gerak yang saya lakukan lamban atau cepat.
Waktu selalu menjalankan tugasnya secara objektif.
Semua mendapat bagiannya sama, tapi tidak semua mampu menghargainya dengan rasa yang sama.
Seorang presiden, artis papan atas, penulis terkenal, tukang gorengan, mamang fotocopyan.
Sampai pelajar SMA seperti saya.
Semua punya jatah waktu yang sama setiap hari, 24 jam.

Dengan jatah waktu yang sama itu. Pencapaiannya memang berbeda.
Tapi gue fikir dan gue rasa (Karena logika dan hati sering bersebrangan).
Meski arti "sukses" sendiri, juga tokoh yang dianggap sukses itu berbeda untuk setiap orang.
Menurut pendapat gue, orang yang sukses itu selalu bisa menghargai waktu. Dan menghargai Sang Pencipta yang Mengatur Waktu.
Sukses dalam bidang apapun.

Dan apakah gue sudah mampu menghargai waktu?
Bukan hanya waktu saja. Bahkan apakah gue sudah mampu menghargai diri gue sendiri?

Dengan menulis postingan ini yang berarti menggagalkan upaya gue untuk mengatur waktu tidur, apakah itu juga berarti gue juga sudah tidak menghargai waktu?

Tapi gue rasa, itu juga bergantung apa yang gue kerjakan di malam hari ketika gue mengganggu waktu tidur gue sendiri.
Dan gue juga yakin, orang-orang sukses di luar sana sudah sering mengorbankan waktu tidurnya untuk karya mereka.

Gue akui, seringkali yang gue lakukan hanya buka 1cak atau mengamati timeline Twitter.
Jarang sekali gue lakukan kegiatan menulis. Padahal bagi gue menulis dan membaca merupakan suatu bentuk rekreasi.
Rekreasi kata-kata. Mengistirahatkan otak gue yang sesak oleh cerita yang gue simpan sendiri.

Jadi selama itu merupakan hal yang berguna. Gue rasa sang "waktu" pun juga merasa kita menghargainya.
Gue meyakini itu.
Dan ada satu hal yang gue yakini dan pegang selama ini.
"Pemilik semesta dan semesta selalu mengamini apa yang kita yakini."


Dan gue meyakini dan selalu mengamini.
Bahwa suatu hari gue akan jadi orang yang sukses.
Sukses bagi diri gue sendiri, bagi keluarga, dan bagi orang lain.

Memang selama ini gue masih terlalu sering mengambil jeda dalam setiap gerakan untuk menggapai mimpi gue.
Selama ini juga gue masih terlalu sering mengambil jalan memutar, daripada langsung menuju tujuan.
Sama seperti postingan ini.
Bertele-tele dan mungkin sedikit menyimpang dari maksud dan tujuan awal gue.
Tapi kali ini, gue benar-benar membebaskan otak gue mengetikkan semuanya.
Merapikan barisan kata-kata yang selama ini hanya menetap di otak.
Tak apa kali ini, kalau banyak yang tidak mengerti.
Tujuan tulisan gue kali ini, hanya melegakan fikiran.

Haha, sampai disini dahulu. Saya mau tidur, dan bermimpi. Bangun lebih pagi, dan menjemput mimpi.


Senin, 04 Februari 2013

Pegel


Kalau kelamaan ngeliat ke belakang, punggung bakal pegel.
Kalau kelamaan nginget yang udah di "belakang", hati juga bakal pegel.

Kalau punggung yang pegel sih. Tinggal  minta pijit pake balsem.
Meski awalnya panas. Tapi badan langsung enakan.

Seandainya untuk mengatasi hati yang pegel juga segampang itu..
Minta pijit rongga perut sebelah kanan pake balsem khusus Move On.
Nanti awalnya bakal kerasa panas kaya ngeliat si dia Move On duluan.
Tapi hati bakal enakan.

Seandainya ada. Seandainya bisa. Seandainya mampu. Seandainya dapat.
Seandainya gue bisa berhenti ngomong seandainya.

Pasti rasanya gak bakal "sepegel" ini.
Pasti rasa pegel ini gak bakal berkelanjutan.
Pasti gue gak bakal terus tergoda buat terus melihat ke belakang.
Pasti gue gak bakal lupa kalau kenangan hanya bisa dikenang.
Pasti gue bakal berhasil untuk dapat jatuh kepada selainnya.
Pasti? Gak ada omongan yang pasti. Apalagi diucap oleh mulut orang yang lagi patah hati.

Rasanya jari gue juga udah pegel.
Terus menerus menulis tentang keluhan hati yang mulai pegel ini.
Jari yang dulu pernah dia genggam ini.
Rasanya juga pengen gue cepet-cepet mengakhiri semuanya.
Berhenti mengingatnya. Berhenti mengenangnya. Berhenti menuliskan tentang itu semua.

Rasanya luar biasa pegelnya, dan dia gak pernah menyadarinya.