Pages

Kamis, 11 Mei 2017

ketiak orang dewasa

sungguh,
rindu masa putih abu-abu.
saat problematika hidup hanya seputar ujian kelulusan saja,
dan drama penuh romansa seolah dunia hanya milik kami berdua.

"habis lulus mau ke mana?"
"habis ini harus apa?"
"sebenarnya aku ini siapa?"

masih penuh ambisi.
masih harum akan mimpi.
masih gemar patah hati.

-

padahal,
setelah lulus SMA,
pergi sebentar dari kelapa dua,
dan hampir berusia kepala dua.

jawabannya masih belum ketemu juga.
entah,
padahal konon katanya,
ia bersembunyi di balik ketiak orang dewasa.

-

setiap mandi ku cari ia di balik ketiakku,
berhati-hati ku angkat lengan tanganku,
tidak ada apa-apa.

 
kutelusuri jejaknya di deodoranku,
takut-takut ia tergilas zat kimia di sana.
tidak ada juga.

aneh,
 
mungkin aku yang kurang gigih mencari.
atau mungkin dia memang sangat cinta bersembunyi.
 
atau mungkin,
aku memang belum jadi orang dewasa. 

-

jadi sebenarnya jawabannya ada di mana?
ujung langit kah bersama seorang anak yang kita utus ke sana?
atau benar-benar ada di bawah ketiak orang dewasa?
 
omong-omong,
orang dewasa yang mana?
orang dewasa yang seperti apa? 
kok bisa orang dikategorikan sebagai dewasa?
orang dewasa yang gak pake deodoran kah?
orang dewasa yang rajin cabut bulu ketiak ya?
yang mana?
 
aku harus bagaimana?

Rabu, 03 Mei 2017

Tentang Pesan dan Makna



April had been the tough month for me.
I don’t know exactly how many times that i cried to sleep last month.

Here comes the fear.
Here goes the hope.



Sebenernya, gak ada satu hal yang signifikan banget terjadi.
Gak ada orang terdekat gue yang ‘pergi’. Bumi sejauh yang gue pijaki masih baik-baik saja.
Langit juga masih suka memolek dirinya setiap sore. Dan gue masih suka menengok ke langit setiap kali gue harus merasa bahwa gue pun baik-baik saja.

Tapi, entah kenapa gue terus merasa cemas.

Seseorang yang berharga bagi seseorang yang berharga buat gue, memutuskan untuk pergi dari semesta ini. Saat itu, gue merasa bahwa bumi jadi gak sepenuhnya baik-baik saja.
Seseorang memutuskan untuk datang. Lalu, tiba-tiba mengatakan bahwa gue cantik, gak kalah sama langit. Tapi, bukannya keinginan untuk terus memolek diri yang muncul. Gue justru jatuh dalam konklusi yang gak enak tentang itu.
Seseorang yang lain, dengan kerasnya menampar gue dengan kalimatnya. Bahwa, mungkin hidup gue gak berarti apa-apa, gak punya makna khusus. Selama yang gue lakuin cuma haredolin.

-

Pada saat-saat seperti ini.
Gue merasa gak bisa nulis yang muluk­-muluk. Dan takut untuk meminta sebuah peluk.

Gue jadi sering banget buka media sosial. Mencari-cari kabar entah dari siapa.
Gue juga jadi cukup sering mengunggah sesuatu di media sosial. Mengharapkan sesuatu yang entah apa.

Karena seringnya gue gak tau mau nulis apa dan ngomong sama siapa tentang ini.
Gue putuskan untuk lari dengan cara membaca.

Buku-buku yang secara acak gue temukan di salah satu ruang baca di Jatinangor. Artikel-artikel yang tiba-tiba muncul di linimasa.
Apa saja.
I crave words.

Kemudian, gue gak sengaja berkenalan dengan salah satu tulisan yang intinya bercerita bagaimana media sosial itu sebenarnya racun. Toxic.
Ini bukan tulisan basi tentang bagaimana medsos menjauhkan kita dari yang dekat dan mendekatkan kita dari yang jauh.
Tapi, dijelaskan dengan cara yang sangat logis. Bagaimana terlalu banyak informasi dapat membuat kita limbung. Dan justru bikin kita gak mampu berdiri dengan seimbang karena menanggung beban banyak dari informasi-informasi yang kita dapat.

(Ngomong-ngomong, gue mau minta maaf. Baru sadar kalau gue sering sekali memenggal kalimat di tengah-tengah frasa yang belum selesai. So sorry.)

Bangun tidur, langsung buka hape. Cek linimasa. Cari-cari berita.
Sebenernya, menurut gue itu bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk.
Dengan tau, kita bisa jadi lebih peduli.
Dan karena saat ini gue sedang menempuh studi di bidang Jurnalistik, which isssss kerjaannya juga nulis berita.
Gue sadar betul, penting buat masyarakat untuk melek berita. Peka dan sadar sama keadaan sosial sekitarnya.

Media sosial juga gak sepenuhnya jelek kok. Ada manfaatnya juga.
Kadang-kadang, kita terlalu males buat ngontak seseorang untuk mengetahui kabarnya kan? Itulah fungsi dari media sosial.
Mengetahui sesuatu yang ingin kita ketahui tanpa perlu bersusah payah untuk itu.
Yah, walaupun sekaligus juga mengetahui hal-hal yang gak perlu kita ketahui sih.
Hehe...

-

It’s 1:30 PM. Do you know what your best friend ate for lunch?
It’s 6 AM. Do you know what the president tweeted last night?
It’s 8 AM. Do you know what your toothpaste preference says about your love life?

Pertanyaan beserta jawabannya itulah yang akan ditawarkan oleh media sosial setiap hari.
Masih banyak lagi jumlahnya dan kegilaannya.

Kita dipaksa untuk mencari tau, untuk tau. Untuk kemudian merasa perlu untuk terus tau.
Kita punya data. Banyak sekali tersedia.

“The implied promise, or one of them, is that data gives us peace of mind. We sacrifice our privacy for it, even pay for it. We told that the more we know, the better of we wil be.

Namun, sayangnya informasi-informasi tersebut justru dapat berbalik menyerang kita. Karena rasa cemas dan gelisah yang datang bersamanya.
“Truthfully, we can’t keep up with everything, with every news happening every time around the world.”

Misal. Kita tau pacar kita di rumah. Tapi, gak pernah tau apa yang sebenarnya dia lakuin di sana.
Kita dapet informasi dari mulutnya, kalau dia mencintai kita. Tapi, gak pernah tau apa sesungguhnya makna dari cintanya itu.
Is it love or is it lust?

(Maaf ya aku merasa lama-lama tulisanku ini kok jadi bergerak ke arah yang terlalu serius, makanya ku kasih contoh yang ringan saja.)

Ya gitu dah kira-kira.

-

Sebenernya yang pengen gue bahas dan kritisi adalah penggunaan media sosial yang berlebihan aja sih.
Kaya kenapa gitu kita merelakan waktu tidur kita untuk mencari tau kabar orang lain yang sebenernya gak penting-penting banget?
Kenapa harus susah payah membagikan momen menarik di hidup kita ke orang lain yang sebenernya gak perlu-perlu banget tau tentang itu?
There will be no time to reflect. To sleep. To actually create something.

Dan sungguh, gak ada satu atau banyak pihak yang gue singgung dalam tulisan ini.
Gue cuma pengen nyentil diri gue sendiri aja sih.

Kadang, gue ngerasa jarang banget ngasih kabar ke orang rumah. But at the same time, i shared anything on my timeline. Padahal nyokap mungkin jauh lebih butuh tau keadaan di semesta gue kaya gimana daripada teman-teman gue di media sosial.

Karena itulah.
Beberapa hari ini gue menarik diri dari media sosial. Gue hapus beberapa aplikasinya di telpon genggam.
And surprisinglyyyyyy.
It helps me a lot.

Gue ngerasa lebih hidup. Masih sih megang hape, buat sekedar main game atau bales chat.
Tapi, gue lega mengetahui bahwa gue baik-baik saja ketika gue tidak mengetahui temen gue jam 2 pagi lagi galauin apa di instastory, temen gue makan-makan cantik di mana jam 3 sore lewat path (ew, i actually never using path), atau temen gue lagi gelisahin apa di twitter jam 11 malem.
Kayanya kesannya apatis banget sih. Cuma, gue ngerasa pengen ngebangun hubungan yang sehat aja sama diri sendiri. Dan orang-orang terdekat gue tentunya.
Gue pengen tau kabar mereka yang sebenarnya. Seperti apa yang mereka rasakan ketika tim bola kesayangannya kalah di turnamen yang lalu. Apa yang mereka gelisahkan ketika idolanya kena dating scandal.
Gue pengen bener-bener ngobrol. Tatap muka, liat mata.
Gue pengen jadi Tyas yang lebih peduli. Tyas yang bisa jadi pendengar yang baik.
Yang gak dengerin orang curhat tapi jarinya masih scroll-scroll telpon genggam.

Dan sebaliknya.
Gue pengen orang kenal gue secara langsung.
Cari tau. Ajak ngobrol.
Gak cuma nilai gue dari apa yang gue bagi di media sosial. Bukan dari foto yang gue unggah, bukan dari bacotan gue di twitter, bahkan bukan dari tulisan gue di blog ini.

Memang, apa yang di kepala seseorang bukanlah urusan gue.
Orang lagi-lagi, bebas mau memaknai gue seperti apa.
Dengan begitu, gue juga merasa bahwa gue punya ruang untuk membiarkan orang mau memaknai gue dengan cara seperti apa. Hehe.

-


Btw ini artikel yang sempat nyubit gue kemarin : “The Power of Not Knowing” @vanschneider



Akhir kata,
Terimakasih sudah membaca.  Terimakasih sudah memberiku makna.



Jatinangor,

Tyas Hanina


P.S
10:36 AM. Do you know what i ate for breakfast? None.
Laper.

Minggu, 16 April 2017


Malam ini aku terbangun dari tidur yang kuninabobokan sendiri.
Dahiku basah oleh keringat.
Entah karena kipas angin tuaku yang sudah payah. Atau karena ingatan di kepalaku yang makin parah.

Aku punya ingatan daratan. (Frasa ini dipinjam dari buku ‘Sastra Pranikah’nya Nyi Vinon)
Aku hanya ingat hal-hal yang ingin aku ingat saja.
Cenderung mudah melupa hal-hal yang tidak ingin kusimpan di kepala.
Tragedi memalukan apa pun yang menimpaku, atau kenyataan bahwa aku (mungkin) pernah menangis hingga dadaku ngilu-ngilu semalaman. (Kenapa ku tulis mungkin? Karena mungkin pernah terjadi, dan mungkin aku pernah melupakannya).

Ah sudahlah. Aku tidak ingin banyak basa basi. Takut tulisan ini keburu basi.
Mumpung masih hangat ruam-ruam kuku di bantalku.
Aku ingin segera menunaikan tulisan tentang mimpiku ini.

-

Jadi, tadi aku bermimpi. Seseorang mengirimkan sebuah pesan singkat untukku di majalah kampus.
Jelas di sana tertulis nama panjangku dan nomor pokok mahasiswaku.
Entah siapa. Entah bagaimana.
Kesimpulan yang dapat kuambil dari pesan itu, aku menyakiti perasaannya.

Aku tidak bisa menceritakan detail kejadiannya.
Tak seperti biasanya, aku lupa kalau aku sedang bermimpi. (Biasanya aku selalu bisa membedakan mana mimpi dan realita).
Aku (di mimpi) merasa gusar dan menebak-nebak apa yang kuperbuat.
Aku (di mimpi) merasa bersalah akan dosa yang tak ku sadari.
Selintas ingatan tayang di kepalaku. Tidak ada satu pun ingatan itu yang pernah kualami secara langsung.
Ini menyakitkan.
Aku tidak mengenali diriku di mimpi.

-

Aku bangun dengan dada yang sesak. Entah oleh apa.
Ruam-ruam di lenganku akibat alergi sudah mengering membentuk konstelasi bintang.
Aku menghapus keringat di dahiku yang basah.

Aku merasa,
bersalah.

Selama ini, barangkali aku hanya fokus terhadap patah hatiku sendiri.
Selalu berteriak-teriak akan lukaku yang basah.
Sibuk menutup diri untuk tidak terluka.

Barangkali, aku lupa. Bahwa mungkin aku juga pernah menciptakan duka di dada seseorang.
Tak sengaja menggores luka dari senyum yang kulempar.
Tak sadar menyakiti dari puisi yang kutulis.

Selama ini, terlalu sibuk menghapal sajak-sajak patah hati.
Seakan-akan yang paling merana.  Yang paling banyak dukanya.
“Selama hidup udah berapa kali matahin hati orang yas?,” pertanyaan temanku di perjalanan waktu itu kembali terngiang.

-

Seringkali, aku merasa bahwa aku adalah peran utama dalam kehidupanku.
Tapi, peran utama tidak selalu dapat dimaknai sebagai tokoh yang baik.
Aku bisa merupa menjadi apa saja. Tergantung orang memaknaiku seperti apa.
Sialnya, aku suka lupa. Kalau aku bisa saja menjadi tokoh yang jahat pula.

-

Maaf untuk kesalahan yang kuperbuat.
Maaf untuk permintaan maafku yang terlambat.

-

(Patah hati tidak selalu berkaitan dengan kisah asmara. Bisa saja hubungan pertemanan dan urusan pekerjaan. Jika aku pernah menyakiti hatimu tanpa sepengetahuanku, tolong beri tahu aku ya! Hubungi aku kapan saja. Ajak aku bicara.

Sebab hidup terlalu singkat untuk memendam luka di dada sendiri, berbagilah.)

Sabtu, 11 Maret 2017

tiga hal

"Tyas, jangan lagi menulis yang muluk-muluk. Jangan lagi maruk akan peluk. Jangan lagi pelit berbagi kerupuk."

Kemarin lusa, aku pulang ke Kelapa Dua.

Harus kukatakan, tidak banyak yang berbeda.
Tidak terbantahkan. Ada sekian hal yang tak lagi sama.

-

Dari atap rumah yang tidak lagi bisa leluasa kupanjat,
terlihat bangunan tinggi apartemen yang belum bisa dihuni.

Dari halaman rumah yang tak lagi ada tanaman,
terletak sepeda Bapak yang sudah tidak empuk lagi joknya.

Dari telapak tangan ibunda yang tak lagi halus tanpa kerutan,
tergambar garis-garis pertanda penuaannya.

Dari Layar hingga Bidar Raya.
Dari Sampan hingga Dayung Dua.

Ada jejak langkah dan bekas keringatku di sana.
Ada jejak tawa dan bekas tangisku merana.

-

Kemarin lusa, aku kembali ke peluk Ibunda.

Aku tidur-tiduran di kamar Aa.
Memainkan gitar-gitarnya dengan nada yang sumbang.
Memotret citra diri yang tak begitu enak dipandang.

Aku duduk di sofa dengan Bapak.
Menonton berita luar negeri dan dokumenter binatang.
Mengobrol yang tak perlu, menyelesaikan rindu yang menggerutu.

Kukatakan pada Aa,
Aku tidak mau jadi jurnalis.
Kukeluhkan pada Bapak,
Capek sekali menulis!

-

Nyamuk-nyamuk nakal, pajak-pajak mahal.
Persetan.
Tugas apresiasi, makalah dan presentasi.
Sialan.
Rapat organisasi, pergi sosialisasi.
Rajungan.

-

Kemarin lusa, aku lari ke rumah.

Aku enggan jadi dewasa.

Senin, 27 Februari 2017

permohonan terakhir

permohonanku ini sederhana,

aku memintamu dengan hormat untuk angkat kaki.
jangan kembali.
aku sudah periksa berulang-ulang kali, tidak ada satu atau dua barangmu yang tertinggal di sini.

kalau ada yang luput dari penglihatanku,
kalau ada yang hilang dari ingatanku,
beri tahu, ingatkan aku!
nanti, pasti segera kukembalikan padamu.

tapi, tidak usah ke sini. biar aku yang menghampiri.

-

pintuku sempat rusak, kemarin ku baru ke tukang kunci.
katanya, mulai sekarang aku harus berhati-hati.
jangan lagi suka membanting pintu sesuka hati.


ngomong-ngomong, kunci serep yang waktu itu sudah kamu kembalikan kan?
oh ya, maaf ya gantungan kunci darimu terpaksa kulepaskan.

-

aku tahu perbuatanku ini tidak sopan.
mengusir tamu yang ingin datang berkunjung.
karena itu, setelah minum teh dan bercakap-cakap barang sebentar.

mohon segera pergi ya? ini bukan (lagi) rumahmu.
ada tubuh perempuan yang menunggu kamu untuk pulang.

-

setelah keluar, mohon tutup lagi pintu.
aku cukup puas hanya memandangi punggungmu.
tidak usah menengok kepadaku.

sungguh, aku tidak ingin lagi muluk-muluk.
meski aku inginkan peluk.
dan senyummu selalu buatku takluk.

aku hanya ingin kamu pergi, dasar terkutuk!

-

pergilah. menghilang sajalah.

aku akan menyambutmu malam ini, tapi tidak lain kali.
kumohon, jangan datang lagi.

Ritme


semua orang memiliki ritmenya tersendiri.

usahlah terburu-buru karena melihat orang lain berlalu.

lulus tepat waktu.
kerja.
ketemu teman hidup.
menikah.
punya anak.

semua orang memiliki momentumnya tersendiri.

kapan giliranmu? tidak ada yang tahu.

usahlah khawatir, ada hal-hal di dunia ini yang tidak perlu kamu tahu.

apakah kamu mau menunggu atau melakukan sesuatu.
lagi-lagi, itu pilihanmu.
 

-


barangkali, memang benar.
bahwa dalam hidup kita tidak akan pernah sampai.

titik balik hanya fase semu.

sesungguhnya, kita hanya berjalan meniti dari satu kekhawatiran ke  kekhawatiran lainnya.
berlari dari satu keikhlasan ke keikhlasan lainnya.

kita tidak akan pernah berhenti mengkhawatirkan sesuatu,
bahkan saat tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
kita tetap akan merasa khawatir karena tidak merasa khawatir.

begitu pula tentang keikhlasan.
meski hanya sisa-sisa, meski tidak sepenuhnya.
harus selalu ada ikhlas yang kita simpan dalam dada.
selalu ada yang kita lepas saat menuju pengembaraan selanjutnya.

-

saat ini aku khawatir,
saat ini aku ikhlas.
tapi aku baik-baik saja.

semoga kamu juga begitu.

aku cuma bisa berpesan padamu.
nikmati waktumu, selama masih ada aku di situ.

Minggu, 19 Februari 2017

Untuk Tyas



Teruntuk : Tyas Hanina


Hai, apa kabarmu?
Aku harap hari ini kamu tidak melewatkan kartun pagi kesukaanmu. Karena aku sadar betul,betapa ini akan mempengaruhi suasana hatimu seharian ini.

Bagaimana sekolah? Menyenangkan bukan?
Tidak perlu merasa sebegitu kesalnya karena teman laki-lakimu membuntutimu pulang.
Suatu hari mereka akan menyesal.
Aku tahu, kamu pandai menjaga dirimu sendiri. Walau diam-diam kamu ketakutan juga.
Teruslah menjadi kuat, Tyas, hingga dewasa nanti.

Hari ini ibu masak apa?
Sayur oyong dengan ayam goreng kesukaanmu, kah?
Jangan lupa sehabis makan nanti, ucapkan terima kasih pada Ibu. Bilang, “Terima kasih telah menjadi koki terbaik dalam hidupku, Bu!”
Aku tahu kamu sangat tidak terbiasa akan hal itu. Dan aku yakin ibu akan terkaget-kaget mendengarnya. Kapan lagi anak bungsunya yang pemalu ini bisa berbicara seperti itu.

Hari ini Bapak pulang bawa buku apa?
Majalah bobomu sudah habis kamu baca, ya? Ah, teruslah membaca.
Tidak usah malu, karena kamu berbeda. Aku hanya ingin mengingatkan, jaga baik-baik matamu.
Jangan lagi suka membaca di tempat gelap atau sambil tidur-tiduran. Dan, hilangin tuh kebiasaanmu suka nyeruduk-nyeruduk orang di Mall karena baca komik sambil jalan!

Hari ini sudah bertengkar dengan Aa’?
Tak apa, nikmatilah setiap rasa kesal yang tercipta karena konflik kalian berdua.
Tiban saja tubuhnya yang kurus itu ketika tidur. Siram kepalanya dengan segelas air dingin.
Tapi, jangan kabur lagi ke kamar mandi dan nangis sendiri.
Mau nakal kok, cengeng. Gak bisa bertanggung jawab akan kesalahanmu sendiri.
Kubilangin ya dari sekarang, suatu saat kamu akan kangen masa-masa perang ini.
Kamu akan rindu lari-larian keliling komplek dengan hanya mengenakan kaos kutang dan kancut doang. Tetangga-tetanggamu pun ku yakin nanti akan rindu suara teriakanmu yang nyaring itu!
Ku beri bocoran dari masa depan.
Aa’ semakin lama semakin tidak menyebalkan. Tidak lagi gemar mengganggu.
Ini kabar baik apa kabar buruk ya? Entahlah, terserah mau kamu maknai seperti apa.

Hari ini Kakak pulang dengan cerita seperti apa?
Kisah hidupnya sudah kamu hafal betul. Siapa-siapa saja yang menyukainya di sekolah, hal-hal apa saja yang mengganggunya di rumah.
Ku kasih tahu, ya. Semakin bertambah dewasa, kamu akan semakin dekat dengannya.
Memang sih, menyebalkan sekali rasanya selalu dibandingkan-bandingkan dengannya.
Tapi, tidak perlu merasa insecure sendirian. Diam-diam dia pun juga merasa begitu. (SSSST, rahasiakan ini darinya bahwa aku tahu)



Tyas, sewaktu aku menulis surat ini untukmu aku sedang jauh dari rumah.
Jauh dari kamu, sekaligus mencoba dekat denganmu.

Tapi, hal yang ku ingin kamu tahu.
Bahwa, pada saat ini. 10 tahun setelah kamu hidup di dunia ini.
Kamu masih hidup di dalam diriku.

Segala partikel yang hidup dalam semestamu, merupakan bagian dariku.
Yang kadang-kadang terlupa, tapi tak akan tanggal dari kepala.

Segala boneka barbie, rumah mainan dari kayu, buku komik yang menguning kertasnya, bundelan majalah Bobo, buku lirik lagu daerah, seruling dan pianika, sepeda roda tiga, buku diary yang kehilangan gemboknya, boneka beruang yang robek pitanya, gulungan kaset yang sudah putus, pita film tua. Dan sebagainya.
They’re gonna live forever in me.


Tyas, tahun ini aku sudah kepala dua.
Aku ingin jujur, bahwa aku takut sekali menjadi dewasa.
Aku takut kehilangan kamu di dalam diriku.
Aku gugup memikirkannya.

Entah apa yang akan dituliskan Tyas di usia 30-nya.
Entah wejangan apa yang akan diberikannya pada kita.


Tyas, tidak perlu ikut khawatir memikirkanku.
Jalani saja ritme hidupmu.
Skenarionya menyenangkan, kok! Kalau menyebalkan, improvisasi saja. Hehe.
Kamu akan bertemu banyak tokoh yang seru. Yang akan membawamu pada titik balik dalam hidupmu.

Siap-siap, ya.
Pegangan yang kencang.
Arus hidupmu akan terus membawamu pada tempat yang tak terduga.

Aku, selalu menikmatinya kok hingga saat ini walau kadang harus dengan air mata.


Ah, ya. Jangan takut bertambah tua. Kamu akan baik-baik saja.




Tyas Hanina


P.S

Tolong ya, Pak Pos.
Antarkan surat ini kepada diriku 10 tahun yang lalu.
Pinjam saja mesin waktu dari robot kucing itu.

Chapter Two



Kepalaku tak lagi jadi taman bermain yang asik,
Akhir-akhir ini jadi terlalu berisik.

Wahana-wahananya bikin mual,
Berputar-putar hingga kepalaku rasanya ingin kupenggal.



Aku ingat pernah menulis begini,
Bahwa tulisan adalah mesin waktu yang kita ciptakan sendiri.

Sayangnya, kini aku harus melawan kata-kataku itu.
Aku tidak lagi merasa begitu.

Menengok tulisan-tulisan lamaku seakan membaca kisah orang baru.
Siapa itu?
Aku kenal betul segala latar yang dipakai, serta hafal benar segala dialog.
Namun, sialan. Aku sadar, tidak dapat lagi hidup di sana.

Aku benci mengakui, bahwa aku takut akan perubahan.

Menjadi dewasa tak ayalnya menjadi seorang bunglon.
Kamu harus selalu siap mengubah warna tubuhmu di segala situasi.

Terlebih, kenyataan bahwa ekosistem terkadang begitu kejam.
Tak peduli kamu lelah berganti-ganti warna, tak peduli kamu benci warna biru, tak peduli kamu sayang warna kuning.


“…Dewasa tidak datang pada batasan umur tertentu.”
-Tyas Hanina, saat masih lugu-

Ada beberapa pertanda seseorang menjadi dewasa menurut beberapa bacaanku yang tidak seberapa.

Salah satunya yang paling kuingat adalah keberanian untuk membeli pakaian dalam sendiri. Kelihatannya sederhana dan konyol sekali, ya?
Namun, kenyataannya hal ini bukan perkara mudah untuk semua orang. Masih ada teman-temanku yang merasa malu dan tidak tahu harus bagaimana saat membeli pakaian dalam.
Aku sudah membeli pakaian dalamku sendiri sejak SMA. #WOWFakta
Bukan suatu hal yang membanggakan.
Hanya saja, menurutku.. Pakaian dalam adalah kebutuhan primer setiap orang dan tidak perlu merasa malu untuk membeli itu. Kalo gak tahu ukuran yang pas atau bahan yang enak, ya nanya. Itulah fungsi pegawai pakaian dalam.

Ngomong-ngomong,

Waktu SMP, seorang teman dekatku pernah menganalogikanku dengan pakaian dalam.
Katanya karena sikapku yang hangat pada semua orang, dibutuhkan setiap orang, dan unik.
(Aku sempat senang karena pujiannya lalu ingat bahwa pakaian dalam itu dipakai di selangkangan. Semoga aku tidak bau.)

Jika tumbuh menjadi dewasa dianalogikan dengan pakaian dalam.

Mungkin, maksudnya begini :
Kita semua dikenalkan dan akrab dengan pakaian dalam sejak kecil. Hingga akhirnya, pakaian dalam tumbuh mengakar di dalam diri kita.
Tanpa kita sadari, kita tumbuh bersamanya. Ukurannya berkembang. Selera kita pun menjadi bercabang.
Menjadi remaja, aku tidak lagi suka yang berenda. Pilihan warna pun menjadi hal yang penting adanya.
Aku tidak peduli orang lain memiliki selera yang berbeda denganku, aku tidak suka dipaksa untuk menyukai pakaian dalam yang berbahan beludru.
Orang-orang bilang pakaian dalam wanita itu wajarnya warna merah jambu. Dan pria itu warna biru. Tapi, aku tidak mau tahu. Bagiku, pakaian dalamku ya pakaian dalamku. Urus saja pakaian dalammu.

Pakaian dalam adalah pikiran kita.
Sejak kecil pikiran kita dikenalkan dengan berbagai macam pemikiran. Semakin banyak orang yang kita temui, semakin banyak pikiran yang kita selami. Semakin berkembang ukuran “pakaian dalam” kita, makin bercabang pula lah ia!
Waktu remaja, aku pernah patah hati karena katanya oh katanya pikiranku sulit dimengerti. Cih!
(Aku tidak akan mengubah diriku dan menyederhanakan pikiranku hanya karena kamu tidak bisa memahamiku, mz.)
Sama seperti pakaian dalam, aku tidak nyaman kalau punyaku dilihat orang sembarangan. Aku yang cengengesan dan suka lelucon-lelucon rendahan ini sebenarnya sangat serius ketika memikirkan sesuatu.
Pikiranku adalah labirin yang akan membuatmu tersesat, aku saja tidak mampu membuat petanya.
Karena kerumitanku itu aku ingin sederhana saja memandang “pakaian dalam” orang lain. Aku menghargai apa-apa yang dikenakan oleh mereka. Aku benci motif renda, kamu suka? Oh, tak apa.
Kita semua memiliki selera dan kenyamanan yang berbeda tentang “pakaian dalam” yang kita kenakan setiap hari.
Aku dan kamu, tidak perlu menjadi seorang bajingan yang memaksa orang lain untuk menyukai “pakaian dalam” dengan motif yang sama.

Bagiku, inilah salah satu pertanda dewasa.


Begitulah cocoklogiku tentang dewasa dan pakaian dalam.
Urusanmu, mau kamu maknai seperti apa. Bukan urusanku.

Urusanku sudah terlalu banyak.
Tugas yang merengek minta dikerjakan, dan (lagi-lagi) kesibukan yang ku buat-buat.

Gapapa, deh.

Ada yang bilang di paruh kedua hidupmu, alia usia dua puluh.
Kita harus perbanyak kegiatan yang memperkaya diri sendiri.
Entah akan jadi seperti apa, tapi aku sedang berusaha.

Banyak sih, orang seusiaku yang udah jadi konglomerat. Punya kesempatan ke luar negeri, ikut lomba debat sana-sini. Mereka hebat. Sukses berat.

Sedangkan aku yang katanya suka menulis ini tak satupun tulisannya berhasil masuk media cetak.
Ya iyalah gak pernah ngirim.
He.

((Yaelah, ngomongin berita naik cetak, kerjain aja dulu apre abang!))




Jatinangor,
Tyas Hanina




P.S
Aku tahu, tulisan tentang pakaian dalam ini membuatmu mual. Nikmati saja ya wahana di dalam pikiranku ini?

Sabtu, 07 Januari 2017

Filtrum


maafkan aku,
presensimu sulit untuk menempel di kepalaku.
seperti nama cekungan yang terletak di antara hidung dan mulut.
berkali-kali ku cari tahu, terus menerus ku langsung melupakannya.

aku kerap lupa untuk mengingatmu.
makanya, jadi lebih mudah untuk diingat ya?
jangan rumit-rumit, aku jadi ingin menyederhanakanmu.

 terimakasih,
masih menerima diriku yang tak pernah bisa menerima kamu ada apanya