Pages

Senin, 22 Juni 2015

yellow

Imagine this.

Terbangun dari tidurmu, dan hal yang pertama kali kamu lihat adalah, Langit malam.
Dan, hal yang kau jadikan sandaran untuk tidur bukanlah tempat tidur di kamarmu. Tapi sekumpulan bantal dan selimut tebal.
Kamu terjaga dari mimpi indahmu. Namun kamu tidak menyesalinya.
Karena pemandangan yang kamu lihat di sekelilingmu terasa jauh lebih indah untuk sebuah realita.
Bukan tembok kamarmu yang kau lihat. Tapi, suatu padang rumput yang membentang luas seakan tanpa batas, disertai pohon-pohon yang kokoh.
Dan ketika kau mendongakkan kepalamu ke atas. Yang terlihat adalah sekumpulan rasi bintang.
Dan meskipun kamu tidak tau apa-apa tentangnya, kau dapat merasakan keindahannya.
Ya, memang terkadang keindahan ada bukan untuk dimengerti. Tapi dirasakan.


Senin, 04 Mei 2015

The Unplanned Ones


“You don’t always need a plan. Sometimes you just need to breathe, trust, let go. And see, what happens.”


Sabtu, 14 Februari 2015

Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan


Dear, 
Aku menulis surat ini sembari memelukmu erat.
Memang hal itu membuatku sulit untuk menuliskannya, tapi itu tidak sesulit saat dirimu jauh dariku.

Tidak, aku tidak sedang merayumu. Sungguh.

Merindukanmu,
Terasa bagai dininabobokan oleh angin laut.
Didekap erat oleh pasir pantai.
Diombang-ombing oleh ombak lelautan.
Dilelapkan ke dasar laut terdalam.

Indah, namun menyesakkan.
Meskipun, aku tidak begitu mengerti letak keindahannya.
Tapi, keindahan tidak harus selalu dimengerti kan? Dia ada untuk dirasakan.
Sama seperti dirimu, perempuanku.

Aku dapat menulis banyak sajak untukmu saat itu.
Lalu kupasung di dalam botol kaca.
Kulepaskan ia di lautan. Membiarkannya menari bersama ombak.
Biar, laut yang membacanya.
Tidak perlu kamu- orang yang selalu kurindu, untuk tau akan hal itu.
(Tapi, aku memberitahukanmu juga pada surat ini.)

...

Perempuanku,

Masih terasa hangat di dalam ingatanku, bagaimana kita digigilkan hujan hari itu.
Tidak ada payung yang melindungi kita dari hujan. Tidak ada jas hujan yang melindungi tubuh kita.
Kita terjebak dalam hujan, dan menemukan kenyamanan di dalamnya.

Kamu merapatkan tubuhmu padaku, memegang ujung rokmu yang basah.
Tidak ada jaket yang bisa kupasangkan di tubuhmu, tidak ada selain lenganku yang merangkul bahumu.
Kulihat kamu mengulum senyum, bergumam entah untuk kudengar atau hanya untuk dirimu sendiri.

Rainy rainy day.

Ingin kucubit pipimu yang merah bersemu. Namun, aku hanya berkata.

I like the way you smile when it’s rainy.”

 Teduh matamu memandangku. Seakan mengucapkan terima kasih.

“Ke laut yuk.”

Tiba-tiba saja kalimat ajakan itu keluar dari mulutmu. Aku tidak mengerti, dan hanya dapat memberimu pandangan bingung.

“Aku mau liat hujan di lautan.”
“Pertemuan antara hujan dan lautan. Awan hujan yang berasal dari laut, kembali padanya dengan cara menjatuhkan dirinya secara perlahan.”
“Dan, hujan akan menyambutnya. Dengan ombak yang mencoba memeluk rintik hujan.”
“Aku ingin menyaksikan pertemuan mereka, dengan kekasihku.”

How I love your sweet mind.

Lalu kau berhenti menarik ujung rokmu, dan berganti menarik tanganku.
Ke dalam rintik hujan.

“Meskipun hujan itu membawa nyaman.
Namun, kita bisa dijebakkan olehnya. Kita harus membebaskan diri.”

Lalu kamu mengajakku berlari, tapi aku menolaknya.
Dan kamu menawarkanku menari, tapi aku tidak bisa menyanggupinya.

Lalu, kamu tertawa. Seakan hujan membisikkanmu sebuah lelucon.
Lalu aku tidak bisa menahannya, selain membiarkan diriku terjebak oleh seorang dirimu, dirimu seorang- dan kenyamanan yang senantiasa membuatku utuh.

Sejak itu,
Aku tidak ingin, membebaskan diri dari jebakan indah ini.

...

Namun ada kalanya.
Dua kutub di dalam masing-masing diri kita menjadi sama.
Dan membuat jarak dan waktu seakan menolak pertemuan kita.

Seperti saat itu.

Saat pekerjaanku mengharuskanku untuk jauh darimu. Jauh dari ragamu.
Meskipun saat itu kamu mendukungku, tapi tetap saja rasanya beda dengan kamu yang di sisiku.

Pembicaraan kita lewat perantara telepon. Sinyal yang terkadang begitu buruk, sehingga sering kali aku hanya bisa mendengar gemerisik tawamu atau kata-katamu yang patah.
Diskusi kita lewat chat messenger. WiFi yang tiba-tiba tidak bersahabat, membuat percakapan kita terhambat.
Surat beserta paket buku yang kukirimkan padamu. Dan surat beserta CD musik favoritku yang dikirimkan olehmu untukku. Membutuhkan waktu berhari-hari untuk sampai.

Komunikasi itu tetap terjaga, tapi rasanya berbeda.
Tidak bisa kudengar tarikan nafasmu, tidak bisa kuhirup harum tubuhmu yang masih menempel pada jaketku, tidak bisa kurekam gelak tawamu.
Tidak bisa kupeluk ragamu.

...

Hampir setengah tahun kita menjalani hari-hari kita seperti itu.
Hingga akhirnya, sifat nekatmu itu membuatmu berani memutuskan untuk datang ke tempatku.
Selama 1 minggu. Yang cukup untuk membayar rinduku selama kita jauh.

Kau menolak untuk kubayari tiket pesawat terbang, karena alasan kau benci ketinggian.
Kau pun mengelak saat kutawari tiket kereta api, padahal pemandangan ketika perjalanannya begitu indah.
Kau menolak telak saat aku ingin menjemputmu dari sana.

Dan, kau memilih untuk naik Kapal Laut.
Dengan alasan, kau tidak harus membayangkan dirimu jatuh dari awan. Dan kau akan sangat dekat dengan lautan.
Pemandangannya pun tak akan kalah dari yang akan kau liat jika kau berangkat naik kereta api.
Meski hanya biru laut, dan biru langit yang tercampur dengan batasnya yang akan hadir di depan matamu.
Tapi, kau menginginkannya.

Aku masih ingat sekali, chat terakhir kita hari itu- sebelum perjalananmu naik Kapal Laut ke tempatku.

“Semoga nanti hujan.”
“Kenapa? bukankah lebih baik perjalanannya cerah.”
“Aku ingin melihat hujan di lautan.”
“Tapi, kau kan sedang tidak bersama kekasihmu.”
“Tapi, aku kan akan menemui kekasihku.”

Dan perjalanan itu pun Tuhan kabulkan.

...

Hujan, tidak menjatuhkan dirinya dengan perlahan hari itu. Di hari perjalananmu.
Hujan yang membuat orang-orang bertahan di ruangan, memilih untuk menghangatkan dirinya. Hujan yang sangat deras.
Lebih deras dari hujan hari itu.
Namun, saat itu kau tidak dalam ruangan. Yang aman dari terpaan hujan.
Kau juga tidak sedang bersamaku, sehingga aku tidak bisa mencegah perjalananmu.

Kapal Laut. Dengan terpaan hujan lebat.
Aku rasa itu bukan ide yang hebat.

Air laut akan berubah dari tenang menjadi galak. Ombaknya akan tinggi dan bergejolak.
Dan aku khawatir, akan terjadi badai.

Tak henti-hentinya aku memandangi jendela kantorku. Menatap tetesan hujan yang menempel di kacanya. Melirik jam dinding, memencet-mencet ponselku.
Tak ada kabar darimu.

Aku tidak ingat, pernah lebih gelisah dari hari itu.

Dan gelisahku itu membawaku pada kabar selanjutnya.

...

Malam hari.
Aku yang masih menunggu kedatanganmu. Duduk diam di sofaku, tidak bisa dan tidak ingin mencoba untuk pergi tidur.
Aku menyalakan Televisi, hanya agar suara bisingnya memenuhi ruanganku.
Namamu beserta kabarmu, tidak kunjung muncul di ponselku.

Namun, justru di Televisiku. Di sebuah acara berita.
Berita tentang Kapalmu, Kapal yang mengangkutmu. Kapal yang membawa separuh jiwaku.

Tenggelam. Terbawa arus ombak yang semakin liar menari, ketika hujan datang beserta badai.

Apa ada hal yang lebih menyakitkan dari kabar itu?
Ya.

Kabarnya, kapal itu tenggelam ke laut dalam.
Beserta para raga yang diangkutnya.
Karam.

...

Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan.

Selepas kabar itu.
Ragaku terus menerus mencarimu.
Meski berita Televisi mengabarkan begitu.

Tapi, ragamu tidak kunjung ditemukan.
Menyatu bersama lautan.
Dan air hujan hari itu.

Dan aku hanya bisa memberimu pelukan.
Mendoakan jiwamu yang ada dalam diriku.
Memelukmu erat di dalam pikiranku.
Tanpa ragamu yang utuh.

Utuh?
Kata apa itu.
Tak lagi utuh aku tanpamu.

Tanpamu, perempuanku.

Surat yang kutulis dengan pena biru ini.
Akan kupasung dalam botol kaca.
Dan akan kubiarkan dia menyatu dengan biru air laut.
Biarkan kata-katanya menguap membentuk awan hujan.
Dan, semoga bisa sampai ke tempatmu di khayangan.

Dan, kelak.
Hujan yang akan turun dari awan itu.
Kuanggap sebagai pertanda- balasan suratmu.

Meski hujan.
Tidak kunjung hadir.
Semenjak kamu berhenti hadir di hidupku.

(Hi perempuanku yang sedang bertugas menjadi bidadari surga.
Permintaanmu sudah dikabulkanTuhan. Kau kini tidak lagi takut ketinggian, bukan?)


Tyas Hanina
(8 Januari 2014)

...


(Judul postingan ini sama dengan salah satu judul lagu Payung Teduh.)

Senin, 17 November 2014

Same shit, different day.

Begitulah kalimat yang tertulis di punggung seorang pengendara motor yang berada di hadapan saya ketika berangkat sekolah. Raut pria itu menahan kantuk, begitu pula anak kecil berseragam putih merah yang dengan erat memeluk pinggangnya. Mungkin ini adalah salah satu rutinitas mereka, salah satu agenda wajib yang terisi di 5 hari dalam seminggu. Rutinitas yang bisa dibilang dialami oleh kebanyakan orang.
Termasuk saya.
Pada rentang waktu 6 sampai 7 pagi. Saat Spongebob dan Patrick baru muncul di televisi hingga acara mereka selesai. Pada saat itu, jalan raya dipenuhi oleh kendaraan. Dipenuhi oleh orang-orang yang berangkat ke tempat tujuan, berjuang untuk sesuatu di masa depan. Menuju kantor untuk mencari sejumlah materi, menuju sekolah untuk meraih segenggam ilmu.
Roda kehidupan terus berputar seperti itu. Setidaknya, begitu yang saya liat di kota tempat saya tinggal yang tidak terlalu besar ini.
Entah kapan roda itu akan berhenti.
Dan, bukan itu hal terpenting untuk dipertanyakan.
Kapanpun roda itu dapat saja berhenti. Dan entah siapa yang sudah siap untuk beradaptasi.

Justru yang terus menerus menggangu perhatian saya adalah pertanyaan..
Apakah kita benar-benar “bergerak” ketika roda kehidupan berputar?
Apakah kita selama ini hanya “digerakkan” dan mengikuti geraknya?

Does it matter? For me, yes.
Sedari dulu, mimpi buruk saya adalah menjelma jadi sebuah “monster” yang bernafas namun tidak benar-benar hidup, pergi tidur namun tidak punya mimpi, berjalan tapi tidak punya tujuan. Menjadi hanya seonggok daging yang punya nama.
Rutinitas terdengar membosankan. Ah tidak, memang membosankan.  Meski, saya tahu saya pun membutuhkannya.
Tapi di sisi lain, saya pun merasa lelah akhir-akhir ini dengan segala rutinitas yang dibedakan hanya dengan pergantian hari.

Saya mulai meragukan bahwa hitungan 1 hari di hari sabtu dan minggu adalah 24 jam. Karena rasanya, 2 hari tersebut berlalu dalam satu pejaman mata.

Lalu ketika saya membuka mata. Hari senin sudah menyapa.
“Hai, tanggung jawabmu sudah ada bersamaku.”
Dan saya harus tersenyum palsu menyambutnya, dengan tanggung jawab yang datang bersamanya.

...

You know, it’s kind of tired that sleep can’t fix.

Saya tidak dapat menemukan kata yang cocok untuk mewakili perasaan yang memeluk erat saya akhir-akhir ini.
Tapi sepertinya, kata Lelah sudah cukup mewakili.

Tired. And scared.
Saya takut menjadi “monster”.

Tadi malam saya bermimpi. Di mimpi tersebut, saya menonton diri saya sedang berbicara di depan kelas menjelaskan pemikiran saya akan sesuatu hal (yang saya lupa apa tepatnya).
“...pada intinya... yang membedakan dirinya hari ini dan esok hari bukanlah hitungan usia. Yang terpenting bukanlah hal apa yang dia harapkan hadir ketika ia membuka mata esok paginya, bukan hal apa yang akan dia dapatkan keesokannya.
Namun, yang terpenting adalah apa yang dia lakukan pada hari ini, apa yang dia perjuangkan dari fajar hingga senja tiba.
Itu yang terpenting.. itu yang akan merubahnya. Itu yang akan membedakan dirinya yang kemarin dan sekarang.”

Saya tidak pernah menganggap mimpi sebagai suatu hal yang remeh. Karena itu, ketika saya terbangun dari mimpi tersebut. Saya merasa tertampar oleh kata-kata yang saya ucapkan di mimpi.

Ah, Yas.
Lo ngapain aja selama ini.

Semoga bekas tamparan ini terus terasa ketika saya berhenti “bergerak”.

...

“We know you’re tired.
Tired and scared.
Happens to everyone, okay?
Just don’t let your feet stop.”
-Haruki Murakami-


Tyas Hanina

Sabtu, 04 Oktober 2014

Selain dirimu

Put your iPod/Spotify on shuffle, grab the lyric that appears 1:35 into the song,
and write from there.

Dua – Kau
1:35

Selain dirimu.

...

Selamat malam, Tuan.
Apa yang sedang kamu lakukan di ujung minggu ini?
Tebakku, kamu sedang bersama seorang perempuan.
Seseorang yang pastinya bukan aku.

Ah, tidak. Aku tidak akan mengeluhkan hal itu. (Atau mungkin aku akan..)
Aku hanya ingin bercerita tentang malamku.
Malam yang kulewati dengan segelas kopi yang didinginkan oleh angin malam.
Yang kuhabiskan dengan mengguratkan penaku, menulis huruf per huruf, berkisah tentang kisah cinta pahit. Kisah fiksi, yang kuharap tak akan pernah jadi nyata.
Sesekali aku mendongakkan kepalaku, menatap kursi kosong di hadapanku.

Seandainya ada kamu duduk di situ.

Mungkin, aku tidak aka rela bersibuk-sibuk membalas pesan yang muncul di ponselku.
Bahkan mungkin, aku tidak akan ingat aku membawa ponsel itu.
Karena percakapan langsung denganmu jauh lebih kutunggu.
Karena berbagi gelak tawa denganmu akan selalu kurindu.

Apa mungkin diriku tanpamu?
Jika aku jauh nanti, meninggalkan kamu dan kota kelahiranku ini.
Menanggalkan akar yang menempel di kakiku selama ini, meninggalkan kamu bersama segala kenangan semu..

Aku terbiasa sendiri. Aku tidak mempermasalahkannya, tidak lagi.
Sesekali aku memang masih bertanya. Mengapa harus sendiri? Mengapa tidak berdua denganmu?
Tapi, itu hanya sekedar pertanyaan. Yang sebaiknya harus segera kulupakan tiap-tiap kali muncul di kepalaku.

Hanya saja...
Ah.
Kenapa aku jadi terkesan mengeluhkan ketidakhadiranmu?

Malam ini, aku pindah dari tempat duduk yang biasa kutempati di kedai kopi ini.
Rasa-rasanya, aku hanya pernah duduk di satu tempat meski sudah sekian lama berkunjung ke sana.
Aku merasa jenuh. Dan terganggu dengan suara tawa berisik di meja sebelahku.
Aku pindah ke tempat yang lebih sepi. Meja depanku kini adalah sebuah keluarga kecil yang tengah menikmati makan malamnya.
Akupun menikmati kesendirianku.

Para pelayan mondar-mandir mengantarkan pesanan. Salah seorang dari mereka, menatapku. Entah sejak kapan.
Aku tidak sengaja membalas tatapannya. Dan memberikan senyumku. Dia membalasnya.
Kamu tentu tau. Aku terbiasa menghindari tatapan mata.
Bahkan, matamu. Pijar terindah yang pernah kupandangi tidak kuasa lama-lama kupandang.

Karenanya, setelah itu aku kembali melemparkan pandanganku ke buku. Kembali menundukkan kepalaku. Tenggelam dengan pikiranku, dan harapanku akan kehadiranmu.

Sebenarnya,
Malam ini, aku tidak sedang ingin benar-benar sendirian.
Aku butuh teman untuk berbagi obrolan.
Karenanya, aku rela bersibuk-sibuk membalas pesan di ponselku. Yang biasanya kudiamkan ketika aku ingin sendirian.
Karenanya juga, aku mengeluhkan ketidakhadiranmu. Yang biasanya aku coba lupakan.

Mengapa kamu tidak hadir malam ini?
Setidaknya, muncullah di ponselku. Singkat saja, sapa aku dengan ucapan selamat malammu.
Tidak usah mengucapkan apa-apa lagi. Tidak perlu kata-kata manis itu lagi.
“Selamat malam”.
Itu sudah lebih dari cukup.
Seperti sesendok gula untuk kopiku malam ini.

Tuan. Selain dirimu, siapa lagi yang bisa kubayangkan duduk di hadapanku saat ini?
Berbagi dua gelas kopi di meja. Berbagi gelak tawa dan mimpi-mimpi tanpa ada jeda.
Apa rencanamu setelah ini? Tahun depan, kemungkinan besar kita akan semakin berjarak.
Sebelum itu, aku ingin melewatkan hari bersamamu. Sekedar bercerita.

Lucu mengingat bagaimana dulu sering kali aku terganggu oleh dirimu yang cerewet berkomentar akan penampilanku.
Kini. Rasanya jikalau aku rela bersibuk-sibuk merapikan diri, memakai dress cantik, mengatur rambutku rapi, menyapukan kosmetik di wajah. Rasanya, kamu tidak akan memandangku.
Apalagi, memberikan komentar tentang itu.

Tuan. Selain dirimu, siapa lagi?

Aku meringis membayangkan hari-hari yang akan kulewati nanti.
Kala kita semakin berjarak.
Aku ngeri membayangkan aku masih seperti ini.
Diam di tempat yang sama. Tidak sadar atau tidak memperdulikan waktu yang terus berjalan melewatiku.

Aku mendongakkan kepalaku. Melepas earphone di telinga.
Dari sini, dari tempat dudukku yang baru.
Aku bisa lebih jelas melihat penampilan Live Music yang tampil di panggung.
Tempat ini semakin ramai oleh pengunjung.

Aku bangkit dari kursiku. Menyeruput sisa kopi yang dingin karena kudiamkan sedari tadi.
Meninggalkan tempat ini.

Semoga kelak, aku juga bisa meninggalkan bayanganmu.

Tuan, semoga bukan lagi dirimu.




Tyas Hanina


(Aku berharap ini kisah fiksi.
Sayangnya, harapan tidak selalu sejalan dengan kenyataan.

Kumohon, jangan tanyakan lagi tentang hal ini.)

Minggu, 31 Agustus 2014

Ke Entah Berantah



Dan kawan
Bawaku tersesat ke entah berantah

Tersaru antara nikmat atau lara
Berpeganglah erat, bersiap terhempas
Ke tanda tanya


(Banda Neira – Ke Entah Berantah)

...

“Mari kita berpetualang. Giliran mendadak gini aja, malah jadi. Setan.”

Saya tertawa membaca sebaris kalimat darinya di Line. Teman saya yang satu ini memang gemar menggunakan kata-kata kasar di kesehariannya. Tapi, saya tau bahwa sebenarnya perasaannya halus.

Malam itu, saya mendaftarkan diri untuk mengikuti sebuah Pameran Pendidikan yang akan diadakan keesokan harinya di salah satu hotel di daerah Ibukota. Saya juga mendaftarkan dirinya, karena diancam. Hahaha, gak deng. Ya karena, memang orang ini yang mengajak saya untuk mengikuti acara ini dan sepertinya dia pun cukup “sibuk” dengan kegiatannya sehingga tidak sempat mendaftar.

...

Pukul 07:42
Sebuah panggilan telepon membangunkan saya dari tidur.
Saya terbangun dengan kepala berat dan hidung tersumbat.
Mendiamkan dering telepon yang rewel untuk beberapa lama, dan akhirnya mengangkatnya.
Seseorang yang terikat janji dengan saya untuk bertualang di Ibukota lah pemilik suara di telepon tersebut. Sebut saja ia, Sarra.

Saya berangkat ketika Sarra hampir sampai di tempat kami sepakat untuk ketemuan.
Sebuah Coffeeshop di Mal dekat rumah saya.

Begitu saya sampai di sana, saya justru menemukan Ia duduk di halte Bus dengan earphone yang seakan terjahit di telinganya. Lucunya, saya mengenalinya dari sepatu biru muda yang ia kenakan, karena tubuhnya tertutupi oleh orang-orang sekitar.
Kami pun memesan tiket untuk 2 orang. Memastikan jadwal keberangkatan.
Dua orang yang buta arah akan pergi menjelajahi Ibukota.

Kami berjalan menuju Coffeeshop terdekat, memesan dua gelas Kopi Dingin.
Duduk di tengah-tengah Kafe, perlahan mulai membuka tas masing-masing. Saya mengeluarkan buku yang ia pesan. Dan buku yang ingin saya baca.
Kami merencanakan dan mempertimbangkan banyak hal untuk perjalanan kami hari ini.
Sesekali ia menyesap Cappuccinonya. Begitu pun saya, menikmati setiap teguk Cafe Latte saya.

Dengan cekatan dia mencatat semua hal yang kami perlukan, memberi advice kepada saya untuk memisahkan uang. Jadi, apabila kemungkinan terburuk kami kecopetan.. kami tidak kehilangan semuanya.
Hope for the best, prepare for the worst.

Saya berjanji dalam hati untuk mendokumentasikan kegiatan kami hari ini, dan memberikan tantangan untuk menulis tentang hari itu di blog masing-masing.
Sarra menyetujuinya.






...

Mendekati jam keberangkatan, kami berjalan ke halte yang mulai dipenuhi oleh orang-orang. Meskipun terlambat dari jadwal, bus yang akan mengantarkan kami pun tiba.

Kami duduk terpisah cukup jauh di dalam bus. Saya di bagian belakang bus, dan Sarra di depan.
Saya memasang earphone di telinga, memainkan playlist lagu kesukaan yang akan menemani saya sepanjang perjalanan. Saya memilih Adhitia Sofyan.
Saya membuka buku yang belum selesai saya baca, membuka lembaran-lembarannya dengan perlahan. Buku ini seakan “membaca” pribadi saya, jadi beberapa kali saya mengambil jeda dalam membaca dan larut dalam pikiran saya sendiri. Buku apa itu? Semoga saya sempat untuk menuliskan reviewnya ketika selesai membacanya.

Petikan gitar dan suara halus Mas Dhit dan buku yang membaca saya. Keheningan orang asing di sebelah saya. Kebisingan isi kepala saya.
Mereka menemani saya di perjalanan kali ini.

Inilah kenapa, saya hampir selalu menikmati perjalanan menuju suatu tempat.



Sepi itu indah, percayalah. Membisu itu anugerah.

(Banda Neira – Hujan di Mimpi)

...

Sampai di Pameran Pendidikan, yang menjadi tujuan utama kami.
Kami mendapat banyak informasi tentang kuliah dan tinggal di luar negeri.
Sarra yang berniat untuk meneruskan pendidikan di bidang desain atau hukum.
Saya dengan passion saya di bidang sastra dan jurnalistik.
Kami mendapat banyak informasi secara gratis di sini. Terima kasih untuk pihak-pihak yang terlibat, yang kartu namanya masih saya selipkan di notes saya.

Kami menghentikan taksi di jalan, menuju Perpustakaan Nasional sebagai titik tujuan berikutnya. Sebenarnya, sudah sejak liburan panjang yang lalu kami merencanakan akan pergi ke Perpustakaan di Ibukota namun baru hari itu kami bisa mewujudkannya.
Pilihan yang nekat dan selamat untuk memilih taksi sebagai kendaraan di Ibukota. Mengingat kita tidak bisa menebak bagaimana kondisi jalanan Ibukota, tapi mengingat bahwa kami berdua buta arah... Ini pilihan yang aman.
Di taksi, kami berdiskusi tentang jurusan yang akan kami pilih. Mengeluh tentang ketidakyakinan kami. Menggerutu tentang pandangan kebanyakkan orang yang berorientasi pada uang.

“Waktu gue diskusi sama dia dan nyadar kalo orientasi dia adalah uang. Gue langsung ngerasa gak cocok.”
“Gue mikirinya gue kuliah ya buat mempelajari sesuatu yang gue suka.”

Begitu sampai di sana, disambut oleh sapaan dua orang Satpam. Kami dikejutkan oleh fakta bahwa perpustakaan sudah tutup beberapa saat yang lalu.
Kebetulan pada saat itu, dua orang yang merupakan petugas perpustakaannya ke luar untuk pulang. Salah satu dari mereka, memberitahu kami tentang jadwal perpustakaan dan memberi saran untuk mendaftarkan diri secara online.

Dengan langkah gontai dan sedikit perasaan kecewa kami melangkah ke luar gerbang, menaiki kendaraan roda tiga berwarna biru. Menuju tujuan akhir kami, mencari makanan.



Kanan kiri, ramai jalanan
Arungi lautan kendaraan

Oh, senja di Jakarta
Nikmati jalan di jakarta

Maafkan jalan Jakarta

(Banda Neira – Senja di Jakarta)


...

“Berarti lu cocok jalan ama gue yas. Gue ngabisin apa aja yang bisa dimakan.”

Kata Sarra, sembari mengambil potongan terakhir sushi di meja.
Saya hanya tersenyum simpul. Tiba-tiba teringat seseorang yang dulu juga sama seperti Sarra, mungkin bedanya orang yang saya ingat ini seringkali mengomeli saya kalau menyisihkan makanan.

Saya menatap bolpoin dan notes di meja, dan teringat bahwa kami belum menulis apa-apa.
Sebelum makan, saya mengusulkan untuk menulis tentang apa yang akan kami lakukan ketika kami menginjak usia 20 tahunan. Apa yang kami lihat di diri kami beberapa tahun mendatang. Apa yang kami ingin lakukan dan butuhkan.

Sarra bertanya tentang hal itu kepada saya sebelum menulis, saya menjawab pertanyaannya setelah terdiam beberapa lama sembari menatap langit-langit restoran.
Satu hal yang otomatis keluar dari bibir saya adalah, “menulis buku.”
Dan impian saya lainnya yang saya utarakan secara panjang..

“gue udah bayangin setelah lulus kuliah nanti, gue bakal ikut Indonesia Mengajar. Baca taglinenya aja udah merinding, setahun mengajar seumur hidup terinspirasi. Dan gue gak bisa bayangin kerja di kantoran...”
“ngerjain data...”
“iya ngerjain data... bayangin ya... pagi-pagi berangkat macet... pulang sore kejebak macet.. di kantor ngapain? Ngerjain data yang udah disuguhkan, yang harus gue kerjakan. Tanpa gue tau pasti ini data dari mana? Sampe tua kaya gitu.. gue gak mau.”

Sarra menyetujuinya, dia pun sepertinya sama.

Kami memasang deadline 30 menit untuk menulis, dan akan membaca tulisan masing-masing di perjalanan pulang di bus.
Gue menghabiskan 3 halaman untuk menulis, sedangkan Sarra hanya 2.
Ini adalah salah satu hal yang membedakan kami berdua, meskipun kepribadian kami hampir sama tapi dalam beberapa aspek kami sangat berbeda.
Sarra lebih straightforward dalam menyampaikan pendapatnya, ucapannya sangat persuasive sehingga membuat orang lain mudah percaya.
Sarra adalah seseorang yang berkepribadian INTP. Sedangkan saya adalah seorang INTJ.

Kami berdua sama-sama terlihat “dingin” di luar. Dan sama-sama tidak menikmati pembicaraan basa-basi tanpa arti. Kami mencintai analisa, juga terbiasa menilai seseorang dari pertemuan pertama.
Sarra memberi tahu saya tentang betapa pentingnya “pandangan mata”. Saya mengaku kalau saya sering menghindari kontak mata secara lama.
Dan lain-lainnya.



...

Di perjalanan pulang, untungnya kami bisa duduk bersebelahan. Sehingga dapat bertukar notes, dan membaca tulisan masing-masing.
Tanpa disengaja, kami menulis satu hal yang sama.

“.... membuat mereka merasakan hal yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya...”

Ketika saya larut dalam pikiran saya sendiri, tiba-tiba Sarra menepuk pundak saya. Membisikkan sesuatu yang langsung saya setujui.
Dengan hati-hati saya memotret seorang Ibu yang duduk di sebelah kami. Sebagai bagian dari dokumentasi.
Ibu itu tampak lelah, dia tertidur dengan mulut terbuka. Ketika terbangun, dia membuka ponselnya- mungkin untuk mengetahui kabar orang rumah.



Silih berganti datang para pengamen dan peminta-minta.
Hingga, tiba seorang Pria tua yang menggendong jualannya. Kumpulan buku dan majalah.
Dia menawarkan buku gambar dan buku mewarnai. Juga majalah anak-anak yang dulu sempat menjadi langganan saya.
Peluh dan lelah terlihat di wajahnya. Harapannya sederhana, semoga buku-buku yang dia bawa saat ini bisa menemukan pembelinya. Sehingga dia dapat menafkahi keluarganya.
Meski bukan lagi buku yang cocok untuk usia kami. Saya dan Sarra sama-sama membelinya.
Semoga beban Bapak itu menjadi lebih ringan, dan punggungnya lebih dikuatkan untuk menampung beban. Aamiin.

Perempuan di paruh waktu,
Hatinya teguh ditempa kalut

Lelaki di ujung tanduk, harapannya sederhana
Sekisah tanpa cerita
Sekisah tanpa cerita


(Banda Neira – Kisah Tanpa Cerita)


...


Begitulah sepintas cerita perjalanan kami berdua.
Mungkin biasa saja untuk sebagian orang yang terbiasa pulang pergi ke Ibukota.
Mungkin terlalu naif bagi kebanyakan orang.
Namun, tidak mengapa.

Saya dan Sarra, sedang melangkah. Menuju ke mana kami belum tau pasti.
Tapi yang kami ketahui, mulai saat ini dan juga nanti.. kami akan berjalan lebih jauh, menyelam lebih dalam. Seperti lirik lagu Banda Neira.
Saat ini, kami berdua masih menjadi dua orang yang buta arah. Tapi tunggulah, beberapa tahun lagi. Ketika kami mampu dan mau untuk menjelajahi bumi.
Mungkin sesekali kami masih akan menuju Entah Berantah, tapi tak mengapa. Karena kami tidak ingin sekedar pergi, tapi juga mempelajari tempat kami berpijak. Perhatian utama kami bukanlah hanya di titik tujuan, tapi juga di perjalanan.
Saat ini kami sedang di perjalanan, menuju masa depan.


Kaki-kaki kecil kami, si Calon orang besar.


Semoga, apapun yang selama ini saya dan Sarra doakan dan perjuangkan bisa sejalan dengan takdir Tuhan.
Semoga kami tidak lupa untuk menguatkan punggung, tidak hanya mengeluh meronta meminta beban untuk berkurang.
Semoga.

“Semesta mengamini apa yang kamu yakini.” (Tyas Hanina, di usia 15 tahun)
Kalimat yang secara spontan keluar dari bibir saya ketika guru BK saya menanyakan apa prinsip hidup saya.
Sebuah kalimat yang akan selalu saya ingat. Sebuah semangat yang saya teriakkan untuk diri sendiri.
Semoga semangat tersebut bisa sedikit menguatkan punggung orang yang membaca ini.

...

Hey, siapapun kamu.
Berhati-hatilah, dan nikmatilah perjalananmu.

Terima kasih sudah membaca.



Tyas Hanina