Pages

Sabtu, 15 Maret 2014

Rainy Day


Saya mungkin tidak akan lupa hari itu.
Tiga hari yang lalu.

Pagi yang masih gelap, diguyur hujan yang tak kunjung lenyap.
Dan saya harus berangkat sekolah, dilindungi jas hujan kebesaran- berada di boncengan abang Ojek langganan yang meminta ongkosnya dinaikkan.
Hujan pagi itu, tidaklah hanya gerimis tak berkesudahan.
Volume air hujan yang berlebihan, ditambah selokan yang penuh sampah. Menciptakan banjir.

Ya, peran kita- kebiasaan buruk kita membuang sampah secara sembarang yang mendatangkannya.

Menerjang banjir, jas hujan kebesaran itu ternyata tidak sepenuhnya melindungi tubuh saya.
Air hujan merembes masuk, lewat celah di leher. Sehingga baju olahraga yang saya kenakan, hingga kaos putih sebagai dalaman kebasahan.
Saya menggunakan sendal, untuk pencegahan agar kaos kaki saya tidak berbau dan kebasahan.
Saya menggulung celana olahraga sedengkul, membiarkan betis saya menjadi tontonan dan terendam air genangan.
Saya menyipitkan mata, membiarkan wajah saya ditampar air hujan.

Dan kalian tau kenapa saya serela itu?
Untuk sebuah mata pelajaran yang mengharuskan angkatan saya masuk 30 menit lebih awal untuk senam pagi bersama.
Tidak peduli, hujan lebat. Tidak peduli, bangun terlambat.

Saya sampai di sekolah, pukul 05.59. Ketika saya memeriksa penunjuk waktu di ponsel saya.
Saya datang lebih awal 1 menit dari waktu diperintahkan.
Dan saat itu, sekolah baru didatangi beberapa dari sekian banyak murid seangkatan.

Saya memakluminya, banjir dan hujan lebat mungkin menjadi alasannya.

Pagi itu, senam dibatalkan.
Waktu belajar pun dimundurkan.
Banyak siswa yang akhirnya terlambat datang.

Dan ternyata hari itu tetap penuh kejutan.
Senam itu dilanjutkan pada siang hari.
Siswa yang baju olahraganya kebasahan panik, apalagi mereka yang tidak membawanya.

Jujur saja, saat itu saya merasa sebal.
Siang hari, sudah waktunya istirahat.
Membayangkan harus berjemur di terik matahari dan berolahraga rasanya tidak menyenangkan.

Terlebih lagi saya tidak membawa bekal makanan, dan seharian itu hanya Nasa yang mengisi perut saya.
Saya khawatir, maag saya akan kambuh dan ternyata benar.

...

Saya pulang dan sampai ke rumah 1 jam lebih lama dari biasanya.
Rumah kosong, perut saya perih, sepatu kanan saya baru saja terendam genangan air kotor kecoklatan.
Saya masuk ke kamar mandi, menutup pintunya.
Ibu saya pulang dari rumah tetangga, memprotes saya yang belum menaruh baju kotor ke mesin cuci.
Saya mencoba membuka pintu, dan pintu itu terkunci.
Tidak bisa terbuka, dan saya ternyata lupa bahwa pintu itu memang rusak sejak pagi.

Saya menangis di dalam kamar mandi, Ibu mencoba membukakan pintu dari luar.

...

Begitulah, kira-kira kekacauan 1 hari itu.
Apakah terlalu hiperbola?
Saya termasuk orang yang jarang menangis. Menangis, bagi saya adalah titik terakhir dari emosi yang saya miliki.

Saya ingat kesal sekali hari itu, dan mungkin saya akan terus mengingatnya.
Kelak ketika nanti saya berstatus Mahasiswi Negeri..
Kelak ketika nanti saya jadi penulis buku..
Kelak ketika saya diperistri..
Kelak ketika saya memiliki anak..

Kelak, ketika saya akan mengenang masa-masa menjengkelkan itu dengan senyuman atau bahkan tawa.

Haha.

...

Dan diam-diam saya juga mengucapkan banyak syukur hari itu.

Saya hanya kali itu, melewati banjir untuk mencapai sekolah.
Saya hanya kali itu, berangkat bagi shubuh untuk mencapai sekolah.

Sedangkan, ada anak negeri di luar sana.
Yang harus menyebrangi sungai. Menyebrangi jembatan yang hampir rubuh.
Untuk mencapai sekolah.
Yang harus berangkat pagi buta. Menempuh jarak yang begitu jauhnya, dengan berjalan kaki.
Untuk mencapai sekolah.

Untuk mencapai sekolah, dan belajar.
Belajar agar kelak, mereka- kita- termasuk saya.
Sebagai calon pemimpin negara ini.
Belajar untuk merubah, untuk tidak membiarkan agar di masa depan, pendidikan berjalan seperti sekarang ini.

Aamiin untuk itu.


Tyas Hanina

P.S
Entah kenapa  akhir-akhir ini saya banyak bersikap dan berpikir (terlalu) serius.

Sabtu, 01 Maret 2014

suara


Aku adalah suara yang terlalu sunyi untuk kamu dengar.
Malangnya, di sekelilingmu selalu penuh dengan hingar bingar.
Kau dapat mendengarku jika kau mau.
Begitupula,
Aku dapat mengeraskan suaraku jika aku mampu.

Suaramu adalah gema yang selalu berulang di telingaku.
Dan,
Degup jantungku selalu berirama dengan sapamu.

Suatu ketika,
Hari ketika diammu menemukanku. Dan suaraku akhirnya sampai di telingamu.
Menembus suatu ruang di hatimu. Membuatmu akhirnya mengucap kalimat itu.
Kalimat yang selalu bergema di telingaku.

Aku mencintaimu.

Namun, malangnya.
Selain berteman dengan sunyi aku pun berkawan akrab dengan malu.
Hanya kujawab kalimatmu dengan diamku.
Berharap kau mendengar sesuatu yang bahkan tak pernah kuucapkan.

Dan kesalahpahaman adalah satu-satunya suara sumbang yang mampu kita dengar.
Seperti suara lalat yang tak henti terbang memutari kepala.
Berdengung terus menerus.
Membuatku terus mencari dan mencari cara untuk menghentikannya mengangguku.

...

Dan saat ini, baik kau maupun aku.
Sama-sama hanya mau dan mampu tuk saling menyapa dalam diam.
Dalam suatu pertunjukan saling memandang mata (dan melemparnya sembarangan)- dalam suatu pertemuan yang selalu tidak disengaja.

Dengan sengaja aku menulis ini semua. Agar rindu tidak lagi gaduh dan rusuh.
Tanpa perlu bibirku mengucapkannya padamu.

Tenang saja,
Sepotong kalimat yang kau ucap. Tidak lagi menjadi pengangguku. Tidak lagi bergema di telingaku.

Aku hanya rindu, hanya itu. Tanpa perlu kamu tau.


Tyas Hanina

Minggu, 16 Februari 2014

Perjalanan Dua Hari


#studytour #latepost #throwback #sorryforbeinglazzy #herjunotalijodohaing #enjoymywritings

...

Minggu lalu, tepatnya pada tanggal 5-6 Februari.
1 hari dan 1 malam gue lewatin bareng teman-teman satu angkatan SMAN 5 Tangerang.
But, mostly i spend that two days with my classmates. Sebelitu, Sebelas IPS Satu! ;)

Perjalanan Bogor-Sumedang, Sumedang-Lembang, Lembang-Bandung, Bandung-Tangerang we’ve been through it together. Ceilah.
Bis 6, yang super berisik dan seru. Dengan pembimbing yang bertubuh kecil dan nyaru banget sama anak SMA, Pak Heri! Bisa diajakin main kartu, jadi motivator cinta lagi.
Adoooh si Bapak.


Kegiatan Perjalanan (yang katanya) emang terbukti bisa mempererat hubungan.
Dari sesi curhat dan motivasi tengah malam sama Pak Heri, akhirnya Hilmi (nama samaran) bertekad mendekati cintanya seiring dekatnya kami ke perjalanan...
“Halah, suka begitu”
–Hilmi, 17 tahun, kalo sebelum makan harus minum susu beruang-

Di tengah-tengah sesi motivasi Pak Heri dengan beberapa Anak laki-laki yang hopeless dengan percintaan mereka (yang kayanya gebetannya rata-rata ada di bis yang sama).

Gue dan Maul, membuka sesi motivasi sendiri. Exlusive untuk kami berdua.
Dengan pembahasan yang lebih luas dari kisah cinta seperti di forum sebelah bahas.
We’ve talked about lif­e. Tentang gimana kehidupan kita sekarang- tentang gimana diri kita ’sebenarnya’, yang ternyata gak seperti yang orang lain liat.
I’m not surprised ul, Kita adalah teka teki yang tak teterka siapapun bagi gue.


Kita bercerita tentang,
Tentang gimana perubahan di hidup kita yang dulu dibanding sekarang. Gimana ‘kita’ di masa putih biru, yang dulu belum saling mengenal. Dan sekarang di masa “putih abu-abu”.
Dia bercerita bagaimana masa-masa dia terjatuh, dan kembali bangkit seperti sekarang ini. Gue bercerita bagaimana gue dengan sisi Introvert gue.

And, we’ve talk about..
Gimana hidup kita di tahun-tahun berikutnya. Dengan kecemasan dan kebingungan masing-masing.

“Gue pengen kerja untuk sesuatu yang gue sukai ul. Yang gue nyaman dan bahagia mengerjakannya. Yang dengan begitu, berarti gue tidak perlu merasa “bekerja” selama hidup gue. Karena gue melakukan apa yang gue mau lakukan dan merasa senang.”

“Gue bingung yas. Banyak banget hal yang gue minati. Dulu pas semester 2 gue suka banget sama PKN dan tertarik banget masuk Hukum, sekarang gue lagi minat banget sama akutansi. Gue juga suka menggambar, ngedesain gue suka, nari juga gue suka. Tapi gak ada yang bisa gue fokusin, gue cenderung bosen.”

You must know, that she’s one of the talented girl.
Cerdas, bukan hanya sekedar Pintar. Maul tuh kalo nanya dan ngomong di depan kelas tata bahasanya rapi banget dan selalu tampil percaya diri.
Ngedit foto jago, gambar bisa. Olahraga juga nguasain.
Tapi juga tetap cerdas dalam bersosialisasi.

“Terus lu bakal ngambil Sastra kuliah nanti?”
Pertanyaan yang gak hanya Maul yang pernah nanya ke gue.
But, the answers is... I don’t know yet. Tapi sepertinya tidak.

Sepertinya gue bakal ngambil Jurusan yang berhubungan dengan Sosial, di mana gue bisa berkomunikasi dengan banyak orang (meskipun gue socially awkward).  Mendapat ilmu dan cerita baru, dari mengobrol, bercerita, menjelajah.
Bukan suatu jurusan dengan masa depan yang akan mengharuskan gue duduk di kubikel kantor berhadapan dengan layar laptop berisi tabel-tabel berisi angka dan data.
Itu bukan gue.

Dan ya, perihal menulis. Sebenarnya kalau emang gue mau- pasti akan selalu ada waktu.
Gak ada kata sibuk untuk sesuatu yang kita sukai, dan orang yang kita sayangi.

And so on, so on..
Percakapan itu terus berjalan seiring Bis 6 berjalan walaupun mesinnya sempat berasap tadi.
Kita berbicara tentang kehidupan, tapi ujung-ujungnya pembahasan akan kisah kita tentang “percintaan” (seperti yang forum sebelah bahas) juga dibicarakan.
Dan soal bagian ini sepertinya tidak perlu dibahas kembali di sini. Gue pun gak terlalu banyak bicara hanya menanggapi cerita maul sesekali, karena diam-diam gue menahan diri untuk gak curhat terus nangis-nangis karena masih gagal move on.... OKE. Skip.

Dan begitulah, kedua forum dengan bahasan masing-masing selesai dengan pembicarannya. Karena Bis 6 mencapai tujuan, yaitu Hotel yang-gue-udah-lupa-namanya.
Setelah anak-anak selesai mengupdate location path, twitter, my space, facebook, friendster, kaskus.
Kami pun turun dari bis dengan bawaan masing-masing. Dan menuju kamar  masing-masing.
Petunjuk waktu di jam tangan gue menunjukkan kalau bis terlambang datang.

Setelah mengambil kunci kamar dan masuk ke dalamnya. Gue lega.
Akhirnya... gue bisa telentang- punggung pegal karena hampir seharian duduk di bis. Dan keadaan kamarnya juga gak terlalu mengecewakan.
Ani, Oca, Mawar dan gue bergabung dengan anak-anak kamar sebelah (Eu, Kiki, Cia, Elija) untuk cari makan dan jalan-jalan keluar.
Jalanan di sekitar hotel yang agak gelap, dan bertebaran dengan aneka jajanan. Ternyata selama berjalan di sana, kami tetap harus waspada. Karena buset ngebut-ngebut bener ini kendaraannya!
Dengan seorang korban,  Kiki (seorang remaja usia 16 tahun yang punya cita-cita jadi istri Pejabat.) Dia keserempet entah motor atau mobil gue lupa.
Dan saat dia teriak-teriak sama Ani dan Oca..
Gue dan Cia malah foto... Maafkan ketidakpekaan kami.

Ketika yang lain menyebrang jalan menuju Indomaret dan Partner In Crimenya Alfamart.
Gue dan Elija memilih jajan Jagung Bakar, di warung remang-remang yang ada Tipi kecilnya yang sedang  menayangkan Film Suzanna.
Setelah itu, kami bersama-sama ngopi tanpa Raisa di warung-yang-katanya-jualan-Mie Kocok-tapi-kayanya-gak-enak.
Walaupun Kopinya gak seenak Starbucks, dan Susunya kemanisan.
Tapi, kami tetap memanfaatkan momen tersebut dengan foto-foto #teteup
Anang Hermansyah Fam's
Karena pengen tetap ngobrol dan kamar kami terpisah. Akhirnya gue dan teman-teman sekamar gue hijrah ke kamar sebelah, menggendong bantal-selimut-handphone dan kasur masing-masing.
NAMUN TERNYATAAAARGH.
Kepindahan kami tidak direstui oleh Bu Dani dan Pak-Guru-yang-mirip-Morgan.
Hiks.

...

Sekian postingan gue tentang perjalanan dua hari yang ngangenin itu.
Kenapa gue gak bahas tempat-tempat tujuan seperti Yakult, Balitro, Museum Geologi dan lain-lainnya?
Jujur. Selain di Boscha, tempat-tempat yang lain kurang berkesan buat gue.
Karena SELALU ditayangin FILM dan gue PASTI ngantuk dibuatnya. Udah itu ada tugas, yang harus kami kerjakan di sana.

Perjalanan ke Boscha yang lama dan bikin betis pegel. Juga ketika gue dan Elija jadi murid terakhir yang turun dan kami lari-larian ngejar anak-anak sekelas.
Ngeliat teropong Boscha yang gede, lingkungan sekitarnya yang hijau dan nyaman. Yang sedikit banyak mengingatkan gue akan film Petualangan Sherina.
Dan bikin gue mikir,
“anjirrrrrrr Sherina ke sini pasti pegel banget.
Jauh banget giniiiiiiiiiiiii,mana dia lewat kebun-kebun teh.”
SD yang kami incar untuk tempat pemberhentian sementara, dan beli jajanan.
Salah satu rumah penduduk yang bikin gue berhenti sebentar, karena keliatan begitu nyaman dan ada rumah Pohonnya.
(Di Boscha juga ditayangin film sih, gue juga hampir ketiduran nontonnya.)

Yakult, satu-satunya yang berkesan buat gue di tempat ini adalah dikasih Botol Yakult gede yang ada dotnya. Uwuwuw.
Balitro, Cuma ngeliatin anak IPA buat tugas. Dan kami (anak ips) foto-foto.
Museum geologi, gue udah pernah ke sini jadi gak menarik. Terus juga harus ngerjain tugas, malezinK
Cihampelas? Tempat tujuan terakhir yang jadi tempat belanja dan jalan-jalan, dan akhirnya membebaskan kita untuk pakai baju bebas. Tiba-tiba diserang Hujan Lebat. Akhirnya anak-anak pada masuk ke bis dengan menggigil sambil membawa kantong belanjaan dan beberapa dibohongin ojek payung.
Gue?  Gue gak belanja apa-apa Cuma nongkrong di Lawson sambil ngemil es duren.

...

Dan, gue pengen mengucapkan Terima kasih untuk pihak-pihak yang terlibat dalam perjalanan ini.

Terima kasih untuk Lucky, Dedi, dan lain-lain yang sudah ngebully gue di Bis. TENGKS (sempet ngambek).
Terima kasih Eki udah berbagi Tontonan Drama Romantisnya bersama Nola, dan Pizza untuk teman sekelas.

Terima kasih Pak Heri (yang super Asik) dan Bu Siti (yang super Swag) untuk pengawasannya.
Terima kasih Pak Supir yang pasti pegel dan stress karena bis super berisik.
Terima kasih Oca dan teman-teman sebangku gue di Bis ( gue duduknya nomaden).
Terima kasih Maul untuk late night conversationnya :3
Terima kasih dedek-dedek gemes Ojek Payung.
Terima kasih Cia,Eu,Kiki,Elija,Mawar,Ani,Oca. Horas Anang Hermansyah Fam’s!
Terima kasih Sebelitu untuk liburannya yang seruuuwh.

Kurang lebihnya mohon dimaafkan.
DAAAAAAAAAAN mohon maaf juga untuk telat memposting, Sorry for my laziness.

I hope you Enjoy my writings.
J

...


Sebelitu \m/

Capek abis jalan nanjak ke Boscha. Elija kaya Teletubies.

...

Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan
karena kau tidak duduk di sampingku sayang...


Dear, Herjunot Ali..



Tyas Hanina

Selasa, 14 Januari 2014

Heyyy


HEEEY. It’ almost 2 week.
Tanpa postingan apapun di blog ini.

...

Setelah hari ketiga #WritingChallenge gue sama Kak Rani. Gue sebenarnya masih menulis, ada dua kata yang kita jadikan tema untuk kita tuliskan lalu (seharusnya) kita publikasikan di blog masing-masing.

Tapi..


Kak Rani kelihatannya lagi sibuk akhir-akhir ini.
Ya, wajar sih semester ini semester terakhir dia di SMA. Dan beberapa bulan menjelang Ujian Nasional.
Tentu banyak persiapan yang harus dia kerjakan, banyak materi pelajaran yang harus dia pelajari.
Jadi, gue memakluminya. Semoga, kalian (siapapun yang pernah baca #WritingChallenge kita) memakluminya juga. (Dan ikut mendoakan persiapannya)

Nah, gue juga gatau nih..
Apakah Writing Challenge ini akan tetap lanjut, seperti kesepakatan awal?
Kapan kami setidaknya mempublikasikan dua tulisan kami di blog masing-masing?
Apakah Tantangan menulis ini bakal berhenti gitu aja?
Apakah lepas dari Tantangan Menulis ini gue bisa lebih konsisten menulis?
Berapakah jumlah mantan kekasih Aurel Hermansyah?

Gue gak tau.

...

Yang gue tau..
Writing is fun.

Terasa menenangkan, lebih dari sekedar menyenangkan.
Meskipun gue gak punya jadwal khusus untuk menulis, tapi setiap kali gue melakukannya- menyusun huruf demi huruf untuk menjadi cerita..
Rasanya seakan terbang bersama paus akrobatis,terjun ke lautan cokelat manis, tenggelam ke dalam bayang-bayang mantan sambil menangis.
INI APA SIH.


Jadiiii, menurut gue sendiri.
Tantangan menulis ini sangat menyenangkan. Bukan hanya karena gue dapat menulis, bukan hanya karena kejutan di balik tema-tema yang diberikan.
Tapi juga karena- dengan tantangan menulis itu.. gue dapat menarik orang-orang untuk membaca.

Membaca itu menyenangkan.
Awal dari kesukaan gue menulis, juga dimulai dari gue tergila dengan membaca.
Meskipun gue sering diomelin nyokap, karena kata beliau belanja buku melulu.
Tapi, seperti kutipan dari @WOWkonyol

“Tidak ada yang lebih baik, dari jajan buku.”

Dan, meskipun belum punya ‘buku’ gue sendiri.
Tapi dengan media Blog ini, alhamdulillah setidaknya ada beberapa teman-teman gue yang meluangkan waktu untuk membacanya.
Dan lebih bersyukur lagi, kalo mereka menikmatinya. Membaca deretan kata demi kata yang gue tuliskan di blog ini. Lebih dari sekedar menyukainya, mereka dapat menikmati proses membacanya.
:3

...

Bulan depan,  bulan Februari.
Bakal ada Tantangan Menulis lagi, dan sepertinya akan menarik hati :D.
Entahlah gue akan mengikutinya atau tidak.

Dan, entahlah apakah hubungan kita #WritingChallenge ini akan berlanjut atau berhenti sampai di sini ? o.O 
Mari kita bersama-sama tanya Kak Rani...

"Mau di bawa kemana #WritingChallenge kitaaaaaaaaaaa... ???"

...


"Orang yg punya hobby baca sejak remaja, bahkan bocah,
tidak pernah menjadi "bukan siapa-siapa" di masa nanti. Its your turn." -@WOWkonyol


...



Tyas Hanina

Jumat, 03 Januari 2014

Panggung Sandiwara


Hari ketiga #WritingChallenge

Tema :  Tirai


Panggung Sandiwara


Dunia ini panggung sandiwara
Cerita yang mudah berubah
Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani
Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan
Ada peran wajar ada peran berpura pura

Mengapa kita bersandiwara
Mengapa kita bersandiwara

Peran yang kocak bikin kita terbahak bahak
Peran bercinta bikin orang mabuk kepayang
Dunia ini penuh peranan
Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan

Mengapa kita bersandiwara
Mengapa kita bersandiwara

Dunia ini penuh peranan
Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan

Mengapa kita bersandiwara


(Achmad Albar - Panggung Sandiwara)


...

“Naskahmu sudah kau hafal, keh?”
“Sudah, pak.”

Pria di depanku ini mengangguk-nganggukkan kepalanya, sambil memilin-milin jenggotnya.

“Fokuslah, keh. Sejak minggu kemarin kamu kaku sekali.”

Aku hanya membalas ucapannya dengan selengkung senyuman. Kugigiti kembali permen karet di gigiku. Waktu tampil semakin dekat.

Pria itu menepuk bahuku pelan. Dia langkahkan kakinya menuju pemain lain.

...

Sejujurnya masalahku bukanlah menghafal naskah. Sungguh, bagiku itu bukanlah hal yang susah. Aku bisa menghafal sesuatu dengan mudah.

Hanya saja,
Semenjak minggu kemarin, lawan mainku diganti. Menjadi perempuan itu.
Aku seperti hilang kendali, atas diriku sendiri.

Sejak pertama kali aku latihan drama dengannya. Aku bagaikan robot di atas panggung.
Melafalkan naskah yang sudah kuafal di luar kepala.. Tanpa ekspresi dan akting yang mendukung.

Perempuan itu,
Sepertinya memakluminya. Dia memang lebih dulu terjun ke bidang teater ini.
Namun, dia anak baru di sini.
Dan semenjak kepindahannya, dia dipasangkan denganku. Dipasangkan menjadi pasanganku, pula!

...

 “ Rama!”

Tanpa sadar Shinta langsung melangkahkan kakinya mendekati Rama dengan tangannya yang merentang ingin memeluk Rama, Namun…

“ Tidak Shinta sebaiknya kau jangan mendekat sebelum memastikan bahwa kau masih suci! “ Rama mengelak dari pelukan Shinta dan mengucapkannya dengan nada Ketus.

Mendengar kata-kata Rama, Shinta pun menangis. Hingga terduduk di tanah, di hadapan kaki Rama yang tegap berdiri.
Namun, Rama tidak memandang ke arahnya. Meskipun matanya pun kini berkaca-kaca oleh bening air mata.

 “ Sungguh tak kusangka kau tega berkata seperti itu kepada ku”

Disela-sela tangisannya, tiba-tiba Shinta berlari menuju Api dan membakar dirinya.
Rama berteriak tak kuasa menyaksikan hal itu terjadi di depannya. Dia berlari mengejar Shinta, sebelum ia sampai ke kobaran api itu..
Dewa Angin meniupkan angin untuk memadamkannya. Atas bantuan Dewa Angin Shinta pun selamat dan tidak mengalami luka sedikit pun.

 “ Api pun tak kan mau menyentuhnya, Rama. Karena Shinta masih dalam keadaan suci.”

Lalu angin pun bergelung pergi meninggalkan mereka berdua.
Rama melangkahkan kakinya dengan cepat. Ia pun akhirnya percaya bahwa Shinta masih dalam keadaan suci. Lalu Rama menghampiri Shinta.

 “ Maafkan aku Shinta karena aku telah berburuk sangka kepada mu “

“ Tidak apa-apa Rama…. Aku senang karena kau telah mempercayai kesucianku.

...

Drama itu selesai dimainkan.
Rama berhasil memerankan perannya dengan baik, jauh lebih baik dari yang dia lakukan saat latihan.

Bunyi musik instumental Jawa dimainkan.
Tirai panggung mulai ditutup perlahan, ketika keduanya tengah merentangkan pelukan.
Dua tetes air mata jatuh di pipi Shinta, Rama membisikkan sesuatu di telinganya perlahan.

Penonton menyeka air mata di wajah, merasa ikut merasakan kesedihan.
Beberapa di antaranya mulai berdiri dari kursinya.
Tepukan tangan pun membahana.
Tirai akhirnya menutup sempurna.

...

“Kau tau. Kalau saja aku mampu, dan kau mau.. Aku tak akan melepaskan pelukan ini.”

“Sehingga kau tidak pergi tanpa penjelasan lagi.”

Shinta, nama perempuan itu yang sebenarnya. Terisak setelah mendengar ucapan Rama.

“Sungguh. Aku tak peduli kegadisanmu. Bukan hal itu yang membuatmu suci, Ta.”

“Tapi, hatimu.”

Tirai panggung semakin erat menutup. Terasa lambat sekali bagi Rama, seperti berjalannya waktu saat ini

“Seandainya, saat itu kau katakan bahwa kau akan pergi ke pelaminan. Bersama seseorang- yang bukan aku.”

“Seandainya, Ta. Kau tidak pergi tanpa penjelasan.”

Panggung tertutup sempurna.
Tepuk tangan terdengar digaungkan di kursi penonton
Mereka tidak mendengar apapun dari mulut mereka berdua semenjak Tirainya menutup perlahan, microphone sudah dimatikan.

“Aku mau Rama. Aku tak kan pergi, aku akan beri kau penjelasan. Tolong jangan lepaskan pelukannya..”

Shinta berkata dengan suara parau, punggung Rama basah oleh air matanya.

“Tapi, kau bukan lagi Shintaku, Ta. Aku bukan lagi Ramamu. Kau sudah diculik oleh Rahwana- untuk selamanya.”

“Maaf Shinta.”

Rama mengeratkan pelukannya untuk beberapa saat.. Dan perlahan-lahan pelukannya mengendur.
Dia memegang bahu Shinta dengan kedua tangannya, tidak peduli banyak sorot mata diemparkan pemain drama lainnya kepada mereka berdua.

“Aku menyayangimu Ta, sangat. Kau tau, itu akan tetap menyakitkan meskipun kau memberi penjelasan sebelum kepergianmu. Aku sudah memikirkannya dari dulu.”

“Hanya saja, sebelum tirai itu tertutup tadi. Denganmu di pelukanku, aku kembali memikirkannya. Bagaimana jika, setidaknya kau memberi tanda sebelum kepergianmu. Sehingga aku bisa menyadari kehilangan- sebelum dia menampakkan wajahnya di depanku.”

“Maaf aku sudah lancang, kepadamu. Kini kau adalah perempuan orang lain.”

“Meskipun pernikahanmu terjadi karena hilangnya kegadisanmu olehnya.” Rama membisikkan kalimat itu dengan sangat pelan, tapi Shinta merasa seperti hal itu diteriakkan di depan telinganya.

Rama memberi tepukan pelan di bahu Shinta, mengangkat dagunya pelan, menghapus air mata yang seakan tak bisa berhenti mengalirkan air mata walaupun dia sudah tidak meneruskan kalimatnya.

Tiba-tiba tepuk tangan terdengar lagi, kini di atas panggung yang tirainya sudah tertutup sempurna.
Lelaki tua berjenggot tebal mendatangi mereka berdua, menepuk pundak mereka bersamaan.

“Luar biasa. Emosi yang kalian sampaikan begitu nyata. Hey Shinta, kau benar-benar menangis karena dialog Kekeh?”

“Kekeh?”

“Ya. Panggilan bujang lapuk ini dariku, habis dia selalu terkekeh ketika selesai mengucapkan dialog percintaan.”

Rama tersenyum mendengarnya, memang benar adanya. Dia melirik ke arah Shinta dari sudut matanya- perempuan itu terpaku.

“Bagus sekali yang barusan kalian mainkan.”

“Itu bukan......”

“Yang barusan itu pasti dialog ciptaan si Rama. Dia memang sering seperti itu, merencanakan lanjutan dramanya diam-diam dengan lawan mainnya.
Yak semuanya, waktunya Istirahat.”

Lelaki itu memotong ucapan klarifikasi Shinta.
Baik Rama maupun lelaki itu sama-sama memilih untuk tidak mendengarkan penjelasannya.

...

Shinta memandangiku, setelah yang lainnya pergi dari situ meninggalkan kami berdua di panggung dengan Tirai yang Tertutup ini.
Lelaki tua itu masih berdiri di ujung panggung, mengawasi kami.

“Rama aku bisa jelasin tentang pernikahan itu.”

“Ya. Kau bisa, jika aku mau dan mampu mendengarkannya. Tapi aku tidak.”

Dengan langkah cepat aku menjauh darinya. Tidak mampu lagi berdekatan dengannya- ia menggoyahkan hatiku setiap kali menyaksikan tangisannya.
Ayahku benar, perempuan memang seperti itu. Senjata tangisannya, begitu hebat- sehingga membuatku merasa takut.
Aku mendekatkan langkahku ke arah Pak Tua, dia tersenyum memandangiku sembari memilin jenggotnya.
Dia, ayahku.

“Jangan bawa-bawa urusan pribadi di panggung, Keh.”

Aku terkekeh keras.
Berusaha sekeras hati, menahan tangis yang sedari tadi kutahan.

...

(sumber gambar : http://sayaeganingrum.wordpress.com/tag/rama-shinta/)

...

(Sumber dialog drama Rama dan Shinta, diambil dari link ini : http://rizal-nurmansyah.blogspot.com/2013/01/naskah-drama-untuk-acara-perpisahan.html). Dengan perubahan yang seperlunya.)

...


Tyas Hanina