Pages

Sabtu, 27 Oktober 2012

i feel bad

sesak.
kata dan luka sudah berebut tempat di dalam dada.
pemiliknya enggan untuk mengeluarkannya.
bahkan untuk sekedar membuat mereka bisa bernafas sedikit lega.
pemiliknya bahkan enggan untuk mengaturnya.
bahkan untuk membuat mereka lebih nyaman berdiam disana.
pemiliknya kesulitan melakukannya.
padahal dia hanya perlu bercerita, atau sekedar menulis dan menyusun kalimat sederhana.

Kamis, 25 Oktober 2012

Berfikir tentang fikiran kamu

Berfikir tentang apa yang kamu fikirkan.
Jika tau, pesan-pesan singkatmu masih tersimpan di handphone lamaku.
Bahkan sekedar ucapan selamat pagi dan malam.

Susunan huruf dan kata yang kau ketikkan itu.
Selalu sempurna untuk mencipta lengkungan senyum di bibirku.

"Selamat Pagi." "Selamat Malam"
Membuatku merasa, aku masih ada disetiap pagi hingga malammu.

"Tapi pesan-pesan itu hanya bagian dari masa lalu." Katamu, di dalam fikiranku.



Malam , Kamu.


1Nov11


P.S
Aku ingin sekali percakapan kita tidak hanya ada dalam fikiranku.
Dan lebih dari sekedar kalimat-kalimat yang diketikkan dari ponselmu.
Karena tak dapat kudengar jeda dan tarikan nafas darimu.
Karena tak dapat kudengar simponi indahmu, yang hanya terdengar olehku.

Selasa, 02 Oktober 2012

October Rain

Guten Abend!

Saat jam pelajaran terakhir tadi..
Hujan hampir sampai. Angin dan kawan-kawannya lebih dulu datang.
Angin sibuk mengetuk-ngetuk jendela kelas, langit dengan pekat yang bergelayut manja dan petir yang berteriak-teriak dengan gegap gempita.
Hujan. Adalah cinderamata dari kedatangan bulan Oktober.

Kabar baiknya adalah sekolah dipulangkan lebih awal.
Meskipun hanya lebih cepat 30-45 menit.
Tapi itu cukup untuk membuat saya lebih tenang, setidaknya masih ada harapan terhindar dari hal yang paling saya benci. (Sepatu basah. Beserta kaos kakinya. Melihat jari kaki saya yang mengeriput ketika membuka sepatu, dan aroma kaos kaki yang begitu "wangi".)
...
Setiap melihat hujan, rasanya saya ingin jadi laut. Musim hujan selalu laut sambut dengan suka cita.
Karena hujan, adalah kencan antara laut dan langit. Selama ini mereka saling mencintai.
Saling berbagi warna dari hati masing-masing. Biru dari cerahnya langit, biru dari dalamnya laut.
Keluasan hati mereka bagai ruang tanpa batas.

Kadang mereka terlihat begitu dekat.


Nyatanya jarak begitu nyata. Mengambang diantara keduanya.
Membuat mereka makin mengeratkan genggaman tangan, tak rela melepas kebersamaan.
Karena itulah turun hujan.

Agar langit bisa lebih mudah merengkuh laut.
Agar laut bisa dengan puas mengecup kening langit.

Karenanya, Oktober bagi kami bertiga (Saya, Laut dan Langit) adalah bulan penuh cinta, harapan, dan kebersamaan.
...
Jumat keempat di bulan Oktober ini. Usia saya genap 15 tahun.
Saya harap saya bisa jadi laut, dengan kedalaman fikirannya. Dan kejernihan hatinya.
Tapi kadang saya juga ingin jadi langit, dengan kecerian wajahnya. Dan terangnya perasaannya.

Tahun lalu saat saya masih bersamanya.
Dia bilang saya terlalu sering bercanda. Mungkin saat itu saya sedang jadi langit.
Tapi dia akhir perjalanan kami (Hujan bulan november), dia bilang saya sangat sulit dimengerti. Mungkin saat itu saya menjelma jadi laut paling dalam.

Atau mungkin. Dia hanya tidak sanggup menerka kedalaman fikiran saya, dan  saya tidak sanggup menyibak langit abu-abu yang menggantung di hatinya.


Tyas Hanina

Sabtu, 23 Juni 2012

Love is you, Mom.



"IBU: (i)ndah, (b)aik, (u)nik.

Cantik itu ibu, wajahnya dan jiwanya."



w/ kakak



biyutivul

Selamat ulang tahun Ibu. (22 Juni)
Semoga dengan semakin bertambahnya umurmu.. Semakin bertambah juga amalan baik dalam hidupmu, Semakin bertambah pula cinta dan kasihmu padaNya.
Amin

Ulang tahunmu bertepatan dengan ulang tahun kota jakarta.
Kota kelahiranmu. Kota yang mempertemukan kau dengan jodohmu.
Suamimu satu-satunya. Ayah anak-anakmu. Ayahku :>


Love You "Banget" Ibu.
Someday i promise i will make you proud.
Anak bungsumu ini, yang selalu kau katakan punya tabiat keras kepala.
Akan membuktikan padamu bahwa dia mampu bertahan dan melawan kerasnya jalan yang harus dia lalui di masa depan untuk meraih apa yang dia citakan.
("Berat". Namun tak seberat perjuanganmu saat melahirkan ku. Putrimu yg super minyi ini)


Tyas Hanina,

Seseorang yang selalu mencintaimu Ibu.

Senin, 14 Mei 2012

"saya menulis karena saya pelupa. bahkan bernapas pernah saya lupa. karena kamu tersenyum waktu itu. " (@hurufkecil)

Minggu, 06 Mei 2012

Halo. Ingin sedikit menceritakan kisah suram T_T

Jum'at kemarin (4 Mei 2012) gue mengalami kecelakaan kecil.
Gue gak bisa mendeskripsikannya dengan jelas.
Yang pasti gue jatoh dari tangga. Dan hasilnya adalah gue jalan dengan rada pincang beberapa hari ini
Ini sangat menghujam batin gue.
Gue emang masih sanggup berjalan, berlari-lari imut, dan naik turun tangga dengan anggun.
Tapi gue gak bisa melakukannya dengan cepat lagi seperti kebiasaan gue T________T.
Karena nantinya kaki gue akan berdenyut-denyut dengan hebatnya dan gue bakal pasang muka meringis sepanjang kegiatan..

Namun kemarin (5 Mei 2012).. Gue terpaksa membiarkan kaki gue berdenyut-denyut disko cukup lama.

Kemarin, gue bersama bokap dan Aa' bertamasya ke Jakarta. Tujuan utama kita ke Gramedia Pusat..
Kita harus berjalan kaki cukup jauh. Dan beberapa kali berlari-lari untuk mengejar kernet bus kota dan metromini.
Dan tangga yang harus gue hadapi benar-benar banyak. Menyiksa.
Apalagi jalan sama dua lelaki tampan yang gemar berjalan dan melakukan apapun serba cepat..
Untuk berdiri lama saja sebenarnya cukup menyiksa gue. Gue harus berdiri menanti datangnya busway, begitu masuk gak pernah kebagian tempat duduk T_T.

Gue tidak mengucapkan keluhan, meski peluh bener-bener membajiri gue.
Meski saat itu gue pengen mewek dan teriak-teriak nyari tukang pijit.
Tapi gue dan telapak kaki yang keseleo parah ini benar-benar pribadi yang tegar dan kuwadh..

Telapak kakiku kau sudah berjuang banyak kemarin :')

Dan akhirnya hari ini kaki gue akan mendapatkan penghargaan yg setimpal. Ya, dia akan dipijit hari ini :')
Doakan semoga tukang pijitnya bukan tipe pemijit yang bisa bikin gue teriak-teriak putus asa.
Semoga tukang pijitnya memijit dengan anggun dan gemulai, namun cepat membuat kaki gue sembuh..
Amin. 

Jumat, 27 April 2012

Siluman Lilin


Hari ini ayam kesayanganku ulang tahun!
Ayam yang ini bukan ayam yang suka ngising (e-e-k) sembarangan dan makanin beras dipinggir jalan, bukan juga ayam kesayangannya Andi (yang ada di iklan mie sedap).
Tapi ayam ini benar-benar punya wajah dan karakter yang sedap dan gak sembarangan :p

Nama ayamnya, Fataya Shoba Hadiwinata.
Gue dan dia bekerja sama di organisasi sekolah. Dan gue lihat, dia mempunyai kemampuan yang cukup hebat untuk berinteraksi dengan orang banyak dan juga kemampuan untuk mengkoordinasi suatu masalah. (Sok intelek abis bahasanya)
Gue cukup kagum dan bangga bisa bernaung di bawah panji OSIS SMPN 6 bersama-sama dengannya.

Dia hangat. Layaknya ayam-ayam diluar sana.
Gue sangat nyaman bercengkrama dengannya.
Sejuta kehangatan dan kenyamanan rasanya begitu menjalari percakapan kita berdua.
Dia tidak terlalu normal untuk bisa diajak gila. Dan tidak terlalu gila untuk bisa diajak bicara normal.
Ngerti maksud gue? Itu yang bikin gue nyaman ngobrol sama dia..

Back to the topic.
Today is her birthday.. Gue sama Ines buat sedikit “kejutan” untuknya.
Rencananya si dadakan. Banget malah.
Dan seperti layaknya rencana dadakan yang diadakan oleh orang absurd.
Rencana yg dihasilkan begitu absurd. Bener-bener bikin hari ulang tahunnya Ayam jadi ikut Absurd..

Jadi awalnya, Ines sebagai sang sutradara menyuruh gue untuk memainkan skenario “Ceritanya-kita-gak-sengaja-ketemuan-dan-lo-gabung”.
Gue mematuhinya, layaknya pemain-pemain bintang film yang berkharisma.. Gue memainkan peran gue sepenuh hati.

Gue dateng dengan cengiran bodoh dan Ines dengan bodohnya juga menghampiri gue langsung dari dalem MCD.
Jelas sekali ini hal yang bodoh. Ayam dan Ines duduk di bangku depan pintu. Ayam bisa dengan mudah mendeteksi kedatangan gue.. tapi itu bukan hal penting.
Dan gue memainkan skenario pertama gue.
“Hehe (dengan masih nyengir)”
“Janjian ya lu sama Ines?” (Dasar Indigo! Tau aja lagi!)
“Gak tuh He-He-He. Gue sendirian. Kebetulan-aja-kali.”
“Boong. Masa sendirian ke Lippo?”
“emang iya. Tadi mau mojok di MCD baca buku ini (ngeluarin buku). Gue emang sering gini.” (terdengar seperti Forever Alone..)
“Kok berani sih?!
“He-he-he.”
Lalu tiba-tiba Ines menyambung pembicaraan.
“Tyas, gamau pesen?”
“Nanti aja.” (dan ternyata begonya, itu adalah bagian dari skenario.)
Gue melihat tampang frustasi Ines karena gue gak paham isyaratnya.
“hm. Yaudah yuk pindah ke pojok aja.”
Dan Ines menggiring kami ke dekat gawang.. Eh ke dekat kamar mandi. Yang jauh dari kasir untuk memesan makanan.
“Tyas, gamau pesen?” (Ines mengulang pertanyaan itu lagi, dan gue baru sadar)
“Oh iya nes.”
“Lu tunggu disini yam. Jagain es krim gue..”
Setelah Ines memberikan petuah kepada Ayam. Kami bersama-sama berjalan beriringan ke kasir. Saat bertemu pelayan di tengah jalan Ines tiba-tiba berhenti.
“Mas tolong dong.”
Gue berfikir waktu itu.. “Wah si Ines ternyata udah beli kue segala. Pake dititipin lagi ke mas-masnya.” “Si Ines niat banget bikin surprisenya. Jangan-jangan dia juga undang Uya Kuya.” “Tapi.. Bukannya mereka berdua berangkat kesini barengan?”
“Apa dek?”
“Meja yang disitu.. (Menunjuk ke arah ayam). Tolong bersihin ya.”
“....” gue diam. Dan bermonolog dalam hati. Sebenernya suprisenya gimana sih? Jujur aja gue gak tau sama sekali. Jangan-jangan sebenernya Ines dan Ibunya gatau....

“Jadi nes..?”
“Enaknya burger yang mana ya yas?”
Dan gue yang dari awal sudah berintelek ini, langsung mengerti.
“Yang gocengan aja nes”
“Enaknya berapa?”
“Hm.. 3 aja.”
Jadi rencananya adalah membuat tumpukan burger gocengan menjadi terlihat seperti kue tart ulang tahun yg biasanya mahal.
Awalnya gue pengen ngusulin 108 tumpukan, mewakili tanggal ulang tahun dia (27 x 4 = 108).
Tapi gue mencoba realistis. Saat ini kita hanya bertiga merayakannya, lagipula kantong gue dan Ines akan tetanus kalau membeli sebanyak itu..
Untungnya Ines setuju. Dan kita membeli 3 potong burger goceng dan membayar tambahan charge karena meminjam piring.
“Terus dihias gimana nih burgernya?”
Tadinya gue pengen bilang, dibentuk gambar unicorn aja atau bentuk phoenix biar keren. Tapi gue dan Ines sama-sama tidak ahli menggambar diatas burger.
“Ditumpuk aja. Jadi segitiga”
Dan setelah ditumpuk. Ines tiba-tiba berkata..
“Gue udah nyiapin lilin. Lo bawa korek kan?”
Gue mengeluarkan korek pesenan Ines.
“Lilinnya gak bisa mati lho yas. Harus pake air.”
Gue ketawa. Ines sempet-sempetnya bercanda.

Setelah itu kita berjalan menuju Ayam, yang sedang menunduk menatap hape.
Lalu Ines menaruh burger diatas meja, dan mengerang.. Eh berteriak..
“Happy birthday!”
Ayam sumringah, dan memegang dada.  Dia bilang “gue kok speechless ya..”
Dan gue sama Ines Cuma nyengir-nyengir.. sampe gue menyadari satu hal..

Lilin sudah kita nyalakan dari tadi. Sekarang sedang menyala dengan api yang begitu heboh.
Tadi Ines menyarankan untuk memakai semua lilin. Jumlah lilinnya ada 10... Dan untuk ukuran 3 burger tumpuk yang tidak terlalu besar, lilin ini menyala dengan dahsyatnya.
Kok apinya gede banget?

“YAM YAM! CEPETAN TIUP! ITU LILINNYA UDAH MAU ABIS! APINYA GEDE BANGET ITU!”
Gue teriak-teriak panik. Gue udah hampir bakar ban disitu. Untung gak ada bapak-bapak berkumis di MCD saat itu, jadi gue gak jadi bakar ban..
“bentar yas make a wish dulu.”
Setelah ayam make a wish selama beberapa detik dengan mata terpejam. Yang gue fikir sudah cukup lama untuk membuat lilin-lilin ini memproduksi asap yang memuakkan.
Ini asepnya banyak banget?!

“YAM ! MCDONALD BISA KEBAKARAN INI! CEPETAN TIUP. ASEPNYA KEMANA-KEMANA.”
Dan Ayam pun meniup. Gak bisa.
Gue mengelus dada. Ayam ini terlalu lembut, sampe gak bisa niup lilin dengan helaan nafas yang cukup kuat.
Dicoba lagi. Gak bisa.
Gue menggigit bibir.
Coba lagi. Tetep gak bisa. Apinya masih goyang-goyang kanan kiri dengan heboh.
Dicoba... satu lilin apinya padam. DAN NYALA LAGI.
INI LILIN SILUMAN?!

Gue melirik ke Ines. Dia ketawa.
Ines ini siluman lilin?! Ini kacau banget, asepnya udah lumayan membumbung memenuhi ruangan.
Ayam mulai keliatan panik. Gue gak kalah panik.
Ines langsung ambil salah satu tisu di meja dan berlari ke toilet.
“Ini anak sempet-sempetnya ke toilet pas mekdi mau kebakaran.” fikir gue waktu itu.

Gue membantu meniup lilin. 3 lilin berhasil padam... TAPI NYALA LAGI.
Ines datang dengan tisu bassah dan memercikkan airnya ke atas lilin.
“Nes?! Entar burgernya basah dong?!”
“Udah biarin aja..”
Dia terus memercikkan air, beberapa padam. Namun masih ada yg tersisa.. Lilin-lilinnya udah mengecil dan hampir habis. Sisa-sisa lilin yang membeku menempel di kulit burger..
Gue reflek mengambil salah satu tissu dan mengibaskannya ke lilin. Entah untuk apa.
Tapi ternyata berhasil.
Satu mekdi menghela nafas lega. Gak jadi kebakaran.
“Ini.. jadi gak bisa dimakan dong ya burgernya?”
Gue memandang sayu, sambil mengambil lilin-lilin yang menancap di burger.
“Masih bisa kok. Orang gak kenapa-kenapa.”
“Nes.. itu bahan kimia.”
“iya juga ya. Tapi dikit doang yas. Dicongkel aja.”
“Jangan bahaya!’”
Gue ngotot. Ines dan Ayam diam.
“Cabut aja ya roti atasnya?”
Akhirnya dicabut.
Dan tiba-tiba gue melihat nyala api di pinggir piring.
Astaga, satu lilinnya masih nyala. Dan membakar ujung kertas penawaran menu.
Gue meniup dengan cepat. Mati.
“Pastiin lilinnya udah mati semua. Kalo gak mekdi bisa kebakaran”
Mereka mencari dan alhamdulillah udah gakada.

Setelah itu kita suap-suapan burger biar unyu dan romantis. Gue memberikan hadiah gue untuk Ayam.
Satu permen kiss bertuliskan “Happy Bday!” dan korek.
Entah kenapa gue kasih itu..
Dia ketawa. Dan bilang “bakal gue simpen yas..” “kenapa gak dilaminating aja yam” “...”

Setelah itu.. bla bla bla. Ada beberapa kerabat dekat Ayam yg juga memberikan surprise.
Kali itu mereka mengadakannya diluar mekdi. Biar gak ada resiko kebakaran lagi.
Si lelaki berkuda putih (kekasih fataya) pun datang. Meski datang dengan kondisi tidak disapa pada awalnya oleh Ayam :p karena kesel gak diucapin ulang tahun dan gak bisa dihubungin..
Setelah adegan potong kue dan disuapin Ayam. Gue sama Ines pamit kedalem Lippo.
Mau ke gramed awalnya. Tapi kita malah jadi nonton Battleship :’3
Muehehe.



Oiya. Begini bunyi sms ucapan gue untuk si Ayam..
"Ciken naget....... salamat ulang tahun nyaa. Sehat selalu, loba rezekina, gera kawin jeng sih patur, ulah bandel, para rinter, ulah ngabohongan indung, ulah kabur dr rumah, ulah ngising dicalana dei engke bau hasem :’)" 

Wassalam,


Kamis, 26 April 2012

U-En pergi. Liburan menanti.

"I'm free I'm free
I'm free like a burning no one the tell me (Souljah -I'm Free)"
Biar imut, pake emot babi

Selamat datang hari libur :')
Kalo kata Christina Perri sih.. i have died everyday waiting for you

Setelah berjuang 4 hari ini.
Ngebuletin LJK dengan setulus hati.
Tarik ingus sana sini setiap 5 menit sekali.
Berdoa terus menerus tanpa henti.
Dan. Berusaha. Menahan. Diri. Untuk. Gak. Teriak.

Ehem, maaf ya Allah sedikit sombong..


Rasanya tuh waktu gue bolak balik lembar soalnya, gue pengen ketawa saat itu juga. Gue pengen teriak saat itu juga!!
"Pak?! Bapak gak nyium bau kebakar?!"
"Bau kebakar apa?"
"Iya! Itu bau api semangat saya! Soal-soal ini bisa saya hanguskan!"
Itu awalnya.
Dan ketika gue menemukan kesulitan pada soal. Gue juga tetep pengen teriak.
"Bapak gak nyium bau kebakar?"
"Apa yang kebakar? Darimana?"
"Itu ibu saya lagi bakar ban di depan sekolah. Kalo Bapak gak kasih saya kunci jawaban, saya akan suruh dia bakar satu sekolah!"
"..."
Anarkis sekali.
Oke. Ga usah ngomongin yang udah lewat.
Yang penting sekarang, gue pengen mengistirahatkan diri gue..
Dengan menyendiri di suatu kota di Indonesia :')
Bantu doa ya semoga uang jajan pun bersimpati dengan libur 2 bulan ini :*
Tyas Hanina


Jumat, 06 April 2012

Mudah-mudahan ini yang terakhir...

Bukannya aku bosan, namun aku menyerah.
Kepada kenyataan.
Tidak! Yg benar adalah menerima.
Aku belajar menerima takdir.
Takdir bahwa jalan kita tidaklah bersimpangan, jalanku & jalanmu.
Takdir bahwa kita hanya ditakdirkan bertemu, bukan untuk bersama.
                                              
Setelah lama kenyamanan yg menjalari semesta tubuhku saat bersamamu, membuatku lupa akan fakta dan sontak terperangkap dalam maya.
Aku terus memilih memutari jalan, aku berusaha berlari dari kenyataan.
Menuju padamu. Menuju jalanmu.
Lelah. Peluh. Perasaan ingin menyerah. Begitu menampar kalam batinku.
Kau terlihat dekat, keberadaanmu bahkan aromanya begitu akrab.
Tapi kenapa? Jalanmu begitu jauh untuk aku tempuh, kamu begitu sulit untuk aku raih.
Jalan maya ini benar2 menyesatkanku.
Seperti sudah banyak melangkah, namun tak pernah beranjak.

Aku resah. Benarkah ini jalan terbaik untuk kita?

Di satu titik temu yg mempertemukan kau dan aku.
Kau kembali menampar kalam batinku.
Janji yg kau ucap untuk terus berpegang tangan dan melewati jalan bersamaku, kau ingkari.
Inikah balasan atas semua lelah yg kudapat setelah aku jauh berlari?

Beribu caci maki dan sindiran keji rasanya ingin ku lemparkan kepadamu. Tapi, mulutku serta hatiku tidak ingin kotor karena itu.
Ingin kuhanguskan semua jejak dan jalan yg pernah kita lalui. Tapi, air mata dan kasihku memadamkan segala api amarah.
Begitu hebatnya gejolak emosiku saat itu. Membuatku semakin gila, untuk bisa melihat fakta.

Lalu. Aku yg saat itu tak ingin terlihat lebih hina lg di hadapanmu.
Berusaha dengan segala tenaga dan pencapaian yg tersisa, menyusuri kembali jalanku.

Dan ternyata hal bodoh yg kulakukan dimasa lalu, begitu berdampak kepada diriku saat itu.
Kutemukan kembali.. Segala kenangan, buncah tawa bersama, sepenggal percakapan, semua tentang kita. Semuanya....
Kembali dipertontonkan didepanku.. dengan volume suara yg membuat gendang telingaku muak karenanya.
Benci sekali aku harus mendengar segala guyonanmu dan kalimat2 manismu.
Muak.

Semakin jauh aku berjalan, mendekati kenyataan.
Memang bayangmu semakin pudar dan redup.
Namun tak bisa kusangkal.. ada bagian dari diriku yg masih terikat olehmu. Masih ada..
Dan masih ada senyummu yg diam2 kupasung dalam ingatanku.
Masih.
Tapi tak apa kan?
Ini hanya permulaan. Semuanya pasti akan cepat terhapuskan.
Seperti jejakku saat mengejarmu yg terhapus oleh hujan..

It's end when november rain....

Rabu, 04 April 2012

urgh!

Langit malam semakin pekat.
Dan gue pun semakin dekat dengan insomnia.
Sial.
Kalau boleh menyalahkan seseorang. Gue akan menyalahkan Asep Suaji.
Entah kenapa..



Semakin lama, gue makin deket sama si “UAN”.
Dan gue pun selama berbulan-bulan ini harus berjuang keras demi kelayakan gue menghadapinya.
Heran juga. Gue ketemu sama dia cuma dalam waktu 4 hari. Dan satu hari pun cuma dihabiskan dalam waktu 2 jam.
Tapi deg-degannye berbulan-bulan.....

Belum lagi si “UAS”.
Harusnya sih ye, gue ketemu dia abis ketemu si “UAN”.
Tapi tahun ini kebalik.
Makin berat juga sih jadinye.

Kenapa mendadak jadi keluar logat betawinya.....

Tapi jujur aje, semakin sedikit waktu gue bernaung di sempel.
Semakin kental lah penyesalan gue selama ini nyia-nyiain pelajaran.
Semakin kangen lah gue sama segala macem yg udah gue temuin disini.
Segala problem masa lalu pun sontak terlintas di benak gue.
Temen-temen kelas 7,8,9 E. ONTEL (Osis eNam TELadan). Sunda yeh. Ciros. Dan lain-lainnya.

Setiap hari, dikala gue melewati dinding-dinding di segala penjuru sekolah.
Gue seakan mendengar mereka bersenandung ria. Mengenang apa yang mereka perhatikan dari anak-anak angkatan gue yang sebentar lagi bakal lulus.
Setiap sudut dinding itu mempunyai cerita.. Juga gerbang yang setia menyapa dikala masuk sekolah. Maupun saat pulang sekolah.
Canda tawa temen-temen berseragam SMPN 6 pun gak bakal kedengeran lagi.

Ergh..

Tapi waktu gak bakal kasih toleransi dengan memberi kesempatan memutarnya kembali atau membuatnya berjalan lebih lambat.
Karena siap atau tidak. Kita harus siap bergegas "pindah"..
Karena lo sendiri gamau kan, belajar di bangku dan kelas yang sama sedangkan semua temen-temen lo udah beranjak ke masa depan? :)
Kita daftar sekolah bareng-bareng, masa orientasi bareng-bareng, ketawa bareng-bareng, kerjain PR bareng-bareng.. Dan gue gak pengen ada salah satu dari kita yang "tertinggal" sehingga gak bisa lulus bareng-bareng..

:')

Ohiya. Daritadi siang ngurusin BTS, ngeliatin pesan/kesan satu angkatan rasanya pengen ngibarin bendera..
Ada-ada aja kata-katanya.
Ada yg kaya buat artikel koran, bikin gue geregetan ngetiknya.
Ada yg konyol banget kaya ager :')
Ada yg so sweet nyantumin nama orang yg dia taksir :'3
Dan ada yg singkat & minyi persis kaya yg bikin ( kate middleton )

Akhirnya nulis kesan/pesan gila BTS juga. Sebentar lagi juga dimulai pemotretannya.
Dulu pas awal masuk sempel, kita nulisnya daftar barang2 gila apa yg harus dibawa buat masa orientasi. Dan pemotretannya pun untuk foto raport pertama kali.

Jujur aja.. Pas tiba saatnya gue harus menuliskan sepenggal kalimat untuk pesan/kesan BTS gue sangatlah risau.
Gue jadi mengingat banyak hal. Yang tentunya pertama kali gue ingat adalah hal-hal pertama yg terjadi di sekolah ini.
Kelas pertama gue yg berada di depan kantin dengan ketua kelas biadap yg sekarang jd ketua OSIS.
Bangku pertama gue, seonggok bangku di depan meja guru yg waktu itu hanya gue sendiri yg mengisi :') dan akhirnya gue pun bernyali mencari teman untuk menemani gue.
Tugas pertama gue di pelajaran Bahasa Indonesia, saat satu kelas satu persatu memperkenalkan dirinya masing-masing.
Lalu.. Saat pertama kali ada senior OSIS yg datang ke kelas dan menawari pendaftaran OSIS. Dan hingga akhirnya 3 tahun gue mengabdikan diri di Organisasi itu..
Dan. Bla Bla Bla.
Gue dengan perlahan menuliskan nama, tempat tanggal lahir, alamat, dan nomor telpon gue. Sempat heran sejenak, karena tidak menemukan kolom hobby dan cita-cita.. Juga Makes (Makanan Kesukaan) dan Mikes (Minuman Kesukaan). Lalu gue baru sadar gue sedang mengisi kolom BTS dan bukan binder anak SD.
Lalu gue terhenti saat tiba di kolom pesan dan kesan.
Gue membaca lagi pesan dan kesan teman2 sekelas gue.. Entah untuk apa..
(Saat gue membaca pesan & kesan satu angkatan, ternyata kelas gue yg paling panjang nulisnya -__- sampe ngelebihin batas kolom hampir semuanya)
Dan akhirnya dengan idiotnya gue mulai menulis......
Dan lihatlah nanti dua penggal kalimat dari seorang jelmaan Kate Middleton yg minyi ini saat buku BTS sudah dibagikan :')


wassalam

Sabtu, 17 Maret 2012

Sapaan singkat pun tak pernah menjelma jadi nyata.
Dan.. Meski hanya kerlingan mata dan gumaman gagu sebagai bentuk interaksi kita.
Aku dapat merindukanmu sejauh ini dan semenyakitkan ini.
Pahit sekali, namun begitu melumat manis memanjai rasa bahagiaku.


Begitu luar biasa bagiku, bagaimana menurutmu?


Tyas Hanina

Rabu, 14 Maret 2012

your eyes

Saat itu. Waktu itu. Kala itu.
Aku menemukanmu.
Kemudian..
Terperangkap oleh beningnya bola matamu.
Terbiasa memperhatikan kerlinganmu.
Menerka apa yang kau pandangi dari sorot mata itu.
Menghitung ketebalan alismu.
Kemudian..
Berharap pernah ada lengkungan senyumku yang kau simpan.
Pernah ada tawaku yang kau rekam.
Namun ternyata sebaliknya.
Aku menyimpan semua lengkung senyummu.
Aku merekam segala buncah tawamu.
Di dua bola mataku, awalnya.
Kuarsipkan ke hatiku, setelahnya.
Kemudian..
Berharap lagi.
Kali ini harapan untuk dapat melukis lengkungan.
Lengkungan manis senyummu, karenaku.
Lengkungan pelangi indah, di matamu.
Kemudian..
Karena tertutupi oleh perasaan bahagia kala itu.
Aku lupa cara membedakan antara maya & nyata.
Dan akhirnya. Tanpa sengaja, tatapan kita bertemu.
Berkenalan mungkin lebih tepatnya. 
Karena setelah itu, hal itu sering sekali terjadi.
Malah.. Mungkin sudah menjadi rutinitas mataku.
Kemudian..
Aku tambah mencandu.
Dan mencoba mengkonsumsi lebih banyak lagi.
Akhirnya... aku pun terkena akibatnya.
Aku tidak bisa melepas pandanganku darimu.
Nakal! Berkali-kali kumarahi mataku.
Aku butuh rehabilitasi.
Aku butuh pengurangan dosis.
Agar aku tidak lebih jauh lagi terjerat.
Dari segala tentangmu yang membuat candu.
Kemudian..
Setelah tersiksa sekian lama, tersita pandangannya olehmu.
Aku baru sadar.
Aku jatuh cinta.
Kepadamu tentunya.
Kemudian..
Tiada habisnya aku bertanya.
Tak apakah jika aku jatuh cinta?
Lalu kemudian.. Aku berharap bisa menemukan jawabnya.
Secepatnya.

Tyas Hanina

Sabtu, 10 Maret 2012

Seperti harum tanah yang terguyur hujan.
Harummu membuatku candu.

Mencipta satu bentuk aroma tersendiri di hidungku.
Meninggalkan jejak aroma itu beserta harapan tentangmu.

Membuatku terpekur dalam sunyi, menantimu.


Tyas Hanina

Sabtu, 03 Maret 2012

U.U

Diam-diam berujar bisu. Dan memperhatikanmu dalam kerlingan gagu.
Hingga akhirnya seringkali, tatapan kita bertemu..
Hal yang mungkin aku lakukan saat itu terjadi... Hanyalah diam. Lalu menyusuri pandangan kearah sepatuku.
Entah aku jadi linglung, haruskah aku mendongak dan melihat kearahmu lagi?


Ada satu hal yang selalu aku cari dari wajahmu.
Senyum manis yang pernah tanpa sengaja aku tangkap disuatu hari.
Yang kian lama semakin membayangiku.
Yang membuatku turut tersenyum ketika mengingatnya kembali.


Kau sempat membuatku khawatir
Khawatir akan sikapku yang makin tak tentu ini.
Khawatir akan mataku yang kian "nakal" untuk terus memperhatikanmu.
Khawatir aku akan terus mencari keberadaan senyum itu.
Dan sial.
Lebih dari itu ternyata.
Aku bahkan memiliki harapan untuk bisa jadi penyebab senyummu.


"jangan tutupi senyum manis itu.
aku ingin menengoknya kembali  dan kemudian aku simpan untuk pemanis mimpiku malam ini.
Bersediakah kamu?"
Tyas Hanina

Senin, 27 Februari 2012

hati ditengah senja

aku merasa buruk saat aku selalu ada didekatmu
saat aku melakukan hal yang sewajarnya, hanya denganmu
berbicara, bertingkah konyol, dan bercerita satu sama lain
ya, rasa ini begitu istimewa di sudut mataku
hatiku berkata ini buruk, karena logika ku menjerat segala keistimewaan ini
kadang aku terdiam di tengah indahnya rasa yang ku nikmati
kadang aku… aku merasa lugu, dan bodoh tentunya
setelah kurasa aku cukup untuk membisu, aku menyadari satu hal
bahwa aku tak akan bisa memilikimu.

panas terik ini, sangat menyengat ubun-ubun kepalaku
langkah kakiku semakin berat, seperti digantung sebuah bayangan
segera aku seka deraian keringat yang membanjiri kening ini
dengan pantulan mentari, aku melihat sosokmu yang lagi-lagi membuatku semangat
bagaimana mungkin kau memberiku air dari dahaga dengan secepat ini?
bagaimana bisa kau mengisi segala energi yang hampir habis oleh ketakutanku?
lalu aku bangkit, ingin menyapamu, atau sekedar menanyakan hal yang bisu

sekuat hati aku mendekat, ditambah senyuman halusmu yang menyapaku riang
cahaya ini, keyakinan ini, dan keinginan kita bersama disuatu masa nanti
diatas semua ini, aku bersungguh menghampirimu, meski aku lelah.

namun ditengah kesungguhanku, layaknya jeruji menghalangi langkah ini
aku tersentak oleh diam, dan terpaku, tak bisa berkata
kini aku melihatmu, semakin menjauh.

aku terlambat mendatangi sosokmu, dan secepat itu bayangmu menjadi semu
rasanya seperti bersusah payah lalu terhempas
aku-pun tersiksa oleh perasaan ini
dan aku kembali menyadari, bahwa aku terluka oleh bayangan.

aku menganggapmu ada, sedangkan kamu layaknya fatamorgana
aku menyayangimu, sepenuh hati. namun kamu hanya separuh dari itu
aku memegang teguh janji kita untuk bersama, tapi kamu yang terdahulu pergi
inikah balasan terpantas atas segala air mataku?
hingga kini aku tak habis pikir
bahwa aku sebodoh ini.
pada sebuah harapan, yang palsu.
(ditulis oleh : syahrani maulida lubis)


Puisi ini dibuat untukku. Untuk keluh kesahku dan cinta semuku di masa lalu.
Pria dibalik senja.
Pria yg sempat membuatku begitu terbuai.
Pria yg sempat membuatku rela menunggu lama.
:)
How about now?
Gue udah berhenti mengejar senja. Tanpa gue kejar pun senja selalu ada, selalu bisa gue liat keindahannya.
Dan senja, memang bukan untuk gue miliki sendiri.
Hehe.
Tapi gue tetap mencintai senja. Senja dalam arti sesungguhnya.
Bukan pria itu lagi, dengan segala bayang-bayangnya yang sempet bikin gue hampir gila :D

Jumat, 24 Februari 2012

Malam.
Lama tak berjumpa. Lewat sapaan pendek atau kata-kata canda.

Maaf aku sering mengabaikanmu dan tidak mengurusmu belakangan ini :')
Sebenarnya, aku sering menengokmu.
Tapi aku menahan diriku sendiri untuk mengabari keadaanku saat ini kepadamu.
Ada banyak hal yang kuutamakan. Dan terpaksa mengesampingkan cerita-ceritaku.

H-58

Itu. Angka-angka itu.
Dia yang membuatku seperti ini.
Jadi, kalau kau geram jangan kepadaku.

Aku harus belajar. Untuk diriku sendiri.
Aku rindu kamu, aku ingin bergurau denganmu. Untuk diriku sendiri.
Semua yang kulakukan dan kuinginkan untuk diriku sendiri.
Tapi aku harus membuat prioritas.

Dan aku memilihnya..... Pelajaran.

Maafkan aku jika itu membuatmu terluka. Sungguh, bila mampu aku tidak ingin membuatmu kecewa.
Tapi jika memang benar sayangmu padaku, bisakah kau relakan waktuku untukmu. Dan memaafkanku karena memilih bercengkrama dengan angka-angka itu? :')

udah ah makin sinting gue

Ya. Jadi. Intinya. Gue. Mau. Mengabaikan. Blog. Ini. Sementara.
Sebenernya gue juga udah kangen berat.. Jadi gue menuntaskan kangen yang bertubi2 ini pada lembaran-lembaran kertas :').
Sekalian latihan mengubah tulisan tangan menjadi lebih enak dipandang.

Tugas numpuk. Persiapan ujian belum benar-benar matang. Akhir-akhir ini ketiduran terus, dan telat pengayaan terus. Gak punya duit. Masih Jomblo. Fakir asmara tapi bukan pengemis cinta...

Itu aja kabar dari gue.
Wassalam :')

Minggu, 29 Januari 2012

Warna & Langit


Warna adalah spektrum tertentu yang terdapat di dalam suatu cahaya sempurna (berwarna putih). Identitas suatu warna ditentukan panjang gelombang cahaya tersebut (Wikipedia)


Apa yang kamu fikirkan tentang warna?

Kebersamaan? Keindahan? Keunikan? Atau bahkan tak mempunyai arti tersendiri.
Ada beberapa warna yang sangat kita gemari.
Dan warna yang kita gemari itu kadang kita pakai untuk warna barang-barang favorit kita, atau bahkan untuk penggambaran hati kita sendiri.

Gue sendiri sangat menyukai warna biru

putih 

dan juga abu-abu


Dan gue punya formula ajaib untuk menyandingkan ketiga warna itu menjadi dua warna. Dan formula ini, begitu mengandung arti..

Formula yang pertama adalah saat warna biru disandingkan dengan warna putih.
Hal yang pertama gue fikirkan adalah.. Sang langit dan awan.
Juga seragam SMP yg sudah hampir 3 tahun gue kenakan setiap harinya..

Siang itu, Jum'at 27 Januari 2012. Gue mulai gelisah menunggu Fataya memulai pidatonya.
Dan mulai membiarkan mata gue menjelajah kemana-mana.
Gue memperhatikan banyak hal. Dari mulai anak-anak cowo yang sedang sibuk bermain bola. Fataya dan anak-anak lainnya yang sibuk bersiap untuk pidatonya. Dan kembali lagi kepada kebiasaan gue... Memperhatikan gelagat sang awan yang sedang "bercanda" bersama langit.
Panasnya memang cukup terik. Tapi gak menutup kemungkinan, sore hari atau malam nanti akan turun hujan.
Hmm..
Birunya langit, putihnya sang awan dan teriknya matahari siang ini. Mengingatkan gue pada kali pertama gue menatap sang langit di sekolah ini.
Saat itu, hari pertama Masa Bimbingan Siswa (MBS). Gue yang mulai gerah dijemur di lapangan dengan terik matahari yang memuakkan. Mendongak ke langit dan mengeluh dalam hati akan panas matahari saat itu. Dan dengan setengah hati, mendengarkan omelan para kakak-kakak pembimbing MBS..
Warna sang langit juga sang awan tidak berubah. Langit tetap dengan biru teduhnya, Awan tetap dengan putih sucinya, dan Matahari pun tetap gue keluhkan teriknya.
Langit emang gak pernah berubah.
Seragam putih biru ini bahkan mulai memudar warnanya dan mengecil ukurannya. Diri ini pun perlahan-lahan mulai beranjak dewasa.
Gue pun tersenyum. Ketika lagi-lagi langit memberi gue banyak pelajaran dan makna.
Huh. Gue benar-benar jatuh cinta pada langit. Dia memberi gue keberanian untuk menerka-nerka, bermimpi, dan membuat cita-cita.
Gue menoleh kembali kepada anak-anak yang sedang bersiap-siap berpidato. Gue perhatikan mimik wajah dan gerak gerik mereka.
Ada yang sibuk menghafal naskah, ada yang teriak-teriak heboh saking deg-degannya, ada yang cengar-cengir gak jelas, ada yang malah nari piring, ada yang ngejilatin kuah indomie, malah ada yang sibuk menyetrika.
Wah pada sibuk-sibuk banget ya mereka :D
Lagi-lagi gue tertegun, dan fikiran gue berkata..
“Mungkin suatu hari nanti, temen-temen gue yang sedang sibuk pidato ini akan menjadi seorang Orator yang hebat. Yang sibuk meneriakkan kepeduliannya pada bangsa. Dan bukan hanya sekedar berkata-kata...”

Dari dua unsur warna yang gue sukai ini. Gue mendapatkan banyak makna dan pembelajaran.
Gue belajar dari warna biru langit& putih awan, warna seragam yang memudar, dan lain-lainnya.

Lalu bagaimana dengan formula lainnya?
Formula yang satu lagi adalah ketika warna abu-abu disandingkan dengan warna putih.
Putih dan abu-abu.
Seragam SMA. SMA yang gue impikan.
Itu yang terbayang di fikiran gue.
Dan jika dihubungkan dengan langit. Yang gue fikirkan adalah warna langit ketika digelayuti oleh mendung. Mendung yang kata orang berwatak sendu, tapi bagi gue.. Mendung selalu menyimpan keindahan dan maknanya sendiri.

Bukankah setelah kita menunggu mendung reda, atau ketika mendung berubah menjadi hujan yang nyata. Akan ada pelangi yang mengiringinya?


Gue emang belum tau pasti, akan bagaimana warna dan suasana langit juga sekolah gue di SMA nanti.
Akankah sama warna & suasananya?-
Mungkin akan “beda”. Tapi gue yakin sama-sama berwarna.
Cerah atau suramkah warna yang gue dapat. Itu tergantung pada diri gue sendiri.

Hihi. Jadi ngetik sepanjang ini :D
Langit dan warna emang selalu bikin gue lupa diri ketika bercerita maupun bermimpi.
Uhm. Sampai jumpa nanti.
Semoga kita sama-sama mendapatkan warna yang indah dan langit yang cerah yaaa ;;)