Pages

Senin, 17 November 2014

Same shit, different day.

Begitulah kalimat yang tertulis di punggung seorang pengendara motor yang berada di hadapan saya ketika berangkat sekolah. Raut pria itu menahan kantuk, begitu pula anak kecil berseragam putih merah yang dengan erat memeluk pinggangnya. Mungkin ini adalah salah satu rutinitas mereka, salah satu agenda wajib yang terisi di 5 hari dalam seminggu. Rutinitas yang bisa dibilang dialami oleh kebanyakan orang.
Termasuk saya.
Pada rentang waktu 6 sampai 7 pagi. Saat Spongebob dan Patrick baru muncul di televisi hingga acara mereka selesai. Pada saat itu, jalan raya dipenuhi oleh kendaraan. Dipenuhi oleh orang-orang yang berangkat ke tempat tujuan, berjuang untuk sesuatu di masa depan. Menuju kantor untuk mencari sejumlah materi, menuju sekolah untuk meraih segenggam ilmu.
Roda kehidupan terus berputar seperti itu. Setidaknya, begitu yang saya liat di kota tempat saya tinggal yang tidak terlalu besar ini.
Entah kapan roda itu akan berhenti.
Dan, bukan itu hal terpenting untuk dipertanyakan.
Kapanpun roda itu dapat saja berhenti. Dan entah siapa yang sudah siap untuk beradaptasi.

Justru yang terus menerus menggangu perhatian saya adalah pertanyaan..
Apakah kita benar-benar “bergerak” ketika roda kehidupan berputar?
Apakah kita selama ini hanya “digerakkan” dan mengikuti geraknya?

Does it matter? For me, yes.
Sedari dulu, mimpi buruk saya adalah menjelma jadi sebuah “monster” yang bernafas namun tidak benar-benar hidup, pergi tidur namun tidak punya mimpi, berjalan tapi tidak punya tujuan. Menjadi hanya seonggok daging yang punya nama.
Rutinitas terdengar membosankan. Ah tidak, memang membosankan.  Meski, saya tahu saya pun membutuhkannya.
Tapi di sisi lain, saya pun merasa lelah akhir-akhir ini dengan segala rutinitas yang dibedakan hanya dengan pergantian hari.

Saya mulai meragukan bahwa hitungan 1 hari di hari sabtu dan minggu adalah 24 jam. Karena rasanya, 2 hari tersebut berlalu dalam satu pejaman mata.

Lalu ketika saya membuka mata. Hari senin sudah menyapa.
“Hai, tanggung jawabmu sudah ada bersamaku.”
Dan saya harus tersenyum palsu menyambutnya, dengan tanggung jawab yang datang bersamanya.

...

You know, it’s kind of tired that sleep can’t fix.

Saya tidak dapat menemukan kata yang cocok untuk mewakili perasaan yang memeluk erat saya akhir-akhir ini.
Tapi sepertinya, kata Lelah sudah cukup mewakili.

Tired. And scared.
Saya takut menjadi “monster”.

Tadi malam saya bermimpi. Di mimpi tersebut, saya menonton diri saya sedang berbicara di depan kelas menjelaskan pemikiran saya akan sesuatu hal (yang saya lupa apa tepatnya).
“...pada intinya... yang membedakan dirinya hari ini dan esok hari bukanlah hitungan usia. Yang terpenting bukanlah hal apa yang dia harapkan hadir ketika ia membuka mata esok paginya, bukan hal apa yang akan dia dapatkan keesokannya.
Namun, yang terpenting adalah apa yang dia lakukan pada hari ini, apa yang dia perjuangkan dari fajar hingga senja tiba.
Itu yang terpenting.. itu yang akan merubahnya. Itu yang akan membedakan dirinya yang kemarin dan sekarang.”

Saya tidak pernah menganggap mimpi sebagai suatu hal yang remeh. Karena itu, ketika saya terbangun dari mimpi tersebut. Saya merasa tertampar oleh kata-kata yang saya ucapkan di mimpi.

Ah, Yas.
Lo ngapain aja selama ini.

Semoga bekas tamparan ini terus terasa ketika saya berhenti “bergerak”.

...

“We know you’re tired.
Tired and scared.
Happens to everyone, okay?
Just don’t let your feet stop.”
-Haruki Murakami-


Tyas Hanina